Hidup di Bawah Teror Negara Israel

Oleh: Stephen Lendman
10 September 2012
(Sumber: www.rense.com)

Pada 6 November, rakyat Amerika memilih Presiden, anggota Kongres, dan calon-calon regional. Dalam persoalan menyangkut Israel, nyaris setiap pemangku jabatan dan calon mengekspresikan dukungan sepenuh hati.

Bahasa platform dwipartai yang sepihak mengesahkannya. Komitmen sekeras batu menegaskannya. Obama dan Romney nyatanya saling menguatkannya. Itu memungkinkan Israel melepaskan diri dari kejahatan perang terhadap kemanusiaan dan genosida tanpa hukuman. Ini bukan melebih-lebihkan.

Kebijakan AS sudah lama mengizinkannya. Rakyat Palestina dilempar ke kolong bis berdekade-dekade lalu. Israel menganggap mereka makhluk rendah. Begitupun Amerika. Kebijakan di kedua negara memperlihatkannya.

Penderitaan manusia tidak diperhatikan dan dipikirkan. Akhir Agustus, laporan PBB menyebut Gaza takkan “bisa ditinggali” pada tahun 2020 tanpa pertolongan urgen. Persoalannya adalah perbaikan dan keamanan pasokan air, listrik, perawatan kesehatan, pendidikan, layanan esensial lain, dan pembangunan kembali apa yang sudah dirusak oleh perang dan serangan rutin Israel.

Koordinator kemanusiaan PBB, Maxwell Gaylard, mengatakan kondisinya sudah terlalu parah untuk ditanggung. Gaza tercekik di bawah blokade Israel selama lebih dari lima tahun.

Pemerintahannya yang terpilih secara demokratis tidak diakui. Atas perintah Israel, Washington menyatakannya sebagai organisasi teroris. Isolasi menjadikan perekonomian Gaza tak dapat berjalan.

Perdamaian dan keamanan tidak eksis sebab Israel mencegahnya. Serangan darat, laut, dan udara rutin terjadi. Tak ada yang tahu, hari demi hari, siapa yang akan hidup, mati, atau lumpuh permanen.

Pertumbuhan pesat penduduk menjamin memburuknya situasi kelak tanpa adanya bantuan. Sedihnya, tak banyak perubahan terjadi. Pembicaraan [damai] menggantikan kebijakan, pengecaman Israel, tuntutan mengakhiri blokade, dan tindakan lain untuk membebaskan Palestina dari pendudukan dan penindasan militer yang melanggar hukum.

Kejahatan Israel terjadi setiap hari. Sebagian lebih berat. Semuanya patut mendapat kecaman internasional. Pembebasan Palestina dan penentuan nasib sendiri sudah lama terlambat.

Volume kesalahan bisa ditulis setiap hari dan perlu dikoreksi. Pada 6 September, 30 anggota komunitas intelijen Israel, Likudnik Moshe Feiglin, dan pemukim ekstrimis melanggar kesucian Masjid Al-Aqsha. Itu terjadi pukul 08:00.

Mereka masuk dengan paksa, mencemarkannya, dan melakukan ritual Talmudik. Pasukan keamanan Israel melindungi mereka. Bayangkan judul-judul berita dan kemurkaan dunia jika orang Palestina memasuki sinagog, berdoa dengan damai, dan pergi. Kecaman sangat vokal akan menyusul.

Rilis pers Al-Aqsha Institute menuduh israel “mengotori masjid…di mana pendudukan itu berupaya (memaksakan) kehadiran Yahudi” padahal itu bukan miliknya, memaksakan kehendaknya tanpa mematuhi hukum, dan mencoba “membagi Al-Aqsha antara Pelstina dan Yahudi”.

Lembaga ini menyeru bangsa Palestina untuk meningkatkan kehadiran mereka dan melindungi tanah suci. Itulah yang penting.

Tak banyak yang dilakukan untuk menolong tahanan politik yang membusuk di gulag Israel.

Pada 2 September, Addameer membuat judul “Nyawa pemogok makan, Samer Al-Barq dan Hassan Safadi, terancam”. 10 September menandai hari ke-112 mogok makan Samer. Sebelumnya selama 30 hari dia menjalani pantang makan.

