AS Segera Memperoleh Kendali Lebih Besar atas Pakistan Setelah “Serangan” NYC

Oleh: Shireen M Mazari
Senin, 10 Mei 2010
(Sumber: arthurzbygniew.blogspot.com dan www.nation.com.pk)

Hillary Clinton sekali lagi menampakkan jati dirinya dan mengeluarkan ancaman langsung “berkonsekuensi berat” terhadap Pakistan jika ‘serangan teror’ Times Square New York City berhasil dibuktikan berawal dari Pakistan. Kita teringat akan momen sebelumnya ketika Hillary, selama perjalanan kampanye gagalnya dalam pencalonan presiden dari Demokrat, menjawab pertanyaan apakah dirinya akan memakai senjata nuklir taktis terhadap Pakistan dalam konteks serangan teror yang terkait dengan Pakistan dan dia menyatakan tanpa sungkan, “Ya”! Dia juga mendukung Bush soal perang Irak sampai dirinya menyadari betapa tak populernya itu di negaranya. Dia juga berkarakter sangat mirip dengan Condi Rice!

Namun, ancaman terbarunya telah mengungkapkan tanpa ragu rencana permainan besar AS untuk Pakistan, dan yang menjadi masalah di sini bukanlah apa yang AS rencanakan, melainkan apa yang pemimpin kita perbuat atau tidak perbuat untuk melindungi diri dari agenda AS yang kian mengancam ini.

Tapi terlebih dahulu ada beberapa pertanyaan serius yang mesti diangkat oleh pemimpin kita dan Duta Besar kita untuk Washington yang biasanya bertele-tele, pertanyaan menyangkut episode Faisal Shahzad (terduga pelaku serangan—penj) yang mulai semakin terlihat sebagai insiden disengaja untuk menyedot Pakistan agar tak hanya menuruti nasehat AS menghadapi Waziristan Utara tapi juga menyediakan skenario yang akan memungkinkan lebih banyak pasukan AS masuk ke negeri ini dan mendorong AS lebih jauh hingga mengambil kendali atas aset nuklir kita secara paksa.

Mengapa kita mesti menduga insiden itu direkayasa?

Pertama: Mengapa bom itu tak meledak?

Kedua: Mengapa tergeletak jejak bukti sedemikian mudah untuk menelusuri Faisal Shahzad?

Ketiga: Mengapa dia mengakui segalanya begitu mudah dan cepat?

Keempat: Mengapa AS seketika, seolah sudah dipersiapkan, mulai menuntut izin untuk masuknya lebih banyak pasukan ke Pakistan?

Kelima: Mengapa CIA seketika mengumumkan serangan pesawat tempur lebih besar lagi terhadap Pakistan? Dengan kata lain, segalanya berjalan secara hampir sinkron dan berurutan sehingga pasti telah direncanakan.

Keenam: Mengapa pemerintah AS dan media tak menaruh perhatian pada dugaan hubungan Shahzad dengan ulama Yaman dan pada bantahan gamblang Taliban soal jalinan dengan Shahzad?

Tapi yang menggelisahkan adalah ungkapan dan keheningan seketika berbagai pemain di Pakistan – selain pernyataan singkat tapi perlu dari ISPR bahwa tak ada bukti nyata yang mengaitkan Shahzad dengan Waziristan dan militan di sana:

Pertama: Mengapa Duta Besar kita untuk Washington terus diam setelah kejadian, bukannya mengupayakan akses ke Faisal Shahzad, mengingat bahwa, meski dia merupakan warga negara AS, jalinan Pakistannya sedang dimainkan?

Kedua: Mengapa Menteri Luar Negeri Qureshi seketika menyatakan bahwa aksi Shahzad adalah balasan atas serangan pesawat tempur [AS terhadap Pakistan], bahkan sebelum Shahzad sendiri diduga berbicara soal akibat serangan tempur yang menggelisahkan itu? Apakah ada naskah bersama di sini? Apakah Qureshi tak tahu bahwa dengan membuat pernyataan semacam itu dia sedang mengakui kesalahan Shahzad? Yang lebih penting, bagaimana dia tahu perkara itu kecuali jika dia telah bertemu Shahzad, mengenalnya sebelumnya, atau telah diberitahu olehnya bahwa ini adalah alasan aksi yang diduga dilakukannya?

