Kejahatan Perang AS di Afghanistan: Beberapa Kepala Manusia Diacungkan

Senin 25 April 2011
(Sumber: www.asiantribune.com)

Edisi teranyar harian Jerman, Der Spiegel, dan jurnal AS, Rolling Stone, mengungkap hantu psikopat menjijikan dan aneh dalam Angkatan Bersenjata AS, yang membunuh warga Afghan secara dingin dan mengacungkan kepala korbannya yang terputus layaknya memburu trofi. Artikel Der Spiegel diberi judul: ‘Das zweitte Abu Ghuraib’; sedangkan artikel Rolling Stone yang berjudul ‘The Kill Team: How U.S. Soldiers in Afghanistan Murdered Innocent Civilian’ menceritakan kisah yang sama.

Website populer Opinion Maker memberikan deskripsi yang mengerikan tentang kejahatan terhadap kemanusiaan ini.

Deskripsi mengerikan itu berkenaan dengan sekelompok prajurit AS dari Kompi Bravo, Platon ke-3—bagian dari Brigade Stryker ke-5, yang dikerahkan di Afghanistan, yang menghabisi warga Afghan tak berdosa hanya untuk kesenangan menyimpang mereka. Salah satu penjahatnya, Kopral Jeremy Morlock, bahkan memutus kelingking korban pertamanya Gul Mudin, seorang pemuda Afghan tak bersenjata berusia 15 tahun dari La Mohammad Kalay lalu membawa-bawanya sebagai suvenir. Kebejadan mental kelompok ini telah mencapai tahap di mana foto-foto kepala yang menggemparkan diperlakukan seperti cinderamata perang dan diserahkan dari prajurit ke prajurit melalui tangan dan harddisk. Koleksinya juga meliputi beberapa video yang direkam oleh pasukan AS.

Opinion Maker melanjutkan: Dalam klip menggoncangkan berdurasi 30 menit yang berjudul Motorcycle Kill, prajurit-prajurit AS, diyakini bersama batalion lain dalam Brigade Stryker, menembak jatuh dua warga Afghan pengendara sepeda motor yang kemungkinan bersenjata. Salah satu file paling mengerikan memperlihatkan dua warga Afghan, yang diduga sedang menanam IED (improvised explosive device), diledakkan dalam sebuah serangan udara. Direkam lewat pencitraan termal, rekaman grainy ini telah disunting menjadi video musik, lengkap dengan soundtrack rock dan judul berbunyi death zone.

Bahkan sebelum kejahatan perang ini diketahui publik, Pentagon melakukan langkah luar biasa untuk memberangus foto-foto—upaya yang mencapai level tertinggi di kedua pemerintahan. Jenderal Stanley McChrystal dan Presiden Hamid Karzai dikabarkan diberi penjelasan ringkas tentang foto-foto seawalnya pada Mei 2010, dan militer meluncurkan upaya masif untuk menemukan setiap file dan menarik gambar dari peredaran sebelum menimbulkan skandal setingkat Abu Ghuraib.

Bagian menyedihkan adalah bahwa AS, kampiun hak asasi manusia, bukan peserta penandatangan UU Komisi HAM Internasional. Pada abad 21, AS aktif berusaha meruntuhkan Statuta Pengadilan Kejahatan Internasional Roma. Pemerintah AS dikritik atas pelanggaran HAM di dalam negeri maupun di luar negeri, terutama dalam sistem peradilan pidana dan isu-isu keamanan nasional. Hukum internasional dan AS melarang penyiksaan dan perlakuan buruk lainnya terhadap seseorang dalam tahanan dalam segala kondisi.

Namun, Pemerintah AS telah menggolongkan banyak orang sebagai kombatan tak sah, sebuah klasifikasi AS yang mengingkari hak penetapan tahanan perang oleh Konvensi Jenewa.

Praktek-praktek tertentu militer AS dan CIA telah dikutuk oleh beberapa sumber dalam negeri dan internasional sebagai penyiksaan. Perdebatan sengit menyangkut teknik interogasi non-standar terjadi dalam komunitas intelijen sipil dan intelijen militer AS, tanpa konsensus umum mengenai apa saja dan di bawah kondisi bagaimana praktek-praktek yang diperbolehkan. Penyiksaan/pelecehan tahanan dipertimbangkan sebagai kejahatan dalam Uniform Code of Military Justice AS, tapi penyiksaan/pelecehan di penjara Abu Ghraib, interogasi intensif, penyiksaan penghuni Guantanamo, rendisi luar biasa, waterboarding, dan kini munculnya tim pembunuh di Afghanistan telah membawa stigma besar pada AS.

AS berkeberatan menandatangani atau meratifikasi berbagai perjanjian HAM internasional lantaran khawatir atas penyiksaan oleh personil angkatan bersenjatanya yang terlibat dalam aktivitas di atas. Fakta tegasnya, angkatan bersenjata AS menderita lelah bertempur, setelah terlibat dalam perang tak perlu di Afghanistan dan Iraq, yang telah memakan korban 4.765 personil militer AS di Iraq, 2.403 di Afghanistan, dan setelah membantai 1.421.933 rakyat Iraq dan lebih dari 30.000 rakyat Afghan dengan biaya $1.180.653.714.792, pasti menghasilkan efek merugikan bagi kombatan AS dan mengubah mereka menjadi “Tim Pembunuh”, kata Opinion Maker.

Rolling Stone membicarakan kombatan AS yang, demi kesenangan berdarah semata yakni membunuhi rakyat Afghan, melempar gula-gula dan permen dari kendaraan Stryker lalu ketika anak-anak Afghan yang lapar dan papa berlari untuk memungutnya, mereka diberondong dengan peluru.

Sejauh ini Pentagon memberangus skandal ini dengan menyatakan bahwa ada tim-tim bajingan dalam militer yang akan ditangkap, diadili, dan dihukum. Namun penyakit ini tampaknya jauh lebih serius dan memerlukan perhatian cermat dan segera, sebelum skandal pelanggaran HAM yang lebih buruk lagi muncul.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s