Mobile dan Wireless – Eksperimen Biologis Terbesar

Oleh: Sepp Hasslberger
20 April 2006
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Antena repeater ponsel di sebuah pulau terpencil di Samudera Atlantik
Photo credit: Sepp

Cukup sulit untuk membayangkan sebuah dunia tanpa komunikasi mobile. Akses internet nirkabel dipasang menyelimuti planet ini, persis seperti halnya jaringan ponsel. Terdapat perkembangan eksplosif – praktisnya selama tiga dekade terakhir – yang membawa [teknologi] mobile ke pelosok-pelosok terjauh bumi. Tapi teknologi ini bukannya tanpa bahaya. Gelombang mikro yang mengangkut bit dan paket data juga membawa kuman pemusnah. Beberapa orang – sebanyak 120.000 warga California, dan 1 juta orang Amerika – betul-betul tak bisa bekerja karena mengalami incapacitating influence (efek yang melumpuhkan-penj) dari bunyi hiruk-pikuk di ether ini.

Kita mungkin mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang tak beruntung yang menderita atas kemajuan yang berjalan – tapi pernahkah Anda mendengar tentang “canaries in the  mines” (tanda bahaya-penj)? Mereka adalah orang pertama yang akan mati manakala akumulasi “gas tambang” yang berpotensi mematikan tapi tak terdeteksi mengancam nyawa penambang yang sedang bekerja di bawah tanah. Bagaimana jika 120.000 warga California itu dan 1 juta orang Amerika itu dan 10 juta orang di seluruh dunia ekuivalen maknanya dengan burung kenari di pertambangan? Bukankah kita mengabaikan keadaan buruk mereka sambil mempertaruhkan resiko kita sendiri?

Arthur Firstenberg, penderita [penyakit] yang oleh Rusia disebut “microwave sickness”, telah mengumpulkan fakta-fakta penting mengenai eksperimen biologis terbesar yang pernah ada ini, dalam sebuah artikel menarik yang dipublikasikan di Eldorado Sun.

Kita tidak bisa menyebut diri kita berpengetahuan dalam perdebatan mengenai teknologi nirkabel kecuali kalau kita mulai memperhatikan sisi gelapnya serta semua aspek positifnya. Artikel Firstenberg sama bagusnya dengan artikel lain untuk membantu kita berjalan dalam arah ini….

————————————————————————————————————————

Eksperimen Biologis Terbesar
Oleh: Arthur Firstenberg
(dipublikasikan di Eldorado Sun)

Pada 2002, Gro Harlem Brundtland, kala itu pimpinan WHO, berkata kepada seorang jurnalis Norwegia bahwa ponsel dilarang di kantornya di Jenewa karena dia pribadi menjadi sakit apabila sebuah ponsel dibawa mendekat dalam radius 4 meter (13 kaki) dengan dirinya. Nyonya Brundtland adalah seorang dokter medis dan bekas Perdana Menteri Norwegia. Kabar sensasional ini, dipublikasikan 9 Maret 2002 di Dagbladet, diabaikan oleh surat kabar lain di seluruh dunia. Minggu berikutnya, Michael Repacholi, bawahannya dalam urusan Proyek EMF (electromagnetic field) Internasional, merespon dengan sebuah pernyataan publik yang menganggap kecil kerisauan bosnya. Lima bulan kemudian, atas alasan yang menurut dugaan banyak pihak terkait dengan keadaan ini, Nyonya Brundtland mengumumkan akan mengundurkan diri dari pos kepemimpinannya di WHO setelah sekali masa jabatan saja.

Tak ada yang lebih baik dalam mengilustrasikan schizophrenia kolektif kita ketika berpikir tentang radiasi elektromagnetik. Kita merespon mereka yang khawatir akan bahayanya – oleh sebab itulah ada Proyek EMF Internasional – tapi kita mengabaikan dan memarjinalisasi mereka, seperti Nyonya Brundtland, yang sudah benar-benar tidak tahan terhadap efeknya.

