Strauss-Kahn Memeras Afrika

Oleh: Greg Palast
Jumat, 20 Mei 2011
(Sumber: www.gregpalast.com)

Setelah saya melepas headline menggoda yang kentara dan menjijikkan, mari kita menyerah dan membeberkan sejarah penyimpangan arogan Dominique Strauss-Kahn (DSK). Faktanya adalah, pejabat tinggi IMF tersebut telah melecehkan bangsa Afrika selama bertahun-tahun.

Pada edisi Rabu, New York Times memuat lima – hitung, LIMA – artikel mengenai Straus-Kahn, Direktur Jenderal International Monetary Fund. Menurut Paper of Record, tuduhan terhadap DSK, sebagaimana dia dikenal di Prancis, “kontradiktif” dengan “pesona” dan “prestasi”-nya di IMF.

Au contraire, mes chers lecteurs.

Kekejaman, arogansi, dan kekebalan hukum Direktur-Jenderal DSK terhadap Afrika dan bangsa lainnya sebagai komandan IMF cocok dengan kisah yang diceritakan oleh pembantu hotel yang miskin asal Afrika di New York City.

Mari pikirkan bagaimana pembantu hotel dari Guinea tersebut berakhir di New York sini. Pada 2002, ibu tunggal ini diberi suaka. Apa yang mendorongnya ke sini?

Itu berawal dengan pemerkosaan IMF terhadap Guinea.

Pada 2002, IMF memutus capital inflow (aliran masuk modal) ke negara Afrika Barat ini. Tanpa restu IMF, Guinea, yang menyimpan hingga setengah material mentah dunia untuk aluminium, plus minyak, uranium, berlian, dan emas, tak bisa meminjam sepeser pun untuk mengembangkan sumber daya ini.

Pemutusan oleh IMF itu, praktisnya, merupakan penyitaan, dan negara tersebut tercekik dan kelaparan meski berdiri di atas kekayaan mineralnya yang mengagumkan. Sebagaimana dalam penyitaan sub-prime mortgage yang kita lihat hari ini, IMF bergerak cepat untuk merampas kekayaan Guinea.

Tapi IMF bukan merampas kekayaan negeri ini untuk dirinya sendiri. Malah, ia memaksa Guinea mengobral sumber dayanya kepada korporasi asing dengan harga selayaknya penjualan furnitur di halaman rumah yang disita.

Prancis, Amerika, Kanada, Swiss (dan belakangan China) datang dengan sendok terbuka dan serbét terselip di bawah dagu mereka, menelan bauksit, emas, dan sumber daya lain negeri itu. Sementara itu, IMF memerintahkan pengakhiran hambatan perdagangan dan karenanya mengganggu pemegang saham lokal yang kecil.

Sebagai akibat dari serangan IMF, rakyat Guinea melarikan diri demi kemerdekaan dan makan. Kalau begitu minggu ini menandai kali kedua orang Afrika miskin ini dilecehkan oleh IMF.

Sekarang kita memiliki konteks bagaimana dua orang ini, sesepuh globalisasi penuh birahi dan pengungsi, berakhir dalam posisi yang sungguh berbeda, di kamar hotel New York itu.

Sejak mengambilalih IMF pada 2007, mantan “Sosialis” Straus-Kahn memperketat pemerasan dalam upaya mempertahankan mania keuangan pasar bebas yang merusak planet ini. [Kisah tadi berharga – itu akan terjadi. Tim kami memiliki setumpuk dokumen internal dari IMF yang akan kami rilis dalam buku baru saya pada Musim Gugur.]

Pengacara DSK mengatakan hubungan dengan pembantu hotel itu adalah “suka sama suka”. Sedangkan DSK menyatakan hal yang sama soal semua kesepakatan IMF dengan negara-negara yang atasnya IMF memegang kekuasaan hidup dan mati. Ini seperti mengatakan bahwa perampokan bank adalah suka sama suka sepanjang Anda tidak mempertimbangkan senjata.

Entah itu pemerkosaan brutal atau hubungan seks suka sama suka, sifat “suka sama suka”-nya sama dengan cara bangsa Guinea mengizinkan perampokan keuangan yang diperintahkan IMF.

Artikel New York Times mengutip seorang kroni Strauss-Kahn di IMF yang mengatakan bahwa DSK mendapatkan kemauannya lewat “bujukan” bukan “paksaan”. Katakan itu kepada Yunani.

DSK-lah yang, tahun lalu, secara pribadi bersikeras pada istilah kasar untuk bail-out Yunani. “Strong conditionality” (kebersyaratan kuat) adalah istilah IMF. Strauss-Kahn tak hanya menuntut pemangkasan dana pensiun dan peningkatan pengangguran disengaja hingga 14%, tapi juga pengobralan 4.000 dari 6.000 jawatan milik negara. Rencana IMF DSK membolehkan pemodal yang menggerakkan keuangan Yunani untuk membeli aset negara dengan harga jual murah.

Tuntutan Strauss-Kahn bukanlah “cinta kuat” untuk Yunani. Cintanya tersedia semata-mata untuk bankir tamak yang memperoleh dana IMF tapi tak diharuskan menerima keuntungan satu euro pun dalam laba yang hilang. DSK, meski mendapat nasehat dari banyak pihak, menolak meminta bank dan spekulator untuk menurunkan beban bunga amat tinggi yang merupakan akar kesengsaraan Yunani.

Mewajibkan Yunani menjual aset, menghentikan hambatan perdagangan, dan bahkan mengakhiri aturan bahwa kapal-kapal Yunani harus menggunakan pelaut Yunani, itu semua tak ada kaitannya dengan penyelamatan Yunani, tetapi berkaitan dengan komitmen DSK untuk melindungi lembar neraca setiap bankir dari gangguan yang tak dikehendaki.

Saya pikir tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa seorang predator di suite dewan pengurus bank beranggapan kekebalan hukum dirinya berlaku pula di suite hotel.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s