Mengidentifikasi Agen Disinformasi

Oleh: Diane
26 Oktober 2007
(Sumber: http://activistnyc.wordpress.com/2007/10/26/identifying-disinformation-agents/)

Gerakan 911 Truth online tampaknya telah tersangkut dalam pesta pora umpan agen, di mana orang-orang di kedua pihak terpecah dengan secara terang-terangan menyebut satu sama lain sebagai “agen disinformasi” atau, setidaknya, menyindir bahwa pemimpin pihak lain kemungkinan adalah agen disinformasi.

Keterpecahan utamanya adalah di antara [pihak] yang saya anggap sebagai kelompok waras dan kelompok sinting dalam gerakan. Saya akui terminologi saya jauh dari objektif dan memperjelas posisi saya.

Soal kelompok sinting, yang saya maksud adalah para penganjur teori seperti no-plane theory (terutama no-plane theory [teori tanpa-pesawat] dalam peristiwa WTC), pemalsuan video, sorot Star Wars, dan lain-lain. Banyak (meski tidak semua) dari saudara-saudara ini yang juga menyatakan klaim tentang suatu konspirasi besar dan tua yang mengendalikan dan mengatur seluruh dunia, biasanya “Illuminati”. (Lihat The recent growth of anti-Illuminism: Dreadful ideology about the dreaded Illuminati dan More about anti-Illuminism.) Beberapa dari klaim mereka jelas amat mustahil. Contoh, “sorot Star Wars” yang cukup kuat untuk “mendebukan” menara kemungkinan juga akan mengionisasi udara, menyebabkan sorot itu sendiri berpijar seperti petir. Jelas kita tidak melihat apapun semacam itu pada 9/11.

Soal kelompok waras, yang saya maksud adalah orang-orang yang (setidaknya sebagian besar) menolak hal-hal seperti di atas, dan yang mengakui perlunya pemikiran kritis dan riset seksama.

Tapi, meskipun begitu, beberapa orang di kelompok waras menurut saya terlalu cepat menganggap orang-orang di pihak lain sebagai “agen disinformasi”.

Nah, kemungkinan besar terdapat berbagai jenis agen pemerintah di antara kita, berdasarkan sejarah masa lalu COINTELPRO, dan berdasarkan undang-undang baru seperti Patriot Act. Tapi, menurut saya, beberapa dari jenis-jenis perilaku yang telah diidentifikasi sebagai perilaku “mirip agen” adalah sangat lumrah di antara orang lain juga, dengan motif yang lumrah. Jadi, menurut saya, perilaku ini jauh dari cara handal untuk mengenali seorang agen, walupun banyak dari mereka sendiri berperilaku buruk.

Contoh: Pengejekan. Seseorang yang melakukan pengejekan bisa jadi adalah inflitrator luar untuk memecah-belah dan menaklukkan. Atau orang tersebut bisa jadi hanya orang belum dewasa yang berterus-terang, atau barangkali hanya merasa sangat tertegur lantaran alasan tertentu. Tidak mudah untuk mengatakan perbedaannya. Tapi, dalam kedua kasus, adalah ide bagus bagi organisasi dan message board untuk melarang pengejekan. Larangan itu bisa ditegakkan tanpa menyatakan bahwa orang-orang tertentu yang terlibat dalam pengejakan adalah agen.

Contoh lain yang lebih ekstrim: pengusikan. Baru-baru ini saya mendengar bahwa seseorang mempublikasikan alamat rumah aktivis lain dan menyebut mereka sebagai “sel Al-Qaeda”. (Saya tidak akan menyebut nama, sebab saya belum cukup menyelidiki masalah ini sendiri untuk memverifikasi bahwa tuduhan itu benar.) Jelas perilaku semacam itu mesti ditolak sama sekali, tak peduli apakah orang yang melakukannya adalah agen pemerintah.

Dan, tentu saja, kita mesti melarang sepenuhnya kekerasan fisik, atau penganjurannya. Penganjuran kekerasan adalah cara agen provokator paling klasik.

Di 911Blogger, salah satu administratornya, dengan nama alias GeorgeWashington, mengutip seorang “pemimpin 9/11 Truth terkemuka” yang tak disebutkan namanya (kemudian diidentifikasi oleh Arabesque sebagai Barrie Zwicker) yang mengatakan:

Izinkan saya menyatakan bahwa kita tak harus memilih antara mengadu di satu sisi dan membisu di sisi lain. Itu pilihan yang tak perlu, dikotomi palsu.

Pengaduan menguntungkan mereka, yakni keterlibatan tak disengaja.

