Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

(Sumber: Akhmad Jenggis P., “Kebangkitan Islam”, Yogyakarta: NFP Publishing, Cet. I, Mei 2011, hal. 159-165)

Sejarah kita bangsa Indonesia telah mencatat bahwa pelopor gerakan kebangkitan adalah Boedi Oetomo yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908. Atas dasar apa? Karena inilah gerakan yang dianggap pertama kali ada di Indonesia. Kemudian siapakah pencetusnya?

Mengapa bisa sampai diperingati sebagai hari kebangkitan nasional? Begini, pada tanggal 3 Juli 1946 terjadilah kudeta yang dipimpin oleh Tan Malaka dan Mohammad Yamin yang ingin merebut kekuasaan negara dengan paksa. Kemudian pada saat itu, Kabinet Hatta berkeinginan untuk mengembalikan sejarah nasional yang mana susah payah telah melawan penjajah. Ini semua dilakukan Kabinet Hatta karena upaya kudeta tersebut seakan-akan mendapatkan respon dari masyarakat, dan ini berarti dapat menimbulkan perpecahan bangsa.

Nah agar terhindar dari perpecahan bangsa, maka dirasa perlu membangkitkan kembali yang namanya kesadaran nasional. Tanpa menunda lagi maka dirasa perlu juga menentukan kapan tanggalnya dan kira-kira organisasi apa yang mempelopori gerakan kebangkitan nasional pada abad ke-20 ini.

Entah bagaimana ceritanya maka dipilihlah organisasi yang sudah jelas-jelas telah lama mati yaitu Boedi Oetomo. Yang menimbulkan pertanyaan kemudian, kenapa bukan organisasi sosial pendidikan Islam atau organisasi partai politik lainnya saja, yang mana sudah jelas-jelas masih eksis dan masih tetap berjuang membela kemerdekaan hingga kini.

Kenapa ini terasa aneh? Karena yang patut diketahui adalah pada realitas sejarahnya, kita melacak kembali justru pada keputusan Kongres Boedi Oetomo di Surakarta, organisasi ini menolak pelaksanaan cita-cita persatuan Indonesia. Nah? Sudah jelas tak setuju mendukung kemerdekaan, malah perlu kita peringati dan kita kenang setiap tahun.

Ketika itu, walaupun kongres telah dilaksanakan pada tahun 1928, yang mana saat itu Boedi Oetomo berumur 20 tahun (1908-1928), namun sikapnya sangat bertentangan serta menunjukkan suatu gerakan nasional yang eksklusif daripada gerakan lain yang sudah jelas ikut membangun kesadaran nasional dan membangun kesatuan dan persatuan bangsa Indonesia.

Boedi Oetomo saja malah menolak melaksanakan cita-cita persatuan Indonesia dan malah lebih mengutamakan sistem keanggotaannya yang terbatas untuk pada bangsawan suku Jawa, serta semua itu dilakukannya untuk membuktikan gerakannya sebagai gerakan Jawanisme serta menentang gerakan nasional pada zamannya.

Memang tak ada organisasi lain?Bahkan kalau boleh tanya lebih lanjut, ada tidak yang lebih dulu berkiprah daripada Boedi Oetomo? Nah itulah, karena diputuskannya adalah Boedi Oetomo, maka tanggal berdirinya yaitu tanggal 20 Mei dijadikan Hari Kebangkitan Nasional.

Nah anehnya, padahal waktu itu ada banyak organisasi-organisasi Islam yang sangat berpengaruh besar terhadap mayoritas masyarakat Indonesia, bahkan masih berperan aktif hingga sekarang ini dalam pembangunan bangsa, negara, dan agama.

Kenapa bukan Serikat Dagang Islam yang mana lebih dulu berdiri pada tanggal 16 Oktober 1905? Terus kenapa bukan Serikat Islam serta bukan Persyarikatan Muhammadiyah yang berdiri pada tanggal 18 November 1912, yang mana malah eksis hingga sekarang? Terus kenapa bukan pula Persatuan Islam yang berdiri pada tanggal 12 September 1923 atau mungkin Nahdhatul Ulama yang berdiri pada tanggal 31 Januari 1926? Kenapa? Sepertinya ada banyak yang organisasinya lebih dulu daripada Boedi Oetomo, bahkan masih eksis, tidak sukuisme pula, tidak eksklusif pula.

