Flu Burung dan Gelombang Mikro – Apakah Kita Membunuh Burung dengan Radiasi

Oleh: Sepp Hasslberger
29 Mei 2007
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Apakah kita membunuh teman berbulu kita dengan radiasi? Pertanyaan ini mungkin terdengar dibuat-buat, tapi sebenarnya bukan imajinasi luas. Gelombang mikro memang menyebabkan pemanasan dan perubahan lainnya yang lebih halus pada jaringan biologis. Dr. Mae-Wan Ho dari ISIS mengatakan: “Burung-burung dekat base station ponsel tidak berkembang biak dengan baik,” dalam sebuah artikel baru-baru ini yang berjudul “Mobile Phones & Vanishing Birds – Where did all the sparrows go?

Di samping burung, lebah ikut sakit dan terdisorientasi, dan seluruh sarangnya ditinggalkan – kita bahkan memiliki nama baru untuk fenomena tersebut: Colony Collapse Disorder atau Vanishing Bee Syndrome. Penyakit misterius telah membinasakan sebagian besar populasi lebah madu di beberapa negara. Terdapat beberapa pertalian dengan pestisida, panen modifikasi genetis yang menghasilkan racun merupakan satu hipotesis, tapi radiasi gelombang mikro sebagaimana digunakan dalam peralatan komunikasi juga terlibat. Dalam kasus lenyapnya sarang-sarang lebah yang terdokumentasikan di Jerman beberapa tahun silam, lebah-lebah menghilang dari sarang yang terpapar oleh gelombang mikro dari menara relay ponsel yang berada tak jauh, sementara sarang lainnya, yang terletak di balik perlindungan pelat aluminium, tetap berada di tempatnya.

Selain daripada burung-burung yang terdisorientasi dan mati dalam lingkungan menara ponsel, mungkinkah radiasi tersebut bertanggung jawab atas persistensi apa yang kita sebut flu burung? Penyakit ini telah membunuh ayam-ayam dan unggas lainnya dan secara resmi diatributkan pada virus umum  dengan penandaan H5N1. Mantan perwira Royal Canadian Navy, Larry Blackhall, berpikir kemungkinan adanya kaitan. Terlepas dari kondisi mengerikan dan penuh tekanan pada burung-burung yang terkurung dalam factory farm raksasa, mungkin terdapat faktor lain yang belum cukup dipertimbangkan.

Dalam sebuah paper yang diajukan kepada Standing Committee on Agriculture and Agri-Food Parlemen Kanada, Blackhall mengatakan bahwa bencana avian virus mungkin merupakan hasil tak diharapkan dari interaksi dua teknologi terkait:

  1. Sistem pabrik produksi ternak unggas berteknologi modern yang memperkenalkan aplikasi bahan kimia, obat-obatan, agen biologi, dan teknik radiasi elektromagnetik, dan;
  2. Radiasi elektromagnetik latar kumulatif.

Membahas bencana flu burung di BC, Kanada, pada awal 2004 di mana 19 juta burung (seluruh cadangan provinsi itu) binasa, Blackhall menyodorkan beberapa rincian lebih jauh:

————————————————————————————————————————

Pertalian
Penambahan pesat sistem produksi ternak unggas high tech dimulai pada awal 1990-an dengan peningkatan dua kali lipat jumlah lumbung padi di tahun kunci 1998-2001. Ini bertepatan dengan penambahan menara pemancar gelombang mikro yang sama pesatnya, yang mulai muncul di pertengahan 1990-an dengan akselerasi penambahan mendekati 457% selama tahun 1997 sampai 2004 dengan total 32 menara (yang diketahui) dibangun dalam periode ini. Saya yakin langkah ini akan berlanjut sampai 2007 di mana ia akan ‘mencapai taraf stabil’ sebagaimana diindikasikan oleh perkiraan industri.

Sains
A. Periode pertumbuhan atau pematangan dari telur menjadi anak ayam siap jual di sistem peternakan high tech telah berkurang dari alaminya 8 minggu menjadi kurang dari 5 minggu (rata-rata 34 hari) dalam kurun waktu kira-kira 20 tahun. Ini dicapai melalui aplikasi tak alami berupa agen kimia, biologi, dan obat-obatan serta radiasi dan pengaturan tekanan beban berat fisiologis psikologis. Ini melemahkan sistem imun anak ayam dan juga sistem hidup lainnya, termasuk manusia, terutama rentan selama tahap pertumbuhan remaja.

