Sound of Silence – Antitesis Kebebasan

Oleh: Dr. A. True Ott, Ph.D, ND (keponakan dari John Ott, periset cahaya dan pengembang lampu pendar ‘natural spectrum’ yang terkenal itu)
15 Desember 2008
(Sumber: www.educateyourself.org)

TV Digital: Mind Control Melalui Sound of Silence
Catatan Editor
Ini adalah esai yang sangat penting dan tepat waktu, meninjau luas sebuah teknologi psikotronik rahasia Pentagon yang dikenal sebagai Silent Sound Spread Spectrum (SSSS) yang sudah beroperasi penuh sejak awal 1990-an. Saya pertama kali menemukan tentang penggunaan teknologi ini dari Al Bielek dalam sebuah video tahun 1992 yang dia buat bersama Vladimir Terziski. Teknologi ini dipakai menghadapi pasukan Irak berpengalaman yang terbentengi dalam bunker bawah tanah di Kuwait dan Irak dalam Perang Teluk I pada Januari 1991.

Efek fisik, emosi, dan psikologis teknologi ini begitu parah sehingga ratusan ribu pasukan Irak menyerah masal tanpa melepaskan satu tembakan pun terhadap pasukan koalisi pimpinan AS. Jumlah yang dilaporkan dalam berita-berita sungguh menggemparkan: 75.000, dan 125.000 pasukan Irak lainnya (atau lebih) boleh jadi akan keluar dari bunker gurun pasir mereka sambil melayangkan bendera putih dan berlutut di depan pasukan AS yang mendekat dan betul-betul mencium sepatu atau tangan penawan mereka apabila diberi kesempatan.

Mengapa veteran delapan tahun perang Timur Tengah itu (dengan Iran 1980-1988) berperilaku seperti ini? Sederhana. Mereka terpapar sebuah teknologi yang begitu ekstrim dan tak dapat dipahami sehingga mendadak turun ke level kepatuhan anak-anak dan merasa berterima kasih lantaran masih hidup sesudah pengalaman mereka yang merenggut pikiran.

Teknologi ini hendak digunakan, walaupun dengan gaya yang lebih halus, terhadap warga Amerika dalam operasi tertutup dan amat rahasia untuk mengendalikan pikiran dan memanipulasi seluruh populasi agar ‘patuh’ kepada tuan besar New World Order kita. Teknologi tersebut akan memanfaatkan kombinasi transmiter HAARP, menara GWEN, menara gelombang mikro ponsel, dan High Definition Digital TV yang segera dimandatkan dan akan memasuki rumah Anda via: a) kabel, b) satelit, c) HD TV, atau d) “digital converter box” yang oh-begitu-mudah-didapat sampai-sampai pemerintah begitu berhasrat membantu Anda mendapatkannya dan menanggung sebagian besar biaya atas nama Anda.

Tapi mengapa pemerintah begitu berhasrat membantu warga Amerika untuk mendapat gambar televisi yang lebih jernih dan highly-defined? Apakah itu masuk akal menurut Anda? Sejak kapan pemerintah begitu konsern dengan kualitas visual hiburan televisi kita sampai-sampai kongres mau mengesahkan statutory proclamation (undang-undang) tanpa perdebatan, yang memandatkan bahwa konversi HD berlangsung pada 17 Februari 2009 dan kemudian mensubsidi sekitar 90% dari biaya terkait?

Saya sekedar menebak, tapi apabila ada 200 juta televisi “reguler” di Amerika dikonversi menjadi HD, maka $40 subsidi pemerintah per TV x 200.000.000 = $8 miliar. Mengapa pemerintah begitu berhasrat menghabiskan 8 miliar dolar untuk warganya demi meningkatkan kejernihan gambar TV? Ataukah cover story yang baru-baru ini digembar-gemborkan tentang “bandwidth tambahan” yang dicapai dengan teknologi HD merupakan alasan satu-satunya dan sesungguhnya atas pembelanjaan begitu banyak dolar dari pembayar pajak untuk konversi HD?