Membisu juga merupakan keterlibatan, sebagaimana kata Dr. Martin Luther King.

Dibanding dua pendekatan ini, yang diperlukan adalah pendidikan yang relevan secara politik.

Pendidikan tentang semua jenis agen, terutama agen provokator, sejarah mereka, bos mereka, taktik mereka.

Ada banyak literatur mengenai ini. Kita tidak harus memulai pada yang substansial. Baca tentang Operasi Mockingbird. Baca tentang COINTELPRO.

Sampai di situ saya setuju:

Terapkan apa yang kita pelajari pada situasi hari ini.

Pada satu poin ya, tapi itu bisa rumit, untuk alasan yang sudah saya sebutkan dan juga karena kita masih belum tahu pasti apa yang sebetulnya sedang dilakukan oleh agen pemerintah dalam gerakan 9/11 Truth. Strategi mereka sekarang mungkin sedikit berbeda dari masa lalu. Sudah ada banyak whistleblower tentang operasi COINTELPRO di masa lalu; tapi, setahu saya, belum ada satupun agen whistleblower gerakan 9/11 Truth. Jadi kita mungkin tidak akan tahu pasti, sampai bertahun-tahun kemudian, apa persisnya yang sedang dilakukan agen pemerintah dalam gerakan 9/11 Truth.

Namun demikian, saya sependapat bahwa adalah ide bagus bagi kelompok-kelompok 9/11 Truth untuk mempelajari hal-hal yang dilakukan agen pemerintah terhadap kelompok-kelompok aktivis politik di masa lalu, dan untuk menganggap penting pelarangan perilaku relevan.

Teruslah menggali, mempelajari, berdiskusi, mengedukasi.

Ini bisa dilakukan tanpa bahasa yang menghasut, tanpa mengadu, bahkan tanpa menyebut nama-nama.

Sependapat.

Saat nama disebut, itu mesti berhubungan dengan fakta yang nyata, dengan bukti. Terdapat perbedaan antara mengatakan “A mengklaim tidak tahu soal X, tapi [sekarang] dia menyatakan [‘saya tahu soal X’]”, dan mengatakan “A adalah pembohong”.

Sependapat. Tapi saya juga ingin menambahkan bahwa, jika Anda melihat inkonsistensi (atau tampak inkonsisten) dalam perkataan seseorang, sebaiknya mulai meminta klarifikasi secara sopan, ketimbang menyindir dari awal bahwa orang itu adalah pembohong. Inkonsistensi seperti “A mengklaim tidak tahu soal X, tapi [sekarang] dia menyatakan [‘saya tahu soal X’]” boleh jadi memiliki penjelasan yang benar. Contoh, mungkin artinya “A tidak cukup tahu soal X untuk maksud 1, tapi cukup tahu soal X untuk maksud 2”. Atau mungkin artinya “A tidak tahu banyak soal topik X secara keseluruhan, tapi tahu banyak soal sub-topik Y spesifik”.

Bila kita tidak ingin terpecah-belah dan ditaklukkan, menurut saya kita harus sepenuhnya mencamkan prinsip “tak bersalah sampai terbukti bersalah”. Catat bahwa “tidak bersalah” yang saya maksud bukan “sempurna”. Tak ada yang bebas dari kritik, kita pun tidak boleh menerima sesuatu sebagai fakta tak terpungkiri hanya karena si anu berkata begitu. Suatu dan semua klaim kewenangan harus tunduk pada pemeriksaan cermat, dan kita harus mendorong setiap orang agar menerima kritik konstruktif. Bagaimanapun, menurut pendapat saya, salah satu hal terpenting yang tidak boleh kita terima tanpa banyak memperkuat bukti adalah tuduhan bahwa aktivis 9/11 Truth melawan aktivis 9/11 Truth lainnya (atau aktivis dalam perkara terkait seperti gerakan antiperang). Di samping itu, kita mesti sangat berhati-hati dalam penarikan kesimpulan yang mungkin bersifat fitnah soal motif rekan kita sesama aktivis.

Sambil mengedukasi diri kita dan yang lainnya, kita bisa secara aktif memerangi agen negara dengan tidak memakai jenis-jenis perilaku yang mereka gunakan untuk menyebarkan perselisihan: pengejekan, penebaran rumor, penyindiran. Terutama pengejekan. Menahan diri dari ini tidak melumpuhkan diskusi dan debat penuh semangat, berbasiskan fakta, pernyataan, dan pola nyata.

Sependapat. Bagaimanapun:

Edukasi mengeringkan rawa. Sebagian besar agen akan bertahan. Itu sedang terjadi.

