Bukti Lain Kejahatan Perang AS

Oleh: Patrick Martin
24 Januari 2011
(Sumber: www.rawa.org)

…tak ada pejabat senior yang ditahan untuk bertanggungjawab atas penyiksaan dan pelecehan luas terhadap tahanan

Catatan Editor: ACLU menyatakan bahwa 25-30 dari 190 kematian yang terjadi di bawah penahanan pemerintah AS di Teluk Quantanamo merupakan “pembunuhan yang tak dapat dibenarkan”. Dalam pandangan kami, semua kematian di atas memenuhi syarat untuk tuduhan ini sebab pemenjaraan dan perang yang menghasilkannya tidak dapat dibenarkan sejak awal. – LMB

Bush, Cheney & Co., bersama dengan suksesor mereka, Obama dan Biden, dan semua pejabat tinggi militer dan kebijakan luar negeri yang bekerja dalam kedua pemerintahan, bersalah atas kejahatan paling serius terhadap kemanusiaan. Seluruh pejabat ini patut menghadapi pengadilan kejahatan perang internasional.

Dokumen-dokumen militer yang didapat oleh American Civil Liberties Union (ACLU) setelah perkara hukum yang panjang di bawah Undang-undang Kebebasan Informasi menyediakan bukti penting baru tentang kejahatan perang Amerika. Dokumen itu mencakup laporan otopsi dan laporan investigasi mengenai kematian 190 tahanan yang ditahan oleh militer AS di Teluk Quantanamo, Kuba, dan di Irak dan Afghanistan.

Dokumen setebal lebih dari 2.600 halaman itu diserahkan kepada ACLU pada 14 Januari dan dipublikasikan di website organisasi tersebut lima hari kemudian.

Sebuah pernyataan ACLU menyebutkan bahwa 25 sampai 30 kasus merupakan “pembunuhan yang tak dapat dibenarkan”. Penyelidik militer AS sendiri mengidentifikasi banyak kematian itu sebagai pembunuhan, walaupun ada beberapa persidangan atau hukuman terhadap prajurit yang terlibat.

ACLU mengeluarkan pernyataan yang menyatakan: “Sejauh ini, dokumen yang dirilis oleh pemerintah menimbulkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban, tapi menegaskan satu fakta bermasalah: tak ada pejabat senior yang ditahan untuk bertanggungjawab atas penyiksaan dan pelecehan luas terhadap tahanan. Tanpa pertanggungjawaban nyata atas penyiksaan dan pelecehan ini, kita beresiko mengundang lebih banyak penyiksaan di masa mendatang.”

Beberapa kematian itu merupakan kasus kejahatan yang diketahui luas yang dilakukan oleh prajurit Amerika, misalnya pembunuhan empat tahanan yang ditembak dan kemudian dilemparkan ke sebuah kanal di Baghdad pada 2007. Kematian lainnya sebelumnya tidak diketahui atau tidak diberitakan luas.

Laporan otopsi mendatangkan catatan mengerikan. Sebuah dokumen menguraikan kematian Abid Mowhosh, seorang tahanan di Abu Ghraib, pada 2003 akibat pemukulan; Abu Ghraib adalah penjara terkenal kejam di luar Baghdad yang menjadi lokasi kematian terbanyak.

Laporan otopsi tersebut menyimpulkan: “Tahanan Irak berusia 56 tahun ini mati akibat sesak nafas dan tekanan dada. Temuan signifikan otopsi mencakup retakan tulang rusuk dan banyak luka memar, yang beberapanya diakibatkan oleh hantaman benda tumpul…”

Laporan otopsi lain menggambarkan pembunuhan Farhad Mohamed menyusul penyergapan militer pada 2004 di Mosul: “warga sipil pria berusia kira-kira 27 tahun ini, diduga berkewarganegaraan Irak, mati dalam tahanan AS kira-kira 72 jam setelah ditahan. Menurut laporan, kekerasan fisik dilakukan dalam penahanan awal selama penyergapan. Selama pengurungannya, kepalanya ditutup, dilarang tidur, dan ditempatkan di kondisi lingkungan panas dan dingin, termasuk penggunaan air dingin pada tubuh dan tutup kepalanya.”