Ketiga: Dengan nada yang serupa, Menteri Dalam Negeri juga membuat pernyataan serupa seolah Shahzad sudah terbukti bersalah.

Keempat: Mengapa ayah Shahzad mesti ditangkap? Rupanya diumumkan bahwa penangkapannya adalah untuk memfasilitasi FBI, tapi apakah tugas pemerintah adalah untuk membantu dan bersekongkol dengan AS ataukah untuk melindungi warga negaranya sendiri? Tampaknya jawabannya adalah yang pertama, di mana ada sedikit perbedaan dalam cara pemerintahan demokratis [AS] ini memperlakukan warga negaranya dan cara Musharraf memperlakukan warga Pakistan.

Yang sungguh-sungguh menggelisahkan adalah keheningan pemimpin sipil dan militer untuk mempertanyakan maksud AS. Mengapa kita membiarkan AS mengancam kita sementara kita terus menghibur tim/delegasi sipil, militer, dan intelijen mereka? Mengapa kita tidak bersikeras mempertahankan tim investigasi kita di Washington jika AS bisa mengirim tim FBI ke Pakistan? Mengapa kita belum menuntut diadakannya Investigasi Gabungan mengenai isu Shahzad?

Setelah ancaman Clinton itu, sekurangnya bukankah mestinya pemerintah Pakistan menangguhkan kerjasama dengan AS, setidaknya sementara waktu? Bukankah semestinya duta besar kita menyampaikan ketidaksenangan terhadap ancaman terang-terangan ini? Penghentian suplai terhadap NATO dan penjatuhan pesawat tempur [AS] akan mengirim pesan lebih jelas daripada omelan apologetik dari pemimpin.

Terakhir, apakah militer kita dipersiapkan untuk mengkompromikan pertahanan dan keamanan kita, menargetkan lebih banyak warga sipil Pakistan, hanya demi menuruti nasehat AS dan memulai operasi Waziristan Utara yang prematur dan tergesa-gesa? Kebetulan, jika pemerintah tak mau menggunakan kemampuan angkatan udaranya dalam menembak jatuh pesawat tempur musuh, sebagaimana didemonstrasikan kepada Perdana Menteri baru-baru ini, untuk apa kita mempunyai sistem semahal itu? Jika kita tak bisa atau tak mau memerangi siapapun kecuali rakyat kita sendiri, kita perlu meninjau ulang belanja militer kita.

Sebagai kesimpulan, kita perlu melukiskan sekali lagi gambaran menyeluruh yang semestinya kini amat jelas bahkan bagi orang Pakistan paling rabun, mengingat adanya ancaman Clinton. Kirimkan lebih banyak pasukan AS untuk mendestabilkan Pakistan; dorong militer ke Waziristan Utara, sehingga merentangkan saluran komunikasinya dan kapabilitasnya dan memperburuk perpecahan sipil-militer serta keretakan etnis dan sektarian yang terpendam di dalam institusi militer, dengan begitu meruntuhkan kepaduan jangka panjangnya; operasi lain akan menambah terorisme di Pakistan, begitu pula dengan peningkatan serangan pesawat tempur di FATA; yakinkan dunia bahwa Pakistan sedang kacau dan mesti ada kontrol internasional atas nuklirnya melalui Dewan Kemanan PBB – yang efektifnya berarti kontrol AS.

Tak satupun agenda AS didasarkan pada taktik diplomasi-militer semata. Ada komponen ekonomi yang kuat pula. Bagaimanapun juga, faktor IMF bukan kebetulan belaka, begitu pula dengan manajer-manajer ekonomi baru yang memiliki hubungan kuat dengan AS/IMF/Bank Dunia yang baru-baru ini dibawa masuk ke Pakistan. Di samping semua ini, tumbuhnya ikut-campur AS di Pakistan pada berbagai level serta gambaran di atas semestinya menjadi bukti bahwa Pakistan sedang dikondisikan untuk dihancurkan. Yang kurang jelas bagi beberapa orang, meski tidak semua, adalah mengapa pemimpin kita mesti terlibat dalam penghancuran ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s