Sebagai konsultan mengenai efek kesehatan teknologi nirkabel, saya mendapat panggilan telepon yang secara umum bisa dibagi ke dalam dua kelompok utama: panggilan dari mereka yang khawatir belaka, yang akan saya sebut kelompok A, dan dari mereka yang sudah betul-betul sakit, yang akan saya sebut kelompok B. Saya terkadang berharap bisa mengadakan conference call besar dan mengajak kedua kelompok ini berbicara satu sama lain – perlu ada pemahaman yang lebih timbal-balik sehingga kita semua akan mencoba memecahkan masalah yang sama. Penelepon A, yang khawatir, umumnya bertanya pelindung jenis apa yang harus dibeli untuk ponselnya atau headset jenis apa yang harus dikenakan bersamanya. Terkadang ia ingin tahu berapa jarak yang aman dari menara ponsel. Penelepon B, yang sakit, ingin tahu pelindung jenis apa yang harus dipasang pada rumahnya, pengobatan medis seperti apa yang harus diperoleh, atau, semakin sering, pelosok negeri yang mana yang bisa ia pindahi untuk melarikan diri dari radiasi demi menyelamatkan hidupnya.

Yang berikut dirancang sebagai semacam permulaan: pertama, bantu setiap orang kurang lebih mencapai halaman yang sama, dan kedua, memecahkan beberapa kebingungan sehingga kita dapat membuat keputusan rasional menuju dunia yang lebih sehat.

Fundamental
Fakta paling dasar mengenai ponsel dan menara ponsel adalah bahwa mereka memancarkan radiasi gelombang mikro; begitu pula antena Wi-Fi (internet nirkabel), komputer nirkabel, telepon cordless (portabel) dan base unit-nya, dan semua perangkat nirkabel lain. Jika itu perangkat komunikasi dan tertempel pada dinding tanpa terhubung dengan kabel, maka itu memancarkan radiasi. Sebagian besar sistem Wi-Fi dan beberapa telepon cordless beroperasi pada frekuensi yang sama persis dengan oven microwave, sementara perangkat lain memakai frekuensi berbeda. Wi-Fi selalu menyala dan selalu memancarkan radiasi. Base unit telepon cordless selalu memancarkan radiasi, sekalipun tak ada yang menggunakannya. Ponsel yang menyala tapi tidak sedang digunakan, juga memancarkan radiasi. Dan, tak perlu dikatakan, menara ponsel selalu memancarkan radiasi.

Mengapa ini menjadi masalah, Anda mungkin bertanya? Ilmuwan biasanya membagi spektrum elektromagnetik ke dalam kelompok “yang mengionisasi” dan “yang tidak mengionisasi”. Radiasi yang mengionisasi, yang meliputi sinar X dan radiasi atom, menyebabkan kanker. Radiasi yang tidak mengionisasi, meliputi radiasi gelombang radiasi, dianggap aman. Pembedaan ini selalu mengingatkan saya akan propaganda dalam Animal Farm karangan George Orwell: “Empat kaki bagus, dua kaki jelek.” “Tidak mengionisasi bagus, mengionisasi jelek,” harus dipercaya sedikit saja.

Seorang astronom pernah bergurau bahwa seandainya Neil Amstrong membawa ponsel ke bulan pada tahun 1969, itu akan menjadi sumber radiasi gelombang mikro paling powerful ketiga di alam raya, setelah Matahari dan Bima Sakti. Dia benar. Kehidupan berkembang dengan level radiasi gelombang mikro yang tak berarti. Semakin banyak ilmuwan yang menduga bahwa sel-sel kita sendiri, ternyata, menggunakan spektrum gelombang mikro untuk saling berkomunikasi, seperti anak-anak yang berbisik di kegelapan, dan bahwa ponsel, seperti alat pelubang karang/beton, menginterferensi sinyal mereka (sel-sel). Bagaimanapun juga, adalah fakta bahwa kita sedang dibombardir, dari hari ke hari, baik menggunakan ponsel atau tidak, oleh sejumlah radiasi gelombang mikro yang sekitar 10 juta kali lebih kuat dari rata-rata radiasi alam. Dan adalah fakta pula bahwa sebagian besar radiasi ini ditimbulkan oleh teknologi yang telah dikembangkan sejak 1970-an.

Terkait ponsel sendiri, bila Anda memegangnya sampai kepala Anda, Anda merusak otak Anda dengan sejumlah cara berbeda. Pertama, pikirkan oven microwave. Ponsel, seperti oven microwave dan bukan seperti hot shower, memanaskan Anda dari dalam ke luar, bukan dari luar ke dalam. Dan tidak terdapat syaraf sensorik di dalam otak untuk memperingatkan Anda tentang peningkatan temperatur, karena kita tidak memancarkan radiasi gelombang mikro, dan ini secara alami tak pernah terjadi. Yang lebih buruk, struktur kepala dan otak begitu kompleks dan tidak seragam sehingga terbentuk “titik panas”, di mana pemanasan bisa puluhan atau ratusan kali daripada di sekitarnya. Titik panas bisa terjadi baik dekat permukaan tengkorak maupun jauh di dalam otak, dan juga pada level molekul.