Pemuda ini digambarkan sebagai “pria berbadan tegap dan berasupan makanan yang baik”, bertinggi enam kaki dan berberat 190 pon. Dia tewas setelah tiga jam disiksa. Teknik-teknik yang digambarkan—penutupan kepala, pelarangan tidur, dan suatu bentuk pengaliran air—dilarang menurut Konvensi Jenewa. Mereka yang bertanggungjawab atas kematiannya bersalah melakukan kejahatan perang.

ACLU menyorot satu kasus di mana seorang sersan memasuki sebuah ruangan di mana tahanan sedang berbaring terluka “lalu menyerangnya dan menembaknya dua kali, hingga menewaskannya”. Si sersan kemudian memerintahkan prajurit lain yang hadir untuk berbohong mengenai pembunuhan itu. Prajurit lain, seorang kopral, kemudian menembak kepala mayat tersebut.

Menurut ringkasan dokumen yang ditayangkan oleh CNN, prajurit AS menjadi tersangka dalam 43 kasus kematian, di mana selebihnya diakibatkan oleh penyebab alami, di luar serangan terhadap tahanan AS, atau perkelahian di antara tahanan. Dalam 13 kasus, ditemukan penyebab potensial dakwaan pembunuhan dan total 19 prajurit Amerika dituduh melakukan suatu pelanggaran.

ACLU mencatat bahwa lebih seperempat dari semua kematian itu diatributkan pada masalah jantung, walaupun sebagian besar tahanan tampak sehat saat pertama kali ditahan. Dalam bahasa tertahan, organisasi tersebut mengatakan, “Ini berpotensi menimbulkan pertanyaan serius mengenai kondisi pengurungan dan interogasi tahanan.”

LetKol Tanya Bradsher, juru bicara Pentagon, mengatakan kepada pers, “Fakta bahwa adanya begitu banyak otopsi dan laporan investigasi mengindikasikan keseriusan tanggungjawab Departemen Pertahanan menyangkut perlakuan tahanan dan pertanggungjawaban.” Menurut logika luar biasa ini, 190 kematian dalam tahanan merupakan bukti perhatian kemanusiaan Pentagon, bukan kebiadaban imperialisme Amerika.

Yang sama-sama luar biasa adalah respon media Amerika. Sampai Minggu sore, hanya enam penyebutan laporan ACLU yang tercatat dalam pencarian Google News, di mana tiga darinya adalah oleh Press TV Iran berbahasa Inggris. Tak ada penyebutan material tersebut dalam New York Times, Washington Post, atau jaringan televisi lain selain CNN.

ACLU merilis dokumen itu sehari setelah pengadilan banding federal menguatkan keputusan pengadilan rendah yang memutuskan bahwa pemerintah Obama bisa terus menyembunyikan transkrip-transkrip di mana bekas-bekas tahanan CIA yang kini ditahan di Teluk Guantanamo menggambarkan penyiksaan dan pelecehan yang mereka derita saat dalam penahanan CIA.

Pernyataan tahanan-tahanan ini ditolak berdasarkan Pengadilan Peninjauan Kembali Status Petempur, dengar-pendapat yang diadakan di Guantanamo untuk menetapkan apakah tahanan adalah “petempur musuh”. Pengadilan telah menolak memenuhi permintaan akan transkrip utuh dengar-pendapat ini, yang diajukan berdasarkan Undang-undang Kebebasan Informasi, undang-undang yang sama yang dipakai oleh ACLU untuk memperoleh riwayat otopsi tahanan.

Dokumen yang dipublikasikan oleh ACLU adalah penyingkapan mengena tentang peranan imperialisme Amerika yang berdarah-darah di Afghanistan, Irak, dan seluruh dunia. Dokumen tersebut patut dipelajari lebih jauh dan dianalisis seksama. Bersama dengan ratusan ribu dokumen yang dipublikasikan oleh WikiLeaks, dokumen tersebut membentuk dasar aktual untuk tuduhan kejahatan perang para pemimpin pemerintah Amerika.

Bush, Cheney & Co., bersama dengan suksesor mereka, Obama dan Biden, dan semua pejabat tinggi militer dan kebijakan luar negeri yang bekerja dalam kedua pemerintahan, bersalah atas kejahatan paling serius terhadap kemanusiaan. Seluruh pejabat ini patut menghadapi pengadilan kejahatan perang internasional.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s