Kepanikan Avian Flu Diatur Tepat Waktu Secara Politik

Oleh: Dr. Leonard Horowitz
12 Oktober 2005
(Sumber: www.globalresearch.ca)

Abstrak
Kepanikan Avian Flu: Diatur Tepat Waktu Secara Politik untuk “Iatrogenocide” Global

Jika avian flu menjadi lebih dari pandemi yang mengancam, itu pasti terjadi melalui rancangan politik dan ekonomi. Tesis ini ditopang oleh penggambaran keliru media secara masif saat ini; pengambilan untung dari vaksin beresiko dan tak berharga; pengabaian mencolok terhadap data yang membuktikan wabah buatan manusia serupa di masa lalu yang meliputi SARS, West Nile Virus, AIDS, dan masih banyak lagi; keberlanjutan studi genetika yang mengembangbiakkan semakin banyak virus flu yang bermutasi yang kemungkinan besar akan berjangkit; skandal perdagangan internal yang melibatkan Gedung Putih dan pejabat industri obat yang paham pandemi; kekebalan mengherankan pada entitas farmasi ini selama seabad terakhir terhadap penegakan hukum dan penyelidikan media mainstream; dan tujuan depopulasi yang secara resmi dipublikasikan. Dengan pengungkapan dan pernyataan yang dimajukan di sini, publik terperingatkan lebih awal tentang pembunuhan masal yang dibantu dokter ini, yang tepat diistilahkan sebagai “iatrogenocide”. Pelaksanaan genosida ini diduga utamanya untuk menjalankan tujuan depopulasi yang bersifat ekonomis dan politis.

Latar Belakang
Pada April 2003, sebuah eksperimen sosial yang disebut SARS, konon datang dari Asia, parah melanda Toronto. Saya berada di sana hampir selama kepanikan pertanda flu Asia ini. Penyakit ganjil dan baru mirip pneumonia ini bernama Severe Acute Respiratory Syndrome. Konon ini merupakan ancaman terbaru dalam serangkaian serangan terus-menerus terhadap manusia dari “superkuman” yang bermutasi secara misterius.

Studi seksama atas korelasi ilmiah dan medis-sosiologis dan pendahuluan “perjangkitan” ini mengungkap sesuatu yang keliru yang jauh lebih berbahaya daripada SARS. Saya secara kritis menganggap reaksi media di Toronto sebagai seorang pakar kesehatan publik terlatih Harvard dalam sains perilaku persuasi media. Malapetaka itu memiliki semua ciri-ciri eksperimen sosial baru yang dijalankan oleh bioteroris kerah putih.

Menuru saya jelas bahwa manipulasi populasi yang tak pernah terjadi sebelumnya ini efektif mengindoktrinasi pikiran masyarakat untuk mendukung respon kesehatan publik yang sama sekali tak efektif, walaupun dilegislasikan, sebelum kedatangan “Big One”. Sepanjang “SARS Scam”[1], berulang kali disebut mengenai agen biologis yang akan memfasilitasi pemusnahan 1/3 sampai ½ populasi dunia. Setelah meninjau luas literatur kontrol populasi yang bersifat politis dan tujuan-tujuan kontemporer para industrialis global terkemuka, saya mencatat prediksi ini sesuai dengan sasaran pengurangan populasi resmi saat ini.[2]

Respon Kanada terhadap SARS pada 2003, untuk pertama kalinya dalam sejarah, diarahkan oleh PBB dan WHO. Setelah meninjau ikatan finansial dan administratif intim antara organisasi-organisasi ini, keluarga Rockefeller, Carnegie Foundation, dan para produsen obat terkemuka dunia, pada esensinya “si rubah” berkuasa atas “ayam-ayam” Kanada.

Kebenaran mengenai wabah meliputi fakta bahwa “tak ada pandemi yang pernah berkembang terpisah dari pergolakan sosio-politik besar”. SARS memajukan agenda politik lebih dari sekadar darurat kesehatan publik. Seandainya pejabat kesehatan publik sungguh-sungguh bermaksud mencegah penyakit-penyakit yang baru muncul ini, atau berhasil menanganinya dari akar-akarnya, saya ulangi, mereka akan mempelajari asal-usulnya dari arena gabungan bioteknologi-medis-militer. Pelajaran dasar dalam sosiologi medis cukup membenarkan nasehat berfaedah ini.