Ponsel diregulasi oleh Federal Communications Commission, dan Anda bisa menemukan, pada bungkus sebagian besar ponsel baru, sebuah bilangan yang disebut Spesific Absorption Rate, atau SAR, yang mengindikasikan tingkat penyerapan energi oleh otak dari model tertentu. Namun, masalahnya adalah asumsi sewenang-wenang, yang menjadi dasar regulasi FCC, bahwa otak dapat secara aman memencarkan panas tambahan pada tingkat sampai 1 derajat celcius per jam. Perumitan ini adalah prosedur keji yang dipakai untuk mendemonstrasikan kesesuaian dengan batas ini lalu memberikan tingkat SAR pada tiap-tiap ponsel. Cara standar untuk mengukur SAR ada pada “momok” berupa, sulit dipercaya, cairan homogen yang tertutupi dalam Plexiglas berbentuk kepala. Jreng, tak ada titik panas! Tapi realitanya, orang-orang yang memakai ponsel selama berjam-jam per hari terus-menerus memanaskan tempat-tempat dalam otak mereka. Standar keamanan FCC, by the way, dikembangkan oleh insinyur listrik, bukan dokter.

Rintangan Darah-Otak
Efek kedua yang ingin saya bahas, yang telah terbukti di laboratorium, mestinya cukup untuk mematikan industri ini dan mestinya cukup untuk menakuti semua orang sehingga takkan pernah menggunakan ponsel lagi. Saya menyebutnya “senapan mengepul” dari eksperimen ponsel. Seperti kebanyakan efek biologis radaisi gelombang mikro, ini tak ada kaitannya dengan pemanasan.

Otak dilindungi oleh persimpangan erat antara sel-sel dinding kapiler yang berdekatan, yang disebut rintangan darah-otak (blood-brain barrier), yang, seperti patroli perbatasan, membiarkan nutrien lewat dari darah menuju otak, tapi melarang zat-zat beracun masuk. Sejak 1988, para periset di sebuah laboratorium bedah syaraf Swedia, Leif Salford, telah menjalankan variasi atas eksperimen sederhana ini: mereka memapar tikus muda laboratorium dengan ponsel atau sumber radiasi gelombang mikro lainnya, dan kemudian mereka mengorbankannya dan mencari albumin dalam jaringan otaknya. Albumin adalah protein yang merupakan komponen normal otak tapi biasanya tidak melintasi rintangan darah-otak. Kehadiran albumin dalam jaringan otak selalu menjadi tanda bahwa pembuluh darah telah rusak dan bahwa otak telah kehilangan semacam pelindungnya.

Inilah yang telah ditemukan periset-periset ini, terus-menerus selama 18 tahun: radiasi gelombang mikro, pada dosis setara dengan emisi ponsel, menyebabkan albumin ditemukan dalam jaringan otak. Paparan satu kali dengan ponsel biasa selama dua menit saja menyebabkan albumin bocor ke dalam otak. Dalam satu set eksperimen, pengurangan level paparan sebesar faktor 1.000 betul-betul menambah kerusakan pada rintangan darah-otak, menunjukkan bahwa ini bukanlah efek dosis-respon dan bahwa pengurangan daya tidak akan membuat teknologi nirkabel lebih aman. Dan terakhir, dalam riset yang dipublikasikan pada Juni 2003, pemaparan seekor binatang selama dua jam dengan ponsel, hanya sekali seumur hidup, merusak rintangan darah-otak secara permanen dan, dalam otopsi 50 hari kemudian, ditemukan telah rusak atau hancur sampai 2 persen sel otak, termasuk sel-sel di area otak yang berkaitan dengan pembelajaran, ingatan, dan gerakan.[1] Pengurangan level paparan sebesar faktor 10 atau 100, meniru efek pemakaian headset, menjauhkan ponsel dari tubuh Anda, atau berdiri di sebelah ponsel orang lain, tidak cukup mengubah hasil! Pada level paparan terendah sekalipun, sebagian binatang mengalami kerusakan syaraf dalam jumlah sedang sampai tinggi.

Implikasinya bagi kita? Dua menit bertelepon melalui ponsel mendisrupsi rintangan darah-otak, dua jam bertelepon menyebabkan kerusakan otak permanen, dan radiasi pihak kedua mungkin hampir sama buruknya. Rintangan darah-otak pada tikus sama dengan pada manusia.

