Flouride Menumpuk di Kelenjar Kerucut

Sabtu, 30 Desember 2006 (Update: Rabu, 13 Februari 2008)
(Sumber: www.newmediaexplorer.org)

Flouride, yang ditambahkan pada pasokan air di banyak kota dan kabupaten dan dijual oleh WalMart dalam nursery water (air untuk bayi)-nya, punya kecenderungan menumpuk bukan hanya di gigi yang sedang tumbuh sehingga menyebabkan perubahan warna gigi, dan di tulang sehingga membuatnya rapuh. Mineral ini terkait dengan kanker dan ia juga menumpuk di kelenjar kerucut, pusat kendali hormon yang penting, di mana ia mendatangkan kerusakan lumayan. Paul Connett dari Flouride Action Network mengomentari riset Jennifer Luke yang merupakan bagian dari tesis PhD Jennifer dan baru saja dipublikasikan dalam Caries Research dengan judul: Flouride Deposition in the Aged Human Pineal Gland.

Flouride adalah racun, tapi kita menambahkannya pada air dan pasta gigi kita dan bahkan menyebutnya suplemen, walaupun ia tak memiliki nilai gizi. Nilai pengobatannya – pencegahan pembusukan gigi – adalah penjelasan resmi atas penambahan mineral beracun tersebut pada pasokan air. Tapi nilai tersebut tak seberapa dibanding efek sampingnya yang beracun – cukup terdokumentasikan oleh Paul Connett dalam Statement of Concern-nya.

Legislasi suplemen pangan Uni Eropa belum lama ini menggolongkan flouride sebagai unsur esensial untuk ditawarkan sebagai suplemen. Ini agak ironis bila dibandingkan dengan kecemasan pura-pura para legislator Eropa atas dugaan toksisitas vitamin dan upaya mereka membatasi dosis nutrisi vital ini demi “melindungi kesehatan masyarakat”.

Kita juga menggunakan flouride pada banyak barang rumah tangga, misalnya wajan anti-lengket, kain anti-air berteknologi tinggi, dan lain-lain. Belum lama ini, setidaknya beberapa upaya malu-malu untuk mulai menaksir beban penyakit yang ditimbulkan oleh flouride dilakukan. Jurnal Water Health memuat artikel mengenai riset ini. Sementara itu di AS, FDA telah memutuskan bahwa flouride diperbolehkan dalam air botolan, barangkali untuk menghormati sumbangan WalMart.

Penggunaan flouride untuk alasan “kesehatan” merupakan salah satu kegilaan besar zaman kita. Apa cuma kebetulan bahwa Jerman dan Rusia menggunakan flouride untuk membuat tahanan menjadi bodoh dan patuh atau bahwa pemerintah AS menghadapi gugatan hukum atas efek beracun di lingkungan produk sampingan limbah nuklir ini?

Barangkali dorongan untuk ‘memperkaya’ air dan makanan kita dengan flouride memiliki suatu motif tersembunyi yang tak banyak kaitannya dengan kesehatan. Bagaimanapun juga, kampanye flouridisasi masih ramai dan otoritas kesehatan mendorong racun tersebut seolah gaji bulanan mereka bergantung padanya.

Tesis PhD Jennifer Luke mengenai flouride dan penumpukanya di kelenjar kerucut – kata Paul Connett riset tersebut mungkin dapat mengakhiri [flouridasi] secara ilmiah:

Flouride dan Kelenjar Kerucut: Studi dipublikasikan dalam Caries Research
Oleh: Paul Connett

Roda sains berjalan amat lambat. Akhirnya, paruh pertama karya yang menjadi subjek tesis PhD Jennifer Luke: presentasi di Bellingham (Washington) (konferensi ISFR) pada 1998 dan rekaman wawancara saya dengannya (lihat www.flouridealert.org/videos.htm), telah dipublikasikan dalam Caries Research.

Dalam pandangan saya, karya ini sangat penting dan bisa (atau mesti) mengakhiri flouridasi secara ilmiah.

Ketika Luke menemukan bahwa kelenjar kerucut – kelenjar kecil di pusat otak, yang bertanggungjawab atas banyak aktivitas pengaturan (ia memproduksi serotonin dan melatonin) – juga merupakan jaringan mengapur, seperti gigi dan tulang; dia berhipotesis itu akan mengumpulkan flouride hingga level amat tinggi. Kelenjar tersebut tak dilindungi oleh rintangan darah-otak dan memiliki laju perfusi darah amat tinggi, nomor dua setelah ginjal.