Ditambah lagi organisasi-organisasi tadi sudah jelas mendukung kemerdekaan serta mempertahankan Proklamasi 17 Agustus 1945, ini beda sekali dengan Boedi Oetomo yang jelas-jelas malah menolak cita-cita persatuan Indonesia dalam kongresnya pada tanggal 6-9 April 1928 di Surakarta. Mengapa seakan-akan Islam disingkirkan dari perjalanan sejarah bangsa ini?

Boedi Oetomo didirikan pada tanggal 20 Mei 1908, pada hari Rabu pukul 09.00 pagi dengan ketuanya R. Soetomo. Raden Soetomo sendiri lahir di Ngepeh, Nganjuk, Jawa Timur pada tanggal 30 Juli 1888 dengan nama lahir Raden Soebroto. Ketika hendak disekolahkan di sekolah dasar Belanda namanya diganti menjadi Raden Soetomo. Ayahnya bernama Raden Soewardi, seorang Binnenlads Bestuur atau Pangreh Raja dengan pangkat Asisten Wedana. Soetomo muda dikenal sebagai siswa yang pemalas, suka menyontek, nakal, suka berkelahi, dan studinya selalu molor. Awal-mula dalam mendirikan Boedi Oetomo pun, Soetomo menginginkan ditegakkannya ideologi nasionalisme Jawa.

Saat itu adanya Boedi Oetomo ini untuk mengimbangi Jamiat Khoir yang mengenalkan nasionalisme Islam di tengah masyarakat. Upaya Boedi Oetomo ini mendapat dukungan dari para Bupati, dan mereka sangat loyal kepada pemerintah kolonial Belanda. Dalam kongresnya yang pertama tanggal 3 Oktober 1908, kepemimpinannya beralih kepada Bupati Karang Anyar, yaitu Raden Adipati Tirtokoesoemo sebagai Presiden Boedi Oetomo.

Kemudian ketika diadakannya kongres kedua tanggal 11-12 Oktober 1908, diusulkan agar sistem penerimaan keanggotaan organisasi ini tidak sebatas pada bangsawan Jawa saja namun terbuka untuk umum. Namun dengan tegas usul yang disampaikan oleh Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo pada waktu itu malah ditolak.

Bahkan kedudukan organisasi eksklusif hanya untuk bangsawan Jawa dipertegas lagi oleh R. Sastriwidjono di Bandung tahun 1915. Pada saat itu juga hadirin peserta menyerukan Leve pulau Djawa, Leve bangsa Djawa, Leve Boedi Oetomo yang artinya adalah Hidup pulau Jawa, Hidup bangsa Jawa, Hidup Boedi Oetomo.

Bersamaan dengan itu, semakin ditegaskan pula sikap organisasi Boedi Oetomo dengan sikap Jawanismenya. Sikap ini dipertegas lagi dengan keputusannya antara lain mengekalkan dan menguatkan Agama Jawa. Yang mana ajaran jawa ini bersumber dari ajaran Ramayana dan Mahabrata. Para penganut Agama Jawa ini sebagaimana yang dilukiskan dalam Serat Suluk Gatoloco atau Darmogandul lebih cenderung mengutamakan kepada laku utama.

Contohnya, sikap dari Buta Lotjaja (Raksasa Lotjaja) yang menolak ajaran Islam yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu Wali Sanga. Agama Jawa ini juga tidak mempercayai adanya akhirat. Ajaran ini malah menguraikan adanya surga itu hanya sebatas gambaran hidup yang senang dan tenang di dunia. Kebalikannya, kalau neraka berarti hidup sengsara di dunia.

Sepertinya dengan gaya organisasi yang tertutup bagi setiap suku bangsa, kemudian yang boleh jadi anggotanya hanya bangsawan Jawa, kalau tidak orang Belanda saja. Perlu diperhatikan juga, walaupun dari suku Jawa, tapi kalau bukan keturunan bangsawan, tidak boleh [masuk]. Kalau seperti itu, sepertinya lebih cocok [disebut] Hari Kebangkitan Para Kaum Feodal Jawa daripada Hari Kebangkitan Nasional.