Jasa kedua yang ditampilkan penulis ini adalah ‘mengeluarkan’ dua dari banyak ‘aset’ muslihat CIA/Pentagon kita yang menyamar di bawah rubrik advokat kesehatan alami. Nama mereka adalah Rima Laibow dan suaminya, “mantan” Mayor Jenderal Albert Stubblebine. Bila dalam bulan-bulan belakangan kotak email Anda dipenuhi dengan peringatan dan artikel-artikel tentang kehadiran regulasi Codex dan pekerjaan “mengagumkan” yang dilakukan Rima dan suaminya (pensiunan Tentara) untuk mencoba membendung arus, maka Anda tahu siapa yang tengah saya bicarakan.

Saudara, sudahkah ini waktunya untuk bangun? Atau haruskah kita cukup melanjutkan tidur kita saja dan menunggu mereka menarik kita dalam gerobak lembu Gunderson yang telah diperingatkan kepada kita oleh Phil Schneider sekitar tahun 1995 (Anda tahu, gerobak yang dibelenggu dan dirantai)?

Ken Adachi, Educate Yourself.org

————————————————————————————————————————

Sound of Silence – Antitesis Kebebasan

Tahun itu 1961, dan John Kennedy segera menjadi Presiden ke-35. Sesaat sebelum inaugurasi Kennedy, Presiden Dwight D. Eisenhower mengejutkan seantero negeri dan dunia dengan pidato perpisahannya melalui televisi. Isi pidato itu mengejutkan sebab Jenderal Eisenhower merupakan pahlawan perang yang amat populer, dan militer Amerika barangkali bukan apa-apa bila dibandingkan dengannya.

Eisenhower, jenderal bintang lima bertanda jasa tinggi, adalah Komandan Tertinggi pasukan sekutu selama Perang Dunia II. Kepemimpinan Eisenhower-lah, pada waktu invasi Normandy, yang akhirnya membebaskan Eropa dari momok Nazi.

Luar biasanya, dalam pidato perpisahannya, pahlawan besar Amerika ini tidak memperingatkan bangsanya akan ancaman komunis yang sedang naik atau proliferasi nuklir. Tidak, tidak sama sekali! Malahan, sang jenius militer karir ini secara tajam dan serius menyatakan kepada bangsa besarnya:

“…Kita terpaksa membangun industri persenjataan permanen dengan ukuran luas. Selain ini, tiga setengah juta laki-laki dan perempuan diikutsertakan secara langsung dalam pembangunan pertahanan. Tiap tahun kita membelanjakan uang untuk keamanan militer lebih besar dari pendapatan bersih seluruh korporasi Amerika Serikat.

Hubungan pembangunan militer luas dengan industri senjata besar ini adalah pengalaman baru Amerika. Pengaruhnya—ekonomi, politik, bahkan spiritual—terasa di setiap kota, setiap DPR negara bagian, setiap kantor pemerintah federal. Kita mengakui pentingnya perkembangan ini. Tapi kita tak boleh lupa mengakui implikasi seramnya. Kerja keras, sumber daya, dan penghidupan kita, semuanya dilibatkan; begitu pula struktur dasar masyarakat kita.

Di dewan-dewan pemerintah, kita harus berhati-hati terhadap akuisisi pengaruh tak sah, baik diminta ataupun tidak, oleh kompleks industri militer. Potensi timbulnya malapetaka penyalah-tempatan kekuasaan itu ada dan akan berlangsung lama. Kita tak boleh membiarkan kombinasi ini mengancam kebebasan kita atau proses demokrasi kita.”