Hassan mengonjak hari ke-82. Sebelumnya dia mogok makan selama 71 hari. Isunya adalah keadilan yang sudah lama diingkari. Kedua lelaki ini mengambil resiko mati demi itu. 30 Agustus, pengacara Addameer, Fares Ziad, mengunjungi mereka dan Ayman Sharawna. Dia sudah menolak makan selama 72 hari.

Samer terlalu lemah untuk bertemu Fares atau turun dari ranjang. Ketiganya dalam bahaya. Hassan mengalami lelah ekstrim, tak bisa tidur, dan bahkan pingsan dua atau tiga kali sehari. Dia menderita banyak masalah yang mengancam nyawanya. Dia juga mengalami nyeri pinggang dan sendi kronis.

Saat diopname, lengan dan kaki mereka dibelenggu di tempat tidur. Para tentara mengawal mereka sepanjang waktu. Israel memikul tanggungjawab penuh atas kondisi dan kematian mereka jika tak dapat bertahan hidup.

7 September, ayah Samer melakukan protes di kedutaan Mesir di Ramallah. “Setiap menit sangat berarti,” katanya. Dia menjalani mogok makan sejak 17 April. Kehormatan dan kebebasan lebih berarti daripada makanan.

Israel takkan membiarkan anggota keluarga menjenguknya. Ayah Samer bertahan semampunya. Ibunya trauma dan depresi. Dia diopname gara-gara kejadian yang menimpa puteranya. Samer ditahan tanpa tuduhan.

Tidak ada tekanan internasional untuk Samer, Hassan, Ayman, dan pemogok makan keempat. Para pemimpin dunia yang mampu membuat perubahan tidak peduli mereka hidup atau mati, tidak mengatakan apa-apa tentang penyiksaan, kekerasan fisik lainnya, isolasi, dan peniadaan perawatan medis memadai.

Israel memperbaharui penahanan adminstratif Samer tanpa tuduhan sebanyak tujuh kali. Dia bisa terus ditahan secara tak sah tanpa batas waktu. Barangkali hanya kematian yang dapat membebaskannya. Ayahnya percaya hanya mukjizat yang dapat menyelamatkannya. Israel sedang membunuhnya perlahan-lahan.

Addameer, Al Haq, dan Dokter untuk Hak Asasi Manusia Israel mendorong intervensi komunitas internasional untuk menolongnya dan pemogok makan lainnya. Mereka menginginkan keadilan yang sudah lama diingkari.

Satu panggilan telepon dari Obama sudah cukup. Tapi dia justru membiarkan Netanyahu menggulung dirinya. Dia menyerah dalam isu Palestina. Isu itu putus dari radarnya. Dia tak memberi kecaman. Platform partai Demokrat melemparnya ke kolong bis. AIPAC menuntut. Mereka patuh.

Kepala DNC Debbie Wasserman secara tak langsung mencerminkannya melalui perkataan “Setiap hari pergi bekerja, saya membawa cinta untuk Israel.” Perkataan itu menurunkan orang Palestina ke status sub-manusia. Republik dan Demokrat sama-sama tak mengekspresikan kekhawatiran akan penderitaan Palestina.

8 September, prajurit Israel menyerang empat pekerja Palestina. Mereka sedang menuju pekerjaan konstruksi di Israel.

Mobil mereka dicegat. Prajurit Israel memukuli mereka dengan kejam. Keempatnya harus diopname. Lengan, kaki, dan kepala mereka terluka.

Sehari sebelumnya, prajurit Israel menculik empat orang Palestina, termasuk dua anak kecil. Mereka sedang bermain dekat Dewan Kota Hebron di Kota Tua Hebron. Keberadaan mereka tak diketahui. Dua orang pria ditangkap. Prajurit masuk rumah mereka dengan paksa dan menangkap mereka. Entah apa alasannya.

Juga 7 September, prajurit menyerang lusinan pengunjuk rasa damai desa Bil’in. Mereka rutin melakukannya setiap pekan. Tembok Aneksasi Israel mencuri tanah mereka dan mengisolasi mereka.

