Apakah Avian Flu merupakan Hoax Pentagon Lainnya?

Oleh: F. William Engdahl (Contributing editor Global Research ini adalah penulis buku “A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order” (Pluto Press), dan yang segera dirilis, “Seeds of Destruction: The Geopolitics of Gene-ocide”. Dia dapat dihubungi melalui websitenya: www.engdahl.oilgeopolitics.net)
30 Oktober 2005
(Sumber: www.globalresearch.ca)

Baru saja dakwaan dijatuhkan kepada Scooter Libby, Kepala Staf Wakil Presiden AS, atas kebohongan dan penutup-nutupan informasi yang dengan sengaja dilakukan untuk menyembunyikan fakta bahwa Pemerintahan Bush tak punya ‘smoking gun’ (bukti kuat-penj) untuk membuktikan Saddam Hussein sedang membangun gudang nuklir, satu skandal baru muncul ke permukaan yang sama menggemparkannya dan kemungkinan juga jahat.

Bertentangan dengan semua kebijakan ilmiah dan prosedur kesehatan publik standar, penduduk dunia sedang disiapkan memasuki hiruk-pikuk kepanikan oleh pejabat kesehatan publik yang tak bertanggung jawab, mulai dari Pemerintahan Bush, WHO, sampai United States Centers for Disease Control. Mereka semua memperingatkan tentang bahaya di depan bahwa strain virus jahat dapat menyebar dari burung yang terinfeksi, terutama di Vietnam dan negara Asia lainnya, untuk mengkontaminasi seluruh spesies manusia dalam ukuran pandemi. Seringkali, pandemi flu 1918, yang konon membunuh 18 juta orang di seluruh dunia, dikutip sebagai contoh atas apa yang ‘mungkin’ terjadi pada diri kita.

Pada 1 November, tepat setelah hari Halloween, Presiden Bush dijadwalkan mengunjungi National Institutes of Health di Bethesda, Maryland, untuk mengumumkan strategi Pemerintahannya dalam bersiap-siap menghadapi epidemi flu berikutnya, entah dari Flu Burung atau suatu strain lain. Rencana tersebut telah disusun selama setahun. Pada 28 Oktober, Senat meluluskan dana pembiayaan darurat sebesar $8 miliar untuk menghadapi kepanikan Avian Flu yang terus bertambah. Health and Human Services Secretary, Mike Leavitt, dalam momen terbuka selama perdebatan mengenai dana Senat itu mengatakan kepada pers, ‘Seandainya bukan virus H5N1 sekarang yang menimbulkan pandemi influenza, pada suatu titik dalam masa depan bangsa kita, virus lain akan [menimbulkan].’ Sementara itu, miliaran uang pembayar pajak akan beralih ke segelintir raksasa farmasi yang diposisikan menguntungkan. Tak ada yang lebih memperoleh laba dibanding raksasa farmasi Swiss-AS, Roche Holdings dari Basle.

Satu-satunya obat yang dikatakan kepada kita dapat mengurangi gejala-gejala influenza musiman atau influenza umum dan juga ‘mungkin’ dapat mengurangi gejala-gejala Avian Flu adalah obat bernama Tamiflu. Hari ini, firma farmasi raksasa Swiss itu, Roche, memegang lisensi tunggal untuk memproduksi Tamiflu. Gara-gara kepanikan media, sekarang ini Roche kebanjiran pesanan. Baru-baru ini Roche menolak permintaan Kongres AS untuk mencabut hak paten eksklusifnya agar memungkinkan produsen obat lainnya memproduksi Tamiflu dengan alasan mustahil bahwa terlalu rumit bagi yang lain untuk berproduksi secara cepat.

Namun, poin perhatian sebenarnya adalah perusahaan di California yang mengembangkan Tamiflu dan memberikan hak pemasaran atas paten temuannya kepada Roche.