Di sini kita punya seorang perwira militer karir, dan duduk sebagai Presiden AS memperingatkan bangsanya dalam pidato perpisahan, bahwa sesuatu yang disebut “pengaruh tak sah dari kompleks industri militer” merupakan ancaman sangat berbahaya bagi masyarakat Republik Merdeka kita. Menurut Eisenhower, ancaman ini “ada dan akan berlangsung lama”.

Bagi Presiden Eisenhower, pada Januari 1961, ancaman terhadap Amerika ini jauh lebih besar dibanding Kuba-nya Castro atau Uni Soviet-nya Kruschev. Apa persisnya yang mungkin terjadi dalam hubungan “militer-industrialis” hingga mendorong Eisenhower mengeluarkan peringatan sedemikian keras? Peningkatan produksi senapan mesin? Bukan. Produksi kapal tempur? Bukan. Kapal selam nuklit? Bukan. Proliferasi hulu ledak nuklir? Bukan. [Semua itu] merisaukan tentu saja, tapi sepenuhnya sudah diketahui sebagian besar warga Amerika.

Bukan, tak pelak lagi yang menyebabkan Eisenhower begitu risau pastinya sesuatu yang jauh lebih samar, gelap, dan rahasia. Suatu teknologi rahasia baru telah muncul dengan nyata hingga memiliki potensi amat riil untuk memperlengkapi individu tertentu dengan “akuisisi pengaruh tak sah” yang pada gilirannya akan “mengancam kebebasan kita atau proses demokrasi kita” (yakni, proses pemilu kita yang bebas dan adil). Dengan kata lain, ini memiliki potensi nyata untuk mengakali suara rakyat dan sepenuhnya memberi kekuasaan kepada calo kekuasaan yang tak terpilih.

Eisenhower, saya berpendapat, sedang memperingatkan Amerika tentang sesuatu yang disebut “Sound of Silence”.

Eisenhower adalah warga Amerika yang jujur dan patriotik. Seperti Jenderal Korps Marinir, Smedley Butler, yang beberapa dekade sebelumnya menyatakan kepada Kongres bahwa “Perang adalah Penipuan”, Ike (Eisenhower) tahu bahwa kekuasaan absolut dan kontrol rahasia total atas pikiran dan hati tiap-tiap warga negara akan merusak masyarakat secara keseluruhan. Dia juga tahu dan paham, sebagaimana filsuf Jerman, Goethe: “Tak ada manusia yang lebih diperbudak daripada mereka yang yakin bahwa dirinya merdeka.” Oleh karena itu, dia mengeluarkan peringatan penutup yang keras kepada Amerika. Hari ini, penulis harus berbuat lebih dari itu.

Sound of Silence adalah kode intelijen militer untuk suatu senjata psikotronik mind-control masal yang diujicoba di pertengahan 1950-an, disempurnakan selama tahun 1970-an, dan dipakai secara luas oleh militer “modern” AS di awal 1990-an, meski terdapat penentangan dan peringatan dari orang-orang seperti Dwight David Eisenhower.

Senjata rahasia pengubah pikiran ini didasarkan pada sesuatu yang disebut subliminal carrier technology (teknologi pengangkut stimulus subliminal-penj), atau Silent Sound Spread Spectrum (SSSS) (juga bernama panggil S-Quad atau “Squad” dalam jargon militer). Ia dikembangkan untuk penggunaan militer oleh Dr. Oliver Lowery dari Norcross, Georgia, dan diuraikan dalam paten nomor 5.159.703 – “Silent Subliminal Presentation System” untuk pemakaian komersial pada tahun 1992. Abstrak paten itu berbunyi:

“Sistem komunikasi sunyi di mana pengangkut non-aural, dalam rentang very low audio frequency (ELF) atau very high audio frequency (VHF) atau dalam spektrum frekuensi ultrasonik berdampingan, adalah amplitudo atau frekuensi termodulasi dengan keterangan yang diinginkan dan menjalar secara akustik atau vibrasional, untuk penstimulasian di dalam otak, tipikalnya melalui pemakaian loudspeaker, earphone, atau piezoelectric transducer. Pengangkut termodulasi dapat ditransmisikan langsung secara real time atau direkam dan disimpan di media mekanis, magnetik, atau optis untuk transmisi tunda atau berulang kepada pendengar.”

