Misi Israel dalam Konflik Darfur

(Sumber: Yusuf Burhanudin, “Misi Israel dalam Konflik Darfur”, Sabili No. 22 TH. XVI 21 Mei 2009 / 26 Jumadil Awal 1430, hal. 107-111)

Darfur termasuk wilayah terbesar Sudan sebelah barat, dihuni oleh mayoritas Muslim. Darfur, yang berarti Negeri Fur, dinisbatkan kepada ‘Fur’, nama suku yang mendiami wilayah tersebut. Penduduk wilayah seluas setengah juta kilometer persegi yang berbatasan langsung dengan Chad ini, dikenal memiliki kesadaran keagamaan cukup kuat. Selain wilayahnya yang seluas Prancis, Darfur juga menyimpan kekayaan alam berlimpah seperti minyak dan uranium. Inilah daya tarik koloni AS dan Eropa sekaligus ancaman nyata kaum Zionis Israel sehingga mereka terus mengobarkan konflik di wilayah tersebut.

Memang, sebelum tahun 1993, Sudan termasuk negara miskin akibat konflik dan perang saudara. Baru beberapa tahun berikutnya, Sudan memasuki babak reformasi ekonomi yang dirumuskan dalam perogram pembangunan tiga tahunan. Sejak Sudan mengekspor minyak tahun 1999, perekonomian negeri 1001 perang saudara itu mulai menggeliat signifikan. Sekalipun program pemerataan ekonomi dan kesejahteraan belum optimal sepenuhnya dijalankan pemerintah Sudan mengingat luasnya wilayah negara tersebut.

Namun siapa sangka, lambannya pemerataan kesejahteraan justru menjadi pemicu utama beberapa wilayah untuk memisahkan diri dari Khartoum. Satu di antaranya adalah wilayah kaya raya dengan sumber daya alamnya, Darfur. Terlebih ketika Presiden Numeiri tahun 1983 mulai memberlakukan hukum Islam (syariat Islam) di negeri itu, permusuhan dan kebencian AS berikut sekutunya kian menjadi-jadi. Permusuhan ini bagi mereka dinilai sangat strategis karena mendatangkan manfaat ganda, yaitu keuntungan sosial-ekonomis dan politis-ideologis.

Munculnya kelompok-kelompok bersenjata dari dua suku besar di Darfur, yaitu suku Fur dan Zaghawah, jelas tidak terlepas begitu saja dari intrik negara-negara maju. Jaisy Tahrir al-Sudan (The Sudan Liberation Army/SLA) yang dibentuk oleh suku Fur, merupakan suku pribumi dan penduduk asli Darfur. Abdul Wahid Muhammad Nour, pimpinan suku terbesar Fur, adalah sosok sekularis tulen yang setia pada pemerintah Prancis yang baru saja meresmikan cabang SLA di Israel beberapa waktu lalu. Adapun Harakah al-Adl wa al-Musawah (The Justice and Equality Movement/JEM), dibentuk suku Zaghawah yang mendapat sokongan penuh dari Chad. Pucuk komando JEM, Khalil Ibrahim, adalah asuhan Inggris yang terus menggencarkan pemberontakan dengan misi utama pemisahan Darfur dari Khartoum.

Selain campur tangan gerakan salibis di Sudan Selatan, perang saudara di wilayah Darfur sebetulnya berawal dari kesepakatan keliru pemerintah Sudan dengan SPLA (Sudan People’s Liberation Army) pimpinan radikalis Kristen, mendiang Dr. John Garang. Pada Juli 2002, Pemerintah dan SPLA mencapai kesepakatan seputar kekuasaan negara dan agama, serta hak menentukan nasib sendiri bagi Sudan Selatan.

Penetapan hak menentukan nasib sendiri, pembagian kekayaan dan kekuasaan tersebut jelas ancaman strategis dan ideologis bagi Sudan. Dengan diakuinya kesepakatan itu, terbuka pintu lebar bagi provinsi dan daerah-daerah lain untuk menuntut hal yang sama. AS dilansir termasuk pihak yang memprovokasi Sudan Selatan terutama John Garang. AS bahkan menghembuskan otonomi luas itu kepada daerah-daerah lainnya termasuk di wilayah barat Sudan, Darfur.

Adu domba adalah strategi murahan yang digencarkan Barat berikut sekutunya dengan mengolah perang saudara tiada henti. Kepentingan ekonomi dan ideologi telah menyatukan koloni asing di Sudan. Misi ideologis inilah yang menjadikan Israel merasa mendapatkan undangan turut ‘cawe-cawe’ dalam konflik Sudan Selatan, Utara, dan Darfur.