Saya tidak yakin dengan “sebagian besar”, tapi beberapa memang jelas. Lihat, contohnya, Police Planted Provocateurs, Protesters Say karangan Joan Bryden dalam Globe & Mail (Kanada), Kamis 23 Agustus 2007, dan Quebec Police defend Rock-Wielding Undercover Officer karangan Max Harrold dalam Vancouver Sun (Kanada), Sabtu 25 Agustus 2007, di situs Common Dreams.

Agen lain lebih mendalam. Untuk memahami tujuan mereka dan mengidentifikasi mereka dan menghadapi mereka, itu bergantung pada edukasi yang lebih.

Saya pikir kita tidak mesti fokus pada usaha mengidentifikasi agen. Justru, kita mesti fokus pada mengidentifikasi, memperkecil, dan, bila memungkinkan, melarang perilaku destruktif, tak peduli apakah orang-orang yang menjalankan perilaku tersebut adalah agen. Mempelajari apa saja yang telah dilakukan agen pemerintah di masa lalu adalah landasan yang bagus untuk membuat daftar perilaku yang tak bisa diterima. Kemudian, saat hal-hal disruptif tambahan terjadi, perilaku lainnya bisa ditambahkan pada daftar tersebut (selama daftar tersebut tidak terlalu memanjang sampai orang-orang merasa tercekik). Kelompok dan forum bisa dan mesti mengusir orang-orang yang bersikukuh menjalankan perilaku terlarang itu.

Percayalah, saya berasal dari tiga generasi [masyarakat] yang dimata-matai dan diusik.

Saya tidak suka saat orang mengatakan “percayalah”. Tak ada orang yang sempurna. Tapi Zwicker tentu saja layak didengar.

Tidak berbuat apa-apa akan menguntungkan mereka, Kita tidak bisa berpura-pura mereka tidak eksis. Mengabaikan mereka tidak akan membuat mereka pergi.

Sependapat. Pertanyaan rumitnya adalah bagaimana caranya memberikan perhatian pada isu tanpa menguntungkan mereka.

Bagaimana para pemuda akan tahu soal Agen Penipu jika tidak ada upaya edukasi terus-menerus

“Sejarah adalah perlombaan antara pendidikan dan malapetaka,” tulis H.G. Wells.

Salah satu sasaran gerakan 9/11 Truth tak pelak lagi adalah untuk menyingkap, melawan, dan membongkar organisasi besar semua jenis mata-mata, agen provokator, dan agen rahasia. Mereka mengotori demokrasi dan diskursus yang jujur.

Kita tidak bisa mendapatkan dunia damai yang kita inginkan selama miliaran uang dibelanjakan untuk mata-mata dan memata-matai – banyak dari miliaran itu dibelanjakan untuk mengganggu aktivitas legal kita, warganegara yang berjuang mendapatkan dunia yang lebih aman dan lebih waras. Angka standar New York Times untuk anggaran “komunitas intelijen Amerika” – betapa enaknya – adalah $44 miliar. Itu yang resmi. Tambahkan anggaran gelap dan Anda akan memperoleh angka lebih tinggi.

Sudah lama sekali mata-mata dan memata-matai menjadi isu politik. Komite Gereja tahun 1970-an adalah yang terakhir kali tersingkap perlahan yang berdesas-desus soal seluruh negara yang memperdayai seluruh penduduk.

Sependapat. Beberapa informasi bagus bisa ditemukan dalam file audio yang dapat diunduh di halaman berikut: Me and My Shadow and Visibility 9-11 Welcomes Dr. William F. Pepper.

Sekarang saatnya membahas beberapa pemikiran tentang topik agen disinformasi yang lebih rinci.

Orang-orang di kelompok sinting gerakan 9/11 Truth telah menuduh bahwa berbagai orang di kelompok waras adalah agen disinformasi yang mengusulkan “markas terbatas” dan menentang atau menyensor pengungkapan pekerjaan terkotor pemerintah tersebut. Asumsi di sini adalah bahwa pemalsuan video dan/atau penggunaan sorot Star Wars – bila kemungkinannya benar – merupakan rahasia yang jauh lebih gelap daripada sekadar pembunuhan beberapa ribu warga Amerika tak bersalah dengan cara yang paling mungkin. Untuk menjustifikasi klaim ini, beberapa orang memperlihatkan bahwa serangan lewat cara amat eksotis akan lebih jelas menunjukkan keterlibatan pemerintah dibanding serangan lewat cara biasa; karenanya agen pemerintah di antara kita memerlukan tuduhan untuk mencegah penyelidikan soal metode eksotis itu. (Tapi kalau begitu, menurut sudut pandang saya, ini juga bisa menjadi alasan bagus bagi pelaku 9/11 untuk tidak usah menggunakan cara eksotis terlebih dahulu.)