George McTurner dalam karyanya Nationalism and Revolution in Indonesia pad atahun 1970 menguraikan pendapat berbeda daripada penulis-penulis sejarah Barat lainnya. Dia lebih menekankan bahwa fakta penyebab terbentuknya integritas nasional bahkan tumbuhnya kesadaran nasional di Indonesia itu adalah Islam, yang merupakan agama mayoritas yang dipeluk bangsa Indonesia. Lebih lanjutnya karena:

Pertama, adanya kesatuan agama bangsa Indonesia. Saat itu agama Islam telah dianut 90% penduduk dan tidak hanya orang Jawa saja namun juga penduduk luar Jawa. Inilah mengapa bisa terjadi perlawanan kuat terhadap penjajah Kerajaan Protestan Belanda, itu disebabkan salah satunya karena para penjajah ini melancarkan politik kristenisasi.

Kedua, agama Islam ini tidak hanya sebagai ajaran yang mengajarkan jamaah atau persatuan namun juga masyarakat Indonesia telah menjadikannya simbol perlawanan terhadap penjajah Barat.

Ketiga, sebab lain bisa terjadi integritas nasional adalah karena adanya perkembangan Bahasa Melayu Pasar yang telah berubah menjadi Bahasa Persatuan Indonesia. Ini akibat dari penjajah Belanda yang ketika itu ingin menciptakan rasa inferioritas atau rendah diri di tengah-tengah umat Islam Indonesia. Pada waktu itu, sengaja diciptakanlah bahasa utama dan bahasanya para bangsawan adalah bahasa Belanda, sedangkan Bahasa Melayu pasar (bahasa kita sekarang ini) malah dianggap sebagai bahasanya orang-orang bodoh pribumi.Nah, kalau kita sudah mengerti sedikit banyak uraian terjadinya Hari Kebangkitan Nasional tersebut, yang menjadi pertanyaan kemudian, kenapa ya umat Muslim dengan organisasinya yang lebih dahulu [hadir] yaitu Serikat Dagang Islam malah tidak dianggap menyadarkan kesadaran nasional? Padahal saat itu motor pembangkit gerakan kesadaran nasional di pasar adalah Serikat Dagang Islam pada tanggal 16 Oktober 1905 di Surakarta.

Organisasi inilah yang pertama kali menjawab tantangan upaya imperialis untuk menjadikan Indonesia sebagai pasar sumber bahan mentah industri penjajah Barat. Organisasi ini pula yang mengedepankan penguasaan pasar agar terhimpun dana guna gerakan kesadaran politik nasional. Bukannya malah sebaliknya yaitu ‘sendiko dawuh’ dengan penjajah, terus malah lebih senang dijajah dan mengkhianati bangsa sendiri.

Haji Samanhudi sebagai pencetus Serikat Dagang Islam telah memahami, untuk memberikan perlawanan dibutuhkan dana. Maka dari itu penguasaan pasar niaga atau ekonomi merupakan hal penting. Terbukti juga dengan keluwesan beliau dalam menjalin kerjasama dengan Cina melalui organisasi niaganya, Kong Sing.

Dengan menamai organisasinya dengan nama Islam, terus gerakannya yang Islami apalagi dipimpin oleh seorang Haji, tidak perlu waktu lama organisasi ini telah memperoleh tempat di hati masyarakat Muslim secara luas. Sudah pasti penjajah Belanda ketar-ketir dengan keberadaan perkumpulan wirausahawan di bawah organisasi Serikat Dagang Islam.

Maka dari itu berbagai upaya licik dilakukan, mulai dari menciptakan huru-hara anti Cina dengan menggunakan Laskar Mangkunegara untuk memprovokasi agar rakyat mau merusak toko-toko Cina. Sampai dengan mengadu domba di antara rakyat dan etnis Cina. Semua itu dilakukan Belanda dengan harapan terpecahlah hubungan erat rakyat dengan Cina.

Tak hanya itu, pemerintah kolonial Belanda pun sampai mendirikan juga organisasi tandingan yang namanya hampir mirip, yaitu Serikat Dagang Islamiyah pada tahun 1909 di Bogor. Tapi organisasi ini kerjaannya malah ketergantungan dan selalu minta bantuan kepada Belanda, bahkan selalu minta perlindungan kepada pemerintah kolonial Belanda. Perjalanannya pun pada akhirnya juga bubar pada tahun 1911.

2 thoughts on “Sejarah Hari Kebangkitan Nasional

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s