Kaum Yahudi dipilih oleh Allah swt di atas semua manusia untuk menjadi teladan kebenaran. Namun, mereka membiarkan kebanggaan menguasai diri mereka, menyelewengkan julukan Kaum Pilihan, hingga berarti hanya mereka yang pantas disayangi Allah swt dengan mengecualikan manusia lain, menurut nafsu mereka, bukan keinginan Allah swt. Bahkan sebaliknya, mereka telah menjadi contoh bagi umat manusia sebagai kaum yang sangat tidak bersyukur kepada Penciptanya.

Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Kuanugerahkan kepadamu dan Aku telah melebihkan kamu atas segala umat. (QS. Al Baqarah [2]: 122)

Meski tidak diakui oleh semua orang Yahudi, pandangan yang muncul mendominasi adalah Zionisme. Zionisme adalah sebuah ideologi yang bukan berasal dari agama asli mereka, tapi lebih sebagai cara mereka dalam menafsirkan agama tersebut. Mereka percaya bahwa Allah swt memilih mereka di atas semua manusia, lantaran beberapa sifat istimewa pada diri mereka, dengan memberi mereka tanah. Mereka memandang hubungan mereka dengan Allah swt sebagai hubungan perjanjian antara Dia dan mereka, bahwa Dia menjanjikan mereka tanah, Promised Land [Tanah yang Dijanjikan]. Oleh karenanya, mereka disebut Zionis, karena fokus keimanan mereka adalah kembali ke tanah Zion, Israel. Begitu mereka mendiami Tanah yang Dijanjikan, seperti dikatakan dalam Alkitab, messiah mereka akan datang, lalu mereka akan memerintah bangsa-bangsa di dunia dalam damai.

Seperti yang bisa kita lihat, ini adalah dasar keimanan Yahudi, bahwa mereka adalah kaum superior di atas semua manusia, dan mereka ditakdirkan untuk memerintah dunia. Firman Allah:

Katakanlah: “Jika kamu (menganggap bahwa) kampung akhirat (surga) itu khusus untukmu di sisi Allah, bukan untuk orang lain, maka inginkanlah kematian(mu), jika kamu memang benar.”

Dan sekali-kali mereka tidak akan menginginkan kematian itu selama-lamanya, karena kesalahan-kesalahan yang telah diperbuat oleh tangan mereka (sendiri), dan Allah Maha Mengetahui siapa orang-orang yang aniaya.

Dan sungguh kamu akan mendapati mereka, manusia yang paling loba kepada kehidupan (di dunia), bahkan (lebih loba lagi) dari orang-orang musyrik. Masing-masing mereka ingin agar diberi umur seribu tahun, padahal umur panjang itu sekali-kali tidak akan menjauhkannya dari siksa. Allah Maha Mengetahui apa yang mereka kerjakan. (QS. Al-Baqarah [2]: 94-96)

Allah swt berjanji kepada Ibrahim as bahwa Dia akan menjadikan keturunannya mendiami tanah di antara Tigris dan Eufrat. Kaum Yahudi yakin janji ini menunjukkan perjanjian mereka dengan Allah swt. Namun, perjanjian mereka dengan Allah swt bukan berarti bahwa mereka akan diberi tanah, melainkan keharusan mematuhi perintah tertentu. Allah swt mengambil perjanjian dari Bani Israel, dan menunjuk 12 pemimpin di antara mereka. Allah swt berfirman:

Sesungguhnya Aku beserta kamu, jika kamu mendirikan shalat dan menunaikan zakat serta beriman kepada rasul-rasul-Ku dan kamu bantu mereka dan kamu pinjamkan kepada Allah pinjaman yang baik. Sesungguhnya Aku akan menutupi dosa-dosamu, dan kamu akan Kumasukkan ke dalam surga yang mengalir air di dalamnya sungai-sungai. Maka barangsiapa yang kafir di antaramu sesudah itu, sesungguhnya ia telah tersesat dari jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah [5]: 12)

Allah swt juga berfirman:

Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): “Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat baiklah kepada ibu bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat.” Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling. (QS. Al-Baqarah [2]: 83)

Karena hati mereka menjadi keras, mereka memutar-balikkan kebenaran agar sesuai dengan nafsu mereka. Mereka tidak mau tunduk pada perintah Allah swt, tapi mereka menginginkan status Kaum Pilihan. Akibatnya, mereka memilih untuk meyakini bahwa mereka terpilih karena suatu sifat istimewa, dan bahwa status ini tidak tergantung pada perilaku.

(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka mengubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkan mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. Al-Maidah [5]: 13)

Mereka mengubah makna perjanjian tersebut menjadi sebuah janji tentang pemberian tanah, sama sekali mengabaikan syarat kepatuhan terhadap perintah itu. Sebaliknya, mereka memilih percaya bahwa mereka pantas memperoleh nikmat dari Allah swt tanpa memperhatikan perilaku mereka, sebab mereka telah dipilih oleh-Nya. Musa as membawa mereka keluar dari Mesir untuk mendiami Tanah yang Dijanjikan. Karena mereka terus-menerus melakukan pelanggaran, Allah swt tidak senang pada mereka, dan Dia hendak menghukum mereka, namun Musa as memohon kepada Allah swt agar memenuhi janji-Nya kepada Ibrahim as. Jadi, meski Dia tidak senang pada mereka, Dia mengizinkan mereka mendiami Tanah yang Dijanjikan, hanya untuk memenuhi janji-Nya pada Ibrahim as.

Setelah kekuasaan Daud as dan Sulaiman as berakhir, mereka dijadikan tawanan di tangan Nebukadnezar, penguasa Babilonia pada tahun 586 SM. Pada masa itu, Kuil Sulaiman, pusat dan simbol kaum Yahudi, dihancurkan untuk pertama kalinya. Sepulangnya dari Babilonia, mereka bangkit dan membangun ulang Kuil itu. Beberapa abad kemudian, pada tahun 70 masehi, Romawi mengambil alih Yerusalem, Kuil itu dihancurkan sekali lagi – dan tak pernah dibangun kembali, kaum Yahudi kemudian bertebaran ke banyak wilayah dunia.

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.” Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh-musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. (QS. Al-Israa [17]: 4-7)

Aspek pokok agama Yahudi, dan bahkan semua agama, adalah kedatangan Messiah yang dinantikan, manusia yang akan menuntun semua bangsa. Setiap agama telah meramalkan kedatangan Messiah agung, dan berdasarkan semua tanda yang ada, Nabi Muhammad-lah yang digambarkan itu. Karena beliau bukan Yahudi, mereka tak mau menerimanya, walaupun mereka mengenalinya sebagaimana mereka mengenali anak-anak mereka sendiri. Kaum Nasrani meyakini bahwa Messiah itu adalah Yesus putra Maria. Bagaimanapun, kaum Yahudi masih terus menunggunya. Begitu datang, dia akan menjadi raja mereka, Raja Yahudi, Raja Zion. Dia akan membangun kembali Kuil itu dan mereka akan memerintah semua bangsa di dunia dengan damai. Unduh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s