Para “pakar” telah memprediksikan kedatangan wabah super selama berdekade-dekade. Yang AMAT MENCURIGAKAN dari kedatangan SARS yang mengerikan dan misterius adalah, bagaimanapun, pemilihan waktunya. Ia hadir bersamaan dengan perang global terhadap terorisme, dan perang Anglo-Amerika dengan Irak. Sepertinya ini merupakan pengalihan dari fakta bahwa pemerintahan Bush telah mengirimi Saddam Hussein sebagian besar senjata biologi mematikannya yang meliputi antraks dan West Nile Virus. SARS bersifat pathognomonic (yakni simtomatis dan khas), sesuatu yang sudah saya prediksikan dan jelaskan dalam buku “Death in the Air: Globalism, Terrorism, and Toxic Warfare” (Tetrahedron Publishing Group, 2001, www.healthyworlddistributing.com), sebuah buku prediksi yang terbit beberapa bulan lebih awal dari serangan 9-11 terhadap Amerika, dan menyajikan analisis kontekstual atas kaitan globalis tertentu dengan “perjangkitan” baru-baru ini.

Pada esensinya, saya menyajikan pandangan mengenai aplikasi luas bentuk baru “bioterorisme” terlembaga yang konsisten dengan perang biologis yang disponsori negara. Saddam Hussein konon telah memapar penduduk di negaranya dan tetangganya dengan senjata pemusnah masal biologis dan kimia. Berdasarkan banyak contoh yang terdokumentasi, kepanikan SARS dan avian flu saat ini didukung oleh industrialis farmasi-medis-militer yang juga beroperasi di atas undang-undang. Setelah bersaksi di hadapan Kongres AS, saya pribadi merasakan bagaimana industrialis farmasi besar mengatur perwakilan politik-ekonomi kita di pemerintahan. Penyakit-penyakit yang tengah bermunculan melengkapi politik “Perang terhadap Terorisme”, dan kebudayaan kita yang terpengaruh bioteror. Agenda ini mempunyai dua tujuan utama: profitabilitas dan pengurangan populasi.

Realita Politik versus Mitos Massa
Kegilaan yang terus meningkat di sekitar kita konsisten dengan rekomendasi think tank globalis untuk “konflik selain perang” saat ini. Dimulai pada akhir 1960-an, “pengganti ekonomis untuk militerisasi standar” diupayakan dan ditemukan oleh industrialis global terkemuka. Ancaman biologis baru, “perang terhadap terorisme”, dan peningkatan jumlah “bencana alam” termasuk ancaman dari ruang angkasa dan badai super dianggap sangat berguna secara politis dan ekonomis dibanding perang dunia pertama dan kedua. “Konflik selain perang” ini jelas lebih bisa diatur dan dapat terus berjlangsung secara ekonomi. Untuk alasan ini, terutama profitabilitasnya, itu semua menjadi opsi penting di kalangan pembuat kebijakan Anglo-Amerika.

Anak didik Nelson Rockefeller, Henri Kissinger, contohnya, saat National Security Act (NSA) di bawah Richard Nixon, mengatur kebijakan luar negeri sambil mempertimbangkan “kebutuhan” pengurangan populasi Dunia Ketiga bagi AS, Inggris, Jerman, dan sekutu lain. Bush, yang mengatur investigasi konspirasi 9-11, sebuah peristiwa yang dianggap sebagai kejahatan perang, kala itu memilih opsi mendorong CIA mengembangkan senjata biologis, menurut US Congressional Record tahun 1975. Di antara senjata biologis baru buatan manusia ini adalah kuman-kuman yang jauh lebih mematikan daripada avian flu.

Contoh, pada 1968, saat Kissinger meminta dan menerima update informasi mengenai “agen biologis buatan” yang berguna untuk perang biologi dan kontrol populasi, virus flu rekombinan yang bermutasi baru saja direkayasa oleh periset O’Conner, Stewart, Kinard, Rauscher, dan lainnya dari Special Virus Cancer Program.[3] Selama program ini, virus-virus influenza dan parainfluenza direkombinasikan dengan virus leukemia berjalar cepat (leukemia limposit akut) untuk melepaskan senjata yang berpotensi menyebarkan kanker, layaknya flu, melalui bersin. Para periset ini juga mengumpulkan virus avian cancer (sarcoma) dan menginokulasikannya ke dalam tubuh manusia dan monyet untuk menentukan karsinogenisitasnya. Dalam laporan-laporan terkait, Raucher dkk. menggunakan radiasi untuk meningkatkan potensi penimbulan kanker dari avian cancer tersebut. Realita ilmiah luar biasa ini telah secara resmi disensor dan umumnya diabaikan oleh media mainstream.

