Bagaimana Sistem Peradilan AS dan Israel Menutupi Kejahatan Negara

28 Agustus 2012
Oleh: Glenn Greenwald
(Sumber: www.guardian.co.uk)

Pengadilan seharusnya mengawasi penyalahgunaan kekuasaan eksekutif, bukan melayaninya dengan rendah. Tapi di AS dan Israel, begitulah kondisinya.

marinir-as-diduga-mengencingiSebuah video Youtube memperlihatkan marinir AS mengencingi mayat prajurit Taliban di Afghanistan. Foto: Reuters

Senin lalu, militer AS mengumumkan bahwa takkan ada gugatan pidana untuk marinir AS di Afghanistan yang merekam diri mereka sedang mengencingi mayat pejuang Taliban. Juga takkan ada gugatan pidana untuk pasukan AS yang “mencoba membakar sekitar 500 salinan al-Qur’an sebagai bagian dari pengamanan serampangan di sebuah penjara Afghan pada bulan Februari, meski terdapat peringatan berulangkali dari prajurit Afghan bahwa mereka membuat kesalahan besar”.

Dalam hal itu, militer AS, seperti biasa, mengesampingkan para pejabat Afghan yang menuntut tanggungjawab hukum atas tindakan destruktif prajurit asing di negara mereka. AS justru mengenakan “langkah disipliner” dalam kedua kasus, yang “bisa mencakup surat teguran, penurunan pangkat, denda, pembatasan fisik ke pangkalan militer, tugas tambahan, atau kombinasinya”. Kedua insiden memicu protes dan kerusuhan hebat yang menewaskan lusinan orang, Februari silam.

Serupa dengan itu, seorang hakim Israel Selasa lalu menolak gugatan hukum terhadap pemerintah Israel yang dilayangkan keluarga Rachel Corrie, mahasisiwi Amerika dan aktivis pro-Palestina berusia 23 tahun yang tewas oleh buldoser militer pada tahun 2003 saat memprotes pembongkaran sebuah rumah di Gaza milik keluarga temannya. Setelah mengetahui penolakan gugatan tersebut, ibu Corrie, Cindy, mengatakan:

“Saya yakin ini hari yang buruk, bukan hanya untuk keluarga kami, tapi juga untuk hak asasi manusia, umat manusia, aturan hukum, dan negara Israel.”

Meski Corrie mengenakan rompi oranye cerah, Hakim Oded Gershon, dalam putusan 62 halaman, memutus bahwa pengemudi buldoser tidak melihatnya sehingga kematiannya merupakan kecelakaan. Dia lalu menyalahkan Corrie yang membunuh dirinya sendiri, berargumen bahwa, bertentangan dengan “tindakan orang berakal sehat manapun”, Corrie “memilih menempatkan dirinya dalam bahaya” dengan mencoba menghalangi “aktivitas militer yang dimaksudkan untuk mencegah aktivitas teroris”.

Kesamaan dalam ketiga episode ini terbukti sendiri: penyimpangan sistem peradilan dan aturan hukum sebagai senjata untuk melegitimasi tindakan paling destruktif negara, sambil menghukum mereka yang menentang. AS dan para cendekiawan thinktank loyalnya sudah lama mendesak negara-negara lain mempertahankan “pengadilan independen” sebagai salah satu komponen kunci untuk hidup di bawah aturan hukum. Tapi episode-episode teranyar ini memperagakan, lagi-lagi, bahwa pengadilan di AS dan negara klien utamanya di Timur Tengah tidak “independen”. Fungsi utamanya adalah melindungi para aktor pemeirntah dari tanggungjawab.

Militer AS terus menjatuhkan “hukuman” ringan pada prajuritnya atas kejahatan paling keji sekalipun. Pembunuhan tanpa alasan terhadap dua lusin warga sipil di Haditha, Irak, dan penyiksaan parah dan bahkan mematikan terhadap tahanan Afghanistan menghasilkan paling banter penjara singkat untuk para pelaku pembunuhan dan biasanya hanya surat teguran.

Kontras dengan tamparan enggan dan lemah untuk kejahatan brutal tentara pendudukan ini, penyelidikan PBB menemukan “perlakuan kejam dan tak manusiawi” pemerintah AS terhadap Bradley Manning sebelum dia dihukum tanpa tuduhan apapun. Sekarang Manning sudah dipenjara selama lebih dari dua tahun tanpa terbukti bersalah atas suatu kejahatan—lebih lama daripada pelaku kejahatan mematikan di Irak dan Afghanistan di atas. Dia menghadapi penjara seumur hidup di usia 23 atas tuduhan “pidana” mengungkap banyak bukti korupsi, penipuan, ketidaklegalan di pihak faksi-faksi paling berpengaruh di dunia: pengungkapan yang membantu menggagalkan upaya pemerintahan Obama untuk mempertahankan pasukan AS di Irak, dan yang, bahkan diakui para pengkritik Wikileaks paling sengit, berperan penting dalam membantu mencetuskan revolusi Arab.

