Pengeboman 9/99 Rusia dan Pemberangusan Perbedaan Pendapat

Oleh: Philip Coppens
(Sumber: Philip Coppens, State Sponsored Terror in the Western World, Nexus Magazine Februari-Maret 2007, hal. 17-18, 21)

Almarhum pembangkang dan mantan mata-mata Rusia, Alexander Litvinenko, berargumen dalam bukunya, Blowing up Russia: Terror from Within, bahwa serangan-serangan teroris tertentu di Rusia direkayasa oleh Kremlin. Dia menduga keras bahwa agen-agen FSB (Federal Security Service Federasi Rusia, pengganti KGB) mengkoordinasi pengeboman 1999 (populer disebut sebagai pengeboman 9/99) yang menewaskan lebih dari 300 orang selama ledakan di tiga gedung apartemen di ibukota Moskow dan kota Rusia selatan, Volgodonsk, dalam periode dua minggu.[1] Otoritas Rusia, dipimpin oleh perdana menteri Vladimir Putin yang baru ditunjuk, mempersalahkan pengeboman itu pada separatis Chechnya dan, sebagai respon, memerintahkan invasi atas Chechnya.

Mantan perwira FSB Litvinenko, cendekiawan Universitas John Hopkins dan Hoover Institute David Satter[2], dan anggota legislatif Rusia Sergei Yushenkov menegaskan bahwa pengeboman itu sesungguhnya merupakan serangan “false flag” yang dilakukan oleh FSB dalam rangka melegitimasi pelanjutan kegiatan militer di Chechnya dan mengangkat Vladimir Putin ke Kremlin dan FSB ke tampuk kekuasaan. Operasi false flag adalah operasi tertutup yang dijalankan oleh pemerintah, korporasi, atau organisasi lain, yang dirancang untuk terlihat seolah dilakukan oleh pihak lain daripada pelaku sesungguhnya. Nama tersebut diperoleh dari konsep militer flying false colours, yang dipraktekkan dalam perang laut maupun darat. Contoh terkenal adalah Operasi Greif, dipimpin oleh Otto Skorzeny[3], di mana dia memerintahkan orang-orangnya beraksi dengan seragam Amerika selama tahap akhir Perang Dunia II.

Jadi Litvinenko, Satter, dan Yushenkov menuduh Putin memerintahkan terorisme yang disponsori negara, ditujukan pada bangsanya sendiri, menewaskan 300 warga tak berdosa. Ini bukan sekadar teori konspirasi yang berasal dari pembangkang Rusia atau pengkritik rezim Putin.

Sesaat setelah serangan terakhir (ketika sebuah bom truk meledak pada 16 September di luar sebuah kompleks apartemen berlantai sembilan di kota Volgodonsk, menewaskan 17 orang), mata-mata FSB tertangkap basah oleh kepolisian dan warga setempat di kota Ryazan sedang menanam bom beserta detonator di basement sebuah gedung apartemen di Novosyelov 14/16 pada malam 22 September 1999.[4] Seorang penghuni siaga di gedung itu melihat orang-orang asing memindahkan karung-karung gula berat ke basement dari sebuah mobil. Para pakar bahan peledak menemukan bahwa bom itu teruji positif mengandung hexogen lalu semua jalan dari kota diawasi ketat, tapi tak ditemukan petunjuk. Seorang pegawai jasa telepon menyadap panggilan telepon jarak jauh dan berhasil mendeteksi perbincangan di mana seseorang dari luar kota mengatakan agar berhati-hati dan waspada terhadap patroli. Nomor orang itu didapati milik sebuah kantor FSB di Moskow.

Pada 24 September, Nikolai Patrushev, kepala FSB, menyatakan bahwa bom itu merupakan bom-boman dan bahwa seluruh operasi tersebut merupakan latihan.[5] Uji awal bahan kimiawi dinyatakan “tak akurat” akibat kontaminasi peralatan analisis dari uji terdahulu. Konsekuensinya, kantor Jaksa Penuntut Umum menutup penyelidikan kejahatan pada April 2000.

Tapi terlepas dari sanggahan resmi ini, Yuri Tkachenko, pakar bahan peledak yang melepas sumbu bom tersebut, bersikeras bahwa itu sungguhan.[6] Tkachenko juga mengatakan bahwa bahan peledak itu, termasuk timer, sumber daya, dan detonator, adalah peralatan asli militer. Dia menambahkan bahwa penganalisa gas yang menguji uap dari karung-karung itu tak salah lagi mengindikasikan kehadiran hexogen—bukan gula sebagaimana diklaim secara resmi oleh FSB. Perwira-perwira polisi yang menjawab panggilan telepon awal dan menemukan bom juga bersikeras bahwa insiden itu bukan latihan dan dari tampilannya jelas bahwa zat pada bom itu bukan gula.[7]

Perjuangan hidup Litvinenko yang panjang menyusul pemasukan radionuclide polonium-210 [ke dalam tubuhnya] pada November 2006 populer dilukiskan sebagai balas dendam Putin terhadap whistleblower ini. Tapi Litvinenko bukan orang pertama atau satu-satunya yang harus mati. Sergei Yushenkov, yang berbagi perhatiannya soal pengeboman 9/99, ditembak mati di gerbang blok apartemennya di Moskow pada 17 April 2003.[8] Dalam kasus ini mungkin tak ada kaitan langsung dengan pengeboman 9/99, sebab Yushenkov adalah anggota parlemen dan anggota parlemen kesembilan yang ditembak mati dalam beberapa tahun, tak satupun kasus itu yang terpecahkan. Tetapi seorang anggota partai Liberal Rusia, Yuly Rybakov, tetap berspekulasi dalam suratkabar Moscow Times bahwa Yushenkov boleh jadi dibunuh lantara upayanya menunjukkan bahwa dinas keamanan bersalah atas pengeboman 9/99.[9]