Demikian pula halnya, Institute of Science in Society (IoSS) di London memajukan pertanyaan rekayasa genetika mengenai asal-usul SARS. “Mungkinkah rekayasa genetika berkontribusi secara tidak sengaja dalam terlahirnya virus SARS?” tanya mereka. “Poin ini bahkan tidak dipertimbangkan oleh para koronavirologist yang dipanggil untuk membantu menangani krisis, dan kini sedang dijamu dan disusahkan oleh perusahaan-perusahaan farmasi yang berhasrat mengembangkan vaksin.” Mereka yang tinggal dalam rumah kaca tidak boleh melempar batu. Penekanan di atas ditambahkan untuk menunjukkan kepada IoSS bahwa pakar-pakar itu “bahkan tidak mempertimbangkan” penyebaran SARS secara sengaja dalam bidang ilmiah mereka yang katanya tidak memihak.[4]

Konflik selain perang, seperti “Perang terhadap AIDS”, “Perang terhadap Narkoba”, Perang terhadap Terorisme”, “Perang terhadap Kanker”, da sekarang “Perang terhadap Avian Flu”, memerlukan program propaganda rumit yang mempergunakan kampanye rasa takut demi mendapat pengakuan masyarakat dan dukungan kebijakan legislasi. Operasi psikologis (secara resmi diistilahkan sebagai PSYOP) untuk “command and control warfare” ini (secara teknis disebut C2W), nasehat para pakar, paling menopang kemunculan “Revolution in Military Affairs” (RMA). Kemampuan RMA mencakup “sebentuk perbudakan manusia” di mana populasi tawanan dunia tidak akan tahu diri mereka sedang diperbudak.[2]

RMA tak diragukan lagi menggabungkan penggunaan agen biologis dan kimiawi pelemah atas nama produsen obat dan vaksin. Contoh klasik adalah pestisida organophosphate karsinogenik dan beracun yang disebarkan terhadap populasi manusia, yang dikatakan untuk membidik “nyamuk”, dalam “Perang Terhadap West Nile Virus”. Agen “peperangan non-mematikan” semacam itu, demikian diistilahkan secara militer, sungguh mematikan, tapi kematian yang diakibatkan secara perlahan dari paparan racun memungkinkan gabungan industrialis farmasi dan medis mendapat lebih banyak laba. Korban paparan “non-mematikan” tewas secara perlahan akibat penyakit kronis yang melemahkan [tubuh]. Rumah sakit luas dan fasilitas perawatan jangka panjang sesungguhnya merupakan kamp sonsentrasi. Penyakit yang dihasilkan untuk “iatrogenocide” mencakup penyakit auto-imun yang melimpah dan kanker baru yang 50 tahun silam hampir tidak eksis. Fakta ini saja kuat mengindikasikan agenda genosida sosio-ekonomis dan politis.

Avian Flu untuk Mendapat Laba
Dalam merespon SARS, anggota senior di Hudson Institute, Washington, Michael Fumento, mempublikasikan sebuah tesis ekonomi di Toronto terkait dengan [tesis] yang saya majukan di sini. “Super-bug or Super Scare”, dipublikasikan di National Post, Kanada. Warga Kanada telah diperingatkan untuk “mengkarantina diri”, mengenakan masker, dan, dalam beberapa kasus, tinggal di rumah. Kementerian Kesehatan Ontario mendeklarasikan “darurat kesehatan” begitu media menjuluki “pembunuh misterius” itu sebagai “super-pneumonia”. Beranjak dari kehebohan tersebut, Fumento menanyakan dan menjawab beberapa “pertanyaan riil… Seberapa mematikan, seberapa menular, dan seberapa terobati strain ini?” Jawabannya, simpulnya, “tak ada alasan untuk gempar, apalagi panik.” Hal yang sama mungkin akan dikatakan terhadap kutukan baru avian flu ini.[1]

Mematikan?
Pada waku penulisan ini, avian flu dikatakan telah membunuh “sekitar 65 orang” di Asia Tenggara selama dua tahun belakangan! Tak ada data yang tersedia mengenai individu-individu ini, yang umumnya memiliki kondisi medis yang membahayakan sistem imun. Lebih jauh, semua kematian terjadi di negara-negara Asia dengan layanan kesehatan meragukan.

