Persis dan Bom “Teror”

Oleh: Tiar Anwar Bachtiar (Ketua Umum PP Pemuda Persatuan Islam)
(Sumber: Pikiran Rakyat, Senin 28 Maret 2011, hal. 26)

Cukup mengejutkan saat mendengarkan berita ada kiriman paket bom ke Kantor PP Persis, Jumat (25/3), dengan alamat Ketua Umum PP Persis K.H. Prof. Dr. Maman Abdurrahman. Mengejutkan dan mengherankan bila paket bom ini dikirim ke PP Persis. Padahal sebelumnya paket-paket bom itu ditujukan kepada orang-orang yang dianggap mengganggu Islam. Akan tetapi, kini yang menjadi sasaran justru kantor ormas Islam yang selama ini dikenal cukup “keras”.

Semakin mengherankan lagi bila melihat kembali kasus Bom Bali I dan II beberapa tahun ke belakang dan hubungannya dengan Persis. Pada kasus Bom Bali I, Persis dicurigai karena salah seorang tersangka pelakunya, Imam Samudera yang akhirnya dihukum mati, berasal dari keluarga besar Persis di Serang, Banten. Saat Bom Bali II meletus, nama Persis kembali disangkutpautkan karena salah seorang yang diduga pelakunya, yakni Salik, berasal dari keluarga aktivis Persis di Majalengka.

Gara-gara itu, para petinggi Persis saat itu cukup kewalahan memberikan penjelasan bahwa sekalipun mereka yang tertangkap ada kaitannya dengan Persis, tetapi Persis sama sekali tak ada kaitan dengan pengeboman di manapun. Sekalipun memang tidak terbukti Persis memiliki keterkaitan dengan bom teror di manapun, watak dakwah Persis yang “tegas”, bahkan terkesan “keras”, tetap menjadi sorotan. Persis termasuk salah satu ormas yang masih dianggap fundamentalis dan radikal hingga sangat mungkin bila secara gerakan dekat dengan “teroris”.

Stigma seperti ini bahkan masih ditemukan belakangan ini, jauh setelah peristiwa Bom Bali I dan II. Misalnya, laporan International Crisis Group (ICG) mengenai peristiwa Ciketing, Bekasi, 2010, ditulis di antara kelompok islamist (Islam radikal) antara lain: DDII, JAT, FUI, FPI, FAPB, Gamis, GPI, Persis, Al-Islam, dan lainnya. Mengenai Persis dalam laporan setebal 20 halaman yang diberi judul “Indonesia: ‘Christianisation’ and Intolerance” dituliskan, sekalipun secara umum Persis dianggap respectable (baik), tetap saja dianggap berpotensi melahirkan “teroris”.

Kalau kesan terhadap Persis seperti demikian, semestinya agak sulit mencari pembenaran mengapa harus kantor PP Persis yang dikirimi bom. Bukankah Persis dianggap dekat dengan kelompok-kelompok yang dituduh teroris? Apalagi belakangan ini muncul berita di Al-Jazeera soal Dewan Revolusi Indonesia (DRI) yang melibatkan Ketua Umum PP Persis. DRI ini presidennya Habib Rizieq dan salah satu Dewan Fuqaha-nya Abu Bakar Ba’asyir. Sementara Ketum PP Persis ditulis sebagai Menteri Pendidikan. Artinya, di kalangan kelompok yang dianggap “radikal”, Persis masih diakui sebagai satu haluan.

Kalau sekarang Persis menjadi sasaran dan target pengeboman, berarti isunya beralih: Persis sasaran terorisme. Akan tetapi, kalau justru yang menjadi target adalah Persis, yang justru dipertanyakan adalah masalah pengeboman yang terjadi selama ini. Sungguhkah ini dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam yang dianggap garis keras?

Satu-satunya yang paling mudah mengaitkan kasus pengiriman bom ini adalah dengan melihat motifnya. Ulil, Gorys Mere, Yapto, Ahmad Dhani bisa disebut sebagai musuh mereka yang dituduh teroris itu. Di luar teori motif, tidak ada yang bisa dibuktikan lagi. Sampai hari ini intelijen dan polisi seolah tidak punya kuasa mengungkap siapa di balik semua ini. Bila teori motif yang dipegang, justru berbagai kejanggalan muncul. Pertama, selama ini isu terorisme selalu dikaitkan dengan global war (perang global) melawan Amerika Serikat dan antek-anteknya. Bom di Bali, Jakarta, dan di tempat-tempat lain dnegan mudah dihubungkan dengan AS dan antek-anteknya. Sasarannya selalu kabur karena bukan individu yang dituju. Cukup mengherankan bila kemudian bom-bom itu ditujukan kepada individu-individu seperti Ulil dan lain-lain. Kenapa hanya segelintir orang yang disasar? Bukankah ada yang lebih langsung menjadi kaki tangan AS di Indonesia?

Kedua, keanehan semakin menjadi-jadi ketika pada hari-hari berikutnya muncul paket-paket serupa di beberapa tempat dengan target tidak jelas. Yang paling mengherankan adalah kiriman ke Kantor PP Persis. Sungguh amat sulit mengaitkan motif terorisme yang selama ini dikenal luas dan dipegang sebagai teori baku para analis terorisme. Secara ideologis, sangat sulit mengaitkan Persis dengan kepentingan AS. Selama ini Persis dikenal sangat konsisten meng-counter liberalisasi pemikiran yang impor dari Barat. Persis sangat mendukung fatwa MUI tentang sekularisme, pluralisme, dan liberalisme.

Lantas untuk apa mengirimkan paket teror bom ke kantor PP Persis? PP Persis juga merasa heran. Tidak ada masalah dengan siapapun. Kalau selama ini Persis mengampanyekan pembubaran Ahmadiyah, mestinya bukan hanya Persis yang dikirimi bom. Itu pun kalau isunya karena masalah Ahmadiyah, pengirimnya pasti bukan kelompok yang selama ini dituding teroris. Mereka pun sama sependirian dengan Persis. Bahkan, Persis dianggap dekat dengan mereka secara ideologis.

Jangan-jangan analisis yang berkembang selama ini benar bahwa isu-isu bom belakangan ini hanyalah usaha untuk mengalihkan isu dalam negeri yang menyeret para petinggi di negeri ini. Objek dari pengeboman sengaja diubah untuk menciptakan skenario dan cerita baru kasus terorisme di negeri ini. Skenario lama sudah terlampau jenuh dan sudah bisa diduga ending-nya. Benarkah dugaan ini? Selama pihak yang berwenang belum bisa membuktikan secara jelas tanpa ada yang ditutup-tutupi, analisis seperti ini bukan sesuatu yang tidak musykil kebenarannya. Kita tunggu saja bagaimana polisi menangani kasus ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s