Bukan Emisi Rumah Kaca Semata

Bukan Emisi Rumah Kaca Semata – Senjata NWO Washington Punya Kemampuan Memicu Perubahan Iklim
Oleh: Michel Chossudovsky (Profesor Ekonomi Universitas Ottawa, penulis “The Globalization of Poverty”, edisi kedua, Common Courage Press, 2000)
(Sumber: www.earthpulse.com)

©Copyright by Michel Chossudovsky, Ottawa, November, 2000.
All rights reserved. Dipersilahkan untuk memasang artikel ini di situs komunitas non-komersial, menyajikannya secara utuh, dan menampilkan nota hak cipta. Untuk mempublikasikan artikel ini dalam bentuk cetak dan/atau bentuk lain, hubungi penulisnya di chossudovsky@videotron.ca, fax: 1-514-4256224.

Perdebatan penting mengenai pemanasan global di bawah petunjuk PBB hanya menyediakan gambaran parsial atas perubahan iklim; di samping dampak emisi rumah kaca yang merusak lapisan ozon, iklim dunia kini dapat dimodifikasi sebagai bagian dari generasi baru “senjata non-mematikan” canggih. Amerika dan Rusia telah mengembangkan kemampuan untuk memanipulasi iklim dunia.

Di AS, teknologi tersebut tengah disempurnakan di bawah program High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) sebagai bagian dari (“Star Wars”) Strategic Defense Initiative (SDI). Bukti ilmiah mutakhir menunjukkan bahwa HAARP beroperasi penuh dan punya kemampuan potensial memicu banjir, musim kemarau, badai, dan gempa bumi. Dari sudut militer, HAARP merupakan senjata pemusnah masal. Kemungkinan besar, ia merupakan instrumen penakluk yang mampu secara selektif mendestabilisasi sistem agrikultur dan ekologi seluruh wilayah.

Meski terdapat sekumpulan pengetahuan ilmiah, isu manipulasi iklim secara sengaja untuk kepentingan militer belum pernah secara eksplisit menjadi bagian agenda PBB dalam perubahan iklim. Delegasi resmi maupun kelompok aksi lingkungan yang berpartisipasi dalam Conference on Climate Change (CO6) (November 2000) belum mengangkat isu luas “perang cuaca” atau “teknik modifikasi lingkungan (ENMOD)” sebagai sesuatu yang relevan dengan pemahaman perubahan iklim.

Benturan antara lobi negosiator resmi, environmentalist, dan perusahaan Amerika berpusat pada penolakan palsu Washington untuk mematuhi komitmen tentang target penurunan karbon dioksida berdasarkan protokol Kyoto 1997.[1] Dampak teknologi militer terhadap iklim dunia tidak menjadi objek diskusi atau perhatian. Terbatas pada gas rumah kaca, perdebatan yang terus berlangsung mengenai perubahan iklim membantu tujuan strategis dan pertahanan Washington.

“Perang Cuaca”
Ilmuwan ternama dunia, Dr. Rosalie Bertell, menegaskan bahwa “ilmuwan-ilmuwan militer AS…tengah mengerjakan sistem cuaca sebagai senjata potensial. Metode-metode itu meliputi peningkatan badai dan pengalihan sungai uap air (vapor river) di atmosfer Bumi untuk menghasilkan musim kemarau atau banjir.”[2] Pada 1970-an, mantan penasehat Keamanan Nasional, Zbigniew Brzezinski, telah meramalkan dalam bukunya, “Between Two Ages”, bahwa: “Teknologi akan menyediakan, bagi pemimpin negara-negara besar, teknik-teknik untuk menjalankan peperangan rahasia, yang hanya membutuhkan penaksiran kekuatan keamanan yang minimum… Teknik-teknik modifikasi cuaca dapat dipergunakan untuk menghasilkan periode musim kemarau dan badai yang panjang.”

Marc Filterman, mantan perwira militer Prancis, menguraikan beberapa tipe “senjata inkonvensional” yang menggunakan frekuensi radio. Dia menyebutkan “perang cuaca”, mengindikasikan bahwa AS dan Uni Soviet “telah menguasai teknik yang dibutuhkan untuk melepaskan perubahan iklim mendadak (badai, musim kemarau) di awal 1980-an”.[3] Teknologi-teknologi ini “memungkinkan pemicuan disturbansi atmosfer dengan menggunakan [gelombang] radar Extremely Low Frequency (ELF)”.[4]

Sebuah studi simulasi “skenario” pertahanan masa depan yang ditugaskan oleh Angkatan Udara AS menghendaki agar:

“Kekuatan antariksa AS ‘menguasai cuaca’ dengan memanfaatkan teknologi baru dan memfokuskan pengembangan teknologi-teknologi tersebut pada aplikasi peperangan… Dengan meningkatkan operasi bersahabat atau mengacaukan pihak musuh melalui penyesuaian pola cuaca alam skala kecil untuk mencapai dominasi komunikasi global dan kontrol antariksa, modifikasi cuaca menyodorkan kepada prajurit perang serangkaian opsi luas untuk mengalahkan atau memaksa musuh… Di AS, modifikasi cuaca kemungkinan besar akan menjadi bagian dari kebijakan keamanan nasional dengan penerapan domestik maupun internasional. Pemerintah kita akan menjalankan kebijakan demikian, tergantung pada kepentingannya, di beragam level.[5]

High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP)
High-frequency Active Auroral Research Program (HAARP) yang berbasis di Gokoma Alaska—dikelola secara bersama-sama oleh Angkatan Udara dan Angkatan Laut AS—adalah bagian dari generasi baru persenjataan canggih di bawah Strategic Defense Initiative (SDI) AS. Dioperasikan oleh Air Force Research Laboratory’s Space Vehicles Directorate, HAARP merupakan sebuah sistem antena powerful yang mampu menciptakan “modifikasi lokal ionosfer terkendali”. Ilmuwan Dr. Nicholas Begich—aktif terlibat dalam kampanye publik menentang HAARP—menggambarkan HAARP sebagai:

“Teknologi super-powerful radiowave-beaming yang mengangkat area-area ionosfer [lapisan atas atmosfer] dengan memfokuskan beam dan memanaskan area-area itu. Gelombang-gelombang elektromagnetik kemudian kembali ke bumi dan mempenetrasi segala sesuatu – yang hidup maupun mati.”[6]

Dr. Rosalie Bertell melukiskan HAARP sebagai “alat pemanas raksasa yang bisa menyebabkan disrupsi besar di atmosfer, tidak hanya menciptakan lubang-lubang, tapi juga irisan-irisan panjang di lapisan pelindung yang melindungi planet ini dari radiasi mematikan.”[7]

Penyesatan Opini Publik
HAARP disampaikan ke publik sebagai program riset ilmiah dan akademis. Namun, dokumen-dokumen militer AS menunjukkan bahwa tujuan utama HAARP adalah “mengeksploitasi ionosfer untuk kepentingan Dpeartemen Pertahanan”.[8] Tanpa merujuk secara eksplisit kepada program HAARP, sebuah studi Angkatan Udara AS mengarah pada penggunaan “modifikasi ionosfer yang dirangsang” sebagai cara mengubah pola cuaca serta mengacaukan komunikasi dan radar musuh.”[9]

Menurut Dr. Rosalie Bertell, HAARP adalah bagian dari sistem persenjataan terintegrasi, yang punya potensi konsekuensi lingkungan yang merusak:

“Ia terkait dengan lima puluh tahun program intensif dan semakin destruktif untuk memahami dan mengendalikan atmosfer bagian atas. Terlalu gegabah untuk tidak menghubungkan HAARP dengan pembangunan laboratorium antariksa yang tengah direncanakan secara terpisah oleh AS. HAARP adalah bagian integral dari sejarah panjang riset antariksa dan pengembangan militer disengaja. Implikasi militer dari kombinasi proyek-proyek ini sungguh menggelisahkan. …Kemampuan kombinasi HAARP/Spacelab/roket untuk melepaskan energi dalam jumlah sangat besar, sebanding dengan bom nuklir, ke setiap tempat di bumi via sinar laser dan sinar partikel, sangat mengerikan. Proyek tersebut kemungkinan besar “dijual” ke publik sebagai perisai antariksa terhadap senjata yang masuk, atau, agar lebih mudah dipercaya, perangkat untuk memperbaiki lapisan ozon.[10]

Di samping manipulasi cuaca, HAARP mempunyai sejumlah penggunaan terkait:

“HAARP dapat berkontribusi pada perubahan iklim dengan secara intensif membombardir atmosfer dengan sinar-sinar high-frequency… Gelombang-gelombang low-frequency yang kembali pada intensitas tinggi juga dapat mempengaruhi otak manusia, dan efek terhadap pergerakan tektonik tidak bisa dikesampingkan.[11]

Secara lebih umum, HAARP mempunyai kemampuan memodifikasi medan elektromagnetik Bumi. Ia adalah bagian dari gudang “senjata elektronik” yang dianggap oleh periset militer AS sebagai “peperangan yang lebih lembut dan manis”.[12]

Senjata New World Order
HAARP adalah bagian dari gudang senjata New World Order di bawah Strategic Defense Initiative (SDI). Dari sudut komando militer di AS, seluruh ekonomi nasional berpotensi didestabilisasi melalui manipulasi iklim. Yang lebih penting, itu bisa diimplementasikan tanpa sepengetahuan musuh, dengan biaya minimal dan tanpa mempekerjakan personil dan peralatan militer seperti dalam perang konvensional.

