Vaksinlah yang Menghasilkan Pandemi, Bukan Flunya

(Sumber: www.preventdisease.com)

Dengan melimpahnya bukti yang kini mengarah pada pembuatan flu H1N1 di laboratorium, semakin terlihat bahwa bukan flu yang akan menyebabkan pandemi, melainkan vaksin.

Teori bahwa berjangkitnya virus flu baru yang relatif ringan di musim semi memprediksikan berjangkitnya [virus flu] mematikan dan lebih parah di musim gugur, tidak ditunjang oleh catatan dari epidemi sebelumnya. “Sejarah pandemi menunjukkan bahwa perubahan penularan ataupun patogenitas bisa dihindari,” simpul Drs. David Morens dan Jeffery Taubenberger, ahli penyakit menular di US National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID), bagian dari National Institute of Health.

Periset vaksin dan dokter naturopathic, Dave Mihalovic, mengatakan, “Kehebohan flu babi H1N1 yang dipromosikan oleh WHO dan media mainstream terkait dengan dorongan untuk memvaksinasi penduduk dunia.”

Di awal musim semi, ada semacam spekulasi mengenai asal-usul flu babi, namun sejak saat itu, bukti jernih telah mengarah pada inisiatif pemerintahan nasional dan internasional untuk menimbulkan ketakutan di masyarakat agar bersiap-siap menerima vaksinasi masal.

“Sekalipun fakta menunjukkan bahwa strain flu ini dibuat di suatu lab pemerintah, pembuatnya tahu benar bahwa strain yang ada saat ini takkan pernah membunuh puluhan juta orang, setidaknya tidak akan terjadi tanpa mutasi mematikan. Nyatanya, sebagian besar gejala cukup ringan, terutama pada orang-orang sehat yang telah terkena virus tersebut,” tambah Mihalovic.

Menurut Dr. Leonard Horowitz, “Dalam sejarah bumi, tak ada pandemi yang pernah berkembang terpisah dari pergolakan sosio-ekonomi dan politik besar.”

Dr. Horowitz menyatakan dalam websitenya, www.fluscam.com, bahwa, “Setiap kali iblis-iblis ini terbongkar, sifat mematikan virus menurun. Ada pandangan bahwa ilmu sihir dalam perbuatan mereka diterangi dengan lampu kebenaran yang menunjukkan tertariknya benang finansial dan politik untuk mengangkat gajah ke udara.”

Sebagai seorang whistleblower terkemuka dunia dan pelindung kesehatan konsumen, advokasi Dr. Horowitz telah membongkar agen dan agensi yang paling terlibat dalam menciptakan dan melepas kuman buatan dan kengerian “bioteroris” yang menguntungkan.

Sebuah perusahaan swasta rekanan CDC yang bernama NOVAVAX terlibat dalam konspirasi untuk memproduksi “vaksin Johnny-on-the-spot” yang digembar-gemborkan oleh pejabat CDC dan pemimpin industri obat, demikian menurut Dr. Horowitz. Dia menemukan bahwa “pipeline vaksin” kriminal pengambil untung terlibat dan dirinya segera meminta investigasi kriminal terhadap realita konspirasi, pembunuhan masal, dan “genosida global” ini, yang dia ceritakan kepada orang-orang radio, Jeff Rense dan Alex Jones.

Dr. Horowitz juga sangat aktif dalam beberapa front resolusi segera setelah diusulkannya kampanye vaksinasi yang dijadwalkan musim gugur ini. Dia membuat draft model resolusi legislatif untuk aksi lokal urgen yang dapat diperluas untuk aksi politik (dengan modifikasi) oleh orang-orang di seluruh dunia untuk melindungi kebebasan beragama dan pembebasan filosofis.

Mihalovic percaya virus H1N1 hanya taktik menakut-nakuti yang dilakukan media untuk memaksa vaksinasi masyarakat. Dia menyatakan bahwa, “Hanya perlu pengulangan untuk mencapai tujuan mereka menciptakan negara penuh ketakutan dan kepanikan dalam masyarakat.”

Sudah ada banyak informasi yang tersedia di internet mengenai flu H1N1 dan eksploitasi media. “Jika Anda cukup sering mengulangi sesuatu, bagaimanapun penyajiannya, orang-orang akan mulai mempercayainya,” kata Mihalovic. “Begitu banyak orang-orang yang bebal dan terperdaya… Saya menyebut mereka domba…mau mengantri untuk vaksin ini karena sangat percaya itu akan melindungi mereka dari flu. Keyakinan mereka didasarkan pada pola pikir yang diprogram untuk hanya mengindera realitas vaksin yang palsu. Ini adalah soal pengendalian massa dan bagaimana membuat mereka berpikir bahwa tak ada konsekuensinya divaksin, kecuali manfaat,” tambahnya.