Sebaliknya, bentuk-bentuk lain flu membunuh lebih dari 40.000 orang Amerika Utara setiap tahun, umumnya kaum tua dengan sistem imun beresiko.

Menular?
Menurut USA Today (9 Oktober 2005), “Pejabat kesehatan Eropa sedang bekerja untuk memuat virus [avian flu], yang sejauh ini belum menginfeksi seorang pun di kawasan itu.” Walaupun, katanya “lebih dari 140 juta burung telah mati atau musnah,… dan kerugian finansial pada sektor peternakan unggas telah mencapai $10 miliar.” Propaganda ini sebetulnya mengakui, “virus saat ini, dikenal sebagai H5N1, belum bermutasi ke titik di mana ia bisa mudah menyebar dari orang ke orang.” Justru kemungkinan besar belum pernah menyebar dari orang ke orang kecuali selama penanganan laboratorium![5]

Terobati?
“Senat AS telah menyetujui paket $3,9 miliar untuk membeli vaksin dan obat anti-virus, dan Pemerintah juga sedang menyiapkan permintaan $6 miliar sampai $10 miliar tambahan,” menurut laporan BusinessWeek terbaru.[6]

“Beritahu aku, Scottie, tak ada makhluk berakal di planet ini.” Ini sebagian besar menjelaskan mengapa publik betah dengan penipuan mematikan ini. Bahkan USA Today meratap, “Belum vaksin manusia.” Lantas bagaimana bisa Senat AS tergesa-gesa membelanjakan uang miliaran ini untuk vaksin avian flu?

Saya duga kita pasti melupakan fakta bahwa strain virus avian flu H5N1 yang saat ini menakutkan belum pernah menular dari manusia ke manusia, dan umumnya juga tidak dari burung ke manusia. Karena itu, vaksin efektif hanya bisa disiapkan dengan memutasi virus ini, sehingga menciptakan apa yang paling dikhawatirkan dunia. Biar saya jelaskan….

Untuk membuat vaksin manusia yang spesifik untuk virus H5N1 yang bermutasi, Anda harus memulai dengan virus manusia yang belum eksis, kecuali barangkali di laboratorium farmasi-biomedis-militer. Nyatanya, inilah persis yang sedang disiapkan menurut laporan-laporan berita. Untuk memproduksi patogen manusia, avian virus harus dibiakkan selama periode yang panjang dalam biakan sel manusia, kemudian disuntikkan kepada monyet dan akhirnya manusia untuk melihat apakah subjek-subjek eksperimen ini mendapat flu yang sama. Dengan demikian, virus flu yang saat ini paling dikhawatirkan dunia: 1) kini sedang disiapkan di laboratorium-laboratorium yang didanai oleh industrialis, dengan motif membangun kekayaan masif, untuk “secara tak sengaja” melepas virus; atau 2) telah betul-betul siap di laboratorium semacam itu untuk mengambil untung dari kepanikan saat ini dan penjualan mendatang menyusul pelepasan virus.

Ingat, supaya efektif melawan virus, vaksin konon memerlukan kekhususan. Bila saat ini otoritas mempunyai strain utama avian flu H5N1 yang dikhawatirkan menyebar di masa mendatang, tak ada jaminan ketika mereka mengembangkan vaksin, strain-nya akan tetap sama untuk vaksin tersebut, sebab kemungkinan terjadi mutasi virus. Mutasi virus setelah melewati beberapa waktu merupakan sifat baru agen. Pendirian laboratorium virus baru buatan manusia, seperti yang saat ini sedang disiapkan untuk uji vaksin, tidak berkembang selama beberapa milenium. Dengan demikian, seluruh upaya vaksin sebagian besar, jika tidak sepenuhnya, adalah kepura-puraan dengan motif tersembunyi.

