Aspartam Memicu “Kelainan Jiwa”

Rabu, 26 September 2007
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Aspartam, pemanis buatan yang kontroversial, telah dikaitkan dengan kanker, multiple sclerosis, penurunan penglihatan, dan banyak efek samping lainnya. Namun FDA maupun European Food Authority melakukan segala upaya untuk membantah bahwa aspartam bisa berdampak buruk bagi kita. Ajino**to, produsen pemanis tersebut, bergabung dalam paduan suara itu dengan studi yang meninjau ulang publikasi material terdahulu dan sampai pada kesimpulan bahwa aspartam…aman.

Gambar: The Common Voice

Dalam surat terbuka baru-baru ini kepada Food Safety Authority Inggris, Betty Martini mengangkat soal zat aditif dan perilaku anak. Tampaknya kombinasi zat pewarna dengan aspartam dan monosodium glutamat merusak:

Dr. Blaylock, ahli bedah syaraf, menulis: “Banyak studi mutakhir telah menunjukkan bahwa zat aditif makanan (seperti pewarna merah dan kuning, MSG, aspartam, gluten, dan gliadin) bisa mempengaruhi perilaku manusia secara merugikan – terutama pada anak kecil.

Tapi ketika Dr. Ben Feingold pertama kali membuat penegasan ini tahun 1975 silam, sebagaimana kita duga, komunits medis menolak keras. Kini bukti amat meyakinkan mengindikasikan bahwa ketika MSG dan aspartam dikombinasikan dengan pewarna makanan tertentu, efeknya bisa memiliki implikasi besar terhadap [kemampuan] belajar, ingatan, dan perilaku.

Dalam satu studi periset mengkombinasikan pewarna Brilliant Blue, Quinoline Yellow, L-aspartyl-L-phenylalanine methyl ester (aspartam), dan MSG. Mereka menemukan bahwa ketika zat-zat ini disatukan dan diberikan kepada seorang anak, itu menghambat perkembangan sel otak.

Contoh, dibandingkan dengan ketika zat aditif saja yang digunakan, laju penghambatan perkembangan sel adalah empat kali lebih tinggi saat MSG dikombinasikan dengan Brilliant Blue – dan tujuh kali lebih tinggi saat Quinoline Yellow dicampur dengan aspartam.”

Tapi menurut paper baru Ralph Walton, MD, aspartam tak hanya bisa memicu perubahan perilaku tapi juga kelainan jiwa serius berkat kemampuannya mempengaruhi sistem syaraf pusat:

Aspartam dan Kelainan Jiwa
Oleh: Ralph Walton, MD

Walaupun psikiatri jauh dari bidang ilmu pasti, selama setengah abad belakangan terdapat pertumbuhan pesat dalam pemahaman kita akan otak manusia dan, konsekuensinya, kemampuan kita mendiagnosa dan menangani kelainan mental. Kita juga telah jauh lebih tahu tentang dampak berbagai toksin terhadap proses-proses psikologis. Saya yakin salah satu toksin itu adalah aspartam.

Dua tahun setelah aspartam diperkenalkan ke pasar, saya pertama-tama tersadar akan dampak negatif pemanis buatan ini terhadap sistem syaraf pusat. Saya menangani seorang wanita tua (saat itu berusia 54 tahun) dengan imipramine, sebuah antidepresan trisiklik, lantaran kambuhnya episode depresif mayor. Terapi berbasis psikoanalisis sebelumnya telah terbukti tak efektif, tapi dia merespon 150 mg imipramine per hari secara dramatis. Dia telah menjalani pengobatan ini dengan baik selama 11 tahun, tapi saat itu mendadak diopname karena serangan grand-mal (kejang-kejang atau epilepsi diiringi kehilangan kesadaran—penj) disusul episode manik.

Seseorang boleh berpostulat bahwa wanita ini [menderita kelainan] bipolar, dan antidepresan telah memicu mania – tapi dia telah menjalani pengobatan yang sama selama total 11 tahun, dan selama 5 tahun sebelumnya dengan dosis sama yakni 150 mg per hari. Serangan grand-mal dan manianya tidaklah konsisten dengan apa yang kita ketahui tentang sumber klinis kelainan bipolar atau epilepsi. Sejarah mengungkap bahwa satu-satunya perubahan dalam hidupnya adalah keputusan belakangan untuk beralih dari gula yang biasa dia gunakan untuk memaniskan es tehnya ke produk yang baru dipasarkan yang mengandung aspartam.

Karena aspartam bisa mengubah keseimbangan transmiter syaraf tertentuyang kita percaya terlibat dalam kelainan mood dan bisa, menurut pendapat saya, mengubah ambang serangan [grand-mal], saya menyarankan pasien saya menghindari semua produk aspartam. Dia melakukannya, dan hasilnya tak terjadi lagi serangan grand-mal, tak ada lagi episode manik atau depresif. Saya menghentikan penggunaan lithium carbonate yang saya mulai ketika keliru menyimpulkan bahwa dia menderita kelainan bipolar, mengembalikan lagi pemakaian imipramine dan kondisinya terus baik.