Spesialis paru-paru, Wolfgang Wodarg, mengatakan bahwa terdapat banyak resiko terkait dengan vaksin virus H1N1. Dia mempunyai keberatan serius tentang firma Novartis yang mengembangkan vaksin dan mengujinya di Jerman. Vaksinasi disuntikkan “dengan jarum sangat panas”, kata Wodarg.

Larutan nutrien vaksin terdiri dari sel-sel kanker binatang dan “kita tak tahu apakah bisa timbul reaksi alergi”. Tapi yang lebih penting, beberapa orang khawatir resiko kanker bisa meningkat dengan menyuntikkan sel-sel tersebut.

Vaksin itu – sebagaimana diuraikan Johannes Lower, presiden Paul Ehrlich Institute – juga dapat menimbulkan efek samping yang lebih buruk dari virus flu babinya.

Wodrag juga menggambarkan kekhawatiran masyarakat terhadap pandemi sebagai sebuah “orkestra”. “Ini adalah bisnis besar bagi industri farmasi,” katanya kepada ‘Neuen Presse’. Flu babi tidak jauh berbeda dari flu biasa. “Malah, jika Anda memperhatikan jumlah kasus, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan berjangkitnya flu biasa,” tambahnya.

Menurut Mihalovic, “Hanya ada satu hal yang terjadi pada Anda ketika disuntik vaksin. Anda kemasukan racun biologi dan kimia yang mendegradasi sistem imun Anda.”

Surat dari UK Health Protection Agency, badan resmi yang mengawasi kesehatan publik, bocor ke sebuah surat kabar nasional (The Mail) yang memunculkan tuntutan [dari masyarakat] untuk mengetahui mengapa informasi mengenai penyakit syaraf mematikan tidak diberitahukan kepada publik sebelum vaksinasi jutaan orang, termasuk anak-anak, dimulai.

Itu memberitahu para ahli syaraf bahwa mereka harus siap siaga akan peningkatan kasus kelainan otak yang disebut Guillain-Barre Syndrome (GBS), yang bisa dipicu oleh vaksin tersebut. GBS menyerang lapisan syaraf, menyebabkan kelumpuhan, dan ketidakmampuan bernafas, dan bisa mengakibatkan kematian.

Surat itu, dikirim kepada sekitar 600 ahli syaraf pada 29 Juli, merupakan sinyal pertama adanya kerisauan di tingkat atas bahwa vaksin dapat menimbulkan komplikasi serius.

Selama lebih dari 6 bulan sekarang, beragam laporan terutama dari media alternatif telah meniupkan informasi mengenai ketidak-efektifan vaksin dalam menangani semua flu, bukan hanya flu H1N1. Mihalovic sependapat, “Itu tak memberikan perlindungan apapun dari virus. Jika pun ada, hanya akan menciptakan penyakit, baik segera ataupun dalam seumur hidup seseorang.”

Sebuah laporan tentang betapa inokulasi merupakan senjata pemusnah masal sejati, menguraikan kenyataan dasar vaksin, “Jadi, pada esensinya, ini semualah yang diinginkan oleh pemerintah dan kekuatan mainstream ini dari vaksin H1N1. Mereka ingin setiap pasien vaksin mati dalam waktu singkat atau menderita penyakit permanen sepanjang hidupnya. Ini adalah konsep yang sangat sederhana dan dipraktekkan secara sempurna sebagaimana sedang kita saksikan di depan mata kita,” simpul Mihalovic.

Periset dan penulis, Patrick Jordan, telah mengungkap rencana yang terhampar untuk membunuh banyak orang melalui virus dan vaksin rekayasa. Dia berkata bahwa mereka telah lama menyempurnakan vaksin yang mematikan sistem imun manusia dan tentara AS telah sering digunakan sebagai hewan percobaan.

Riset Patrick Jordan mengungkap sistem vaksin tiga tingkat. Inokulasi pertama mematikan sel darah putih (sistem imun); inokulasi kedua menyuntikkan virus; dan inokulasi ketiga menghidupkan kembali sistem imun.

Pada periode tengah, virus meluas ke seluruh tubuh, tapi orang itu tidak merasa sakit karena sistem imun tidak memerangi virusnya. Ketika sistem imun hidup kembali, ia melepas semacam serangan terhadap cocktail virus sehingga merusak tubuh.

Ini dikenal sebagai cytokine storm, sistem imun begitu kuat sehingga mengirim terlalu banyak antibodi dalam waktu bersamaan ke area tubuh yang terinfeksi, lalu tubuh merusak dirinya sendiri.