Dalam istilah orang awam, perangkat ini, “Sound of Silence” ini, memungkinkan penanaman pikiran, emosi, dan bahkan tindakan fisik tertentu secara tak sah kepada manusia yang tak menaruh curiga. Singkatnya, ia punya kemampuan nyata untuk mengubah manusia menjadi boneka belaka di tangan “pengendali” tertentu, atau dalang.

Eisenhower tahu dengan baik apa yang bisa diperbuat “senjata” semacam itu di tangan orang-orang tamak yang berkonspirasi dan berkomplot untuk mengendalikan planet ini. Ini dapat dengan mudah menghasilkan pengambil-alihan masyarakat Amerika tanpa melepaskan satu peluru pun. Inilah yang diperingatkan oleh Eisenhower kepada Amerika, ini adalah “kombinasi” yang lebih dia takutkan dibanding yang lain.

Apakah pemimpin-pemimpin Amerika sudah mengabaikan peringatan Ike? Apakah orang-orang yang jahat dan bersekongkol sudah menggunakan teknologi jahat ini kepada warga Amerika yang tak curiga dan rakyat lain di luar negara kita? Bila demikian, akankah mereka terus memanfaatkan teknologi ini melalui medium televisi dan radio? Pembeberan saya ini akan berupaya menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut, dan memberi pembaca gambaran jernih tentang siapa persisnya yang membuat keputusan untuk menggunakan “Sound of Silence” baik dalam situasi perang maupun damai.

Pada 23 Maret 1991, sebuah laporan berita singkat dilansir dalam bentuk buletin telegram ITV News Bureau Ltd (London) berjudul “High-Tech Psychological Warfare Arrives in the Middle East”. Ini terbit pada masa pemerintahan George Bush senior, saat “Operasi Badai Gurun”, dan menguraikan secara luar biasa detail tentang Operasi Psikologis (psy-op) rahasia AS yang berhasil digunakan terhadap pasukan Irak di Kuwait.

Pasukan elit “Garda Republik” kebanggaan Saddam Hussein menggertak Bush, “biang semua peperangan”, akan matinya ribuan pasukan koalisi. Di atas kertas terlihat meyakinkan. Pasukan Garda Republik Saddam merupakan veteran berpengalaman yang menjalani perang 10 tahun dengan Iran, sementara pasukan koalisi adalah pemula. Pasukan Irak punya persenjataan modern dan terlatih dalam menggunakannya.

Namun, sesuatu yang sangat ganjil terjadi. Si “biang semua peperangan” mengakhirinya sebelum dimulai, sebab ratusan ribu prajurit Irak menyerah masal tanpa melepaskan satu tembakan pun!

Berikut yang dilaporkan pers Inggris tersebut mengenai insiden ini (sementara pers Amerika disensor):

“…sebuah program psy-op luar biasa dan amat rahasia yang memanfaatkan teknik-teknik ‘Silent Sound’ sukses diterapkan. Kesempatan untuk menggunakan metode ini datang ketika sistem komando dan kontrol militer Saddam Hussein hancur. Pasukan Irak kemudian terpaksa menggunakan stasiun radio FM komersial untuk menyampaikan komando tersandi, yang dipancarkan pada frekuensi 100 MHz. Regu psy-op AS mendirikan transmiter FM portabelnya sendiri, menggunakan frekuensi yang sama, di kota sepi Al Khaffi. Transmiter AS ini mengatasi stasiun lokal Irak. Bersama-sama dengan musik relijius dan patriotik, psy-op mentransmisikan ‘perintah dan informasi militer yang samar, membingungkan, dan kontradiktif”.

