Mossad dan Dinas Mata-mata India Bekerjasama Membidik Pakistan

Jumat 28 November 2008
(Sumber: sos-at.blogspot.com)

“Penting sekali kita menyerang dan mengganyang Pakistan, musuh Yahudi dan Zionis, melalui segala rencana samar dan rahasia.” (David Ben Gurion, Perdana Menteri pertama Israel)

Grup informasi Janes, sumber terdepan dunia mengenai informasi intelijen, melaporkan bahwa “Dinas mata-mata India, RAW, dan dinas mata-mata Israel, Mossad, telah mendirikan empat dinas baru untuk menginfiltrasi Pakistan guna membidik tokoh-tokoh penting keagamaan dan militer, jurnalis, hakim, pengacara, dan birokrat. Selain itu, bom-bom akan diledakkan di kereta, stasiun kereta, jembatan, terminal bus, bioskop, hotel, masjid sekte-sekte Islam yang bersaing, untuk menghasut sektarianisme.”

Dinas intelijen Pakistan juga mengatakan bahwa RAW telah merancang rencana untuk memikat pria-pria Pakistan berusia antara 20 sampai 30 untuk mengunjungi India agar dapat dijebak “dalam kasus mata uang palsu dan subversi dan kemudian dipaksa menjadi mata-mata India.”

Ini merupakan puncak penguatan aliansi jahat yang berawal sejak dahulu dan terus memperketat jeratnya di leher Pakistan, Iran, Afghanistan, dan Asia Tengah.

Rupanya RAW dan Mossad—baik sendiri-sendiri atau bersama-sama, baik sembunyi-sembunyi atau terang-terangan—telah melakukan upaya untuk mempenetrasi kalangan sensitif eselon tinggi di Pakistan.

Tidak bisa dikatakan dengan pasti, tapi ada beberapa alasan untuk berasumsi bahwa Benazir Bhutto, mantan perdana menteri Pakistan, disadari atau tidak, bermain di tangan dalang-dalang RAW-Mossad. Dia menunjuk Rehman Malik sebagai kepala Federal Investigation Agency yang kemudian meluncurkan perang rahasia melawan para Islamis; mengakibatkan serangan langsung terhadap ISI.

Perang melawan ekstrimis keagamaan bisa menjadi tujuan terpuji tapi itu rupanya hanya membidik elemen-elemen yang memiliki kemiripan kemoderatan dengan kelompok keagamaan yang tersebar di masyarakat Pakistan.

Sehingga, menyisakan medan yang terbuka lebar bagi para ekstrimis.

Rupanya militer Pakistan sama-sama cemas oleh laporan-laporan kontak FIA dengan dinas rahasia Israel, Mossad, untuk menginvestigasi teroris Islam.

Salah sati tindakan pertama Presiden Leghari setelah memecat Benazir Bhutti pada 5 November 1996 adalah memenjarakan Ghulam Asghar, kepala FIA, diskors dari jabatan atas tuduhan korupsi non-spesifik. Rehman Malik, Wakil Direktur Jenderal FIA, juga ditahan.

Sulit dikatakan apakah tindakan ini merupakan konsekuensi dari plot RAW-Mossad atau hanya masalah internal.

Kunjungan Bhutto ke India tahun lalu ketika Pakistan sedang mengalami salah satu krisis terburuk dalam sejarahnya, dan pernyataan Bhutto di sana yang ditujukan untuk meruntuhkan seluruh fondasi Pakistan, menghasilkan lebih dari sekadar kejapan keraguan dalam pikiran yang analitis.

Pertanyaan mendasar muncul: Saiapa Benazir Bhutto?

Mari kembali ke soal koneksi RAW-Mossad, tinggalkan saja Benazir Bhutto dengan nasibnya sendiri.

Sekarang yang jelas adalah bahwa RAW India dan Mossad Israel sedang berkolaborasi secara ekstensif untuk mengekang gerakan kemerdekaan Kashmir dan mendestabilkan Pakistan.

Suratkabar India, The Pioneer, menulis pada 3 Maret 2001: “Pemagaran perbatasan India-Pakistan tidaklah cukup. Untuk mengecek terorisme lintas perbatasan yang disponsori Pakistan, para ahli keamanan terkemuka Israel telah menyatakan bahwa peralatan canggih yang meliputi sistem radar palang elektronik sampai perangkat pencitraan termal mesti segera dipasang di perbatasan internasional India yang sensitif di sektor Jammu, Kashmir, dan Punjab.”