Para penduduk desa, aktivis perdamaian Israel, dan delegasi Jerman diserang. Prajurit memakai gas air mata, peluru karet, semprotan racun, dan bom gas.

Mereka melawan dengan berani. Mengangkat bendera Palestina. Berbaris, menyanyikan slogan dukungan, mendorong persatuan di antara seluruh faksi Palestina, menuntut pembebasan tahanan politik, dan menyerukan diakhirinya pendudukan Israel.

Desa Kufr Qaddoum dilanda demonstrasi besar. Demonstrasi Ramallah dan Bethlehem tertahan. Para prajurit juga menyerang mereka. Dilaporkan ada korban luka. Media barat mengabaikan apa yang terjadi dan tak berkata apa-apa. Politik Washington mendukung kejahatan terburuk Israel. Perbuatan itu berlangsung setiap hari seperti mesin jam.

9 September, lusinan pengunjuk rasa memblokir jalan Wadi al-Bar. Ini jalan arteri yang menghubungkan area utara dan selatan Tepi Barat. Isunya adalah kesulitan ekonomi yang terus meningkat. Angka pengangguran tinggi, gaji rendah untuk mereka yang bisa menemukan pekerjaan, dan naiknya harga-harga memberi tekanan besar pada orang Palestina yang berjuang hidup.

Bantuan tak juga datang. Pemimpin Palestina, Abbas dan Fayyad, merupakan kolaborator Israel yang tak tahu malu. Mereka berkontribusi pada kesengsaraan rakyatnya sendiri. Sikap tunduk memberi mereka keuntungan besar. Mereka pengkhianat.

Sebagai perdana menteri yang ditunjuk, kegeraman utamanya diarahkan pada Fayyad. Dia mantan pejabat Bank Dunia/IMF/Federal Reserve. Seperti Abbas, dia suruhan Israel di Palestina.

Dia oportunis politik. Dia merendahkan bangsanya sendiri. Dia menjabat tanpa otoritas. Begitupun Abbas. Masa kepresidenannya berakhir Januari 2009. Israel mempertahankan keduanya di tampuk kekuasaan. Mereka alat penjajahan yang berguna. Mengharapkan kemarahan publik yang lebih besar seiring memburuknya kondisi. Fayyad tidak menunjukkan penyesalan.

Keadilan yang tertunda melawan. Rakyat Palestina sudah menanti sejak 1948. Di bawah pendudukan, sejak 1967. Tak ada pertolongan datang. Tak ada yang peduli. Pelanggaran Israel kebal. Kejahatan terburuknya tak dihukum. Politik Washington menyokongnya.

Republik dan Demokrat berikrar setia pada Israel. Ekor anjing Amerika paling sering berkibas-kibas. Bukankah sudah waktunya perilaku menjilat ini diakhiri? Perubahan progresif sangat diperlukan.

Politik Washington takkan berpindah tempat. Ia terlalu korup, disfungsional, dan tak patuh hukum. Ia sama sekali tak mempedulikan masyarakat biasa. Mereka dibiarkan berhasil atau gagal.

Barangkali suatu hari mereka akan terbangun dan menyadarinya. Barangkali mereka akan bertindak demi kepentingan mereka sendiri. Mereka lebih baik atau tidak lebih baik dari rakyat Palestina. Masa depan mereka terletak di tangan mereka sendiri. Tanpa aktivisme, mereka takkan mendapat apa-apa. Tak ada pertengahan.

Stephen Lendman tinggal di Chicago dan bisa dihubungi melalui lendmanstephen@sbcglobal.net. Buku barunya berjudul “How Wall Street Fleeces America: Privatized Banking, Government Collusion and Class War” (www.claritypress.com/lendman.html). Kunjungi blognya di sjlendman.blogspot.com dan dengarkan diskusi tajam dengan para tamu terkemuka dalam Progressive radio News Hour di Progressive Radio Network, Kamis pukul 10:00 waktu Amerika Tengah dan Sabtu dan Senin tengah hari. Semua acara diarsipkan agar dapat didengar dengan mudah (www.progressiveradionetwork.com/the-progressive-news-hour).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s