Hasil-hasil studi ini cukup menimbulkan kegemparan di Eropa sehingga pada November 2003 diadakan sebuah konferensi, disponsori oleh Uni Eropa, bertema “The Blood-Brain Barrier – Can It be Influenced by RF-Field Interactions?”, seolah-olah untuk menenteramkan publik: “Lihat, kami sedang melakukan sesuatu terkait hal ini.” Tapi, sudah bisa ditebak, tak ada yang diperbuat, sebagaimana sebelumnya selama 30 tahun.

Allan Frey dari Amerika, pada tahun 1970-an, merupakan orang pertama, dari banyak orang, yang mendemonstrasikan bahwa radiasi gelombang mikro low-level merusak rintangan darah-otak.[2] Mekanisme serupa melindungi mata (blood-vitreous barrier) dan janin (placental barrier), dan penelitian Frey dan lainnya mengindikasikan bahwa radiasi gelombang mikro merusak rintangan-rintangan tersebut pula.[3] Implikasinya: wanita hamil tak boleh menggunakan ponsel.

Dr. Salford cukup blak-blakan mengenai penelitiannya. Dia menyebut penggunaan ponsel genggam sebagai “eksperimen biologis terbesar terhadap manusia”. Dan dia secara terbuka telah memperingatkan bahwa seluruh generasi remaja pengguna ponsel dapat menderita mental deficit atau penyakit Alzheimer pada saat mereka mendekati usia pertengahan.

Radio-wave Sickness
Sayangnya, pengguna ponsel bukan satu-satunya yang terluka, kita tak boleh hanya khawatir tentang otak. Ringkasan berikut disarikan dari banyak literatur ilmiah mengenai efek-efek gelombang radio (spektrum lebih besar yang mencakup gelombang mikro), bersama dengan pengalaman-pengalaman ilmuwan dan dokter di seluruh dunia yang pernah menjalin kontak dengan saya.

Organ-organ yang sudah terbukti rentan terhadap gelombang radio meliputi paru-paru, sistem syaraf, jantung, mata, testis, dan kelenjar tiroid. Penyakit yang telah bertambah luar biasa dalam beberapa dekade terakhir, dan ada alasan bagus untuk mengaitkan dengan peningkatan radiasi secara masif di lingkungan kita, meliputi asma, sulit tidur, perasaan gelisah, attention deficit disorder, autisme, multiple sclerosis, ALS, alzheimer, epilepsi, fibromyalgia, sindrom keletihan kronis, katarak, hypothyroidism, diabetes, malignant melanoma (tumor kulit menular), kanker testis, serangan jantung, dan stroke pada kalangan muda. Radiasi dari menara gelombang mikro juga diasosiasikan dengan kematian satu per satu pohon hutan, kegagalan reproduksi dan penurunan populasi banyak spesies burung, dan kesehatan yang buruk dan cacat lahir pada hewan-hewan ternak. Literatur yang menunjukkan efek biologis radiasi gelombang mikro betul-betul banyak, mencapai puluhan ribu dokumen, dan saya heran para juru bicara industri berlepas diri dengan mengatakan bahwa teknologi nirkabel telah terbukti aman atau – menggelikan – tak ada bukti bahaya.

Saya telah melewatkankan satu penyakit dari daftar di atas: penyakit yang diderita Penelepon B dan juga saya. Sejarah singkat layak diceritakan di sini. Pada 1950-an dan 1960-an, para pekerja yang membangun, mengujicoba, dan memperbaiki peralatan radar mulai menderita penyakit ini, dalam jumlah besar. Begitu pula operator heater dan sealer gelombang mikro industri. Uni Soviet menyebutnya, memang pantas, radio wave sickness, dan mempelajarinya secara luas. Di Barat, eksistensinya disangkal sama sekali, tapi bagaimanapun para pekerja mulai mengidapnya. Pada 1981 diadakan rapat dengar pendapat saksi di kongres, dipimpin oleh Al Gore yang kala itu anggota Majelis Rendah, mengenai efek kesehatan heater dan sealer radio-frequency, episode lainnya dalam “Lihat, kami sedang melakukan sesuatu terkait hal ini”, meski tak ada yang dperbuat.