Penggunaan HAARP – seandainya diaplikasikan – berpotensi berdampak merusak iklim dunia. Terkait kepentingan ekonomi dan strategis, ia dapat digunakan untuk secara selektif memodifikasi iklim di berbagai wilayah dunia yang mengakibatkan destabilisasi sistem agrikultur dan ekologi.

Penting pula dicatat bahwa Departemen Pertahanan AS mengalokasikan sumber-sumber daya substansial pada pengembangan sistem intelijen dan monitoring perubahan cuaca. NASA dan National Imagery and Mapping Agency (NIMA) Departemen Pertahanan tengah mengerjakan “perbandingan untuk studi banjir, erosi, bahaya longsor, gempa bumi, zona ekologi, ramalan cuaca, dan perubahan iklim” dengan data yang di-relay dari satelit.”[13]

Kelambanan Kebijakan PBB
Menurut Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) yang ditandatangani pada Earth Summit 1992 di Rio de Janeiro:

“Negara mempunyai… sesuai dengan Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional, tanggung jawab untuk memastikan bahwa aktivitas dalam yurisdiksi atau kontrol mereka tidak merusak lingkungan Negara lain atau wilayah di luar batas yurisdiksi nasional.”[14]

Penting pula diingat bahwa sebuah Konvensi internasional yang diratifikasi oleh Majelis Umum PBB pada 1997 melarang “pemanfaatan militer atau permusuhan lainnya atas teknik modifikasi lingkungan yang memiliki efek parah atau berlangsung lama dan meluas”.[15] AS maupun Uni Soviet termasuk ke dalam penandatangan Konvensi tersebut. Konvensi tersebut mendefinisikan “’teknik modifikasi lingkungan’ sebagai teknik untuk mengubah—melalui manipulasi proses alam secara disengaja—dinamika, komposisi, atau struktur bumi, termasuk biota-nya, litosfer-nya, hidrosfer-nya, atau angkasa luar”.[16]

Lantas mengapa PBB—mengabaikan Konvensi ENMOD 1997 serta piagamnya sendiri—memutuskan untuk mengecualikan perubahan iklim akibat program militer dari agendanya?

Parlemen Eropa Mengakui Dampak HAARP
Pada Februari 1998, menanggapi laporan Nyonya Maj Britt Theorin—MEP Swedia dan advokat perdamaian kawakan—, Committee on Foreign Affairs, Security, and Defense Policy Parlemen Eropa mengadakan public hearing di Brussels mengenai program HAARP.[17] “Mosi Resolusi” Komite tersebut disampaikan kepada Parlemen Eropa:

“Mempertimbangkan HAARP… atas dampaknya yang luas terhadap lingkungan, sebagai perhatian global dan meminta agar implikasi legal, ekologi, dan etisnya diuji oleh lembaga independen internasional…; [Komite] menyesalkan penolakan berulang kali Pemerintahan AS… untuk memberikan bukti pada public hearing… tentang resiko lingkungan dan masyarakat dari program HAARP.”[18]

Namun, permintaan Komite untuk menyusun “Green Paper” mengenai “dampak aktivitas militer terhadap lingkungan” tersebut ditolak begitu saja atas dasar bahwa Komisi Eropa tidak punya yurisdiksi untuk menyelidiki “kaitan antara lingkungan dan pertahanan”.[19] Brussels ingin sekali menghindari bentrokan dengan Washington.

Beroperasi Penuh
Meski tak ada bukti konkret tentang penggunaan HAARP, temuan-temuan ilmiah menunjukkan bahwa saat ini ia sedang beroperasi penuh. Artinya HAARP berpotensi dipakai oleh militer AS untuk secara selektif memodifikasi iklim “bangsa tak bersahabat” atau “negara bajingan” dengan maksud mendestabilisasi ekonomi nasionalnya.