Pengungkapan pertama yang membuat Manning dipenjara – video rekaman helikopter Apache yang menembaki para jurnalis Reuters tak bersenjata dan kemudian para penyelamat yang datang membantu korban luka, termasuk dua anak kecil – tak menghasilkan tanggungjawab apa-apa: militer AS membebaskan tuduhan dari setiap orang yang terlibat. Justru Manning-lah, didakwa atas pembongkaran kejahatan ini, yang dihukum sebagai penjahat sebenarnya.

Dan di sinilah terletak fungsi riil sistem peradilan Amerika, jelas terungkap berulang kali. Yakni melindungi aktor-aktor tingkat tinggi dari tanggungjawab atas kejahatan paling terkenal sekalipun, sambil menghukum berat mereka yang mengungkap atau melawan kejahatan itu, sehingga menghalangi dan mengintimdasi potensi penentangan.

Mentalitas itulah yang membuat departemen kehakiman Obama mati-matian melindungi semua pejabat pemerintahan Bush dari tanggungjawab atas kejahatan penyiksaan dan pengintaian, sambil melancarkan kampanye permusuhan terhadap para whistleblower. Seperti biasa, dalam peradilan AS, penjahat “sesungguhnya” adalah mereka yang memperingatkan dunia tentang kejahatan tingkat tinggi, bukan mereka yang melakukannya. Itulah sebabnya satu-satunya orang yang mengalami dampak dari skandal penyadapan NSA Bush adalah Thomas Tamm: pengacara DOJ tingkat menengah yang mengetahui program ilegal itu dan memperingatkan New York Times tentangnya. Orang-orang yang menguasakan kejahatan tersebut dilindungi penuh dari bentuk hukuman apapun.

Mentalitas ini pulalah yang membuat pengadilan federal AS menghasilkan fakta politik paling memalukan dalam satu dekade ini. Tak ada satupun korban penyimpangan “perang melawan teror” Amerika – bahkan mereka yang kini diakui oleh pemerintah Amerika sebagai orang-orang tak berdosa – diperbolehkan memperdengarkan kasus mereka di pengadilan Amerika secara patut. Pintu gedung-gedung pengadilan telah ditutup bagi mereka oleh pengadilan yang menerima klaim pemerintah AS bahwa kewenangan kerahasiaan dan hak kekebalannya mengecualikan peradilan semacam itu. Kejahatan yang dilakukan negara atau memajukan agendanya ternyata kebal dari aturan hukum di AS.

Eksploitasi sistem peradilan juga terlihat nyata dalam parodi Rachel Corrie. Sebagaimana ditulis Chris McGreal, mantan koresponden Guardian di Israel, penolakan gugatan ini merupakan produk sampingan “kekebalan hukum virtual untuk pasukan Israel, tak peduli siapa yang mereka bunuh atau dalam kondisi apa”. Itu karena pengadilan Israel, seperti Amerika, telah tunduk menerima fiksi tertinggi kedua pemerintahan: siapapun yang menghalangi tindakan pemerintah adalah teroris atau pendukung teroris yang patut dihukum, sedangkan tindakan negara, betapapun ganasnya, adalah sah.

Cindy Corrie, ibu Rachel, mengatakan setelah puitusan itu bahwa Israel “mempergunakan ‘sistem hartawan’ untuk melindungi prajuritnya dan memberi mereka kekebalan”. Bahkan, “penyelidikan kematian Corrie oleh Israel merupakan penutup-nutupan menggelikan, sampai-sampai duta besar AS untuk Israel pekan lalu berkata kepada keluarga Corrie bahwa dirinya “tak percaya penyelidikan militer Israel ‘menyeluruh, kredibel, dan transparan’, sebagaimana dijanjikan Israel”. Semua ini, tulis McGreal, menunjukkan betapa “penutup-nutupan fakta pembunuhan orang-orang tak berdosa, termasuk Corrie, menjadi bagian penting dari strategi bertahan hidup lantaran kerugian yang bisa ditimbulkan fakta tersebut terhadap kedudukan militer, bukan hanya di dunia tapi juga di kalangan orang israel sendiri”.

Sebagaimana catatan saya Minggu lalu, sudah diperkirakan, tak terelakkan, bahwa mereka yang memegang kekuasaan politik akan menyalahgunakannya untuk tujuan korup dan kepentingan pribadi. Itulah sebabnya ada lembaga yang dirancang untuk mengawasi dan melawan penyalahgunaan tersebut. Aturan hukum, dan pengadilan independen yang menerapkannya, adalah salah satunya. Tapi – seperti kantor media penguasa dan sebagian besar akademisi – sistem peradilan ini kini berbuat sebaliknya: sekadar senjata untuk melegitimasi kejahatan orang-orang berkuasa dan menindas para penentang.

Ketiga parodi pekan ini, di AS dan Israel, hampir tidak mengejutkan. Sebaliknya, ini merupakan produk sampingan mutlak masyarakat yang melengkapi setiap lembaga dalam bakti membela kejahatan tak beralasan oleh negara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s