Cerita Detektif

Oleh: John Kaminski
14 Februari 2004
(Sumber: www.rudemacedon.ca)

Bagaimana mestinya penyelidikan 9/11 dilakukan

Seandainya kita punya Jaksa Agung sejati di AS, bukannya penghasut yang disumpal yang menerima hadiah dari kaum industrialis untuk memajukan patologi keagamaannya, kita akan telah memecahkan teka-teki tragis 9/11 sekarang.

Seandainya kita punya Jaksa Agung sejati yang memperjuangkan hak-hak seluruh warga Amerika bukannya melindungi kaum bangsawan kaya yang dilayaninya dengan begitu menjijikkan, tak diragukan lagi kita akan telah menuntut ratusan orang – termasuk para pemimpin tinggi negara kita – dan menunggu persidangan atas peran mereka dalam tragedi pengkhianatan 9/11.

Tapi kita tak punya Jaksa Agung demikian. Dan kita tak punya penegakan hukum sejati di negeri ini, terlepas dari semua lanturan sinis tentang Homeland Security ini. Dan belum seorang pun ditahan dan didakwa dalam kejahatan paling serius dalam sejarah Amerika.

Penyelidikan dikerjakan serampangan sejak awal. Dan penutup-nutupan berkelanjutan dimulai dengan Presiden George W. Bush, yang sejak hari pertama menutupi fakta sejati hari gelap itu, dan terus berbuat demikian sampai saat ini.

Cerita resmi 9/11 berasumsi bahwa 19 teroris Arab membajak empat pesawat lalu menabrakkan tiga di antaranya ke bangunan-bangunan penting Amerika, menelan lebih dari tiga ribu warga Amerika. Tapi tak ada bukti meyakinkan yang mengaitkan para terduga teroris Arab ini dengan kejahatan tersebut. Hanya saja, kampanye histeria media berisi fitnah samar dan tak berdasar dari Washington telah mempengaruhi rakyat Amerika seperti gerombolan mabuk hingga menerima cerita pemerintah, yang berujung pada kejahatan kebencian masif terhadap Muslim.

Sebuah panel tak berharga padahal berpengaruh yang ditunjuk pemerintah kini lebih sering mengurusi aspek-aspek penyelidikan yang tak penting. Kepercayaan publik pada pertimbangan mereka menyusut hari demi hari begitu satu persatu pejabat publik – termasuk Presiden – bersikeras akan bersaksi di hadapan panel ini tapi secara privat, agar publik tidak mendengar tentang kebohongan dangkal dan memuaskan diri yang akan mereka katakan.

Tapi seandainya kita punya Jaksa Agung sejati yang sungguh-sungguh peduli tentang keadilan untuk semua korban tewas itu, dan kita hidup dalam demokrasi sungguhan yang betul-betul dari, oleh, dan untuk rakyat, inilah yang akan dia lakukan.

Pertama, ketimbang membui setiap Muslim bersurban antara Boston sampai West Covina, dia akan secara hati-hati menyelidiki setiap transaksi keuangan yang terjadi dalam dua minggu sebelum 9/11, dan cepat-cepat menetapkan dengan tepat siapa yang paling mendapat untung. Dalam waktu amat singkat, dia akan menemukan nama-nama investor yang mendapat untung jutaan dolar dari opsi “jual” yang dibeli atas [saham] United Airlines dan American Airlines, dan setelah dia memperoleh nama-nama itu, well, saat itulah kesenangan dimulai.

Orang-orang itu akan, sebagaimana dalam urusan polisi, ditahan untuk diinterogasi. Saya serius, diinterogasi. Saat ini tak ada sasaran penegakan hukum yang lebih penting daripada mengidentifikasi orang-orang yang mendapat untung dari pengetahuan dini mereka bahwa 9/11 akan terjadi.

Dan karena orang-orang ini barangkali begitu lemah, tak perlu banyak tekanan – cukup, misalnya, dengan selusin pukulan keras di mulut – untuk membuat mereka membuka rahasia tentang dari mana mereka mendapat informasi.

Dan sekali informasi tersebut, dan nama-nama itu, dimiliki Jaksa Agung sejati, well, maka para pria dan wanita FBI – ketimbang diperintah untuk berpangku tangan sebagaimana selama ini oleh pejabat tinggi yang kotor yang dengan cekatan dan culas mencuri dari rakyat Amerika secara rutin – dan seluruh agen lain yang diakronimkan itu bisa keluar dan melakukan penahanan sungguhan.

Sayangnya, ini hanya bisa terwujud dalam demokrasi yang sah. Dan barangkali Anda tidak bisa mengkhayalkannya terwujud dalam kekacauan yang menjijikkan, korup, dan merugikan yang kita sebut Amerika Serikat, di mana kaum kaya bisa melakukan kejahatan apapun yang mereka inginkan lalu melepaskan diri sebab mereka dapat menyuap hakim dan pengacara, sedangkan kaum miskin bahkan tak perlu melakukan kejahatan untuk dijebloskan ke penjara.

Anyway, dalam demokrasi yang sah – yang betul-betul berfungsi – sekali agen melakukan penahanan sungguhan yang akan membeberkan pelaku yang memberikan informasi orang dalam kepada investor bahwa akan terjadi 9/11 dan ada untung yang akan diperoleh, kita bisa mendapatkan suatu interogasi yang sangat menarik, yang dalam demokrasi riil pasti disiarkan lewat televisi. Peningkatan rating!

