Insiden “Broken Arrow”

Oleh: Katie Malone
18 Maret 2011
(Sumber: large.stanford.edu)

© Katie Malone. Penulis memberi izin untuk menyalin, menyebarkan, dan menampilkan tulisan ini tanpa diubah-ubah, disertai pencantuman penulis, hanya untuk tujuan non-komersial. Semua hak lain, termasuk hak komersial, adalah milik penulis.

Diajukan sebagai tugas kuliah untuk Physics 241, Universitas Stanford, Musim Dingin 2011

Resiko signifikan penyimpanan nuklir AS adalah meledaknya senjata secara tak sengaja atau menghilang. Senjata bisa hilang dengan sejumlah alasan—salah taruh, atau hilang ketika kapal pengangkutnya mengalami kecelakaan, misalnya. Peristiwa semacam itu disebut insiden “broken arrow” dan merupakan tipe insiden nuklir militer paling serius selain perang nuklir.

Barangkali yang paling penting untuk dicatat sejak awal adalah bahwa belum pernah ada ledakan nuklir akibat insiden broken arrow. Senjata nuklir dirancang untuk tidak meledak secara tak sengaja – teknologi tepat telah berubah seiring dekade, tapi terutama semula tekniknya adalah menjaga material nuklir tetap terpisah dari bahan peledak detonasi hingga saat-saat sebelum ledakan nuklir dikehendaki.[1]

Catatan penting lain adalah bahwa lokasi senjata nuklir umumnya tidak diungkap oleh militer, dengan alasan nyata, sehingga insiden broken arrow ketahuan bertahun-tahun setelah peristiwa itu terjadi. Contoh, pada 1965 sebuah bom hidrogen hilang di Samudera Pasifik ketika pesawat pengangkutnya jatuh dari geladak terbang kapal induk AS yang sedang pulang dari Vietnam. Bom itu tidak diperoleh kembali dan juga tidak dilaporkan hilang hingga tahun 1989, sebab AS tak ingin muncul berita bahwa senjata nuklir merupakan bagian dari rencana Perang Vietnam dan sebab kehilangan itu terjadi dekat sebuah pulau Jepang.[2] Dari 32 insiden broken arrow yang diakui oleh Pentagon antara 1945 sampai 2007, 7 di antaranya tidak dilaporkan di saat kejadian dan 18 di antaranya semula tidak dilaporkan melibatkan senjata nuklir.[3]

Ada sejumlah insiden broken arrow terdokumentasi yang terjadi sejak Perang Dingin, tapi insiden seperti ini semakin jarang. Satu hal perlu dicamkan, gudang nuklir AS lebih besar sewaktu Perang Dingin daripada sekarang; puncaknya melebihi 61.000 hululedak pada 1966 dan tinggal 5.113 hari ini.[4] Hal lain yang perlu dicamkan adalah bahwa selama Perang Dingin, banyak senjata nuklir dipakai sebagai bagian dari Strategic Air Command (SAC). Program ini menempatkan hululedak pada pesawat-pesawat pengebom dan menerbangkannya sebagai penangkis nuklir terhadap Uni Soviet, tapi penempatan senjata pada pesawat jelas membuka resiko tambahan dan memang, pada 1968, B-52 mengalami kecelakaan di Greenland beserta empat bom nuklir 1,1 megaton di dalamnya. Salah satu dari tujuh awak tewas, bahan bakar jet meledak ketika pesawat jatuh, bahan peledak konvensional dalam hululedak nuklir meledak, dan puing radioaktif tersebar ke sekeliling lokasi kecelakaan.[5]

Tapi, dengan berkurangnya gudang nuklir dan majunya teknologi dan logistik pun, kehilangan hululedak nuklir belum menjadi masa lalu. Muncul sebutan yang tak terlalu serius, “bent spear”, yang mengacu pada insiden di mana hululedak lepas dari kendali resmi tapi ada resiko kecil akan bocornya radiasi atau dirampas oleh pihak-pihak non-militer AS. Insiden “bent spear” terkenal terjadi baru-baru ini, pada 2007, ketika serangkaian pengecekan gagal dalam pemindahan misil, dan enam hululedak nuklir secara tak sengaja terpasang pada B-52 dan terbang mengitari negeri di bawah pengamanan relatif rendah (orang-orang yang terlibat menyangka itu adalah hululedak konvensional) selama 36 jam sebelum kekeliruan itu diketahui dan diperbaiki.[6]

Sebagaimana kita duga, peristiwa itu disusul dengan penyelidikan serius dan ditemukan serangkaian kegagalan dalam prosedur pengecekan misil. Demikian pula, penyelidikan menyusul insiden-insiden lainnya membawa pada perubahan kebijakan nuklir, walaupun tidak dicantumkannya insiden itu dalam riwayat publik menyulitkan warga sipil untuk merangkai gambaran komprehensif semua insiden broken arrow dan bent spear, dan nuklir lainnya nyaris bahaya (peringatan serangan palsu selama Krisis Misil Kuba, contohnya).[5]

Dengan 32 insiden broken arrow yang dilaporkan dalam buku-buku, kita dapat merekonstruksi sejumlah cerita seperti kecelakaan Greenland yang diringkas di atas. Menelisik detil kesemua insiden akan (dan telah) menjadi subjek seluruh buku, tapi ada beberapa kesimpulan. Pertama, insiden broken arrow sangatlah serius dan diselidiki oleh militer, barangkali sampai titik di mana tidak semua informasi tentangnya tersedia bagi publik. Kedua, insiden broken arrow secara empiris semakin jarang sejak Perang Dingin, di mana peristiwa terakhir terjadi pada 1980. Terakhir, pengelolaan keamanan nuklir tetap menjadi upaya aktif, sebab insiden bent spear tahun 2007 menunjukkan bahwa kepuasan diri akhirnya akan mengakibatkan salah langkah.

Referensi

[1] S. D. Drell. Nuclear Weapons, Scientists, and the Post-Cold War Challenge. (World Scientific, 2007).

[2] J. M. Broder, H-Bomb Lost at Sea in ’65 Off Okinawa, U. S. Admits, Los Angeles Times, 9 Mei 1989.

[3] S. Plous, When Broken Arrows Show, Buletin Atomic Scientists 45, No. 10, 3 (1989).

[4] M.B. Sheridan dan C. Lynch, Obama Administration Discloses Size of U.S. Nuclear Arsenal, Washington Post, 4 Mei 2010.

[5] S. A. Sagan, The Limits of Safety: Organizations, Accidents, and Nuclear Weapons (Princeton U. Press, 1995).

[6] J. Warrick dan W. Pincus, Missteps in the Bunker, Washington Post, 23 September 2007.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s