Namun, teknologi yang jauh lebih powerful tengah bekerja, secara subliminal. Sebuah sistem elektronik canggih dirancang untuk ‘berbicara’ secara langsung ke pikiran pendengar; untuk mengubah dan mengatur gelombang otaknya, untuk memanipulasi pola electroencephalographic (EEG) otaknya, dan, dengan demikian, secara artifisial menanamkan status emosi negatif—perasaan takut, gelisah, dan keputus-asaan yang hebat timbul dalam pasukan Irak. Sistem subliminal yang luar biasa efektif ini tidak sekedar menyuruh seseorang untuk merasakan suatu emosi, tapi juga membuat mereka merasakannya; sistem ini menanamkan emosi tersebut dalam pikiran mereka.”

Meski pemakaian senjata psy-op rahasia “non-mematikan” semacam itu menyelamatkan banyak nyawa, dari pihak Amerika, Koalisi, maupun Irak, pertanyaan yang harus diajukan adalah: bagaimana warga Amerika mendapat jaminan bahwa senjata tersebut tidak sedang digunakan terhadap mereka oleh “Big Brother” dalam skala harian?

Lebih jauh, mengapa kisah nyata di balik menyerahnya pasukan Irak secara masal disensor sama sekali dari rakyat Amerika? Biasanya, kerahasiaan seperti ini hanya diterapkan manakala topiknya bersifat ofensif dari segi moril, atau manakala kekuasaan ingin terus mempergunakannya tanpa pemeriksaan atau pengawasan publik, atau keduanya. Jelas, apabila perangkat semacam itu diterapkan secara tertutup terhadap warga Amerika dapat menimbulkan “pengaruh tak sah” di masyarakat, sebagaimana diperingatkan Eisenhower; saya berpendapat mayoritas warga Amerika akan benar-benar merasa tersakiti dan marah, dan haknya memang demikian. Oleh sebab itu, tentu saja teknologi tersebut harus terus disembunyikan.

Secara resmi, teknologi Sound of Silence (S-quad) tidak eksis, sebagaimana bantahan resmi Pemerintah AS mengenai eksistensi UFO dan Area 51 (Groom Lake) di gurun Nevada. Namun, realita fisiknya tidak dapat diabaikan oleh rasio dan logika.

Sebagai contoh, selama Perang Teluk I, orang yang paling mungkin memerintahkan penggunaan Sound of Silence adalah Mayor Jenderal Albert (Bert) Stubblebine, yang merupakan Jenderal Komando Intelligence School and Center Angkatan Darat AS, juga Electronic Research and Development Command (ERADCOM) Angkatan Darat, juga Intelligence and Security Command (INSCOM) Angkatan Darat. Ringkasnya, Albert Stubblebine adalah penghubung Angkatan Darat dengan CIA dan Naval Intelligence Operatives (ONI); dan sebagai kepala ERADCOM, tak pelak lagi dia mempunyai pengetahuan kerja yang lengkap mengenai persenjataan Sound of Silence, seandainya benar-benar eksis.

Mayor Jenderal Albert Stubblebine

Dia adalah bos mata-mata top Angkatan Darat AS, dan tentu saja mengetahui semua rahasianya. Pensiun dari tugas setelah karir 32 tahunnya, Jenderal Stubblebine bergabung dengan istrinya, Rima Laibow, untuk mendirikan sesuatu yang bernama Natural Solutions Foundation, didedikasikan untuk memerangi semua ancaman kebebasan kesehatan individu yang meliputi Codex Alimentarius, vaksinasi, dan tentu saja Gestapo FDA.

Psikiater Dr. Rima Laibow

Di website mereka, www.healthfreedomusa.org, Anda bisa membaca ini, tentang Albert N. Stubblebine: “Banyak dari inovasi yang dia kembangkan membantu AS menjalankan Perang Teluk I secara efektif dan cepat dengan angka korban sangat rendah.”