Sistem agrikultur di negara berkembang dan miskin telah berada dalam krisis akibat kebijakan New World Order yang meliputi deregulasi pasar, dumping komoditas, dan lain-lain. Sudah luas terdokumentasi bahwa “obat ekonomi” IMF dan Bank Dunia yang dipaksakan kepada Dunia Ketiga dan negara-negara bekas blok Soviet telah berkontribusi besar pada destabilisasi agrikultur domestik. Sebaliknya, ketentuan World Trade Organization (WTO) telah menopang kepentingan segelintir konglomerat agri-biotech Barat dalam usaha mereka memaksakan benih modifikasi genetis (GMO) kepada petani-petani di seluruh dunia.

Penting untuk memahami pertalian antara proses ekonomi, strategis, dan militer New World Order. Dalam konteks di atas, manipulasi iklim di bawah program HAARP (entah kebetulan atau disengaja) akan memperburuk perubahan ini dengan memperlemah ekonomi nasional, merusak infrastruktur, dan berpotensi memicu kebangkrutan petani di banyak wilayah. Sudah pasti pemerintah-pemerintah dan PBB harus menangani konsekuensi potensial HAARP dan “senjata non-mematikan” lainnya terhadap perubahan iklim.

Catatan kaki
[1] The latter calls for nations to reduce greenhouse gas emissions by an average of 5.2 percent to become effective between 2008 and 2012. See Background of Kyoto Protocol at http://www.globalwarming.net/gw11.html.
[2] The Times, London, 23 November 2000.
[3] Intelligence Newsletter, December 16, 1999.
[4] Ibid.
[5] Air University of the US Air Force, AF 2025 Final Report, http://www.au.af.mil/au/2025/ (emphasis added).
[6] Nicholas Begich and Jeane Manning, The Military’s Pandora’s Box, Earthpulse Press, http://www.xyz.net/~nohaarp/earthlight.html. (See also the HAARP home page at http://www.haarp.alaska.edu/).
[7] See Briarpatch, January, 2000. (emphasis added).
[8] Quoted in Begich and Manning, op cit.
[9] Air University, op cit.
[10] Rosalie Bertell, Background of the HAARP Program, 5 November, 1996, http://www.globalpolicy.org/socecon/envronmt/weapons.htm
[11] Begich and Manning, op cit.
[12] Don Herskovitz, Killing Them Softly, Journal of Electronic Defense, August 1993. (emphasis added). According to Herskovitz, “electronic warfare” is defined by the US Department of Defense as “military action involving the use of electromagnetic energy…” The Journal of Electronic Defense at http://www.jedefense.com/ has published a range of articles on the application of electronic and electromagnetic military technologies.
[13] Military Space, 6 December, 1999.
[14] UN Framework Convention on Climate Change, New York, 1992. See complete text at http://www.unfccc.de/resource/conv/conv_002.html, (emphasis added).
[15] See Associated Press, 18 May 1977.
[16] Environmental Modification Ban Faithfully Observed, States Parties Declare, UN Chronicle, July, 1984, Vol. 21, p. 27.
[17] European Report, 7 February 1998.
[18] European Parliament, Committee on Foreign Affairs, Security and Defense Policy, Brussels, doc. no. A4-0005/99, 14 January 1999.
[19] EU Lacks Jurisdiction to Trace Links Between Environment and Defense, European Report, 3 February 1999.

One thought on “Bukan Emisi Rumah Kaca Semata

  1. HAARP seringkali membuat penasaran. Inikah itu tea teh? Inikah itu tea teh? Inikah yang diisyaratkan oleh Allah dalam surat Ibrahim ayat 46 tea teh?

    Bukannya bermaksud berpikir sekuler dengan mencari penyebab bencana dari sudut ilmiah. Tapi saya rasa kita perlu mulai membedakan mana bencana yang diturunkan oleh Allah swt dan mana yang akibat dari perbuatan tangan manusia. Apa sebab? Karena bencana yang direkayasa oleh manusia bisa menimbulkan dampak ideologis psikologis amat besar. Contohnya, kasus sebuah aliran sesat beberapa waktu lalu, di mana pemimpinnya menyatakan kemarahan kepada Allah swt yang terus mengirimkan bencana kepada bangsa Indonesia padahal umat Islam masih beribadah kepada-Nya, begitu menurutnya.

    Bagaimana kalau ternyata semua bencana dan kerusakan ini akibat ulah tangan manusia? Berarti kita telah melayangkan tuduhan/prasangka buruk kepada Allah swt, bukan demikian?

    Artinya jika pihak berkepentingan memanfaatkan teknologi untuk mendatangkan bencana terus-menerus, ada kemungkinan sasarannya juga bersifat ideologis psikologis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s