‘Flu Burung’, SARS – Perang Biologi atau Propaganda Pandemi

Oleh: Sepp Hasslberger
2 Maret 2005
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Apakah kita sedang didesak ke dalam pandemi? Sebuah pengumuman dibuat oleh Dr. Nancy Cox dari US Centers for Disease Control (CDC). Menurut sebuah artikel di The Scotsman, Coxs mengatakan bahwa epidemi global flu burung bisa mengecilkan signifikansi bencana infeksi terburuk dalam sejarah kita, yang telah membunuh antara 20 sampai 40 juta orang. Maksudnya tentu saja adalah “Flu Spanyol” di akhir Perang Dunia I, yang, menurut sebuah artikel BBC sekitar setahun lalu, dikatakan para ahli kemungkinan disebabkan oleh “virus burung yang melompat ke manusia”.

Alasan dari pernyataan CDC itu adalah berikut:

Strain influenza H5N1 yang telah membunuh 42 orang itu memiliki tingkat fatalitas 76%, demikian indikasi dari kasus-kasus sejauh ini. Virus yang menyebabkan pandemi 1918 hanya membunuh 1% dari mereka yang terinfeksi.

Pengaitan itu sangat lemah dan alasannya terdengar aneh, tapi pesannya jelas: “Bersiap-siap menghadapi yang terburuk”.

Ada baiknya untuk mengingatkan diri kita bahwa H5N1 adalah virus burung yang sedang “diriset” (artinya sedang diubah dan dibiakkan secara aktif) ketika Liu Jianlun, ilmuwan laboratorium di provinsi Guangdong, China, menjadi korban SARS pertama dua tahun silam – 4 Maret 2003. Kematian seorang ilmuwan lain berikutnya terhubung dengan sebuah laboratorium di Singapura. Laboratorium ini membiakkan virus yang sama.

“Pandemi” SARS akhirnya berangsur pergi, tapi meninggalkan kesan mendalam. Kampanye media bernada tinggi meyakinkan dunia bahwa kita sedang menghadapi ancaman besar, padahal kenyataannya SARS merupakan penyakit kecil dengan jumlah infeksi 8.500 orang di seluruh dunia dan sekitar 812 kematian. Bandingkan dengan angka dari CDC, 36.000 kematian terkait flu setiap tahun di AS saja. Atau bandingkan dengan lebih dari 100.000 kematian di AS akibat efek obat-obatan farmasi yang merusak dalam rentang waktu yang sama.

“Para periset, dari cabang Centers for Disease Control bidang influenza di Atlanta, akan mengawinkan H5N1 dan virus-virus flu manusia dalam sebuah proses yang dikenal sebagai reassortment. Keturunan yang dapat hidup akan diujicoba pada binatang, yang dianggap bagus sebagai pengganti manusia, untuk melihat apakah virus-virus itu bisa menginfeksi, bisa ditularkan secara mudah dari binatang terinfeksi ke binatang sehat, dan untuk mengetahui keparahan penyakit yang ditumbulkan oleh masing-masing. Dengan kata lain, periset CDC akan secara sengaja merekayasa virus-virus berpotensi pandemi. Ini adalah pekerjaan beresiko tinggi namun krusial, tegas komunitas influenza tersebut.”

Inilah yang kita baca dalam sebuah artikel yang dipublikasikan di Kanada Desember lalu, yang mengutip para ahli yang menjelaskan bahwa usaha beresiko sedemikian tinggi itu diperlukan untuk mencegah potensi berjangkitnya pandemi baru. Mau tak mau saya jadi berpikir tentang anak-anak kecil yang bermain-main dengan korek api di lumbung kayu. Gagasan mengenai usaha tersebut cukup membuat seseorang gelisah.

Di Vietnam, sekitar seminggu lalu, pengumuman lain dilaporkan oleh reporter CBC Kanada: “Kami di WHO percaya bahwa dunia kini sedang dalam ancaman potensial pandemi paling seram,” Dr. Shigeru Omi, kepala kantor Pasifik Barat dinas kesehatan PBB, memperingatkan dalam konferensi ilmiah di Ho Chi Minh City pada hari Rabu. Para petugas kesehatan publik khawatir H5N1 yang terbentuk dari virus flu burung, yang telah menular dari manusia ke manusia dua kali, akan semakin baik dalam penyebaran antar manusia dan melepaskan perubahan yang terhadapnya penduduk tidak memiliki imunitas alami.

Karena itu, dalam permainan ulang kepanikan SARS, kita kembali memeriksa riset pemerintah dalam membuat virus melompati rintangan spesies, dan kembali kita memperoleh prediksi mengerikan dari otoritas kesehatan top dunia tentang bencana di ambang pintu.

Apa solusi yang tengah disiapkan untuk kita? Menurut sebuah artikel di www.newstarget.com, nasib kita ada di tangan yang baik:

Saat ini, 50 orang yang mewakili perusahaan obat, pemerintah, dan dinas pelisensi vaksin sedang bertemu di Jenewa dalam sebuah pembahasan tertutup guna mendiskusikan apa yang bisa dilakukan untuk mencegah pandemi flu yang akan datang ini. World Health Organization telah bulat menyatakan tidak ada cukup vaksin untuk dibagikan. Di website mereka, mereka mengatakan, “kapasitas produksi vaksin pandemi sangat tidak mencukupi, kecuali kalau perusahaan lain ikut serta dalam pengembangan bibit vaksin dan persiapan sejumlah uji klinis.” Kelompok tersebut juga menyatakan bahwa dalam peristiwa pandemi, persediaan vaksin akan kurang dan kemungkinan akan terdistribusi secara tidak merata.