Luke menganalisa 11 mayat di Inggris. Sebagaimana dia prediksi, dia menemukan level flouride amat tinggi pada kristal-kristal kalsium hidroksiapatit yang diproduksi oleh kelenjar keurcut. Rata-rata sebesar 9000 ppm dan mencapai setinggi 21.000 ppm dalam sebuah kasus. Level ini setara atau lebih tinggi dari level flouride pada tulang penderita fluorosis kerangka. Temuan-temuan inilah yang baru saja dipublikasikan.

Konsekuensi temuan ini masih harus dipublikasikan. Dalam paruh kedua karyanya, dia menangani hewan-hewan (gerbil Mongolia) dengan flouride di sebuah unit penelitian kelenjar kerucut ternama di Universitas Surrey, Inggris, (jadi kualitas karya ini tak perlu disangsikan). Dia menemukan bahwa produksi melatonin (sebagaimana diukur dari konsentrasi metabolit melatonin pada urin) lebih rendah pada hewan yang ditangani dengan level flouride tinggi dibanding hewan yang ditangani dengan level flouride rendah.

Luke berhipotesis bahwa salah satu dari empat enzim yang diperlukan untuk mengkonversi asam amino tryptophan (pada makanan) menjadi melatonin dihalangi oleh flouride. [Enzim] itu bisa salah satu dari dua enzim yang mengkonversi trytophan menjadi serotonin atau salah satu dari dua enzim yang mengkonversi serotonin menjadi melatonin.

Signifikan? Sangat. Melatonin bertanggungjawab mengatur semua jenis aktivitas dan ada banyak karya yang menyelidiki kemungkinan perannya dalam penuaan, kanker, dan banyak proses kehidupan lainnya. Satu aktivitas yang paling menarik perhatian Luke adalah permulaan pubertas. Level melatonin tertinggi (hanya diproduksi pada malam hari) dihasilkan pada anak-anak belia. Diduga kejatuhan level melatonin inilah yang bertindak seperti jam biologis dan memicu permulaan pubertas. Dalam studinya terhadap gerbil, dia menemukan bahwa hewan yang ditangani dengan level flouride tinggi mencapai pubertas lebih awal daripada hewan yang ditangani dengan level flouride rendah.

Kita tahu dari studi-studi mutakhir – dan liputan pers yang lumayan banyak – bahwa gadis-gadis belia di AS mencapai pubertas semakin awal. Luke tidak sedang mengatakan bahwa flouride (atau flouridasi) adalah penyebabnya tapi karyanya melambaikan bendera peringatan yang amat mengkhawatirkan. Peran Flouride dalam kedinian pubertas memerlukan penyelidikan lebih menyeluruh. Ada catatan sejarah yang menarik, dalam percobaan flouridasi Newburgh versus Kingston (1945-1955), ditemukan bahwa gadis-gadis di Newburgh yang diflouridasi mencapai menstruasi, rata-rata, lima bulan lebih awal daripada gadis-gadis di Kingston yang tak diflouridasi, tapi temuan tersebut tak dianggap signifikan pada masa itu (Schlessinger dkk, 1956).

Ketika kita memikirkan keseriusan gangguan potensial oleh flouride terhadap kelenjar kerucut seorang anak yang sedang tumbuh dewasa (dan untuk itu juga kelenjar kerucut kaum manula), itu menekankan betapa sembrononya flouridasi. Prinsip pencegahan, juga akal sehat, menyatakan bahwa Anda jangan mengambil resiko seperti ini terhadap anak-anak kita untuk keuntungan yang senilai dengan 0,6 dari 128 permukaan gigi pada mulut anak (Brunelle dan Caarlos, 1990, Tabel 6).

Saya memiliki salinan tesis PhD Luke dan bersedia membaginya dengan orang-orang yang punya perhatian serius terhadap isu ini. Referensi lain yang dikutip di atas dapat ditemukan dalam Statement of Concern saya yang dipublikasikan di laman FAN: www.flouridealert.org/flouride-statement.htm.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s