Di sisi lain, orang-orang di kelompok waras gerakan tersebut telah menuduh bahwa kelompok sinting diisi oleh agen-agen disinformasi yang sengaja mempromosikan omong-kosong atas nama 9/11 Truth, dengan tujuan mendiskreditkan gerakan 9/11 Truth secara keseluruhan lewat pengaitan dengan omong-kosong tersebut.

Memang kemungkinan besar terdapat beberapa agen disinformasi di antara kita. Beberapa dari mereka mungkin betul-betul sengaja mempromosikan omong-kosong untuk tujuan mengkreditkan lewat pengaitan”, sebagaimana diduga keras oleh Jim Hoffman dan lainnya.

Tapi saya tidak berpikir agen semacam itu harus bekerja sangat keras, atau bahwa jumlah mereka harus banyak. Menurut pendapat saya, baik dalam gerakan 9/11 Truth maupun lainnya, banyak orang lebih dari mampu untuk menghasilkan dan menyebarluaskan timbunan omong-kosong oleh mereka sendiri, tanpa pancingan dari CIA atau siapapun.

Saya menduga banyak saudara-saudara di kelompok waras gerakan 9/11 Truth sama sekali tidak mengetahui banyaknya pasar omong-kosong yang sudah lama berdiri dan terorganisir, semakin sinting semakin baik, jauh sebelum gerakan 9/11 Truth muncul. Terdapat jaringan bisnis orang-orang yang melayani pasar ini yang juga terorganisir dan sudah lama berdiri.

Subkultur lama yang terkenal suka melahap omong-kosong di antaranya meliputi:

  • Cabang fanatik Kristen, meliputi cabang-cabang sinting fundamentalisme Protestan, Pantekosta, dan Katolik tradisional.
  • Cabang-cabang sinting gerakan New Age.
  • Beragam kelompok “pemujaan”, keagamaan, psikoterapi, dan politik.

Terdapat pula pasar omong-kosong mainstream yang sangat besar, sebagaimana dibuktikan oleh suksesnya taploid supermarket seperti Weekly World News.

Pasar untuk klaim “konspirasi” sinting menjangkau berbagai subkultur, termasuk yang saya sebutkan di atas, semakin sinting semakin baik. Klaim-klaim seperti tentang Illuminati muncul tidak hanya di media politik, tapi juga di media keagamaan dan fiksi populer.

Barangkali beberapa subkultur ini didirikan atau dipromosikan oleh agen disinformasi. Tapi, sekalipun kasusnya demikian, momentum subkultur-subkultur ini lebih dari cukup untuk membuat mereka terus berjalan.

Permasalahan yang lebih dalam, menurut saya, adalah bahwa sebagian besar rakyat Amerika tidak cukup terlatih dalam pemikiran kritis dan metodologi ilmiah. Karenanya [tidak kritis] terhadap semua pasar omong-kosong. Pergeseran paradigma personal, misalnya dnegan mulai mempertanyakan cerita resmi 9/11, dapat menjadi langkah penting pertama dalam belajar berpikir sendiri, tapi jauh dari cukup untuk memberi ketrampilan berpikir kritis.

Hal lain yang saya perhatikan adalah bahwa banyak (walau tidak semua) figur pemimpin kelompok sinting di gerakan 9/11 Truth mendapat penghasilan substansial dari gerakan 9/11 Truth itu sendiri ataupun “media alternatif” yang lebih besar. Di sisi lain, sejauh yang saya bisa katakan, sebagian besar (walau tidak pasti semua) pemimpin kelompok waras menetapi pekerjaan sehari-hari yang normal. Beberapa saudara-saudara di kelompok waras juga menjual bukut, video, T-shirt, dan lain-lain yang terkait 9/11, di samping pekerjaan sehari-hari mereka, tapi umumnya tidak mempromosikan barang-barang itu seluas saudara-saudara di kelompok sinting. Banyak sudara-saudara di kelompok sinting mampu mempromosikan barang mereka secara lebih luas (dalam beberapa kasus cukup luas untuk mendapat penghasilan darinya) sebab mereka, tak seperti kebanyakan saudara-saudara di kelompok waras, punya jalinan dengan jaringan distribusi yang sudah ada dan berdiri dengan baik.