Tim ahli tersebut, meliputi pejabat Mossad, Angkatan Israel, dan Israel Aircraft Industries (IAI), juga menemukan celah mengejutkan dalam susunan keamanan terkait Samjhauta Express yang banyak dibicarakan. Mereka menyarankan agar kereta ini berhenti di perbatasan Attari, bukan Lahore. Sumber-sumber di Kementerian Dalam Negeri mengatakan bahwa ahli-ahli Israel mensurvey perbatasan internasional sepanjang 198 km di Jammu dan Punjab dan meninjau rute Samjhauta Express bersama pejabat tinggi Pasukan Pengaman Perbatasan.

Sesudah itu, mantan Direktur Jenderal Pasukan Pengaman Perbatasan, E.N. Ram Mohan, ditunjuk sebagai konsultan pengelolaan perbatasan. Tn. Ram Mohan merekomendasikan penggunaan balon udara dan peralatan FLIR di samping radar.

India tertarik membeli pesawat pengamatan (UAV) dari Israel untuk menjadi taring intelijen. UAV itu juga bisa membantu kepolisian dalam mengawasi area-area Andhra Pradesh yang dikuasai Naxal (kelompok komunis).

Selama beberapa tahun, Mossad dan dinas intelijen dalam negeri Israel, Shinbhet, telah menggunakan pesawat tak berawak untuk mempatroli perbatasan Gaza yang sangat sensitif.

Qutbuddin Aziz, mantan duta besar Pakistan di London, menulis sebuah artikel luar biasa, berjudul Dangerous Nexus Between Israel & India. Artikel ini dipubliksaikan oleh sebuah suratkabar ternama Pakistan pada 1 April 2001.

Aziz menulis: “Detil rahasia kunjungan Menteri Dalam Negeri India, LK Advani, ke Israel pada Juni 2000, menunjukkan bahwa kesepakatan yang dia capai dengan Israel akan menjadikan India dan Israel mitra dalam mengancam dunia Muslim dengan kosnpirasi jahat untuk memecah-belah dan melumpuhkannya sebagai kekuatan politik di dunia. Detil pertemuannya dengan para penguasa Israel, terutama kepala Kementerian Dalam Negeri dan dinas-dinas intelijen Israel, Mossad dan Sabak, menyingkap bahwa rencana yang dia buat untuk operasi spionase gabungan India-Israel di area-area penting dunia Muslim akan menjadikan kedutaan India di negara-negara Muslim sebagai mata dan telinga jaringan mata-mata Israel penuh intrik di seluruh dunia.

“Di bawah eufimisme ‘kontra-terorisme’, India mengizinkan Israel membangun kekuatan mata-mata besar di India yang akan, di antaranya, menggali dan memonitor individu dan kelompok ‘fundamentalis Islam’ untuk dieliminiasi lewat proses-proses ekstra yudisial atau lewat pembunuhan berdarah dingin dan penculikan.

“Pertemuan terpenting yang dijalani Menteri Dalam Negeri India Advani selama tur tiga harinya di Israel pada 13-16 Juni adalah dengan pembesar dinas-dinas intelijen Israel di Tel Aviv. Memimpin tim Israel adalah kepala kepolisian Israel yang berpengaruh, Yehuda Wilk, serta kepala dinas intelijen Israel, Mossad dan Sabak, dan pejabat militer yang mengurusi operasi spionase dan penghukuman terhadap warga Arab di Israel, Palestina, dan negara-negara tetangga seperti Libanon dan Suriah. Pejabat senior dari Kementerian Luar Negeri, Pertahanan, dan Dalam Negeri Israel menghadiri pertemuan ini. Pakar-pakar deteksi bom juga hadir.

“Tim besar Tn. Advani meliputi ahli mata-mata tingkat tinggi seperti Direktur Biro Intelijen (Tn. Shayamal Dutta), Direktur Biro Investigasi Pusat (Tn. R.K. Raghvan), kepala Pasukan Pengaman Perbatasan India (Tn. E.M. Ram Mohan), sekretaris berpengaruh di Kementerian Dalam Negeri India (K. Panda) yang mengawasi pekerjaan dinas mata-mata India yang terkenal (RAW) dan membangun kerjasama dengan Kementerian Luar Negeri India dalam urusan agen-agen rahasia RAW yang bekerja di kedutaan India di luar negeri, dan seorang perwira senior dinas intelijen militer (setara dengan ISI-nya Pakistan).