Presiden Sudan, Omar al-Bashir, menuding Israel dan sejumlah negara Barat berada di balik konspirasi yang membakar konflik di Darfur. Menurut Bashir, pendanaan perang dan distribusi persenjataan milisi di Darfur yang memerangi pemerintahan Sudan dilakukan oleh Israel dan sejumlah negara Barat, guna menguasai aset kekayaan yang dimiliki Darfur melalui krisis yang sekarang tengah berkobar.

Terdapat tiga faktor penyebab terjadinya krisis Darfur sehingga sampai pada tingkat eskalasi sekarang. Ketiga faktor itu adalah; Pertama, konflik lawas yang terjadi puluhan tahun di antara suku-suku berkaitan dengan tanah, padang gembalaan, dan sumber air. Sejak Darfur dikuasai Inggris tahun 1916, salah satu kebijakan mereka membangun administrasi pemerintahan Sudan termasuk Darfur dengan dasar pemisahan Selatan-Utara dan kekuasaan didasarkan sukuisme di mana pemimpin suku menjadi penguasa riil.

Pemerintahan kesukuan inilah yang menancapkan paham kesukuan (qaumiyah qabaliyah) sekitar 85 suku di Darfur. Konflik Darfur sendiri dipicu perselisihan antara kelompok petani (Fur, suku Negro pribumi berdarah Afrika), peternak, dan penggembala (Janjaweed, suku Arab pendatang). Di antara masalah terbesarnya adalah sumber air, yang digunakan menjadi isu tentang perbedaan sehingga menimbulkan konflik. Kedua, marginalisasi Darfur oleh pemerintah pusat di Khartoum dan terhambatnya distribusi ekonomi dan kesejahteraan. Ketiga, faktor luar berupa pertarungan pengaruh antara AS dan Eropa yang dimotori Prancis, Inggris, dan Jerman.

Puncak kemarahan Khartoum kepada milisi pemberontak SLA maupun JEM kian menjadi, terutama ketika pemerintah Sudan mengendus eskalasi perlawanan para pemberontak tersebut khususnya JEM di negeri tetangganya, Chad. Para pemberontak ini tengah menyusun kekuatan untuk menyerang Sudan dengan dukungan penuh dari Israel. Menyikapi ancaman itu, Khartoum kini mempersiapkan pasukan militernya untuk menghadapi berbagai kemungkinan yang terjadi.

Juru bicara Menlu Sudan, Ali al-Shadiq, menegaskan, pihaknya tengah mematangkan persiapan pasukan pemerintah guna menghadapi pasukan pemberontak. Al-Shadiq menuding JEM menjalin kerjasama intens dengan Mossad Israel. Menurut Shadiq, kerjasama tersebut dijalin secara terang-terangan terutama saat jubir Israel menegaskan dukungan militer untuk memperkuat barisan pemberontak yang ada di wilayah Chad. Misi utama Israel ini tiada lain agar bisa ikut campur dalam mencaplok pengaruh penguasa lokal di Darfur.

Puncak perebutan pengaruh konflik di timur laut Afrika itu, ditandai terbitnya surat perintah penangkapan (warrant arrest) Jaksa Penuntut Pengadilan Pidana Internasional (International Criminal Court), Louis Moreno-Ocampo. Ocampo menuduh Presiden Sudan, Omar al-Bashir, melakukan genosida dengan menewaskan lebih 300.000 orang tak berdosa. Al-Bashir resmi ditetapkan sebagai tersangka dengan tuduhan Crimes Against Humanity dan War Crimes atas konflik Darfur.

Untung saja keputusan Den Haag Belanda tersebut ditentang pemerintah Sudan, negara-negara Arab, dan Uni Afrika. Dugaan ini semakin melengkapi munculnya asumsi bahwa bercokolnya LSM-LSM internasional di Darfur, sebagai agen dan mata-mata asing. Dengan tegas, utusan Uni Afrika, Jean Ping, dalam keonferensi pers di Khartoum, meminta ICC mengkaji keputusannya. “Sudan sedang memadamkan api konflik di Darfur, sedangkan ICC justru menyiram minyak di atas api konflik tersebut,” kata Jean.