WHO bahkan telah meminta virus hidup flu babi supaya dimasukkan dalam vaksin dan cukup mungkin mereka akan memperluas dan meningkatkan kekuatan virus melalui vaksin. Website WHO menyatakan:

“Dari sudut ketersediaan vaksin yang terbatas di level global dan potensi kebutuhan untuk melindungi dari strain virus yang “menyimpang”, SAGE merekomendasikan bahwa promosi produksi dan pemakaian vaksin seperti yang diformulasikan dengan campuran adjuvant dan vaksin influenza hidup yang dilemahkan adalah penting…..di Eropa, beberapa produsen telah menjalankan studi terdepan dengan menggunakan apa yang disebut vaksin “mock-up” (sampel) yang mengandung sebuah bahan aktif untuk virus influenza yang belum beredar dalam populasi manusia sehingga bisa meniru kejadian baru virus pandemik. Studi terdepan seperti itu bisa sangat mempercepat persetujuan regulasi.”

Kita telah melihat apa yang terjadi ketika Baxter International mengirim vaksin flu manusia yang terkontaminasi oleh virus hidup avian flu yang mematikan ke 18 negara dari cabang Austria mereka. Berkat perlindungan Tuhan-lah kontaminasi itu ditemukan setelah batch pertama kali diujicoba kepada musang-musang di Republik Ceko, sebelum dikirimkan untuk disuntikkan kepada manusia. Semua musang itu mati dan ditemukanlah hal mengejutkan ini.

Laporan sebelumnya pada bulan Juli menyatakan bahwa target pertama kampanye vaksinasi adalah wanita hamil dan janin. Seorang Kepala Petugas Medis Inggris menyatakan bahwa orang-orang dengan kondisi kesehatan seperti diabetes, asma, dan penyakit jantung, akan menjadi pihak pertama yang divaksin flu babi pada bulan Oktober. Yang mengantri berikutnya setelah kelompok beresiko adalah wanita hamil, menurut lisensi susunan mengenai trimester paling sesuai untuk disuntik, orang-orang yang hidup dalam rumah yang dihuni pasien lemah sistem imun, seperti pasien kanker yang menjalani chemotherapy atau mereka yang mengidap HIV, dan lebih dari 65 orang bermasalah kesehatan yang diperparah oleh flu.

Kanada juga berpartisipasi dalam promosi kehebohan flu H1N1 dengan mengumumkan perlunya “tsar kesehatan” baru berkekuatan politik untuk mengkoordinasi respon terhadap H1N1. Dalam sebuah editorial yang ditandatangani oleh editor-in-chief Dr. Paul Hebert, Canadian Medical Association Journal menuntut penunjukan seseorang yang akan menjabat sebagai “pejuang nasional” independen berkekuatan legislatif penting untuk bisa memfasilitasi respon dari seluruh provinsi dan wilayah. Posisi tersebut akan memiliki kekuatan berbeda – dan lebih luas – dari posisi pejabat federal (untuk respon pandemi) saat ini, Chief Public Health Officer Kanada, Dr. David Butler-Jones.

Catatan positifnya, Kanada juga memperhatikan peran vitamin D dalam pencegahan flu. Public Health Agency of Canada (PHAC) telah mengkonfirmasikan bahwa mereka akan meneliti peran vitamin D dalam perlindungan terhadap flu babi. Dinas tersebut tahun lalu memulai studi tentang peran vitamin D dalam influenza berat musiman, dan mereka bilang akan menyesuaikan diri dengan virus flu babi H1N1. Para periset di PHAC tengah bekerja dengan kolega dari Universitas McMaster dan dengan partner dari universitas lain dan rumah sakit untuk menentukan apakah ada korelasi antara penyakit berat dan level vitamin D yang rendah dan/atau susunan genetik seseorang.

Kian banyak orangtua yang khawatir mengenai vaksin flu babi dan efeknya. Justin Roberts, co-founder www.mumsnet.com, mengatakan: “Banyak ibu di Mumsnet.com mempertanyakan apakah memberi vaksin flu babi kepada anak-anak mereka merupakan ide bagus. Beberapa ibu khawatir tentang sudah seberapa baik vaksin itu diuji, yang lain khawatir tentang efektifitas dan efek sampingnya.”

Vaksin GlaxoSmithKline (GSK) mengandung thimerosal yang pada 1990-an dikaitkan dengan kelainan syaraf dan autisme. GSK mengklaim bahwa itu digunakan untuk membuat vaksin bertahan lebih lama sehingga menghindari pemborosan.

Dengan semakin banyaknya informasi mengenai sifat mematikan vaksin H1N1, banyak orangtua lambat laun menyadari bahwa vaksin kemungkinan besar merupakan ancaman yang lebih besar terhadap anak-anak mereka ketimbang flu H1N1 sendiri. Dalam jumlah catatan, publik mencela vaksin yang berbahaya dan secara tegas menyatakan bahwa tak akan ada vaksinasi paksa di semua komunitas bila kita semua berdiri bersama dan cukup berkata tidak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s