“Dalam pertemuan tingkat tinggi di Tel Aviv pada 14 Juni tersebut, Afvani dikabarkan berterima kasih kepada pemerintah Israel atas bantuan besarnya terhadap India dalam masalah keamanan dan membicarakan bahaya yang dihadapi India dan Israel dari musuh bersama mereka, yakni tetangga-tetangga Muslim.

“Advani, dikabarkan, sangat memuji bantuan yang diberikan Mossad dan personil komando tentara kepada tentara India dalam perang terhadap ‘militan Muslim’ di Kashmir dan terhadap ‘teroris Muslim’ semisal ‘Memon bersaudara’ dari Mumbai di Dubai. Advani berkata dirinya, sepanjang karir politiknya, telah menyokong pengakuan dan persahabatan India dengan Israel dan bahwa partainya telah memainkan peran kunci dalam memaksa pemerintah partai Kongres untuk memiliki hubungan diplomatik penuh dengan Israel pada 1992.

“Dia menyanjung kerjasama India-Israel dalam bidang militer, ekonomi, dan lainnya. Advani mengenang, India mendukung mosi AS di PBB untuk menyamakan Zionisme dengan rasisme. Tn. Advani menjelaskan panjang-lebar permasalahan keamanan India di mana bahaya dari Muslim Pakistan dan India yang memperoleh uang dari Arab dianggap besar. Advani memberi daftar panjang dinas-dinas mata-mata khusus dan perangkat anti pemberontakan dan peralatan mata-mata yang amat dibutuhkan India dari Israel untuk memerangi ‘terorisme Muslim’.

“Dalam pertemuan 14 Juni di Tel Aviv itu, Kepala Kepolisian Israel, Yehuda Wilk, memuji India setinggi langit atas persahabatannya dengan Israel dan menjanjikan bantuan kepada pemerintah India dalam memerangi ‘terorisme Muslim’ yang menimbulkan ancaman baru bagi Israel dan India. Kepala dinas-dinas intelijen India lalu memberi penerangan ringkas kepada pihak Israel mengenai situasi dasar di India berkaitan dengan ‘teroris Muslim’, terutama di Jammu dan Kashmir, dan bahaya baru bagi India dan Israel akibat bom Pakistan dan kecemasan bahwa Pakistan akan memberikan senjata nuklirnya kepada negara-negara Arab anti-Israel.

“Pihak India memperlihatkan minat dalam belajar dari ahli keamanan Israel tentang cara mereka menjalankan wilayah caplokan dari Libanon yang Israel kuasai selama 18 tahun dan diserahkan baru-baru ini. India menghimpun beberapa informasi tentang penyiksaan dan metode investigasi Israel berkenaan dengan penanganan pembangkang Arab dalam wilayah Israel dan di wilayah Otoritas Palestina.

“India memberi Israel daftar belanja panjang berupa peralatan mata-mata, penyiksaan, dan pengamatan seperti pemagaran elektronik di lokasi sensitif, sistem laser, roket jarak pendek, sniper jarak jauh, zeppelin pengawas, perisai raksasa, perangkat night vision, pesawat tanpa awak buatan divisi MALAT Israeli Aircraft Industries Limited, seragam pelindung khusus dan alat untuk personil keamanan, perangkat dan gadget pengintai lintas perbatasan, pelatihan dan pengerahan mata-mata dan alat khusus untuk mereka, penggunaan komputer dan internet untuk spionase dan disinformasi, pemecahan sandi, penguntitan agen musuh dan penyingkirannya, spionase nuklir, pencurian rahasia negara musuh dan berbagi [informasi rahasia tersebut] untuk kebaikan India dan Israel dan persahabatan mereka yang saling menguntungkan.

“Israel tertarik mendapatkan akses terhadap laporan-laporan rahasia diplomat terselubung RAW dari negara-negara Muslim tertentu yang memiliki perhatian khusus pada Israel (terutama Pakistan, Libya, dan Iran). India rupanya bersedia memberikan akses Central Intelligence Processing Unit (CIPU) Kementerian Dalam Negeri di New Delhi kepada agen-agen Israel. Ini belakangan diatur di bawah arahan Advani dengan bantuan Israel dan AS. Seorang perwira RAW yang dipilih secara cermat, yang dipercayai oleh Advani, mengepalai satuan ini. Israel menginginkan akses penuh terhadap data informasinya. Pemerintah India sudah mengizinkan akses terhadapnya melalui dinas-dinas intelijen Amerika yang kini bekerjasama dengan pemerintah India dalam apa yang disebut tugas anti-teroris.