Ingat pula bahwa kehandalan vaksin membutuhkan bertahun-tahun, atau skeurangnya berbulan-bulan, pengujian pada populasi target. Data bahaya vaksin harus, atau mestinya, dikumpulkan dengan sangat cermat selama periode ini untuk memastikan vaksin tidak akan membunuh dan melumpuhkan lebih banyak orang daripada yang terselamatkan atau tertolong. Bisakah Anda percaya jaminan ini akan diberikan oleh pemerintah atau pejabat industri farmasi segera sesudah pandemi ini? Respon buruk FEMA terhadap badai Katrina dapat dibandingkan dengan liabilitas kesehatan publik dan ketidakpastian bahaya vaksin ini.

Saya bilang “ketidakpastian bahaya vaksin” karena adanya daftar panjang vaksinasi yang baru dikembangkan, amat digembar-gemborkan ketika dihadirkan di pasaran, yang menimbulkan akibat mengerikan. Daftar ini mencakup vaksin flu babi pertama, vaksin polio, vaksin cacar, vaksin antraks, vaksin hepatitis B, dan yang teranyar vaksin penyakit Lyme yang melumpuhkan kurang lebih 750.000 orang dalam hitungan bulan perilisannya dan sebelum ditarik oleh FDA.

Kebanyakan orang lalai menyadari bahwa semua vaksin membawa bahan-bahan yang umumnya menambah penyakit manusia dan kematian (yakni ketidaksehatan dan kematian). Ini mencakup unsur-unsur dan bahan kimia beracun seperti merkuri, aluminium, formaldehyde, dan formalin (dipakai untuk mengawetkan mayat), MSG, material genetik asing, dan protein-protein beresiko dari beragam spesies bakteri, virus, dan binatang yang secara ilmiah telah dikaitkan dengan pemicuan kelainan auto-imun dan kanker tertentu. Semakin banyaknya bukti ilmiah mengindikasikan bahwa vaksin sebagian besar bertanggung jawab atas pertumbuhan kasus autisme dan ketidakmampuan belajar lainnya, kelelahan kronis, fibromyalgia, Lupus, MS, ALS, rheumatoid arthritis, asma, hay fever (demam akibat kepekaan terhadap rumput kering-penj), alergi, infeksi kuping bernanah kronis, diabetes auto-imun tipe 1, dan masih banyak lagi pandemi lain. Penyakit-penyakit kronis ini konon memerlukan perawatan medis jangka panjang karena manajemen pasien yang menimbulkan efek samping beracun menghasilkan pembunuh utama Amerika – penyakit iatrogenis. Dengan kata lain, vaksin dan temuan industri farmasi lainnya betul-betul membunuh atau melumpuhkan jutaan orang dengan hanya sedikit upaya dari pihak pemerintah dan rekan industri obat mereka untuk menahan malapetaka ini.

Walaupun kita semua tahu, pemerintah sedang memesan vaksin avian flu yang akan mengantarkan pandemi ini ke seluruh dunia untuk menjalankan kontrol populasi. Tesis absurd? Terus baca.

BusinessWeek menganggap pencadangan vaksin avian flu oleh pemerintah akan membantu perusahaan Sanofi-Pasteur atas nama Sanofi-Aventis dan Chiron. “Tamiflu,” lapor BusinessWeek, merupakan antivirus yang diproduksi oleh Roche,…. “dianggap efektif melawan avian flu…. AS memiliki jumlah yang cukup untuk 4,3 juta orang, masih banyak lagi yang dipesan.” BusinessWeek lalai melaporkan: 1) keamanan dan keefektifan Tamiflu belum dipastikan terhadap orang-orang dengan kondisi medis kronis lain – persentase yang cukup signifikan dari populasi AS – serta efek samping obat ini yang meliputi mual, muntah, diare, bronkhitis, nyeri perut, pening, sakit kepala, dan masih banyak lagi; 2) Roche (Hoffman-LaRoche) diketahui bersalah atas pengaturan harga suplai vitamin dunia pada tahun 1999 sebagai bagian dari kartel petrokimia/farmasi global yang berkembang dari organisasi I.G. Farben-nya Nazi Jerman [2][6]; dan 3) kolega-kolega korporat Sanofi-Aventis mencakup Merck, sebuah perusahaan yang menerima yang menerima jatah terbesar dana perang Nazi di akhir Perang Dunia II, yang pendapatannya turun setelah penarikan obat arthritis Vioxx-nya yang mematikan tahun lalu. Menurut laporan-laporan berita terbaru, Merck tengah berpartner dengan Sanofi-Aventis dalam rangka memproduksi vaksin pertama untuk kanker-yang menular-secara seksual untuk diberikan kepada remaja laki-laki dan perempuan pra-dewasa.[7] Merck tersohor atas pengembangan vaksin hepatitis B pertama yang memicu pandemi AIDS internasional menurut riset ilmiah yang dipublikasikan dan dokumen-dokumen mengejutkan yang dicetak ulang dalam buku best-seller nasional karangan saya.[3][8]