Tapi tentu saja, “inovasi” semacam itu tak pernah betul-betul diungkapkan kepada warga Amerika, dan secara resmi disebut tak eksis. Dengan semua rasa hormat kepada Jenderal Stubblebine dan calo kekuasaan bayangan seperti Frank Carlucci dan Donald Rumsfeld, penulis setuju sepenuh hati dengan Jenderal Eisenhower, dan saya menyatakan bahwa sikap dan kerahasiaan demikian atas senjata mind-control sungguh merupakan “akuisisi kekuasaan dan pengaruh tak sah” dan mutlak tak punya tempat dalam masyarakat yang merdeka dan terbuka—tak peduli seberapa banyak nyawa prajurit yang mungkin diselamatkan [oleh senjata itu] di medan tempur. Potensi penyalahgunaan dan penyimpangan masif atas kekuatan pengendali sedemikian hebat betul-betul terlalu besar.

Frank Carlucci

Donald Rumsfeld

Selanjutnya, dengan semua rasa hormat kepada Tuan Stubblebine, apakah dia dan Rima Laibow sedang menggunakan kedok aktivitas Natural Health untuk menyembunyikan agenda mereka yang sebenarnya? Mungkinkah agenda tersembunyi ini adalah promosi dan ujicoba tertutup peralatan dan teknologi Sound of Silence secara komersial di seluruh dunia?

Segera sesudah pensiun dari tentara, Jenderal Stubblebine memegang jabatan sebagai “VP untuk Intelligence Systems” bersama Braddock, Dunn, and MacDonald (BDM), sebuah kontraktor pertahanan besar yang dimiliki oleh Carlyle Group (yang samar) dan eks Menteri Pertahanan saat kasus Iran-Contra, Frank Carlucci.

Karena teknologi mesin Sound of Silence dipatenkan untuk aplikasi komersial “privatisasi” oleh Dr. Lowery pada 27 Oktober 1992, itu jelas membuka pintu bagi kontraktor pertahanan swasta seperti BDM untuk mengembangkan “sistem intelijen” mereka sendiri. Maka masuk akal jika mempekerjakan Jenderal Stubblebine sebagai konsultan. Sudah pasti, siapa yang bisa menghentikan BDM dari memasarkan dan menjual Sound of Silence secara diam-diam kepada korporasi-korporasi besar yang terikat dengan Wall Street?

Sebagai contoh, bayangkan penggunaan Sound of Silence di toko Wal-Mart besar, pengkombinasian ELF dengan musik latar untuk secara subliminal mencuci otak pembeli tak jujur supaya tidak melakukan pencurian? Perangkat seperti itu akan menyelamatkan kerugian jutaan dolar Sam Walton dalam penerimaan tahunan.

Bayangkan pula seorang pria muda kulit hitam dari Illinois yang diberi akses, dan mampu, untuk menggunakan teknologi S-quad Sound of Silence dalam pembicaraan publik, radio, dan “infomersial” televisi 30 menit—semua diprogram dan dirancang oleh “handler” untuk membangkitkan respon emosional kuat dari audiens yang hanya “mendengar tanpa mendengarkan”.

Tambahan lagi, bagaimana jika televisi di seluruh AS dan Kanada dikonversi menjadi 100% digital (akan dimandatkan pada Februari 2009) pada sinyalnya (untuk bisa terhubung dengan menara GWEN) yang akan memungkinkan penggunaan tak terlarang atas frekuensi Sound of Silence dalam sebuah pengendalian total dan masif atas pikiran dan kesadaran bangsa?

Saya katakan pada Anda itulah yang persis tengah terjadi. Presiden Eisenhower benar belaka, dan ketakutan terburuknya memang cukup beralasan! Kompleks industrialis militer diam-diam sudah menyelesaikan pengambil-alihan kesadaran bangsa, dan akibatnya juga jiwa aslinya.