Lebih jauh tentang pasar omong-kosong, di luar konteks gerakan 9/11 Truth
Di antara jenis-jenis orang yang melayani pasar omong-kosong adalah apa yag saya sebut “mitosmaniak profesional”. Pernahkah Anda mengenal seseorang yang menyuguhi Anda dengan kisah penuh warna dan tanpa akhir yang sulit dipercaya? Jika begitu, orang itu mungkin adalah mitosmaniak (juga dikenal sebagai pembohong sakit). Motif utama sebagian ebsar mitosmaniak sepertinya adalah menarik perhatian lewat kisah penuh warna yang mereka ceritakan. Mitosmaniak profesional adalah orang-orang yang telah meahami bagaimana caranya mengubah perhatian menjadi uang.

Contoh terbaik mitosmaniak profesional, menurut pendapat saya, adalah Mike Warnke, yang mengklaim sebagai “mantan pendeta tinggi Satanis”, dan yang, di tahun 1970-an dan 1980-an, diakui luas oleh Kristen evangelis sebagai “pakar” “Satanisme”. (Bukunya, The Satan-Seller, di antaranya memuat beberapa klaim soal Illuminati; diduga majelis penyihirnya merupakan bawahan kelompok tersebut.) Akhirnya kepalsuan klaim-klaimnya dibongkar oleh Kristen evangelis yang lebih waras, dalam The Cornerstone series on Mike Warnke, yang, bersama buku Selling Satan karangan Mike Hertenstein dan Jon Trott, sangat saya rekomendasikan pandangan mencerhakan mengenai dunia mitosmaniak profesional dan salah satu pasar mereka. Di samping itu, yang sangat mengungkap adalah komentar dari pembela Kristen yang relatif waras, Bob dan Gretchen Passantino berikut (yang juga memainkan peranan penting dalam membongkar kepalsuan ketakutan “Satanic Ritual Abuse”):

Tidaklah etis bagi pemeluk Kristen untuk menutupi pemimpin yang mencapai kedudukan mereka melalui kualifikasi atau kisah palsu, atau yang hidup tak bermoral. Dapatkah Gereja mengklaim standar etika yang lebih tinggi daripada dunia padahal kita mengadopsi “code of silence” (aturan untuk bungkam—penj) yang patut mendapat sebutan sebagai konspirasi kejahatan paling jahat dan terorganisir – atau bahkan suatu lingkaran satanik tak nampak?

Memang kemungkinan besar “code of silence” eksis dalam jaringan bisnis mitosmaniak profesional, bahkan saat kisah-kisah mereka cukup berbeda sampai seseorang akan menduga mereka terlibat dalam ketidaksetujuan tajam. Sama halnya pula dengan jaringan bisnis yang mencakup mitosmaniak profesional dan sekelompok besar orang yang sungguh termisinformasi yang kurang ketrampilan berpikir kritis, dan yang, akibatnya, tak mampu memberi memberi ataupun menerima kritik konstruktif.

Sebetulnya, saya telah memperhatikan “code of silence” serupa di antara banyak orang biasa dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Amerika, pada umumnya, tidak melatih orang-orang dalam seni memberi dan menerima kritik konstruktif. Oleh sebab itu, bagi banyak orang, khususnya mereka yang tidak kokoh secara emosional untuk alasan apapun, kritik sekecil apapun tidak lebih dari celaan di sekolah. Karenanya kebanyakan orang secara umum, bukan hanya orang-rang di gerakan 9/11 Truth, cenderung tidak mengapresiasi kritik paling konstruktif sekalipun.

Selain itu, di luar konteks gerakan politik, saya bahkan telah melihat sejumlah insiden di mana dua orang belum dewasa atau lebih, yang sebelumnya saling menyerang, akan tiba-tiba mengesampingkan perbedaan mereka dan mengeroyok seseorang yang lebih masuk akal – yang barangkali dipandang, oleh orang-orang yang kurang dewasa, sebagai makhluk dari spesies lain, karenanya lebih mengancam.

Saya menceritakan hal ini karena, dalam spekulasi online yang saya lihat tentang siapa itu agen, satu jenis “bukti” yang sering terlihat disebutkan adalah pengaitan tersangka agen dengan tersangka lainnya, termasuk orang-orang lain yang mungkin justru mempunyai alasan untuk berselisih tajam dengannya.

Semua kecenderungan yang saya sebutkan di atas sangat cocok untuk agen aktual manapun yang bersembunyi di antara kita, membuat kita amat sulit mendengus mereka. Tapi kecenderungan ini juga merupakan alasan mengapa setiap upaya untuk menguber “agen” kemungkinan besar akan menghasilkan banyak penuduhan keliru. Jadi, semestinya kita sangat berhati-hati dalam menarik kesimpulan tentang siapa itu agen.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s