Dalam minggu-minggu dan bulan-bulan setelah serangan 9-11 terhadap Amerika, saya menelusuri misteri surat berantraks, yang dipublikasikan secara luas, yang dikirim ke kontraktor senjata biologis CIA yang punya ikatan dengan MI6 Inggris, Porton Down, dan kartel farmasi Anglo-Amerika.[9] Surat berantraks menghembuskan ketakutan terhadap bioterorisme di seluruh Amerika dan secara ekonomi membantu hubungan finansial dan administratif produsen obat dan vaksin dengan para pengambil untung avian flu ini.[10]

Orang-orang sudi menyerahkan hak sipil dan kemerdekaan pribadi mereka segera sesudah kepanikan rekayasa semacam itu. Diterimanya “Homeland Security Act” di Amerika, dan sejenisnya di Kanada, merupakan contoh klasik dari pengarahan sosial, legislasi paksa, dan manipulasi luar biasa.

Mengapa Asia?
Asia konon begitu cocok untuk menjadi sumber, sebagaimana SARS, wabah terbaru ini sementara hubungan China-Anglo-Amerika sedikit menegang.

Hari-hari sebelum kemunculan kasus SARS pertama, Amerika berpacu menuju Pacific Rim untuk mempengaruhi agresi yang sedang meningkat terhadap semenanjung Korea. Komunis China – pasangan dagang “paling disukai” bersama Amerika – secara politik bersekutu dengan beberapa musuh Amerika, termasuk mereka yang konon mempunyai senjata pemusnah masal, termasuk Irak. Kebetulankah? Kemungkinan besar tidak bila memandang gambaran politik lebih besar yang melibatkan RMA-nya oligarki Anglo-Amerika, perusahaan-perusahaan globalnya, dan “konflik-konflik selain perang” yang dihasut di seantero planet ini.

Pertimbangkan pula fakta bahwa media mainstream telah sangat dipengaruhi, jika tidak dikendalikan sepenuhnya, oleh sponsor korporat multinasional yang melindungi dan memajukan kepentingan entitas global yang relatif segelintir. Ingat pula bahwa—menurut otoritas ternama yang mencakup pensiunan petugas berita dan pejabat intelijen—fokus penyaji berita, pada hari atau jam tertentu, dihasilkan dari arahan dinas intelijen. Jadi tanyakan dan jawab pertanyaan cerdas berikut:

  • Mengapa pejabat militer AS, dimulai dengan Menteri Pertahanan William Cohen selama pemerintahan Clinton, mempromosikan kebohongan kerentanan terbesar Amerika dalam bidang senjata biologis yang dipegang oleh teroris? Bukan merupakan sebentuk pengkhianatan terhadap AS untuk me-relay informasi sesensitif itu kepada musuh potensial melalui pers mainstream?
  • Mengapa media mainstream terus-menerus meramalkan kehadiran “Big One” – sebuah virus influenza yang akan menimbulkan super flu yang dapat membunuh miliaran orang, seperti Flu Spanyol antara 1918-1919, sambil sama sekali mengabaikan individu, organisasi, dan laboratorium yang telah bekerja memproduksi senjata pemusna masal ini? Sekalipun virus Flu Spanyol telah betul-betul digali untuk studi lebih lanjut dan, Anda tebak, disebarkan?
  • Mengapa virus influenza “flu Spanyol” disebut “flu Spanyol” padahal asalnya, menurut catatan sejarah, dari Tibet pada 1917? Konon surat kabar Spanyol merupakan satu-satunya yang melaporkan tentang wabah besar itu lantaran netralitas mereka dalam politik Perang Dunia I. Bagaimanapun, Spanyol kala itu adalah kekasih AS sebagaimana Komunis China hari ini. Dinamai “flu Spanyol” menyusul dua dekade perselisihan antara Amerika dan Spanyol atas penjajahan Kepulauan Karibia, Hawaii, dan Filipina yang dimulai dengan perang Spanyol-Amerika dan berakhir di Filipina pada 1902. Faktanya, flu Spanyol hebat berawal di kamp militer. Apakah sejarah ini terlihat berulang?
  • Tidakkah masuk akal bahwa Amerika sedang dimanipulasi, jika tidak ditargetkan, untuk kepentingan agenda globalis, yang di antaranya adalah pengurangan populasi?