Sepertinya “solusinya” adalah vaksin, yang tengah disiapkan secara tergesa-gesa dan tertutup, oleh mereka orang-orang yang bertanggung jawab, langsung ataupun tidak langsung, atas ratusan ribu kematian tiap tahun – orang-orang yang menyodori kita sistem medis yang  telah disebut sebagai genocidal dalam sebuah pengaduan kriminal yang diajukan kepada International Court of Justice di The Hague.

Secara resmi, tak ada penyebutan kondisi kesehatan yang baik sebagai benteng pertahanan pertama. Tak satupun pejabat tinggi yang berpikir bahwa ‘penambahan’ pertahanan kita melalui nutrisi yang baik, istirahat, dan suplemen adalah penting, walaupun itu sangat masuk akal. Dengan catatan suram vaksin dalam mencegah penyakit – sebenarnya ia adalah penekan imunitas – kita mesti mempertimbangkan opsi lain ini dan barangkali kita mesti membuatnya sebagai benteng pertahanan utama terhadap “pandemi” hipotetis yang melanggar masyarakat dunia.

Karena SARS dikalahkan bukan oleh vaksin, tapi oleh kehigienisan dan oleh orang-orang yang memeriksa sendiri persoalannya, menyimpan persediaan vitamin C dan nutrien penambah imunitas lainnya, bukankah akan lebih baik jika kita mengikuti jalan yang berhasil baik ini?

Jonathan Campbell menceritakan bagaimana menggunakan vitamin C dan beberapa nutrien esensial lain dalam artikelnya: Prepare for Avian Influenza!

Berbagai dinas AS dan PBB dan Council on Foreign Relations menyebarkan kabar bahwa Avian Influenza, bilamana berjangkit musim gugur atau musim dingin ini, bisa separah epidemi Influenza Spanyol di seluruh dunia pada tahun 1918, dan mereka memprediksikan ratusan juta orang akan mati di seluruh dunia.  Inluenza ini, saat ini diisolasi di China, adalah penyakit pendarahan (hemorrhagic illness). Ia membunuh sebagian tubuh korbannya dengan secara cepat menghabiskan simpanan ascorbate (vitamin C) dalam tubuh, menyebabkan scurvy (penyakit akibat kekurangan vitamin C-penj) dan kejatuhan suplai darah arteri, menyebabkan pendarahan internal pada paru-paru dan kavitas sinus. Sebagian besar orang hari ini hampir tidak cukup memiliki vitamin C dalam tubuh mereka (tipikalnya 60 mg per hari) untuk mencegah scurvy di bawah kondisi normal, dan tidak siap menghadapi penyakit jenis ini.

Mengapa masih membuat “cash-cow” (penghasil uang-penj) lain untuk perusahaan-perusahaan farmasi yang berkontribusi kecil terhadap kesehatan dan imunitas, padahal catatan jelas menunjukkan bahwa vaksin bukan jalan yang baik dilalui? Otoritas kesehatan di seluruh dunia sepertinya berusaha menopang rekan-rekan mereka di industri vaksin. Contoh mutakhirnya adalah kampanye vaksin meningococcal eksperimental untuk lebih dari satu juta anak di Selandia baru dengan biaya ratusan juta dolar, dipromosikan oleh otoritas kesehatan dengan angka timbulnya penyakit yang dibesar-besarkan tanpa rasa malu.

Di AS, meski terdapat kampanye kepanikan di media dan berkurangnya dosis vaksin flu secara drastis gara-gara persoalan kontaminasi di Chiron (produsen vaksin), satu dari hanya dua penyedia vaksin flu di AS, sejauh ini flu tidak naik lepas kendali.

Tapi, menurut laporan-laporan pers terbaru, obat anti virus sedang dicadangkan untuk memukul flu mematikan dan ratusan Juta Dolar “Dibutuhkan untuk Mengendalikan Flu Burung”.

Dengan banyaknya bukti bahwa nutrien berbasis pangan “meningkatkan sistem imunitas” dan suplemen seperti vitamin C sederhana diketahui efektif dalam menangkis SARS, strategi semacam ini semestinya digunakan secara luas sebagai benteng pertahanan pertama.

Tetapi kenyataanya sebaliknya, kita menjumpai riset tentang bagaimana membuat virus flu burung menjadi lebih mematikan, kita melihat kampanye vaksin sedang disiapkan, kita melihat obat anti-AIDS memasuki panggung sebagai agen potensial untuk “memerangi flu burung”.

Dalam hiruk-pikuk yang dikobarkan oleh media, kita sepertinya lupa untuk menguji vaksin demi keamanan. Ini menghadirkan ketidakpastian ilmiah. Akankah pandemi berikutnya merupakan kesalahan “virus” atau mungkinkah itu disebabkan oleh vaksin yang digembar-gemborkan sebagai solusi. Tapi sepertinya, usaha berjalan baik-baik saja – setidaknya sekarang – bagi Raksasa Farmasi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s