Berang dengan skenario ICC, Al-Bashir kemudian mengeluarkan keputusan penting yang cukup mengagetkan dunia internasional. Al-Bashir mengusir semua lembaga bantuan asing yang beroperasi di negaranya dan memberi waktu sampai akhir tahun ini bagi lembaga tersebut untuk segera hengkang dari Sudan. “Keputusan ICC adalah bentuk penjajahan baru, demi mewujudkan berbagai kepentingan negara-negara maju,” ujar al-Bashir.

Menteri Pertahanan Sudan, Abdul Rahim Muhammad Hussein, menegaskan kepada surat kabar Arab Saudi, Okaz, bahwa 24 organisasi Yahudi tengah menyulut konflik di Darfur. “Konflik Darfur disulut oleh 24 organisasi Yahudi yang sangat aktif mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan isu holocaust bagian dari kampanye mereka,” kata Hussein.

Jelaslah bagaimana pengaruh hegemoni Barat khususnya AS, Eropa, juga Israel dalam konflik tiada henti di Darfur. Sebagai negara kapitalis, tujuan utama mereka mendulang konflik di Darfur adalah untuk merampok kekayaan Sudan. Norm Dixon, kolumnis Australia, pernah menulis, “Laba minyak berada di balik air mata Barat untuk Darfur.”

4 thoughts on “Misi Israel dalam Konflik Darfur

  1. Israel, Amerika, Inggris, Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, Rusia memang negara bangsat. Tidak pernah puas dengan apa yang telah mereka genggam.

    Di Darfur bermain. Di Somalia pun. Media juga ikut-ikutan membantu penjajah dengan menyebut pejuang Somalia sebagai perompak, bajak laut. Mereka berhak melakukan pelarangan melintas di Teluk Eden, karena wilayah tersebut sedang sengketa dengan Etiopia. Pejuang Somalia hendak mempertahankan tanahnya. Barat mendukung Etiopia secara politik dan logistik militer. Sementara pejuang Somalia hanya dibantu oleh Eritrea sesama Muslim. Dan kini kasus Bosnia sedang berlaku di Somalia. Barat melarang penjualan senjata kepada Eritrea karena Eritrea membantu “pemberontak” Somalia. Dulu Bosnia dibantai habis setelah Barat mengembargo senjata ke Bosnia. Sedangkan Serbia dibantu secara terang-terangan atau pun tertutup.

    Ingat, wahai Barat, mujahidin takkan pernah bisa dipadamkan. Mereka akan selalu menunggu dan berjuang sampai kesabaran kalian habis. Sampai kalian memutuskan menggunakan senjata tercanggih atau nuklir atau apapun itu, atau kalian mundur keluar dari tanah-tanah Islam dengan tertunduk lesu dan malu seperti Inggris dan Rusia di Afghanistan.

    Ya Allah bantulah mujahidin Palestina, Somalia, Afghanistan, Irak, Chechnya, Pattani, dan di seluruh dunia. Kalahkan musuh-musuh kami, musuh-musuh agama-Mu.

  2. Kita hanya berkoar disini, kenyataan disana Milisi Arab Janjaweed dab Muslim Afrika Hitam saling membantai. Di Afghanistan Taliban babak belur dihajar Tentara Pakistan yg Muslim padahal dulu pernah digunakan untuk membantu Para Pejuang Kashmir, di Yaman Milisi Shiah mulai unjuk gigi, di Iraq Suni dan Shiah saling membantai. Tolong masalah diluar Negeri jangan dibawa ke Indonesia yg sudah Adem Ayem ini…..Kita Berkonflik diawali oleh “Kata kata yg Pedas terhadap Suatu Kaum yg tidak sama dgn kita dalam hal Pencarian Tuhan” ….Erithtrea itu Mayoritas Muslim,..tapi membantu Suku Arab Beja di Kassala untuk memberontak terhadap Pemerintah Sudan….dan memberi Fasilitas Pangkalan Angkatan Laut buat Israel di Kepulauan Dahklaq Kebir, karena kepulauan tsb juga diklaim oleh Yaman…..jadi “Hanya KEPENTINGAN NASIONAL” buat mereka berperang dengan musuh…tolong disimak juga POLISARIO di Sahara Barat….juga berperang dg Maroko yg Muslim….Makanya Hidup Beragama itu yg TOLERAN terhadap orang lain…..Islam itu Rahmatan Lil Alamin…