“Big One”
Sebagaimana disebutkan di atas, selama tahun 1960-an dan 1970-an, kontraktor senjata biologis militer yang mempunyai ikatan intim dengan industrialis obat terkemuka mempersiapkan mutasi virus influenza dan para-influenza yang direkombinasikan dengan virus leukemia limposit akut. Dengan kata lain, mereka mencadangkan virus kanker yang menjalar cepat yang mungkin juga disebarkan.[3]

Sebagai kemungkinan lain, banyak pakar penyakit menular dan pejabat kesehatan pemerintah yang terlupa atas realita ilmiah ini mengatakan bahwa avian flu ini mungkin merupakan “Big One”. Beberapa hari lalu, PBB melansir sebuah laporan yang menyatakan bahwa sebanyak 150 juta orang di seluruh dunia akan mati akibat avian flu ini.

Emma Ross dari Associated Press memberitakan tentang SARS begitu WHO meluncurkan “rencana darurat untuk menyerang” Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS). WHO, sebagaimana Anda mungkin ingat, merupakan organisasi bawahan PBB yang dirumorkan membantu menyebarkan AIDS ke Afrika melalui vaksinasi hepatitis B dan/atau polio yang terkontaminasi. Terdapat sejumlah bukti berdasar yang mendukung pendapat ini.[1]

Yang lebih membingungkan, PBB diketahui sangat dipengaruhi oleh anggota keluarga Rockefeller dan kepentingan petrokimia-farmasi mereka. Sejarah menunjukkan Rockefeller membangun gedung PBB di New York City. Selama Perang Dunia II, menurut catatan pengadilan, keluarga Rockefeller dan Standard Oil Company mereka menopang Hitler lebih dari yang mereka berikan kepada sekutu. Seorang hakim federal memutus Rockefeller melakukan “pengkhianatan” terhadap Amerika Serikat. Menyusul Perang Dunia II, menurut jaksa John Loftus – seorang penyelidik resmi kejahatan perang Nazi – Nelson Rockefeller membujuk blok voting Amerika Selatan di PBB untuk mendukung pendirian Israel hanya demi menjamin kerahasiaan berkenaan dengan dukungannya kepada Nazi. Di awal abad tersebut, John D. Rockefeller bergabung dengan Prescott Bush dan Keluarga Kerajaan Inggris dalam mensponsori inisiatif eugenik yang melahirkan program kebersihan ras-nya Hitler. Selama periode yang sama, keluarga Rockefeller betul-betul memonopoli pengobatan Amerika, farmasi Amerika, dan industri kanker dan genetika.[2][3]

Hari ini, keluarga Rockefeller, yayasannya, PBB dan WHO, masih di front terdepan dalam mengatur “program populasi” yang dirancang untuk mengurangi populasi dunia ke level yang lebih terkendali. Menurut iklan di Foreign Affairs – majalah politik prestisius yang diterbitkan oleh Council on Foreign Relations pimpinan David Rockefeller – populasi AS ditargetkan berkurang 50%.[2]

“Kita belum pernah menghadapi sesuatu pada skala ini dengan jangkauan sedemikian global,” kata Dr. David Heynmann, dari WHO, terkait SARS, bukan avian flu.

“Ini merupakan pertama kalinya jaringan global laboratorium [dan pos terdepan ‘pengawasan’ penyakit menular pimpinan Rockefeller] berbagi informasi, sampel, darah, dan gambar,” tambah Dr. Klaus Stohr, virolog WHO yang mengkoordinasi laboratorium secara internasional. “Pada dasarnya, tak ada rahasia, tak ada kecemburuan, tak ada persaingan di hadapan darurat kesehatan global. Ini adalah jaringan yang fenomenal.”[1]

Istilah “iatrogenocide” berasal dari gabungan kata “iatrogenesis”, yang berarti penyakit yang ditimbulkan oleh dokter, dan “genocide”, didefinisikan sebagai pembunuhan masal dan/atau perbudakan masyarakat demi ekonomi, politik, dan/atau ideologi.

