Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung

Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO Memperingatkan Pandemi
Oleh: Sorcha Faal
22 Mei 2005
(Sumber: www.whatdoesitmean.com)

Berita menyedihkan menghampiri kita hari ini, yaitu terbunuhnya salah seorang ilmuwan periset terkemuka dunia lainnya dalam keadaan misterius, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Associated Press News Service dalam artikel mereka berjudul “Murder of prominent doctors remains a mystery” yang menyatakan, “Polisi telah menemukan dua kartu kredit yang diyakini dicuri ketika pimpinan pengobatan nuklir di San Fransisco General Hospital itu ditikam hingga tewas di rumahnya, tapi selain dari itu mereka tidak mendapat petunjuk. Dr. Robert J. Lull ditemukan di lantai persis di sebelah dalam pintu rumahnya pada hari Kamis, setelah pihak rumah sakit mengutus asistennya untuk mencarinya. Polisi percaya serangan di rumahnya yang berada di Diamond Heights terjadi pada Rabu malam, tapi tak ada tanda-tanda masuk secara paksa ataupun perlawanan.” (www.mercurynews.com/mld/mercurynews/news/local/states/california/northern_california/11706193.htm)

Dr. Lull Robert J. Lull MD juga merupakan Komisioner South Western Low Level Radioactive Waste Compact, Ketua Scientific Advisory Panel on Nuclear Medicine, dan Kepala California Medical Association.

Sebagai salah satu periset terkemuka dunia dalam sains baru Radiovirotherapy, Dr. Lull direncanakan mempresentasikan temuan-temuan terbarunya di hadapan Pertemuan Tahunan ke-52 Society of Nuclear Medicine Juni 18-22 di Metro Toronto Convention Centre mengenai studinya atas efek-efek pengubahan virus flu dalam pengobatan kanker.

Kegemparan besar timbul di komunitas ilmiah dunia mengenai bidang baru Radiovirotheraphy ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari American Association for Cancer Research berjudul “Turning Viruses into Allies Against Cancer with Radiovirotheraphy” yang menyebutkan, “Bagi sebagian besar orang, penyebutan kata “virus” menimbulkan ingatan tentang sakit, demam, dan beragam tingkat penderitaan. Tapi pada tahun-tahun belakangan, para ilmuwan telah mencoba mengubah musuh lama medis ini menjadi sekutu dalam memerangi kanker. Melalui rekayasa genetika, virus-virus diprogram ulang untuk memanfaatkan kemampuan alami mereka dalam menginfiltrasi, menyita, mereplikasi diri, dan menghancurkan, tapi hanya di sel tumor dan tidak di sekitar jaringan yang sehat. Beberapa dari virus “oncolytic” (pembunuh kanker) ini sedang dalam berbagai tahap pengembangan, termasuk modifikasi virus penyebab campak dan virus herpes simplex, yang bertanggung jawab atas lepuh bibir yang dikenal sebagai cold sore (luka dekat mulut akibat demam-penj).” (http://interactive.snm.org/index.cfm?PageID=3876&RPID=971)

Kematian Dr. Lull juga menambah daftar ilmuwan hilang dan tewas yang terus meningkat, yang semuanya terkait dengan riset mengenai virus, khususnya virus-virus yang baru muncul hasil modifikasi manusia.

Berita kematian ilmuwan periset terkemuka dunia ini juga muncul ketika China baru saja mendeklarasikan Darurat Flu Burung dan WHO memperingatkan dunia untuk bersiap-siap menghadapi pandemi flu, sebagaimana dapat kita baca laporan dari Canadian News Service dalam artikel mereka berjudul “Get ready for flu pandemic – WHO” yang menyebutkan:

“WHO mendesak negara-negara untuk segera melakukan tindakan persiapan pandemi flu setelah lembaga itu merilis sebuah laporan yang menguraikan perubahan menggelisahkan pada virus H5N1 yang menyebar di Asia. Di antara temuan mutakhirnya adalah bukti perubahan susunan genetik virus secara sedmikian rupa sehingga dapat membuat H5N1 beradaptasi lebih baik untuk menyebar di antara manusia. Selain itu, laporan tersebut mendokumentasikan sebuah kasus di mana virus memperlihatkan resistensi parsial terhadap obat utama yang dicadangkan negara-negara kaya dunia untuk memeranginya, yaitu oseltamivir. Itu menimbulkan pertanyaan tentang apakah strain virus yang resisten terhadap oseltamivir bisa berkembang biak dan menyebar. Laporan tersebut memperhatikan skenario ini, seandainya terjadi, akan ada “implikasi signifikan atas pencegahan dan kontrol H5N1….” (http://www.canoe.ca/NewsStand/EdmontonSun/News/2005/05/19/1046734-sun.html)

Barangkali yang paling menyusahkan adalah bahwa dengan kehilangan ilmuwan-ilmuwan ini satu-satunya persiapan yang bisa dilakukan oleh manusia adalah penguatan sistem imunitas mereka sendiri, tapi bagi orang-orang Barat ini hampir mustahil lantaran ada banyaknya makanan modifikasi genetik yang mereka konsumsi, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Slate News Service dalam artikel mereka berjudul “How Much of Our Food is Bioengineered?” yang menyebutkan:

“Kira-kira 76 persen panen kacang kedelai Amerika tahun lalu adalah modifikasi genetis, serta 32 persen untuk jagung. (Beberapa memperkirakan angka untuk jagung hampir 50 persen.) Sebagaimana diketahui oleh orang-orang yang terbiasa membaca label, produk kacang kedelai dan jagung tersebar di rak-rak toko pangan, menyajikan segala sesuatu mulai dari Pop-Tarts hingga burger vegetarian hingga sup tomato Campbell (yang mencatatkan “sirup jagung berfruktosa tinggi” sebagai bahan utama). Tak ada lembaga pemerintah yang membuat statistik akurat, tapi angka perkiraan populer di kalangan periset universitas adalah bahwa sekitar 70 persen makanan olahan mengandung bahan modifikasi genetis. Mengingat bahwa sekitar 90 sen dolar yang dihabiskan di supermarket dibelanjakan pada makanan olahan, kemungkinannya Anda telah mengkonsumsi makanan modifikasi genetis tanpa disadari sejak pertengahan 1990-an, ketika mereka mulai bermunculan di toko-toko.” (http://slate.msn.com/id/2083482/)

Bahaya ekstrim terhadap kesehatan dan sistem imun mereka akibat mengkonsumsi makanan modifikasi genetis ini juga dirahasiakan dari mereka melalui penggunaan laporan-laporan rahasia, bukan publik, sebagaimana bisa kita baca laporan dari British Independent News Service dalam artikel mereka berjudul “Revealed: health fears overs secret study into GM food” yang menyebutkan:

“Tikus yang diberi makanan yang kaya akan jagung modifikasi genetis mengalami abnormalitas pada organ internal dan perubahan pada darah mereka, menimbulkan kekhawatiran bahwa manusia boleh jadi terpengaruh dengan memakan makanan modifikasi genetis. The Independent on Sunday hari ini bisa mengungkap detail riset rahasia yang dijalankan oleh Monsanto, raksasa makanan modifikasi genetis, yang menunjukkan bahwa tikus yang diberi makan jagung modifikasi mempunyai ginjal lebih kecil serta pergantian dalam komposisi darah mereka.” (http://news.independent.co.uk/world/science_technology/story.jsp?story=640430)

Membingungkan semua standar logika manusia, pengenalan makanan modifikasi genetis kepada sistem pertanian dunia, dan tubuh manusia, dianggap aman karena tidak ada studi yang memperlihatkan kerusakan ekologis atau manusia. Namun, sejumlah studi yang tengah berjalan, seperti yang dilakukan secara rahasia seperti disebutkan barusan, menunjukkan semakin banyak bahaya ekstrimnya, dan, tak seperti obat-obatan yang harus melalui berdekade-dekade riset dan uji medis, makanan dan panen modifikasi genetis tak memerlukan tindakan ketat sebelum diperkenalkan kepada masyarakat yang tak tahu dan tak curiga.

Dengan kematian seorang ilmuwan dunia lainnya, bahaya Pandemi Flu yang terus tumbuh serta pemerintah Barat dan industri makanan yang mengizinkan peracunan warga mereka melalui makanan modifikasi genetis, ada bijaknya bagi masyarakat Barat ini untuk mengikuti contoh yang ditunjukkan oleh binatang mereka sendiri yang tidak mau memakan makanan jenis ini, sebagaimana bisa kita baca laporan dari Institute of Science in Society dalam artikel mereka berjudul “Food Quality? What’s That?” yang menyebutkan:

“Penelitian terbaru ini mengkonfirmasikan dan memperluas review komprehensif 150 studi sebelumnya, yang dilakukan oleh periset di Federal Institute for Health Protection of Consumers and Veterinary Medicine di Berlin, Jerman, yang memperlihatkan bahwa binatang memang lebih menyukai produk organik.” (http://www.i-sis.org.uk/FoodQuality.php)

©May 22, 2005, EU and US all rights reserved.
[Catatan editor: pemerintah AS secara aktif berusaha menemukan, dan mendiamkan, setiap dan semua opini tentang AS kecuali yang datang dari pemerintah berwenang dan/atau sumber terafiliasi, di mana kami bukan salah satunya. Kami tidak mengizinkan wawancara, dan kami hanya memberikan sedikit informasi pribadi mengenai kontributor kami, atau sumber mereka, demi melindungi keamanan mereka.]

One thought on “Pembunuhan Misterius atas Ilmuwan Top Dunia Lainnya Begitu China Mendeklarasikan Darurat Flu Burung

  1. Good Posting. Mohon admin dapat memuat posting lain yang seperti ini, investigasi ke sumber2 yang berhubungan. Sudah saatnya, berita2 independen menyuarakan kebenaran, tidak sebatas berita dari sumber pemerintah/penguasa yang memuat banyak kepentingan untuk melanggengkan kekuasaan mereka. Salam sukses.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s