Akankah Memo Downing Street Terulang Pada Iran?

Oleh: Annie Machon dan Ray McGovern
23 Juli 2012
(Sumber: www.consortiumnews.com)

Eksklusif: Satu dekade setelah “Memo Downing Street” yang terkenal dan informasi intelijen “tetap”-nya untuk menginvasi Irak, muncul lagi tekanan untuk mendukung – apapun faktanya – perang baru dengan Iran. Akankah MI6 Inggris dan CIA membungkuk lagi atau berpegang teguh, tanya dua analis mantan intelijen, Annie Machon dan Ray McGovern.

Pernyataan terakhir Sir john Sawers, yang mengepalai MI6 Inggris (Dinas Intelijen Rahasia Inggris setingkat CIA), membuat kita penasaran apakah Sawers sedang bersiap “menetapkan” informasi intelijen mengenai Iran, sebagaimana pendahulunya, Sir John Scarlett, terhadap Irak.

Peran Scarlet pra-perang Irak dalam menciptakan “dokumen bohong” yang membesar-besarkan ancaman “senjata pemusnah masal” yang tak esksis sudah relatif terkenal. Pada 4 Juli, lampu merah untuk politisasi sekali lagi menyala terang di London, saat Sawers mengatakan kepada para pegawai sipil senior Inggris bahwa Iran “dua tahun lagi” menjadi “negara senjata nuklir”. Bagaimana Sawers mendapatkan [angka] “dua tahun”?

Sejak akhir 2007, tolok ukur untuk menimbang program nuklir Iran telah menjadi penaksiran bulat dari keenam belas lembaga intelijen AS bahwa Iran menghentikan program senjata nuklirnya di akhir 2003 dan bahwa, pada pertengahan 2007, belum memulainya kembali. Sejak saat itu, penilaian tersebut divalidasi ulang setiap tahun, meski terdapat tekanan kuat untuk membungkuk pada penaksiran yang lebih tak menyenangkan – tapi kekurangan bukti – dari Israel dan para pendukung neo-konservatifnya.

National Intelligence Estimate AS tahun 2007 membantu menghalangi rencana untuk menyerang Iran di tahun 2008, tahun terakhir pemerintahan Bush/Cheney. Hal ini terpancar melalui memoir George Bush sendiri, Decision Points, di mana dia menyesalkan “pernyataan mengejutkan NIE: ‘Kami menilai dengan keyakinan tinggi bahwa pada musim gugur 2003, Teheran menghentikan program senjata nuklirnya.’”

Bush melanjutkan, “Tapi setelah [pernyataan] NIE, bagaimana mungkin saya bisa menjelaskan penggunaan militer untuk menghancurkan fasilitas nuklir sebuah negara yang menurut komunitas intelijen tidak memiliki program senjata nuklir aktif?” (Decision Points, hal. 419).

Pihak militer tak berdaya, oeprasi-operasi rahasia AS memuncak, dengan $400 juta disediakan sekaligus untuk perluasan upaya gelap terhadap Iran, menurut militer, intelijen, dan sumber kongres yang dikutip Seymour Hersh pada 2008.

Perang klandestin, tapi terlalu nyata, terhadap Iran mencakup serangan dengan virus komputer, pembunuhan ilmuwan Iran, dan apa yang Israel sebut kematian “tak wajar” para pejabat senior seperti Mayor Jenderal Garda Revolusi Hassa Moghaddam, bapak program misil Iran.

Moghaddam tewas dalam ledakan besar November lalu, majalah Time mengutip “sumber intelijen barat” mengatakan Mossad Israel dalang ledakan tersebut. Tapi yang lebih mengancam Iran adalah sanksi ekonomi berat terhadapnya, sanksi yang serupa dengan aksi perang.

Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dan tokoh-tokoh neo-konservatif pro-Israel di AS dan tempat lain telah mendesak keras [dikobarkannya] serangan terhadap Iran, menggunakan setiap dalih yang bisa mereka temukan. Netanyahu secara mencurigakan mendahului, misalnya, dalam mengklaim bahwa Iran adalah dalang pengeboman tragis wisatawan Israel di Bulgaria pada 18 Juli, meski pihak berwenang Bulgaria dan bahkan Gedung Putih memperingatkan terlalu dini untuk mengaitkan penanggungjawab aksi itu.

Tuduhan instan Israel terhadap Iran sangat mengindikasikan ia sedang mencari dalih untuk menaikkan sokongan. Dengan kemungkinan terjadinya insiden Teluk Persia, yang dipenuhi kapal perang AS, Inggris, dan negara lain – dan tanpa cara komunkasi gagal-aman dengan para komandan AL Iran – insiden atau provokasi yang meningkatkan eskalasi kini lebih potensial dari sebelumnya.

23 Juli, Hari Kekejian

Anehnya, pidato Sawers 4 Juli berlangsung menjelang tanggal penting – peringatan kesepuluh tahun hari menyedihkan untuk intelijen Inggris dan AS soal Irak. Pada 23 Juli 2002, dalam rapat di Downing Street 10, kepala MI6 kala itu, John Dearlove, memberi laporan singkat kepada Perdana Menteri Tony Blair dan pejabat senior lain tentang perbincangannya dengan rekan Amerika, Direktur CIA George Tenet, di Washington tiga hari sebelumnya.