Camkan ini, pengambil-alihan penuh kendali fasis atas Amerika hanyalah salah satu langkah agenda tertinggi para elit Zionis, yang kepadanya kemungkinan besar loyalitas sejati Stubblebine dan Laibow diberikan. Tujuan total para elit Zionis adalah kontrol absolut atas dunia, sesuatu yang mereka sebut sebagai “New World Order”, di mana mereka adalah diktator dan tuan besarnya.

Sekali lagi, kerahasiaan absolut seputar pengembangan dan penggunaan teknologi elektromagnetik pengubah pikiran, Sound of Silence, betul-betul merefleksikan adanya kekuatan dahsyat yang dimilikinya. Inilah mengapa Eisenhower paham bahwa dirinya harus memperingatkan bangsanya tentang hal itu pada tahun 1961. Terus terang, siapapun yang mengendalikan teknologi ini, dia benar-benar memiliki kemampuan untuk mengendalikan pikiran manusia – semua pria dan wanita di mana pun.

Tentu saja, siapapun yang mengendalikan pikiran semua manusia, dia mengendalikan kekayaan dan nasib planet Bumi. Lebih jauh, Stubblebine, sebagai komandan Intelijen Angkatan Darat akan mengikuti ketentuan manual semua operasi tertutup, seperti yang dijumpai dalam manual AS (yang telah dideklasifikasikan) untuk rencana subversi dan kudeta pemerintah Nikaragua. Manual tersebut menginstruksikan “pasukan gerilya” CIA untuk ikut serta dalam organisasi “front palsu” berbeda-beda yang dirancang untuk memenangkan rasa hormat, kepercayaan, dan pengaruh musuh. Sekali kepercayaan penuh sudah diperoleh melalui aktivitas “front palsu”, maka penghancuran musuh melalui taktik disinformasi dan penyalah-arahan bisa lebih mudah dilaksanakan.

Saya berpendapat tak ada “front palsu” di Amerika yang lebih layak untuk diinfiltrasi selain para pendukung Natural Health, karena mereka lebih sehat, lebih tahu, dan lebih berdedikasi untuk mempertahankan kebebasan individu dan memerangi tirani dibanding warga Amerika lainnya. Jadi, tak ada “front palsu” yang lebih layak untuk didirikan, dan jelas tak ada serigala berbulu domba yang lebih busuk daripada manusia yang tahu lebih banyak tentang penggunaan Sound of Silence secara rahasia dibanding manusia lainnya…

Terdapat bukti kuat bahwa elit-elit tertentu di Amerika dan Israel berencana untuk memperluas kapasitas teknologi ini agar mencakup semua orang di setiap benua. Kunci dari ini adalah proyek HAARP, di mana frekuensi ELF dan VHF memang bisa diarahkan dari ionosfer Bumi ke berbagai menara GWEN di seluruh dunia.

Tentu saja, Pemerintah AS secara resmi membantah semua ini, mengatakan kepada pimpinan-pimpinan media berita yang dikuasai bahwa menara GWEN adalah menara ponsel swasta belaka, tanpa agenda tersembunyi, dan karena itu siapapun yang berpikir sebaliknya hanyalah orang eksentrik penggila konspirasi.

Bertentangan dengan hal tersebut, buktinya justru jelas dan tegas. Dr. Michael Persinger adalah profesor psikologi dan neurosains di Universitas Laurentian, Ontario, Kanada. Berkenaan dengan topik ini, Dr. Persinger menulis:

“Stimulasi terhadap cuping temporal bisa menimbulkan perasaan kehadiran [sesuatu/seseorang-penj], disorientasi, dan iregularitas perseptual. Itu bisa mengaktifkan gambar yang tersimpan dalam memori si subjek, termasuk mimpi buruk dan monster-monster yang normalnya tertahan. Neurosains kontemporer mengindikasikan eksistensi algoritma fundamental yang dengannya semua transduksi panca indera ditranslasikan menjadi kode intrinsik spesifik otak. Stimulasi langsung kode ini dalam korteks limbik atau temporal manusia melalui penerapan pola elektromagnetik mungkin memerlukan level energi yang berada dalam rentang aktivitas geomagnetik maupun jaringan komunikasi kontemporer. Proses yang digandengkan dengan pita (harga frekuensi-penj) sempit temperatur otak bisa memungkinkan semua otak normal manusia terpengaruh oleh sub-harmoni berfrekuensi sekitar 10 Hz dan hanya bervariasi sebesar 0,1 Hz.”

Dr. Persinger menyimpulkan artikel tersebut dengan menulis:

“Dalam dua dekade terakhir muncul potensi yang sukar dipercaya, tapi sekarang mungkin terjadi. Potensi ini adalah kapabilitas teknis untuk mempengaruhi langsung porsi besar sekitar 6,5 miliar otak spesies manusia, tanpa operasi panca indera klasik, dengan membangkitkan informasi syaraf dalam medium fisik yang di dalamnya semua anggota spesies terkubur.

Sejarah kemunculan potensi tersebut, yang mencakup mulai dari serbuk mesiu sampai fisi atom, telah menghasilkan perubahan besar dalam perkembangan sosial yang terjadi secara cepat dan luas setelah implementasinya. Pengurangan resiko aplikasi tak sesuai dari teknologi ini membutuhkan diskusi terbuka dan terus-menerus akan kemungkinan dan implikasi riilnya dalam domain ilmiah dan publik.”

Bagaimana bisa seseorang mendapatkan “diskusi terbuka” atas topik tersebut sementara lingkaran pemerintah terus-menerus membantah eksistensi teknologi semacam itu?

Lirik lagu “The Sound of Silence”
Ciptaan Paul Kane (aka Paul Simon), 1963

Hello, darkness, my old friend
I’ve come to talk with you again
Because a vision softly creeping
Left its seeds while I was sleeping
And the vision that was planted in my brain
Still remains within the Sound of Silence.

In restless dreams I walked alone
Narrow streets of cobblestone
Beneath the halo of a street lamp
I turned my collar to the cold and damp
When my eyes were stabbed by the flash of a neon light
That split the night and touched the Sound of Silence.

And in the naked light I saw
Ten thousand people, maybe more
People talking without speaking
People hearing without listening
People writing songs that voices never share…
And no one dare disturb the Sound of Silence.

“Fools,” said I, “you do not know
Silence like a cancer grows.”
“Hear my words that I might teach you,
Take my arms that I might reach you.”
But my words like silent raindrops fell,
And echoed in the wells of silence.

And the people bowed and prayed
To the neon god they made.
And the sign flashed out its warning
In the words that it was forming.
And the signs said: “The words of the prophets
Are written on the subway walls
And tenement halls,
And whisper’d in the Sound of Silence.”

Paul Kane (Paul Simon) di awal 1960-an terutama merupakan penulis lagu yang dikontrak dalam “Brill Building machine” yang terkenal itu. Dia menulis lagu untuk rekaman artis lain. Namun dia juga mencoba tulisan tangannya dalam pertunjukan. Mengambil nama panggung yang baru – Paul Kane – dia menulis banyak lagu balada dan rock yang direkam, baik oleh Paul sendiri maupun sebagai anggota Tico and the Triumphs yang sedikit sukses. Paul juga memiliki kolaborator ternama – Carole Kane (yang mengubah namanya menjadi Carol King). Paul Simon, seorang Yahudi yang keluarganya merupakan bagian dari ‘kompleks industrialis militer’, sangat mungkin adalah produk eksperimen militer tahun 1960-an dalam mind-control Silent Sound; yang jelas-jelas menjadi hal yang disampaikan lirik “The Sound of Silence” tersebut kepada “orang dalam yang mengetahuinya”.



Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s