  3. Coba Anda Berkelana ke negara negara Berpenduduk Muslim mulai dari Mauritania sampai Mindanao,…kebanyakan Rakyat di Negara2 tsb Mendambakan Negara Berpenduduk Muslim seperti di Indonesia,…..Bisa Hidup Berdampingan walau Beratus Suku Bangsa, Berlainan Agama dan Kepercayaan, Warna Kulit dan Bahasa,…….Orang orang Arab Kelas Rakyat, hanya mengenal Soekarno karena membantu memerdekakan Negara2 Muslim,….dan Mengenal Gus Dur karena Demokrasi dan Pluralisme nya,…..Buat Pemimpin2 Arab Muslim itu tabu,….kapan Negara2 Islam Bisa Maju dan Memimpin Dunia, kalau Pemerintahannya Otoriter Absolut,…dan Rakyatnya dinina bobokan dgn Kekayaan Minyak. Israel itu kan Kecil, Sempit, Gersang bergurun……Tapi dikeroyok beberapa kali masih Digdaya…itu kenyataan …..bukan karangan saya pribadi…..Terus Anda Berani nggak ngeroyok pakai Bambu Runcing…..Perlu Keberanian yg Total…Seperti Arek Arek Suroboyo 10 Nopember 1945. Dan Indonesia kan nggak ada Masalah Dgn Negara2 Arab dan Israel…..meski mereka berkonflik, masak kita ikut terjun secara Militer..? Tolong di Baca Sejarah Mulai dari Nabi Ibrahim menyeberangi Sungai Eufrat,…..Sampai Kuburan Salahudin Al Ayubi di bongkar Tentara Inggris,..dan Berkata”Perang Salib Sudah Berakhir”….dan Janji Allah buat Bani Israel terhadap Tanah yg Dijanjikan……di Gurun Sinai

  4. Tujuan kami hanya untuk memperlihatkan bahwa meski terjadi perang saudara, tapi kami ikut memperhatikan kelakuan orang-orang kafir yang ikut campur.

    Kami tidak tahu bahwa ada Muslim di luar negeri yang kagum dan mau hidup di negeri yang, perzinahan turun temurun, mabok berteriak sorak, makan bangkai beramai-ramai. Semuanya ada tepat di hadapan kami. Sangat dekat. Kami tidak tahu ada orang-orang yang mau mengalami hal-hal itu tepat di hadapannya. Kami bukannya tidak merasakan apa yang mereka rasakan dalam keadaan perangnya mereka.

    Ingat tujuan post ini hanya memperlihatkan bahwa kami tidak suka dengan orang-orang kafir yang mencoba ikut-ikutan, terlepas dari permainan internal pihak dalam negeri Muslim.

    ———————————————————————————————-
    Memang benar banyak kepentingan pribadi (ketamakan) dan kepentingan nasional. Tapi sebagai seorang Muslim dari sudut manakah Anda menilai hal ini. Jika Anda melihat negara kafir ikut-ikutan dengan berlagak pahlawan mengatakan kebaikan kelakuan dan tujuan-tujuan damainya.

    Seburuk-buruknya prasangka kami, kami tidak mengatakan bahwa terjadi perang saudara tanpa adanya campur tangan dari pihak kafir.

    Bukankah AlQur’an telah menerangkan bahwa selama mereka Muslim, patut kita membelanya jika mereka meminta perlindungan. Di mata internasional, mereka dipandang terjadi perang saudara karena kekayaan dan ambisi pribadi dari setiap golongan di antara mereka. Lalu apa perbedaannya dengan kita jika kita pun memandang hal yang sama dengan orang-orang kafir.

    Mereka menghibur rakyatnya dengan hiburan hollywood dan berbagai macamnya, lalu sebagai selingan mereka menyuguhi patriotisme negara mereka di afrika dan seluruh dunia. Dan rakyatnya tidak bertanya ada apa. Jika mereka tidak mau dipersalahkan mengapa mereka mendatangi setiap negara dengan berbagai ambisi. Jangan jauh-jauh, lihat negeri ini. Di satu sisi mereka bergerak menggunakan demokrasi, di sisi lain bergerak menggunakan investasi. Dan sebagai penyeimbang mereka bergerak menggunakan NGO. Akhirnya disana kita berkelahi dalam demokrasi, nasionalisme, dan modernisasi Islam.

    Suatu saat JOOKUT dkk ingin melihat keadaan ini di negeri-negeri barat Semoga kami bisa mengusahakannya suatu saat nanti (padahal sebenarnya mereka pun sekarang sedang berkelahi juga). We just play in this world.