Setelah laporan ini dipublikasikan dalam literatur medis, banyak pasien dengan serangan tak jelas atau bermasalah kejiwaan yang resisten terhadap pengobatan dirujuk kepada saya. Saya jadi semakin yakin bahwa aspartam dapat memicu aktivitas serangan dan menyerupai atau memperburuk berbagai kelainan jiwa. Saya mempresentasikan sebuah paper berdasarkan pasien-pasien tersebut dalam sebuah konferensi yang disponsoi MIT pada 1987 mengenai Dietary Phenylalanine and Brain Function.

Kritik-kritik yang disponsori industri mengatakan bahwa kesimpulan saya menyangkut toksisitas aspartam tidak dapat diakui valid sebab laporan-laporan kasus saya “hanya anekdot” dan tidak berdasarkan riset buta ganda. Sialnya saat ini laporan kasus tak ada urusan dalam literatur medis mainstream yang mestinya menampungnya (secara historis banyak kemajuan medis didasarkan pada observasi cermat atas pasien-pasien individual).

Meski demikian, saya begitu yakin akan toksisitas aspartam, dan keharusan untuk mengusahakan agar bahayanya lebih diakui luas di komunitas medis, sehingga saya menjalankan studi buta ganda. Studi tersebut – “Adverse Reactions to Aspartame: Double-Blind Challenge in Patients from a Vulnerable Population” dipublikasikan dalam Biological Psychiatry pada 1993. Studi itu mendemonstrasikan bahwa individu-individu berkelainan mood paling sensitif terhadap aspartam dan mengalami penekanan depresi dan banyak gejala fisik. Saya telah menduga bahwa kesukaran yang dialami pasien penerima aspartam lumayan ringan (dosis 30 mg/kg/hari berada di bawah level 50 mg/kg/hari yang dianggap “aman” oleh FDA). Saya tidak siap terhadap keparahan reaksi, dan untuk alasan etika yang jelas saya tak dapat melakukan studi manusia lanjutan dengan aspartam.

Setelah bertahun-tahun kemudian saya terus melihat banyak konsekuensi neurologis dan kejiwaan dari penggunaan aspartam. Ini dapat menurunkan ambang serangan dan membawa pada diagnosa epilepsi yang keliru, dengan resep antikonvulsan yang tak sesuai. Ini bisa menyerupai atau memperburuk gejala-gejala Multiple Sclerosis, dan paradoksnya dapat mengakibatkan kecanduan karbohitrat dan kenaikan berat badan. Epidemi obesitas dan diabetes tipe 2 di seluruh dunia jelas memiliki berbagai sebab, tapi saya yakin aspartam merupakan faktor utama.

Peningkatan pesat dasar pengetahuan kita dalam ilmu syaraf yang saya sebut di awal adalah topik di luar lingkup laporan singkat ini, tapi untuk sederhananya, kita tahu bahwa dalam berbagai kelainan jiwa terdapat gangguan pada keseimbangan transmiter syaraf tertentu. Serotonin, norepinephrine, dopamine, dan acetylcholine merupakan pemain utama.

Aspartam dapat mempengaruhi level dan keseimbangan semua transmiter ini. Ia merusak penyerapan L-tryptophan, prekursor utama dalam sintesa serotonin.

Phenylalanine dari komponen dipeptide molekul aspartam, merupakan prekursor utama dalam jalan sintesis norepinephrine-dopamine. Riset anyar mendemonstrasikan bahwa aspartam menurunkan acetylcholinesterase, enzim yang mengurai acetylcholine – pemain kunci di sistem syaraf pusat, dengan peranan penting yakni kognisi dan ingatan, dan hubungan inhibitor timbal-balik dengan dopamine.

Kita tak cukup maju saat ini untuk memahami sepenuhnya semua implikasi perubahan neurokimiawi yang ditimbulkan oleh aspartam, tapi sebagai dokter yang sibuk saya melihat dampak mendalam terhadap kehidupan pasien dalam keseharian. Ia dapat menghasilkan dan memperburuk depresi, dan pada pasien tertentu dapat memicu episode manik, dapat menghasilkan atau memperburuk serangan panik. Beberapa pasien saya telah menghentikan serangan panik sepenuhnya dan tak lagi memerlukan penanganan setelah mereka menyingkirkan aspartam dari makanan mereka. Pasien schziphrenia tertentu mengalami penurunan halusinasi pendengaran atau memerlukan pengobatan antipsikotis tak banyak setelah menyingkirkan aspartam.

Penting sekali meningkatkan kesadaran akan bahaya zat amat beracun ini!

One thought on “Aspartam Memicu “Kelainan Jiwa”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s