Memo Downing Street adalah Skandal Watergate Modern

Oleh: Eve Browning
Minggu, 5 Juni 2005
(Sumber: www.warisacrime.org)

Dalam sebuah dokumen yang dikenal sebagai Memo Downing Street, yang dilansir London Times awal Mei lalu, tersaji bukti bahwa george W. Bush dan Tony Blair berbicara terus-terang tentang perekayasaan laporan intelijen mengenai senjata pemusnah masal Saddam Hussein, untuk menjustifikasi upaya perang.

Ah, Watergate! Hari-hari indah itu! Pekan lalu identitas “Deep Throat” akhirnya terungkap. Mantan pejabat FBI W. Mark Felt tampil ke depan di usia 91 tahun untuk mengakui dirinya telah memberikan informasi internal kepada media menyangkut kelakuan jahat pemerintahan Nixon.

Ini mengharuskan penjelasan seluk-beluk skandal Watergate kepada seluruh generasi yang baru mendengarnya secara samar. Kita yang mengalaminya mengingat kehebohan, kemarahan, ketegangan, gambar presiden tak terlupakan yang meninggalkan Gedung Putih sebelum masanya berakhir, ditutupi rasa malu dan tetap mengklaim, “Saya bukan bajingan!”

Saat kita menjelaskan Watergate kepada anak muda, sebagian dari kita mendapat reaksi ini: “Memang apa masalahnya?” Dan itu memang benar. Peristiwa yang menjatuhkan pemerintahan Nixon terasa remeh bagi pandangan kontemporer kita. Perampokan serampangan terhadap markas kampanye Partai Demokrat? Siapa yang berpikir akan ditemukan informasi berharga dan strategis di tempat itu?

Saya adalah pendukung Demokrat seumur hidup, tapi saya tak pernah menuduh partai saya sangat rumit secara strategi. Tapi setidaknya mereka tidak merencanakan perampokan dengan memasang pita penutup pada kunci pintu. Teknologi perampok tidak tolol. Bila ditinjau ke belakang, kelakuan jahat pemerintahan Nixon punya kualitas nostalgia yang pelik: di masa itu kita mengalami skandal yang polos dan bodoh, skandal Norman Rockwell.

Tapi Watergate mengakhiri banyak karir dan mengirim beberapa politikus tingkat tinggi ke penjara. Itu melemparkan bayangan permanen pada Richard Nixon dan seluruh keluarganya. Itu meluncurkan generasi baru reporter investigasi yang tertarik pada aroma darah politik. Generasi tersebut kini sedang memasuki masa pensiun.

Sejak Watergate, kita mengalami beberapa skandal kepresidenan lain, paling mencolok adalah ketidakpatutan seksual Presiden Clinton di Oval Office dan tempat lain. Ini juga, jika boleh saya katakan, jenis skandal kekanak-kanakan. Presiden dengan celananya merosot, presiden yang nafsu pelepasan seksnya menyaingi nafsu junk food-nya. Meski terkejut mengetahui Monicagate, saya tak mencemaskan masa depan bangsa kita. Kejenakaan Clinton itu lebih memalukan daripada menakutkan.

Sekarang ada skandal menakutkan: presiden berbohong kepada Kongres, kepada negara, dan menyeret kita ke dalam perang agresi yang tak menunjukkan tanda-tanda akan berakhir. Presiden yang membuang-buang nyawa lebih dari 1.600 pemuda Amerika dan membunuh non-kombatan yang tak terhitung, menghancurkan kota-kota dan desa-desa mereka, bahkan setaraf dengan Saddam Hussein dan memperoleh kekayaan untuk rekan-rekan Bush yang sudah sangat kaya. Presiden yang menyampaikan belasungkawa pribadi kepada setiap ibu yang anaknya mati dalam perang ini, padahal hatinya tahu bahwa rezimnya berkonspirasi dan menyebabkan kematian anak-anak ini.

Dalam dokumen yang dikenal sebagai Memo Downing Street, yang dilansir oleh London Times awal Mei lalu, tersaji bukti bahwa george W. Bush dan Tony Blair berbicara terus-terang soal perekayasaan laporan intelijen mengenai senjata pemusnah masal Saddam Hussein, untuk menjustifikasi upaya perang. Laporan-laporan palsu itu lalu diberikan ke Kongres dan Senat, dan justifikasi moral untuk perang pun muncul, laksana sihir, dari jaring kedustaan.

Bagi saya, inilah skandal nyata. Rakyat Amerika sedang sekarat, rakyat Irak sedang sekarat, gara-gara kedustaan ini. Bertahun-tahun dari sekarang, ketika kita menjadi subjek buku sejarah ketimbang menjadi pembacanya, saya membayangkan orang-orang menganggap kita lebih membingungkan. Kita semua naik darah lantaran presiden yang merencanakan perampokan tolol agar terpilih kembali, atau presiden yang menimang-nimang internir dewasa, tapi kita tidak menunjukkan reaksi apapun pada presiden yang berdusta hingga ribuan anak tewas.

Memang betapa anehnya kita.

Eve Browning adalah associate professor di Fakultas Filsafat Universitas Minnesota Duluth.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s