8 Ciri Agen Disinformasi

Oleh: H. Michael Sweeney
Copyright 1997, 2000 All rights reserved
(Website: www.proparanoid.com)

  1. Menghindar. Mereka tak pernah betul-betul membahas isu-isu secara langsung atau menyediakan masukan konstruktif, umumnya menghindari penyebutan referensi. Mereka lebih sekadar menyatakan ini dan itu secara tak langsung. Sebenarnya, segala sesuatu tentang presentasi mereka mengimplikasikan otoritas dan pengetahuan ahli mereka dalam persoalan tanpa justifikasi kredibilitas lebih jauh.
  2. Selektif. Mereka cenderung mengambil dan memilih lawan secara hati-hati, baik menerapkan pendekatan hit-and-run terhadap komentator yang mendukung lawan, atau memfokuskan serangan berat terhadap lawan kunci yang dikenal suka membahas isu secara langsung. Sekiranya seorang komentator menjadi argumentatif dengan sukses, fokusnya akan bergeser untuk mencakup komentator tersebut juga.
  3. Kebetulan. Mereka cenderung mengemuka secara tiba-tiba dan kebetulan dengan topik kontroversial baru tanpa catatan partisipasi yang jelas sebelumnya dalam diskusi umum di arena publik tertentu. Mereka juga cenderung menghilang setelah topik tersebut tak lagi menjadi perhatian orang banyak. Mereka kemungkinan diarahkan atau dipilih berada di sana untuk suatu alasan, dan lenyap dengan alasan tersebut.
  4. Kerja tim. Mereka cenderung beroperasi dalam kumpulan atau tim yang membenarkan diri sendiri dan saling melengkapi. Tentu saja, ini bisa terjadi secara alami dalam forum publik manapun, tapi kemungkinan besar terdapat pola pertukaran yang sering dan terus-menerus semacam ini di mana profesional terlibat. Kadangkala salah satu pemain akan menginfiltrasi kamp lawan untuk menjadi sumber bagi kaki-tangan atau dirancang taktik lain untuk melemahkan kekuatan presentasi lawan.
  5. Anti-konspirasi. Mereka hampir selalu menganggap hina para ‘teoris konspirasi’ dan, biasanya, menganggap hina orang-orang yang percaya bahwa JFK bukan dibunuh oleh LHO (Lee Harvey Oswald). Tanya pada diri Anda sendiri mengapa, jika mereka memandang hina teoris konspirasi, mengapa mereka fokus mempertahankan bahasan satu topik dalam NG yang fokus pada konspirasi? Seseorang mungkin berpikir bahwa mereka sedang mencoba membodohi semua orang dalam semua topik, atau sekadar mengesampingkan kelompok yang mereka anggap hina. Atau, seseorang mungkin secara lebih tepat menyimpulkan bahwa mereka mempunyai motif tersembunyi atas aksi mereka meninggalkan urusannya sendiri.
  6. Emosi buatan. Sejenis aneh emosi buatan dan kulit yang luar biasa tebal – kesanggupan untuk gigih dan bertahan menghadapi kritik dan penolakan yang melimpah. Ini kemungkinan berasal dari latihan komunitas intelijen yang, tak peduli seberapa kuat buktinya, menyangkal segala hal, dan tak pernah terlibat secara emosional ataupun reaktif. Hasil akhir seniman disinformasi adalah bahwa emosi bisa tampak artifisial. Sebagian besar orang, jika merespon dalam keadaan marah, misalnya, akan mengeskpresikan permusuhan mereka lewat bantahan. Tapi tipe disinforman biasanya mempunyai urusan memelihara ‘citra’ dan bersikap panas dingin berkenaan dengan emosi pura-pura dan gaya komunikasi mereka yang biasanya lebih kalem atau tidak emosional. Ini cuma pekerjaan, dan mereka sering terlihat tak mampu ‘memainkan peran karakter’ dan juga dalam media komunikasi walaupun mereka mungkin mampu dalam perbincangan/perdebatan riil secara tatap muka. Anda mungkin marah dan dongkol seketika pada suatu momen, mencemooh di momen berikutnya, dan kemudian semakin marah – emosi yang turun naik. Berkenaan dengan kulit tebal, kritik sebanyak apapun tidak akan menghalangi mereka melakukan pekerjaan mereka, dan mereka umumnya akan melanjutkan pola disinformasi lama mereka tanpa penyesuaian apapun terhadap kritik tentang betapa jelasnya mereka memainkan permainan – di mana individu lebih rasional yang sungguh-sungguh mempedulikan pikiran orang lain akan berusaha memperbaiki gaya komunikasi, substansi, dan sebagainya, atau cukup menyerah.
  7. Inkonsisten. Juga terdapat kecenderungan untuk membuat kekeliruan yang menyingkapkan diri/motif mereka yang sebenarnya. Ini mungkin akibat ketidaktahuan mereka terhadap topik, atau mungkin semacam ‘Freudian’, pendek kata, dalam lubuk hati mereka, mereka barangkali sebetulnya mendukung pihak kebenaran.
  8. Saya memperhatikan bahwa mereka sering menyebutkan informasi kontradiktif yang menetralisir dirinya dan penulis. Contohnya, salah seorang pemain [disinformasi] mengklaim sebagai pilot Angkatan Laut, tapi menyalahkan kemampuan komunikasinya yang buruk (pengejaan, grammar, gaya bicara tak karuan) pada pendidikannya yang rendah. Saya tidak tahu ada banyak pandu Angkatan Laut yang tidak mempunyai gelar kuliah. Yang lainnya mengklaim tidak mengetahui topik/situasi tertentu tapi kemudian mengklaim mengetahuinya langsung dari sumber pertama.