Yushenkov bertanggungjawab mengundang Mikhail Trepashkin[10], pengacara Moskow dan mantan agen FSB, untuk membantu penyelidikan independen pengeboman 9/99. Setelah kematian Yushenkov dan gagalnya penyelidikan resmi, dua wanita bersaudara keturunan Rusia-Amerika, Tatyana dan Alyona Morozova, yang ibunya tewas dalam pengeboman 9/99, menyewa Trepashkin untuk mewakili mereka.[11] Sambil bersiap-siap melakukan pemeriksaan di pengadilan terhadap dua Muslim Rusia yang secara resmi dituduh melakukan serangan, Trepashkin menemukan jejak seorang tersangka misterius yang keterangannya lenyap dari berkas. Si tersangka ternyata merupakan salah seorang mantan kolega FSB-nya. Dia juga menemukan seorang saksi yang bersaksi bahwa bukti direkayasa untuk menuntun penyelidikan agar tidak memberatkan FSB.

Pada 22 Oktober 2003, seminggu sebelum pemeriksaan dimulai, Trepashkin ditahan setelah berhenti di tengah jalan padahal, klaimnya, agen-agen FSB yang ditempatkan di pinggir jalan melontarkan tas memakai pistol curian ke dalam kendaraannya. Trepashkin dipenjara, tak bisa menghadiri pemeriksaan sehingga memuluskan jalan untuk penghukuman dua tersangka Muslim secara mudah. Namun cerita Trepashkin berhasil masuk ke media Barat dan pada 20 Mei 2004, sebuah artikel di Los Angeles Times meninjau ringkas kesengsaraannya, menambahkan bahwa tersangka utamanya adalah agen FSB Vladimir Romanovich. Menurut Trepashkin, Romanovich merupakan kontak FSB yang ditugaskan menginfiltrasi kelompok-kelompok kriminal Chechnya di Moskow. Sebagai bukti, Trepashkin menyebutkan pelepasan misterius Romanovich dari tahanan setelah ditangkap oleh regu [pemberantas] kejahatan terorganisir beberapa tahun sebelumnya. Trepashkin menambahkan bahwa Romanovich dikenal oleh tuan tanah di salah satu gedung-gedung apartemen [sasaran pengeboman] itu. Sang tuan tanah, Mark Blumenfeld, mengkonfirmasi bahwa Romanovich bekerja dengan FSB berdasarkan sketsa orang yang pernah dilihatnya itu, hanya saja disangkal saat gabungan [gambar] Romanovich tidak menyerupai Gochiyayev, orang yang telah diidentifikasi petugas sebagai salah seorang dalang pengeboman. Romanovich kemudian tewas dalam kecelakaan mobil di Siprus.[12]

Pada 2003, Yuri Shchekochikhin, anggota parlemen lainnya yang masuk komisi independen 9/99, tewas dalam keadaan misterius dan dipercaya telah diracun. Shchekochikhin mendadak tertimpa sakit dan mengalami gejala mengerikan: kulitnya mengelupas, tubuhnya ditutupi bisul, rambutnya rontok, dan akhirnya dia menderita gagal pernafasan. Kolega-koleganya tak bisa menyelidiki kematiannya sebab mereka diberitahu bahwa hasil otopsinya rahasia dan takkan dirilis bahkan kepada kerabatnya. Shchekochikhin juga merupakan editor di Novaya Gazeta, suratkabar independen di mana Anna Politkovskaya, pengkritik Kremlin yang sengit, bekerja sebelum ditembak mati pada Oktober 2006, beberapa minggu sebelum Litvinenko meninggal di sebuah rumah sakit London.[13]

Jelas bahwa pada 1999, negara Rusia, spesifiknya dinas keamanan, menanam bom di apartemen penduduk dalam upaya mempersalahkan pemberontak Chechnya dan untuk memulai kembali dan menginvasi lagi Chechnya. Beranikah kita bertanya apakah peristiwa 9/11 mengikuti skenario peristiwa 9/99, di mana seksi-seksi dinas intelijen AS menanam bom dan menjalankan serangan teroris, menewaskan 2.973 warga sipil, dalam upaya mempersalahkan fundamentalis Islam dan untuk memulai perang dengan menginvasi Afghanistan dan Irak?

Catatan Akhir:
[1]Various sources, including http://eng.terror99.ru/
[2]Satter, David, Darkness at Dawn: The Rise of the Russian Criminal State, Yale University Press, 2003; http://www.hoover.org/bios/satter
[3]http://www.economicexpert.com/a/Operation:Greif.htm
[4]http://www.nationalreview.com/comment/comment-satter043002.asp
http://www.sais-jhu.edu/programs/res/papers/Satter_edited_final.pdf
[5]http://www.worldnetdaily.com/news/article.asp?ARTICLE_ID=19795
[6]Various sources, including http://tinyurl.com/yy7stz
[7]Satter, David, “The Shadow of Ryazan: Is Putin’s government legitimate?”, National Review, April 30, 2002; Satter, Darkness at Dawn, op. cit.; http://en.wikipedia.org/wiki/Russian_apartment_bombings
[8]http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/2958997.stm
[9]http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/europe/2958997.stm
[10]Various sources, including http://eng.trepashkin.ru/
[11]An independent documentary Nedoverie (“Disbelief”) about their campaign was made by Russian director Andrei Nekrasov and premiered at the 2004 Sundance Film Festival; http://tinyurl.com/y2puus
[12]Various sources, including http://eng.terror99.ru/who_is_who/index/
http://www.diacritica.com/communique/content/issuefour/e.html
[13]http://www.yabloko.ru/Publ/2006/2006_06/060620_novg_shekoch.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s