B. Efek-efek berbahaya dari radiasi kumulatif terhadap sistem kehidupan, khususnya burung, telah didemonstrasikan secara empiris oleh National Research Centre (NRC) Kanada sebagaimana diuraikan dokumen-dokumen yang disimpan dalam arsip mereka. Terdapat peningkatan bukti ilmiah global yang mendukung riset ini.

National Research Centre Kanada – NRC
Studi-studi tinjauan ilmiah dan laboratorium yang dilakukan oleh NRC Kanada mendemonstrasikan secara meyakinkan efek-efek berbahaya dari radiasi elektromagnetik terhadap sistem kehidupan. Studi-studi ini bisa diperoleh melalui arsip NRC. Untuk mendapat salinannya hubungi melalui nomor telepon 1 800 668 1222 atau kunjungi website mereka di www.nrc.ca/cisti. Ongkos nominalnya kurang lebih $12 cdn. Berikut tiga kutipan relevan singkat dari tiga studinya:

  1. Kutipan dari LTR-CS-113 karya Dr. J. Bigu, 1973, berjudul: Interaction of electromagnetic fields and living systems with special reference to birds. Selama periode stabilisasi awal, produksi telur tiap koloni sama, tapi menyusul serbuan radiasi, produksi telur dari koloni yang teradiasi meningkat ke level lebih tinggi di mana pada esensinya terus konstan. Dari segi jumlah total telur yang dihasilkan, selisih peningkatannya mencapai 13,7% – sebuah peningkatan yang mungkin signifikan secara ekonomi dalam pemeliharaan unggas asal saja efek interaksi lain, dan tak diharapkan, tidak muncul. Bagaimanapun, tingkat kematian koloni yang teradiasi adalah hampir dua kali lipat dibanding koloni yang melewati setiap fase A dan B.
  2. Kutipan dari LTR-CS-18 karya Dr. J. A. Tanner, 1969, berjudul: Effects of microwave radiation on Parakeets in Flight. Kesimpulan: Hasil yang diperoleh dalam eksperimen ini mengindikasikan bahwa radiasi gelombang mikro mempunyai efek tak diinginkan terhadap burung-burung yang sedang terbang, sebanding dengan yang sebelumnya teramati pada burung dalam sangkar. Ini memberi jalan menuju solusi potensial atas persoalan bahaya burung dalam dunia penerbangan.
  3. Kutipan dari LTR-CS-89 karya Dr. J. A. Tanner, 1973, ditulis bersama Romero-Sierra dari Dept of Anatomy, Queens’ University, Kingston, Ont., berjudul: Bird Feathers as Dielectric Receptors of Microwave Radiation. Penggunaan radiasi gelombang mikro bisa merugikan atau menguntungkan manusia, tergantung pada banyak faktor. Satu penggunaan radiasi gelombang mikro yang menguntungkan adalah untuk mengurangi bahaya burung bagi pesawat terbang. Ini merupakan bagian dari sebuah program ekstensif yang dirancang untuk menerangkan sifat kompleks interaksi radiasi gelombang mikro dengan sistem biologis.

Kesimpulan
Avian virus masuk akal disebabkan oleh kecelakaan akibat ketidakpedulian, atau pengabaian, atas efek-efek kumulatif paparan radiasi elektromagnetik, terutama gelombang mikro, yang terus meningkat dan beriringan dengan praktek sistem produksi ternak ayam high tech dan modern.

Rekomendasi

  1. Pengawasan komprehensif dan pencatatan radiasi latar dalam pola geostatik lokasi-lokasi vital terutama di area-area yang padat dengan peternakan hewan dan populasi manusia.
  2. implementasi ‘Prinsip Pencegahan’ WHO sebagai Standar Nasional untuk usaha selanjutnya dalam aplikasi elektromagnetik.
  3. Menjamin akses masyarakat umum terhadap informasi radiasi.

————————————————————————————————————————

Paper Blackhall ini mendampingi kesaksian di hadapan Committee dan dimasukkan dalam catatan penyelidikan, tapi sayang rekomendasinya sepertinya belum diimplementasikan.