    ———————————————————————————————-
    Jika dipandang otoriter, tanpa menyinggung hal-hal ketamakan, itu harus menjadi satu poin dalam memimpin. Itu adalah watak dasar memimpin. Jika apa yang dilakukannya adalah kebaikan sesuai syari’at ALLAH, maka tidak boleh menentangnya. Jika keburukan, maka kita berkewajiban memperbaikinya.

    Mengenai Taliban yang berperang dengan pasukan Pakistan yang Muslim. Apakah keterangan Al-Qur’an belum jelas bahwa ALLAH benci orang-orang munafik (sifat yang halusnya lebih halus dari benang). Meski kami sadar di hati kami pun ada penyakit, tapi pernahkah kita sampai pada titik dimana kita bertanya dan menghadapi kenyataan pahit bahwa muncul pertanyaan apakah sebenarnya kita sudah sesuai dengan yang ALLAH inginkan. Jika tidak ada yang membenarkan keinginan Taliban untuk menegakkan Syari’at Islam, maka biarlah kami bersaksi bahwa mereka bukan orang-orang munafik yang enggan kepada hukum ALLAH. Mereka mendekati suatu kenyataan bahwa tidak boleh ada yang memalingkan perhatian kaum Muslimin dari beribadah kepada ALLAH.

    Cukuplah ALLAH menjadi saksi bagi kami bagaimana Dia menunjukan keburukan kami, hati kami, sifat kami, perkataan kami, perbuatan kami, dalam AlQur’an. Kami tidak tahu apa pencapaian tertinggi Anda sebagai seorang Muslim. Mungkin kami mengira bukan ini (keadaan negeri ini, biarpun semua ‘baik-baik saja’) pencapaian tertinggi kami sebagai seorang Muslim.

    Pernah kami merasa bahwa hanya Usamah yang kami ridhai sebagai seorang pemimpin. Bahwa ia dan Taliban lebih baik dari berjuta-juta muslim di negeri ini yang telah banyak diberi kesempatan. Ini berbeda hal dengan kebijaksanaan ALLAH pada negeri ini. Ini tentang keinginan. Apakah negeri ini tidak mau menerangkan hukum-hukum ALLAH. Bahwa yang benar itu dari ALLAH. Adakah keinginan negeri ini menerangkan dengan sejelas-jelasnya bahwa hukum bagi para pezinah, pemabuk, pencuri, dsb.

    Bahwa ALLAH telah menetapkan Kasih Sayangnya kepada umat-Nya. Kini apakah kita bisa memliki keinginan untuk menundukkan hati kita agar mau menerapkan hukum ALLAH. Sampai kapan negeri ini terus berprasangka buruk pada-Nya. Kami tidak menyinggung pemimpin negeri ini. Karena mereka memang tidak bisa diharapkan.

    ———————————————————————————————-
    Mengapa Soekarno bisa-bisanya membantu negara Muslim sedangkan dia memadamkan syari’at ALLAH di negeri ini. Na’udzubillah. Untuk (Alm) Gusdur, kami sepakat bahwa kami telah menjadikan dia bermasalah dengan kami kelak di akhirat. Titik. Jadilah saksi atas permasalahan kami dengannya kelak di akhirat. https://unseenhands.wordpress.com/2010/01/07/ketidaklaziman-flu-burung/#comment-434. Apakah pernah terdengar Jookut dkk, memenggal seorang kafir secara tiba-tiba. Lalu menjadikan kami dan orang-orang yang menghendaki Syari’at ALLAH dijadikan contoh ocehannya tentang agama. Dan pluralismenya sebagai sifat luhur. Sambil memaki Muhammad, AlQur’an, dan Ulama.

    Saat ini seluruhnya sedang dipertentangkan. Setiap Muslim menjadi berhak berbicara meski itu menentang ALLAH. Semua akan ada waktunya sampai kita, semua Muslim, mengatakan tidak jalan lain selain Perang Perpisahan.
    ———————————————————————————————-
    Jangan menjadikan kalimat Rahmatan lil ‘Alamiin sebagai alasan untuk tidak menolak dan mengiyakan begitu saja apa yang dikatakan dan dilakukan orang-orang kafir.

    Maha Suci ALLAH dari apa yang disangkakan oleh kami. Sesungguhnya prasangka terbaik kepada-Mu adalah prasangka Rasul-Mu, Tentara-Mu, Wali-Mu, dan orang-orang yang Kau sucikan.

    Wassalam…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s