Melawan Globalkrat

Oleh: Greg Palast
Rabu, 2 Desember 2009
(Sumber: www.gregpalast.com)

Anda bisa memanggil dia Komandan Globalisasi. Direktur jenderal World Trade Organization tersebut, Pascal Lamy, agak defensif, ingin menjamin kepada kita bahwa WTO “bukan didirikan sebagai perkumpulan gelap multinasional yang diam-diam mempersiapkan plot terhadap masyarakat. Kami melakukan segalanya secara terbuka. Lihatlah website kami.”

Sudah setahun sejak keuangan global membuat planet ini bertekuk lutut, tapi di Jenewa sini, di mana November silam WTO membuka “kementerian ketujuh”-nya yang agung, para diplomat menyangkal. Sebuah dokumen konfidensial dari file anggota-anggota WTO—sudah pasti bukan di website WTO—memberitahu kita bahwa meski sedang terjadi krisis keuangan dan lingkungan, para globalis itu masih ingin berpesta seperti pada tahun 1999.

Pada tahun itu, hanya beberapa bulan sebelum Pertempuran Seattle, Financial Services Agreement (FSA) WTO menjadi hukum global, mematahkan aturan lama mengenai perdagangan mata uang dan derivatif keuangan lintas perbatasan. Kebaikan finansial menyebar cepat. Begitu pula keburukannya. Hasilnya: kekolapsan sekuritas-sekuritas AS yang ditopang oleh mortgage menghempas pemegang saham di seluruh dunia. Sementara harga rumah di California jatuh, bank-bank Islandia mencair.

Tapi Lamy, sepanjang obrolan empat mata yang panjang dengan saya, bersikeras kita memandang WTO bukan sebagai penegak deregulasi korporat tapi lebih sebagai promotor “interdependensi”, semacam Oxfam atau ACLU-nya perdagangan. “Interdependensi ini punya banyak sisi baik,” katanya, “mengenai kebebasan, mengenai HAM, mengenai teknologi, mengenai media, mengenai kebebasan politik sipil.”

Saya mengatakan bahwa, di luar persenyawaan WTO di bawah pegunungan Alpen, beberapa orang mengasosiasikan derivatif dan sekuritisasi mortgage dengan HAM dan kebebasan. “Mereka harus!” kata Lamy. “Mereka harus!”

Saya berusaha membawa sang direktur jenderal kembali ke detail jahat dokumen ini, “memastikan teks ini tidak tersedia untuk publik”: tuntutan Uni Eropa, yang digaungkan oleh AS, agar Brazil membuka perbatasannya terhadap perdagangan derivatif dan penjualan produk eksotis lain para raksasa perbankan asing. Tampaknya negara-negara UE tidak terlalu bahagia “Brazil belum menerima protokol Kelima,” dengan kata lain berdiri sendirian di antara negara-negara lain dengan terus menolak FSA.

Presiden Brazil, Luiz Inacioa Lula da Silva, menolak masuk perdagangan bebas finansial yang free-for-all, menyelamatkan bangsanya dari sebagian besar kepedihan Great Recession, memungkinkan GDP-nya meroket sampai angka 9% pada tiga bulan terakhir. Bukankah agak sinting menuntut Brazil bergabung dengan kasino derivatif? Lamy menjawab, secara masuk akal, “Persoalannya bukan perdagangan. Persoalannya adalah apakah yang Anda perdagangkan itu diregulasi atau tidak.”

