Periset Top Flu Burung Asal Prancis Dibunuh Secara Brutal di London

Oleh: Sorcha Faal
4 Juli 2008
(Sumber: www.whatdoesitmean.com)

General Directorate for External Security (DGSE) Prancis hari ini melaporkan bahwa salah satu dari periset top avian flu mereka, Laurent Bonomo, bersama rekan sekamar Prancis-nya, Gabriel Ferez (keduanya terdapat dalam gambar di atas), telah dibunuh secara brutal di London, sebagaimana dapat kita baca dari laporan Times Online News Service Inggris:

“Kedua pelajar biokimia berbakat dan saling bersahabat, Laurent Bonomo dan Gabriel Ferez, datang ke London untuk mengembangkan ketrampilan mereka sebagai spesialis penyakit menular dan environmental engineering.

Keduanya justru menjadi korban sebuah serangan yang, bahkan dengan standar pemerangan terhadap penyakit kejahatan berpisau di kota, termasuk dalam insiden paling mengerikan dalam ingatan.

Jasad Tuan Bonomo dan Tuan Ferez, keduanya 23 tahun, ditemukan pada Minggu malam, terikat, mulut tersumbat, dan dengan ratusan luka tikaman dan luka lainnya. Mereka disiksa dan dipukuli berulang-ulang dengan alat tumpul.

Kemarin, para petugas menggambarkan pembunuhan itu, yang terjadi di flat Tuan Bonomo di tenggara London, sebagai pembunuhan paling kejam yang pernah mereka lihat.

Tuan Bonomo, pelajar yang mempelajari protein penyebab penyakit menular, ditikam 196 kali, di mana setengah dari lukanya itu dikenakan setelah dia mati. Tuan Ferez, yang berharap menjadi ahli bahan bakar ramah lingkungan, memiliki 47 luka terpisah.” (www.timesonline.co.uk/tol/news/uk/crime/article4265622.ece)

Yang paling menarik dari laporan ini bukan hanya pembunuhan brutal atas Tuan Bonomo, tapi bidang studi yang dia mulai di Imperial College, London, salah satu institusi pertama dunia yang menginvestigasi Virus Avian Flu H5N1 yang mematikan dan diklaim oleh Pemerintah Indonesia ‘di-engineer’ oleh AS.

Menteri Kesehatan Indonesia, Siti Fadillah Supari, telah bergabung dengan daftar pejabat pemerintah yang terus bertambah yang meminta penutupan ‘segera’ United States Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) yang berada di negara mereka, dan menyatakan:

“Laboratorium ini telah berada di Indonesia tanpa surat izin selama lebih dari 40 tahun untuk riset penyakit. Berbagai tipe virus dari Sri Lanka, Vietnam, dan Indonesia telah dipelajari di laboratorium ini,” kata Supari.

Sang menteri curiga bahwa hasil riset itu digunakan untuk target misterius dan berbahaya dan dia juga sangat prihatin atas ketidakmampuan pemerintah menjaga negara dari ancaman kekuatan asing yang telah berada di dalam negeri. (www.antara.co.id/en/arc/2008/6/28/call-for-closure-of-namru-2-in-indonesia-increasing/)

Karena Indonesia menjadi negara di dunia yang paling terpengaruh oleh virus flu burung, dengan 109 warganya dilaporkan tewas, mereka menolak menyerahkan sampel flu burung mereka kepada AS, dan justru memberikannya kepada Inserm Medical Institute prestisius di Prancis, di mana dari institusi itulah Tuan Bonomo sebagai pelajar dikirim ke Imperial College di London untuk menginvestigasi lebih jauh bidang risetnya.

Laporan ini lebih jauh berspekulasi bahwa (para) pembunuh Laurent Bonomo dan Gabriel Ferez ‘terpacu beraksi’ oleh pemeriksaan mereka terhadap laptop milik Tuan Bonomo yang dicuri dari flat-nya minggu lalu.

Ketika ilmuwan-ilmuwan top dunia kembali mengeluarkan peringatan bahwa dunia berada ‘dalam resiko’ pandemi avian flu, pembunuhan Tuan Bonomo, dan temannya, sebenarnya tidak mengejutkan karena lebih dari 80 periset top dunia yang menginvestigasi avian flu dan penyakit-penyakit menular telah terbunuh dalam 4 tahun belakangan.

Yang tidak diketahui masyarakat Barat adalah bahwa tidak ada proteksi terhadap virus flu burung mematikan, dan salah satu eksperimen terbaru dalam pengembangan vaksin berakhir dengan kematian lebih dari 20 orang tunawisma Polandia yang dibayar untuk ambil bagian dalam eksperimen semacam itu.

Yang lebih buruk bagi rakyat Amerika adalah bahwa pemerintahan mereka merencanakan untuk warganya penyelamatan nyawa dengan obat antivirus Tamiflu, yang telah dilarang oleh Jepang karena menyebabkan kematian bunuh diri pada remaja.

Dan di sebuah dunia yang semakin ganjil, dan berbahaya, setiap menit, seseorang hanya bisa bertanya-tanya bagaimana masyarakat Amerika akan bereaksi jika mengetahui fakta bahwa miliaran dolar yang dibelanjakan pemerintah mereka untuk Tamiflu sebenarnya masuk ke kantong salah satu Pemimpin Perang Top mereka, mantan Menteri Pertahanan, Donald Rumsfeld, dan juga merupakan investor utama di perusahaan yang memproduksi obat bunuh diri dan mematikan ini.

©July 4, 2008, EU and US all rights reserved.
[Catatan editor: pemerintah AS secara aktif berusaha menemukan, dan mendiamkan, setiap dan semua opini tentang AS kecuali yang datang dari pemerintah berwenang dan/atau sumber terafiliasi, di mana kami bukan salah satunya. Kami tidak mempersilahkan wawancara, dan kami hanya memberikan sedikit informasi pribadi mengenai kontributor kami, atau sumber mereka, demi melindungi keamanan mereka.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s