Hari ini, dengan perkembangbiakan masal transmiter pribadi dan menara radio, penyakit tersebut telah menyebar ke populasi umum seperti wabah. Estimasi privalensinya (kemerataannya) mencapai sampai 1/3 populasi, tapi jarang diakui hingga ia melumpuhkan seseorang sehingga tak bisa lagi berpartisipasi dalam masyarakat. Anda mungkin mengenali beberapa gejala umumnya: insomnia, pening, mual, sakit kepala, lelah, hilang ingatan, sulit konsentrasi, depresi, sesak dada, telinga mendenging. Pasien juga mungkin mengalami masalah medis seperti infeksi pernafasan akut, heart arrhythmias, fluktuasi mendadak pada tekanan darah, gula darah tak terkendali, dehidrasi, dan bahkan serangan jantung serta pendarahan internal.

Yang membuat penyakit ini begitu sulit diakui, dan semakin sulit ditanggulangi, adalah bahwa tidak terdapat penyembuhan yang kemungkinan berhasil kecuali jika seseorang bisa menghindari paparan dari penyebabnya – dan penyebabnya sekarang ada di mana-mana. Sebuah survey tahun 1998 oleh California Department of Health Services mengindikasikan bahwa pada waktu itu 120.000 warga California – dan 1 juta rakyat Amerika – tak mampu bekerja gara-gara polusi elektromagnetik.[4] Barisan orang yang disebut sensitif listrik ini membengkak di hampir setiap negara di dunia, dimarjinalisasi, distigmatisasi, dan diabaikan. Dengan level radiasi di setiap tempat hari ini, mereka hampir tak pernah sembuh dan terkadang memakan korban nyawa.

“Mereka menjadi peringatan bagi kita semua,” kata Dr. Olle Johansson mengenai orang-orang berpenyakit ini. “Memapar seluruh populasi dunia dengan radiasi seluruh tubuh, 24 jam sehari, boleh jadi merupakan kekeliruan besar.” Dr. Johansson, seorang ilmuwan syaraf di Karolinska Institute, Stockholm, yang terkenal itu, memimpin sebuah tim riset yang mendokumentasikan pemburukan permanen dan signifikan atas kesehatan publik yang dimulai persis ketika ponsel 1800 MHz generasi kedua diperkenalkan di Swedia pada akhir 1997.[5][6] Setelah turun selama satu dekade, jumlah pekerja Swedia yang cuti sakit mulai meningkat pada akhir 1997 dan lebih dari dua kali lipat selama lima tahun berikutnya. Pada periode yang sama, penjualan obat anti-depresan juga meningkat dua kali lipat. Jumlah kecelakaan lalu lintas, setelah turun selama bertahun-tahun, mulai merangkak naik kembali pada 1997. Jumlah kematian akibat penyakit alzheimer, setelah turun selama beberapa tahun, meningkat tajam pada 1999 dan hampir dua kali lipat pada 2001. Kelambatan selama dua tahun ini bisa dimengerti bilamana seseorang memperhatikan bahwa penyakit alzheimer butuh waktu untuk berkembang.

Perkembangbiakan Tak Terkendali
Jika ponsel dan menara ponsel memang mematikan, apakah menara radio dan TV yang telah hidup bersama kita selama seabad aman? Pada 2002, Örjan Hallberg dan Olle Johansson menulis sebuah paper berjudu “Cancer Trends During the 20th Century”, yang menyelidiki satu aspek pertanyaan tersebut.[7] Mereka menemukan, di AS, Swedia, dan lusinan negara lain, bahwa tingkat kematian pengidap kanker kulit (skin melanoma), kandung kemih, prostat, usus besar, payudara, dan paru-paru sejajar erat dengan derajat pemaparan publik oleh gelombang radio selama ratusan tahun belakangan. Ketika siaran radio meningkat di lokasi tertentu, bentuk-bentuk kanker ini ikut bertambah; ketika menurun, bentuk kanker ini ikut berkurang. Dan, sebuah temuan sensasional: di setiap negara – dan setiap kabupaten di Swedia – mereka menemukan, scara statistik, bahwa paparan gelombang radio tampil menjadi faktor yang sama besarnya dengan merokok sebagai penyebab kanker paru-paru!

Ini mendorong saya menangani miskonsepsi yang tersebar luas. Perbedaan terbesar antara menara ponsel sekarang dengan menara radio masa silam bukanlah keamanannya, tapi jumlahnya. Jumlah stasiun radio biasa di AS sekarang ini masih kurang dari 14.000. Tapi jumlah menara ponsel dan Wi-Fi mencapai ratusan ribu, dan ponsel, komputer nirkabel, telepon cordless, dan radio dua arah mencapai ratusan juta. Fasilitas radar dan jaringan komunikasi darurat juga berkembang biak tak terkendali. Sejak 1978, ketika Environmental Protection Agency terakhir kali mensurvey lingkungan frekuensi radio di AS, rata-rata pemaparan penduduk urban oleh gelombang radio meningkat 1.000 kali lipat, sebagian besar peningkatan ini terjadi dalam 9 tahun terakhir saja.[8] Dalam periode yang sama, polusi radio telah menyebar dari kota ke tempat lain seperti kabut yang menyebar ke seluruh pelosok planet ini.