“Website Federasi Ilmuwan Amerika mengomentari RAW dalam kata-kata berikut: ‘RAW telah terlibat dalam kampanye disinformasi, spionase, dan sabotase terhadap Pakistan dan negara-negara tetangga lainnya. Dalam upaya ini, RAW menikmati sokongan pemerintahan India yang bergantian berkuasa. Bekerja langsung di bawah Perdana Menteri, struktur, pangkat, gaji, dan penghasilan tambahan Research & Analysis Wing dirahasiakan dari Parlemen.’”

Tarek Fatah, cendekiawan turki yang menetap di Kanad, menulis: “Publikasi pertahanan otoritatif dan terhormat di Inggris, Jane’s Terrorism & Security Monitor, melaporkan bahwa Israel dan India telah membentuk hubungan militer dan bahwa intelijen Israel aktif di Kashmir yang diduduki [India].

“Publikasi itu menyebutkan: Dinas-dinas intelijen Israel telah dan sedang mengintensifkan hubungan dengan aparat keamanan India dan wajar kini sangat terlibat dalam membantu New Delhi militan Muslim di provinsi Kashmir yang dipersengketakan…”

Ed Blanche menulis dalam Janes Security pada 14 Agustus 2001: “Dinas-dinas intelijen Israel telah dan sedang telah dan sedang mengintensifkan hubungan dengan aparat keamanan India dan wajar kini sangat terlibat dalam membantu New Delhi militan Muslim di provinsi Kashmir yang dipersengketakan, satu-satunya negara bagian India yang bermayoritas Muslim yang terletak di jantung konflik dengan tetangga, Pakistan.

“Israel memiliki beberapa tim di Kashmir yang kini melatih pasukan kontra-pemberontakan India untuk memerangi lusinan kelompok gerilya separatis yang beroperasi di sektor negara sengketa yang dikuasai India.

“Besarnya keterlibatan dinas intelijen Israel di Kashmir masih belum jelas, tapi itu sesuai dengan meningkatnya fokus Israel pada peristiwa-peristiwa di Asia Tengah, dan jauh mencapai Indonesia, negara berpopulasi Muslim terbesar di dunia, untuk menghadang fundamentalisme Islam, yang dianggapnya sebagai ancaman besar.

“Shimon Peres, menteri luar negeri Israel sekarang, mengatakan dalam kunjungan ke New Delhi pada Januari 2001 (sesaat sebelum dia memangku posnya saat ini dalam pemerintahan koalisi Perdana Menteri Ariel Sharon) bahwa Israel bersiap bekerjasama dengan India untuk memerangi terorisme. Beberapa minggu sebelumnya, sebuah tim kontra-terorisme Israel, meliputi spesialis intelijen militer dan komandan kepolisian senior, mengunjungi Kashmir yang dikuasai India dan kawasan-kawasan lainnya yang sedang bergulat dengan militan anti-pemerintah untuk menaksir kebutuhan keamanan India.”

Jika masih ada keraguan mengenai maksud Israel yang sesungguhnya, maka silakan baca pernyataan yang dikeluarkan oleh Ben Gurion, Perdana Menteri pertama Israel. Kata-katanya, sebagaimana dimuat dalam Jewish Chronicle, 9 Agustus 1967, tidak perlu lagi disangsikan:

“Gerakan Zinois dunia tidak boleh mengabaikan bahaya Pakistan terhadapnya. Dan Pakistan kini mesti menjadi sasaran pertamanya, sebab Negara ideologis ini merupakan ancaman bagi eksistensi kita. Dan Pakistan, secara keseluruhan, membenci Yahudi dan mencintai Arab. Pecinta Arab ini lebih berbahaya daripada Arab sendiri. Untuk itu, penting sekali Zionisme dunia kini mengambil langkah segera terhadap Pakistan. Sementara itu, penghuni semenanjung India adalah Hindu yang hatinya penuh kebencian terhadap Muslim, oleh sebab itu India merupakan pangkalan paling penting bagi kita untuk bekerja melawan Pakistan. Penting sekali kita mengeksploitasi pangkalan ini dan menyerang dan mengganyang Pakistan, musuh Yahudi dan Zionisme, melalui segala rencana samar dan rahasia.”

Kami berterima kasih kepada Tariq Saeedi atas izinnya untuk mencetak ulang keutipan dari laporan khususnya yang pertama kali muncul dalam The Balochistan Post. Untuk arsip terbitan-terbitan Global-Intel, klik www.topica.com. Untuk ulasan baru SEEDS OF FIRE, klik www.freedommag.org. Gordonthomas-subscribe@topica.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s