  9. Konstanta waktu. Yang belakangan ditemukan, berkenaan dengan News Groups, adalah faktor waktu respon. Ada tiga cara ini bisa terlihat bekerja, terutama ketika pemerintah atau pemain berwenang lainnya terlibat dalam operasi penutup-nutupan:

a. Posting NG oleh pendukung kebenaran yang sudah dibidik dapat menghasilkan respon SEGERA. Pemerintah dan pemain berwenang lainnya mampu membayar orang-orang untuk duduk di sana dan mengawasi peluang untuk melakukan suatu kerusakan. Karena disinformasi di NG hanya bekerja jika pembaca melihatnya, diperlukan respon cepat, atau pengunjung akan terayun kepada kebenaran.

b. Ketika mengurus disinformasi langsung, seperti email, diperlukan penundaan – biasanya minimal 48-72 jam. Ini memungkinkan tim membahas strategi respon untuk hasil terbaik, dan bahkan ada cukup waktu untuk ‘mendapat izin’ atau instruksi dari rantai komando formal.

c. Dalam contoh a di atas, sering pula terlihat bahwa senjata yang lebih besar ditarik dan ditembakkan setelah penundaan 24-72 jam – pendekatan tim sedang dimainkan. Ini terutama ketika truthseeker yang dibidik atau komentarnya dianggap lebih penting berkenaan dengan potensi untuk mengungkap kebenaran. Karenanya, truthsayer yang serius akan diserang dua kali atas dosa yang sama.

Saya akan menutup ini dengan paragraf pertama pendahuluan buku saya yang belum diterbitkan, Fatal Rebirth:

Kebenaran tidak dapat hidup di atas sodoran rahasia, layu dalam kebohongan kusut. Kebebasan tidak dapat hidup di atas sodoran rahasia, takluk kepada selubung penindasan. Jiwa manusia tidak dapat hidup di atas sodoran penindasan, akhirnya tunduk kepada kehendak jahat. Tuhan, sebagai wujud sejati, tidak akan lama membiarkan dunia setia begitu saja kepada kejahatan demikian. Oleh karena itu, mari kita dapatkan kebenaran dan kebebasan yang dibutuhkan jiwa kita…atau mari kita mati-matian mencarinya, sebab tanpanya, kita pasti dan pantas akan binasa di dunia yang jahat.

One thought on “8 Ciri Agen Disinformasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s