Rummy Flu
Tamiflu dikembangkan dan dipatenkan pada 1996 oleh sebuah firma bioteknologi California, gilead Sciences Inc. Gilead adalah perusahaan perseroan yang terdaftar di NASDAQ (kode GILD), dan lebih suka bersikap low profile atas keramaian Tamiflu saat ini. Itu mungkin karena adanya orang-orang yang terikat dengan Gilead. Pada 1997, sebelum menjadi Menteri Pertahanan AS, Donald H. Rumsfeld, terpilih sebagai Ketua Dewan Pengurus Gilead Sciences, di mana dia berada di sana sampai diangkat sebagai Menteri Pertahanan. Menurut press release perusahaan tanggal 3 Januari 1997, Rumsfeld berada dalam dewan pengurus Gilead sejak 1988

Sebuah laporan yang belum terkonfirmasi menyatakan bahwa Rumsfeld, saat menjabat Menteri Pertahanan, juga membeli saham tambahan di bekas perusahaannya, Gilead Sciences Inc., seharga $18 juta, menjadikannya sebagai salah satu pemegang saham terbesar hari ini.

Sang Menteri Pertahanan, orang yang diduga menyokong penggunaan rekayasa intelijen untuk menjustifikasi perang terhadap Irak, kini mempertimbangkan untuk menuai keuntungan besar atas kepanikan flu yang telah dipromosikan Pemerintahannya dengan melakukan segala hal. Ada baiknya untuk mengetahui apakah suksesor Douglas Feith di Kantor Perencanaan Khusus Pentagon mengembangkan strategi perang biologi di balik kepanikan Avian Flu saat ini. Barangkali suatu komite Kongres yang mau berusaha dapat menyelidiki seluruh subjek konflik kepentingan Menteri Rumsfeld.

Rumsfeld mendapat untung atas royalti karena penduduk dunia yang panik berebut membeli sebuah obat yang tak berguna dalam menyembuhkan efek-efek Avian Flu. Model ini mengindikasikan kesamaan dengan kecurangan tak tahu malu Halliburton Corporation yang mantan CEO-nya adalah Wakil Presiden Dick Cheney. Perusahaan Cheney sejauh ini sudah mendapat kontrak konstruksi Irak dan tempat lain senilai miliaran dolar. Kebetulankah bahwa teman politik terdekat Cheney adalah sang Menteri Pertahanan dan pengambil untung Avian Flu, Donald Rumsfeld? Ini adalah contoh lain dari apa yang disebut sebagai prinsip politik kepentingan khusus AS yang korup: ‘Himpun keuntungan; sebar biaya’, Presiden Bush telah memerintahkan Pemerintah AS untuk membeli Tamiflu-nya Gilead Sciences seharga $2 miliar.

Ayam GMO Pulang untuk Bertengger
Tapi konflik Tamiflu barangkali hanya puncak gunung es dalam cerita Avian Flu. Ada riset biologis tingkat tinggi yang sedang berjalan di Inggris dan mungkin juga AS dalam rangka mengembangkan metode rekayasa genetika untuk membuat ayam dan burung lain ‘resisten’ terhadap virus Avian Flu.

Ilmuwan-ilmuwan Inggris dilaporkan merekayasa genetika ayam untuk menghasilkan burung yang resisten terhadap strain virus H5N1 mematikan yang menghancurkan peternakan ayam di Timur Jauh. Laurence Tiley, Profesor Microular Virology di Universitas Cambridge serta Helen Sang dari Roslin Institute di Skotlandia terlibat dalam pengembangan ‘ayam transgenic’ yaitu dengan menyuntikkan sepotong kecil material genetik ke dalam telur ayam untuk membuat ayam resisten terhadap H5N1.

Tiley mengatakan kepada Times of London pada 29 Oktober, ‘Setelah kami mendapat persetujuan regulasi, kami yakin hanya perlu 4 sampai 5 tahun untuk membiakkan cukup banyak ayam untuk mengganti seluruh populasi (ayam) dunia.’ Pertanyaan dalam usaha mencurigakan ini adalah raksasa GMO yang mana yang tengah menanggung riset dan pengembangan ayam GMO dan siapa yang akan mengontrol produknya. Kian jelas bahwa seluruh hikayat Avian Flu adalah sesuatu yang dimensinya semakin ketahuan, hanya saja secara perlahan. Apa yang bisa kita lihat sejauh ini sama sekali tidak baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s