Dengan demikian solusi terhadap permasalahan meliarnya bankir adalah meregulasinya, sebagaimana sepuluh tahun lalu. Tapi ada udang di balik batu. Sebagaimana Lamy akui, “Di WTO, Anda selalu bisa mencakar balik.” Teruskan dan regulasi ulang, tapi “ada harga yang harus dibayar untuk mencakar balik”. Harga yang mahal. Di bawah FSA, sekali sebuah negara telah melucuti regulasi perbankannya, ia tak bisa, meski mengalami krisis, mengenakan kembali aturan proteksi yang menghalangi operasi bank asing yang baru dibangun. Contoh, seandainya Ekuador mengikuti nasehat mantan kepala Federal Reserve (The Fed), Paul Volcker, agar mengembalikan regulasi yang mencegah bank-bank komersial berjudi dalam derivatif, pemerintah AS, menurut aturan WTO, bisa mengenakan tarif ketat terhadap setiap pisang dari Ekuador guna menutupi hilangnya laba perdagangan bank-bank AS. Dengan kata lain, biayanya bisa sangat besar bagi penandatangan pakta jika mengekang unit perdagangan lokal JPMorgan.

Bagaimana pemerintahan diikat tangan dan kakinya oleh Financial Services Agreement?

Saat pakta keuangan WTO berlaku pada 1999, planet kita menjadi sangat berbeda. Sebulan sebelum protes terhadap WTO, Robert Rubin bergabung dengan Citigroup, sebuah megabank yang secara efektif dihasilkan oleh deregulasi yang didorong oleh…Rubin, ketika dia menjabat sebagai menteri keuangan pemerintahan Bill Clinton. Waktu itu Rubin adalah elang kecil, dan, kecuali bagi pemrotes di Seattle (“massa menggelikan berpenampilan profesional muda ambisius lantaran pembawaan ala 1960-an,” tulis Thomas Friedman dari New York Times), beberapa pihak menyangsikan sihir Rubin.

Pada 1999, perdagangan internasional derivatif ekuitas dan credit default swap sangat langka. Tapi berkat syarat-syarat pakta WTO yang dinegosiasikan oleh Timothy Geithner, kala itu asisten menteri keuangan untuk urusan internasional, perdagangan swap dan derivatif lintas perbatasan tumbuh menjadi $115 triliun pada 2008, tahun ketika Citigroup hampir kolaps dan memperoleh bail-out pemerintah.

Satu dekade silam, sewaktu Pertempuran Seattle, Lamy mengenakan tanda pangkat kekuatan globalisasi keuangan sebagai direktur jenderal raksasa perbankan Prancis, Crédit Lyonnais, yang privatisasinya dia atur. Saat dia pergi [setelah wawancara kami], saya bertanya kepadanya apakah para pemrotes itu tidak terbukti benar dengan krisis yang terjadi—bahwa penghentian hambatan keuangan penuh dengan bahaya.

Sang bankir yang beralih menjadi globalkrat tersebut bersikeras bahwa malapetaka WTO bukanlah soal kebijakan melainkan hubungan publik. “Kami telah menyadari bahwa ada sebagian aktivitas kami yang perlu tranparansi lebih, penjelasan lebih. Kami telah melakukan banyak hal tersebut, saya pikir.”

Martin Khor berpikir tidak. Sebagai direktur eksekutif South Centre, dan mantan direktur LSM Third World Network, Khor adalah orang terdekat yang dimiliki pemberontakan anti-globalisasi dengan pemimpin—dan sungguh sukses dalam hal tersebut. South Centre, berbasis di Jenewa, menyediakan Brazil dan banyak negara berkembang lain daya tembak teknis untuk mempertahankan diri dari dikte AS dan Eropa.

Khor mengatakan bahwa gambaran buruk WTO berasal dari kelancangannya dalam menekan negara-negara berkembang agar mengikuti, dengan kedok aturan perdagangan, kesintingan deregulasi yang menaruh AS dan Eropa “dalam kesulitan”. Dan dia menemukan bahwa bahwa bank-bank yang akan telah kolaps jika bukan berkat bail-out masif pemerintah masih mengkhotbahkan ajaran deregulasi pasar finansial kepada negara-negara berkembang. “Seandainya tak ada bail-out itu, lembaga-lembaga keuangan ini takkan lagi eksis. Tapi setelah di-bail-out, mereka sekarang berpikir untuk kembali berjalan seperti biasa.”

Rupanya mereka belum mendengar bahwa pesta telah usai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s