Konsekuensi besar terhadap manusia dari semua ini tengah diabaikan. Sejak akhir 1990-an, seluruh golongan baru pengungsi lingkungan telah dihasilkan di sini di AS. Kami menjumpai semakin banyak orang yang sakit, mati, mencari pertolongan atas penderitaan kami, meninggalkan rumah kami dan lingkungan kami, tinggal di mobil, trailer, dan tenda di tempat-tempat terpencil. Tak seperti korban badai dan gempa bumi, kami tidak mendapat upaya pertolongan. Tak ada yang mendonasikan uang untuk membantu kami, untuk membelikan kami tempat pengungsian yang terlindungi; tak ada yang bersukarela menghentikan penggunaan ponsel, komputer nirkabel, dan telepon cordless sehingga kami dapat sekali lagi menjadi tetangga mereka dan hidup di antara mereka.

Yang khawatir dan yang sakit belum saling membuka hati, tapi mereka mengajukan pertanyaan. Untuk menjawab Penelepon A: Tak ada pelindung atau headset yang akan melindungi Anda dari ponsel atau telepon portabel. Tak ada jarak aman dari menara ponsel. Bila ponsel Anda atau komputer nirkabel Anda berfungsi di tempat Anda berada, Anda sedang diradiasi 24 jam sehari.

Untuk Penelepon B: Melindungi rumah adalah sulit dan jarang berhasil. Hanya ada segelintir dokter di AS yang berupaya mengobati radio wave sickness, dan tingkat keberhasilan mereka rendah – sebab hanya ada sedikit tempat yang tersisa di Bumi di mana seseorang dapat pergi untuk melepaskan diri dari radiasi ini dan memulihkan diri.

Ya, radiasi dimulai dari satelit, pula; mereka adalah bagian dari masalah, bukan solusi. Sederhananya, tak mungkin membuat teknologi nirkabel aman.

Masyarakat kita telah menjadi tergantung secara sosial dan ekonomi, dalam satu dekade yang singkat saja, kepada sebuah teknologi yang tengah berbuat kerusakan besar pada struktur dunia kita. Semakin berurat akar kita membiarkan diri kita terlibat di dalamnya, semakin sulit kita mengubah arah hidup kita. Sekarang adalah waktunya untuk melepaskan diri kita, baik secara individu maupun kolektif – meski sudah sulit.

CATATAN
[1] Leif G. Salford et al., “Nerve Cell Damage in Mammalian Brain After Exposure to Microwaves from GSM Mobile Phones,” Environmental Health Perspectives 111, no. 7 (2003): 881–883.
[2] Allan H. Frey, Sondra R. Feld and Barbara Frey, “Neural Function and Behavior,” Annals of the New York Academy of Sciences 247 (1975): 433–439.
[3] Allan H. Frey, “Evolution and Results
of Biological Research with Low-Intensity Nonionizing Radiation,” in Modern Bioelectricity, ed. Andrew A. Marino (New York: Dekker, 1988), 785–837, at 809–810.
[4] California EMF Program, The Risk Evaluation: An Evaluation of the Possible Risks From Electric and Magnetic Fields (EMFs) From Power Lines, Internal Wiring, Electrical Occupations and Appliances (2002), app. 3.
[5] Örjan Hallberg and Olle Johansson, “1997 — A Curious Year in Sweden,” European Journal of Cancer Prevention 13, no. 6 (2004): 535–538.
[6] Örjan Hallberg and Olle Johansson, “Does GSM 1800 MHz Affect the Public Health in Sweden?” in Proceedings of the 3rd International Workshop “Biological Effects of EMFs,” Kos, Greece, October 4-8, 2004, 361–364.
[7] Örjan Hallberg and Olle Johansson, “Cancer Trends During the 20th Century,” Journal of Australian College of Nutritional and Environmental Medicine 21, no. 1 (2002): 3–8.
[8] David E. Janes Jr., “Radiofrequency Environments in the United States,” in 15th IEEE Conference on Communication, Boston, MA, June 10–14, 1979, vol. 2, 31.4.1–31.4.5.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s