Dalam notulen resmi laporan singkat itu (kini dikenal sebagai Memo Downing Street), yang bocor ke London Times dan dipublikasikan pada 1 Mei 2005, Dearlove menjelaskan bahwa George Bush telah memutuskan untuk menyerang Irak dan perang itu akan “dijustifikasi oleh pertautan terorisme dan senjata pemusnah masal.”

Ketika Menteri Luar Negeri kala itu, Jack Straw, menguraikan bahwa alasannya “lemah”, Dearlove menjelaskan secara blak-blakan, “Informasi intelijen dan fakta ditetapkan sesuai kebijakan.”

Notulen itu tak menunjukkan tanda-tanda bahwa ada seseorang yang tersedak – apalagi keberatan – atas pengemukaan alasan perang dan pelanjutan tekad Blair untuk bergabung dengan Bush dalam melancarkan jenis “perang agresi” yang diharamkan oleh Nuremberg tribunal setelah Perang Dunia II dan Piagam PBB.

Dibantu persetujuan kepala mata-matanya, pemerintahan Blair menerima dokumen intelijen negara yang  mentah, dipalsukan, dan belum ditaksir, dengan konsekuensi mendatangkan malapetaka bagi dunia.

Warga Inggris diumpani informasi intelijen palsu dalam September Dossier (2002) dan kemudian, enam minggu sebelum serangan terhadap Irak, “Dodgy Dossier”, yang sebagian besar didasarkan pada tesis PhD berumur 12 tahun yang diambil dari Internet – semua disajikan oleh mata-mata dan juga politisi sebagai informasi intelijen tentang pertanda buruk.

Begitulah alasan perang dibuat. Semuanya kebohongan, mengakibatkan ratusan ribu tewas dan buntung dan jutaan rakyat Irak mengungsi – tapi tak ada seorangpun yang dimintai pertanggungjawaban.

Sir Richard Dearlove, yang dapat mencegah ini seandainya dia punya integritas untuk berbicara lantang, dibiarkan pensiun dengan penuh tanda jasa dan menjadi Master sebuah universitas di Cambridge. John Scarlett, sebagai kepala Komite Intelijen Gabungan yang menandatangani dokumen tipuan, dianugerahi pekerjaan mata-mata tertinggi di MI6 dan gelar ksatria. George W. Bush memberi George Tenet Medali Kebebasan Kepresidenan—penghargaan sipil tertinggi.

Kita perlu bukti apa lagi? ”Begitulah mereka semua, semua orang terhormat”—mengingatkan kita pada orang-orang yang berdiri bersama Brutus dalam lakon Shakespeare, tapi tak ada Mark Anthony yang membongkar mereka dan menggerakkan reaksi masyarakat yang sepadan.

Di situlah masalahnya: alih-alih dimintai pertanggungjawaban, “orang-orang terhormat” ini justru dihormati. Pendaratan lancar mereka menjadi pelajaran berbisa untuk birokrat ambisius yang siap bertingkah semaunya dengan kebenaran dan mempertahankan pelayaran mereka menurut angin yang bertiup.

Tanda jasa haram tidak menjadi penangkis ataupun penghalang untuk para kepala intelijen sekarang dan masa depan yang tergoda untuk mengikuti informasi intelijen korup dan sesuai keinginan ketimbang menantang para pemimpin politik mereka dengan fakta keras dan tidak “ditetapkan”. Integritas? Di lingkungan ini, integritas memberi seseorang seringai daripada tanda jasa. Dan itu bisa membuat Anda ditendang dari perkumpulan.

Menetapkan Informasi Intelijen Soal Iran

Apa kita menjelang babak “penetapan” lagi—kali ini soal Iran? Kita akan segera tahu. Perdana Menteri Israel Netanyahu, merujuk serangan teroris di Bulgaria, sudah menyajikan variasi tema Dearlove sepuluh tahun silam mengenai bagaimana perang dapat “dijustifikasi oleh pertautan terorisme dan senjata pemusnah masal.”

Menurut Jerusalem Post 17 Juli, Netanyahu mengatakan semua negara yang paham bahwa Iran merupakan eksportir teror dunia harus bergabung dengan Israel dalam “menyatakan fakta tersebut dengan jelas”, demi menekankan pentingnya mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.

Tampil di Face the Nation CBS hari Minggu serta di Fox News Sunday, Netanyahu kembali ke tema itu. Mempersalahkan serangan teroris 18 Juli di Bulgaria pada Hizbullah yang didukung Iran, dia meminta pemirsa membayangkan apa yang akan terjadi jika rezim paling berbahaya di dunia mendapatkan senjata paling berbahaya di dunia.

Nada ini terlalu familiar. Benarkah sudah sepuluh tahun berlalu?

Akankah kepala MI6 Sawers meniru kelakuan pendahulunya yang, sepuluh tahun lalu, “menjustifikasi” perang terhadap Irak? Akankah dia “menetapkan” informasi intelijen sesuai kebijakan Inggris/AS/Israel terhadap Iran? Para pengawas parlemen mesti menuntut laporan singkat dari Sawers dengan segera, sebelum buldog lama Inggris lagi-lagi terseret seperti pudel ke dalam perang tak perlu lainnya.

Annie Machon adalah mantan perwira intelijen di Dinas Keamanan MI5 Inggris (setaraf dengan FBI AS), sedangkan Ray McGovern adalah mantan Perwira Intelijen AD AS dan analis CIA. [Untuk melihat diskusi Annie Machon dan Ray McGovern tentang isu ini di TheRealNews, klik di sini.]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s