Leonard G. Horowitz, D.M.D., M.A., M.P.H., merupakan otoritas terkemuka internasional di bidang kesehatan publik, sains perilaku, penyakit yang muncul, dan bioterorisme. Dr. Horowitz dikenal atas buku best-seller nasionalnya, Emerging Viruses: AIDS & Ebola – Nature, Accident or Intentional? (Tetrahedron Press, 1998; 1-888-508-4787) yang baru-baru ini mengakibatkan United States General Accounting Office menyelidiki asal-usul teori AIDS buatan manusia. (Lihat: www.healingcelebrations.com/gao.htm) Penelitian Dr. Horowitz di bidang kepedulian resiko vaksinasi telah mendorong sekurangnya tiga negara Dunia Ketiga mengubah kebijakan vaksinasi mereka. Kesaksiannya yang mempesona di hadapan Government Reform Committee Kongres AS betul-betul membuat rapat dengar pendapat itu berhenti. (Lihat: www.healingcelebrations.com) Dr. Horowitz mempertanyakan pejabat kesehatan pemerintah berkenaan dengan laporan Center for Disease Control and Prevention (CDC) yang dirahasiakan yang menunjukkan kaitan definitif antara merkuri (yakni Thimerosal), terdapat pada kebanyakan vaksin, dengan membumbungnya tingkat pertumbuhan autisme dan kelainan perilaku yang mempengaruhi anak-anak kita dan masa depan bangsa kita.

Buku terbaru Dr. Horowitz adalah DNA: Prates of the Sacred Spiral, sebuah buku referensi mengenai elektro-genetika biologi, terapi penyakit, dan spiritualitas manusia. Karya ini juga menguraikan kaitan antara surat berantraks dan proyek genom manusia, dan dinas intelijen terkemuka, industri genetika, dan pejabat perusahaan farmasi.

Untuk informasi lebih lanjut tentang buku, video, CD, dan DVD Dr. Horowitz, kunjungi www.healingcelebrations.com dan http://www.tetrahedron.org, atau hubungi 1-888-508-4787. Website resminya adalah www.drlenhorowitz.com.

Artikel ini disajikan atas kebaikan Dr. Leonard G. Horowitz dan Tetrahedron Publishing Group. Hak cipta diberikan untuk distribusi luas.

Referensi
[1] Horowitz LG. SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome): A Great Global Scam. Available at: http://www.healingcelebrations.com/SARS.htm
[2] Horowitz LG. Death in the Air: Globalism, Terrorism and Toxic Warfare. Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, (Spring) 2001.
[3] Horowitz LG. Emerging Viruses: AIDS & Ebola, Nature, Accident or Intentional? Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, (Spring) 2001.
[4] The Institute of Science in Society. SARS and Genetic Engineering? London, England. Article available at: http://www.tetrahedron.org/articles/health_risks/sars_engineering.html
[5] Knox N. Europe braces for avian flu. USA TODAY, October 9, 2005; Manning A.Government to stock up on avian flu shots. USA Today, Oct 8, 2005.
[6] Wang P. Avian Flu: Inoculate Your Portfolio. BusinessWeek. Online edition. Available at: http://www.businessweek.com/investor/content/oct2005/pi2005110_4988_pi015.htm
[7] CNNMoney. Merck shares jump on cancer drug vaccine. October 6, 2005. Available at: http://money.cnn.com/2005/10/06/news/fortune500/merck.reut/
[8] For more scientific background on the link between the hepatitis B vaccine and the AIDS pandemic link to http://www.originofAIDS.com .
[9] Horowitz LG. The CIA’s Role in the Anthrax Mailings: Could Our Spies be Agents for Military-Industrial Sabotage, Terrorism, and Even Population Control? A Special Report. Article available at: http://www.tetrahedron.org/articles/anthrax/anthrax_espionage.html
[10] Horowitz LG. DNA: Pirates of the Sacred Spiral. Sandpoint, ID: Tetrahedron Publishing Group, 2004.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s