Tentu saja industri yang dibicarakan di sini sangat powerful, dan mungkin sudah ada pemberangusan data. Ada laba besar dalam teknologi komunikasi, serta terdapat kepentingan pemerintah karena penggunaan komunikasi gelombang mikro dan teknologi deteksi jelas mempunyai implikasi keamanan nasional. Selain daripada teknologi komunikasi, radar militer dan sipil menggunakan pulse gelombang mikro berdaya tinggi, serta proyek pemanasan ionosfer HAARP jahat di Gakona, Alaska, dan fasilitas serupa lainnya di seluruh dunia memancarkan gelombang mikro berlevel daya gigawatt, memantulkannya dari ionosfer ke lokasi-lokasi yang tersebar luas di planet ini.

Pola migrasi burung dan bahkan kesehatannya dipertaruhkan dengan “efek kumulatif” radaisi semacam itu, sebagaimana disebut oleh Blackhall. Ini semestinya diinvestigasi dan dilaporkan dalam media, tapi sejauh ini media kita tak mampu – atau barangkali tak mau – untuk membukakan informasi tersebut secara berarti, atau untuk membuat kaitan dengan flu burung.

Pandangan pribadi
Izinkan saya menambah observasi pribadi saya sendiri sepanjang mendukung pemikiran bahwa burung-burung mengalami penderitaan stasiun repeater ponsel. Sebagaimana saya tulis hari ini kepada seorang teman, yang telah mengirimkan salinan artikel Where did all the sparrows go? karya Mae-Won Ho:

“Di sebuah pulau di Azores (Terceira), saya memiliki rumah di mana setiap tahun kami menghabiskan waktu satu sampai dua bulan, di mana sebuah antena ponsel dibangun sangat dekat. Setelah antena itu beroparesi, kami melihat sejumlah burung jatuh dari langit (saya bilang sejumlah, karena ada beberapa di teras rumah kami, jadi saya berasumsi bahwa di tempat sekitar pasti ada lebih banyak lagi). Burung-burung tersebut amat terdisorientasi dan setengah tak sadar. Banyak dari mereka yang pulih kembali setelah kurang lebih setengah jam meredakan diri, tapi yang lainnya mati. Menurut pendapat saya burung-burung tersebut terbang atau bertengger dekat antena emisi tiang ponsel, dan menerima terlalu banyak dosis radiasi gelombang mikro.

Melihat efek sedemikian berat terhadap burung (serangga seperti tawon besar juga terpengaruh), saya tak ragu bahwa bersarang dekat tiang ponsel bisa mempengaruhi reproduksi mereka. Tersadar memikirkannya – saya juga menemukan beberapa sarang burung yang ditinggalkan dan [sarang burung] di mana burung muda sangat kelaparan. Mungkin itu adalah sarang beberapa burung yang tidak berhasil dirampungkan setelah terpapar radiasi antena.

Tentu saja ini bukan “bukti”, hanya observasi pribadi saya.”

Jadi bagaimana radiasi gelombang mikro dapat menimbulkan masalah yang – untuk semua maksud dan tujuan – tampak disebabkan oleh virus?

Pikirkan “faktor penyumbang”, pikirkan “pelemahan sistem imun”. Dalam keruntuhan koloni lebah, kita menjumpai kehadiran banyak mikroba dan parasit, tak satu pun dari keduanya yang lazim atau khas. Penjelasan potensialnya adalah bahwa radiasi gelombang mikro umumnya memperlemah pertahanan imunitas dan keseimbangan biologis burung, serangga, dan – betul – manusia. Jadi barangkali, daripada mencari virus untuk dipersalahkan, kita semestinya memperhatikan kondisi umum organisme, dan faktor-faktor yang mampu mempengaruhi kondisi umum tersebut. Gelombang mikro jelas merupakan kandidat – ia semakin menyebar dan kekuatannya meningkat dalam beberapa dekade terakhir saja. Kian sulit menemukan tempat di mana ia tidak sedang berbuat kerusakan berbahaya tapi cukup tak terlihat.

Mirros in the Sky adalah buku yang menginspirasi saya untuk menulis artikel ini. Sebuah karya fiksi, tentu saja, tapi tidak melupakan inti kebenaran yang menjadi ciri khas novel berkualitas. Sebuah cerita yang sangat menarik perhatian mengenai persekongkolan jahat bernama HAARP untuk mengkombinasikan pemanasan ionosfer dengan mind-control. Dikarang oleh Graham Zimmatore. Sudah pasti layak dibaca, dan tak hanya untuk nilai hiburan….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s