Para pedagang lihai ini lalu harus berbicara kepada Jaksa Agung sejati dari mana mereka mendapatkan informasi. Dan kepada siapa, menurut Anda, mereka akan menunjuk jari, hmm?

Ini tentu akan membawa ke fase penyelidikan yang baru.

Jaksa Agung sejati akan mengambil informasi tersebut lalu mengerahkan satuan tugas untuk mempelajari betapa orang-orang berpengaruh telah membuat pernyataan yang memberatkan [keterlibatan] diri mereka sendiri sebelum pelaksanaan kejahatan. Anda ingat – kejahatan terbesar dalam sejarah Amerika.

Dalam demokrasi riil tanpa pilih-kasih kepada kaum kaya atau keistimewaan untuk kaum berpengaruh, satuan tugas tersebut akan cepat-cepat membidik tepat ke arah beberapa politikus berpengaruh dan ternama yang betul-betul berani dan tanpa malu mempublikasikan pernyataan memberatkan dalam bentuk buku, sehingga memudahkan satgas ulung bentukan Jaksa Agung sejati untuk menahan individu-individu ini untuk diinterogasi, dan menggunakan teknik yang sama yang mereka gunakan kepada para pedagang saham, guna memperoleh informasi tentang bagaimana politikus-politikus berpengaruh ini sampai mengeluarkan pernyataan dan indikasi demikian yang dimanfaatkan oleh pedagang saham untuk meraup jutaan dolar.

Orang pertama di atas kursi panas adalah Zbigniew Brzezinski, mantan penasehat keamanan nasional Presiden Carter, yang menulis dalam buku berjudul The Grand Chessboard bahwa “Amerika terlalu demokratis di dalam negeri untuk [berlaku] otokratis di luar negeri. Ini membatasi penggunaan kekuatan Amerika, terutama kapasitasnya untuk intimidasi militer.” Brzezinski lalu menyimpulkan bahwa dalam rangka mencapai sasaran peningkatan intimidasi militer ini, yang diperlukan adalah “ancaman atau tantangan mendadak terhadap rasa keamanan publik di dalam negeri…”

Hmm, kedengarannya sangat mirip dengan 9/11.

Karena Brzezinski adalah anggota dari dua kelompok elit berpengaruh tinggi, Council on Foreign Relations dan Trilateral Commission, Jaksa Agung sejati akan punya beberapa pilihan menarik di antara nama-nama yang mungkin dibatukkan oleh Brzezinski sebagai sumbernya tentang bagaimana informasi itu sampai kepada para investor yang cukup cerdik untuk melakukan perdagangan itu sebab sudah tahu bahwa akan terjadi 9/11.

Kumpulan orang-orang bodoh lain yang menaruh prediksi mereka dalam tulisan sehingga, dalam benak Jaksa Agung sejati, otomatis menggolongkan mereka sebagai tersangka dalam konspirasi melakukan kejahatan terbesar dalam sejarah Amerika, adalah semua orang yang dijuluki neokon, yang menaruh nama mereka dalam laporan yang dihasilkan sebuah kelompok bernama Project for New American Century, dikenal sebagai PNAC, yang mencakup orang-orang reptilian terkenal seperti Donald Rumsfeld, Dick Cheney, Jeb Bush, Paul Wolfowitz, dan orang-orang lain semacam mereka yang tak berjiwa.

Laporan PNAC mereka betul-betul terbit dan mengatakan bahwa evolusi Amerika menjadi mesin teror militer tak terkendali memerlukan “suatu peristiwa katastropik dan katalis – misalnya Pearl Harbor baru.”

Nah, kedengarannya sangat mirip dengan 9/11, bukan?

Coba bayangkan, apa yang bisa diperbuat Jaksa Agung sejati, serta tim interogator sukarianya yang bekerja dalam demokrasi riil dan meyakini keadilan bagi semua orang dan bukan cuma untuk kaum super kaya, dengan [temuan] kalimat seperti itu.

Saya kira, dengan segera mereka akan mendapatkan pelaku sesungguhnya kejahatan terbesar dalam sejarah Amerika itu persis di lingkungan mereka, dan akan sedang mengolah dakwaan selagi kita bicara sekarang. Dakwaan, ratusan dakwaan, atas [tuduhan] pengkhianatan, konspirasi melakukan pembunuhan masal, dan menghalangi peradilan.

Ulangi susunan kata tersebut di lidah Anda – pengkhianatan, pembunuhan masal, dan menghalangi peradilan. Anggap ketiganya sebagai istilah baru yang bisa menyelamatkan Amerika.

Tapi semua ini hanya bisa terwujud dengan Jaksa Agung sejati yang bekerja untuk semua orang dan bukan cuma untuk kaum kaya. Juga, penting sekali untuk diingat bahwa ini hanya bisa terwujud dalam demokrasi yang sah.

Jadi, diragukan sekali ini bisa terwujud dalam waktu dekat di Amerika Serikat.

One thought on “Cerita Detektif

  1. 9/11 punya banyak tujuan, salah satu dasar tujuan adalah persembahan pengorbanan manusia kepada iblis didalam kepercayaan kabala dari kaum iluminati, dan pencetus dalam melakukan agresi trhadap negara-negara islam, dgn label “War on Terorism”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s