Sifat Disinformasi

Oleh: John Kaminski
17 Juni 2006
(Sumber: www.educate-yourself.org)

Mindlock, bagian 5: Sifat Disinformasi
Pernahkah Anda mencoba menyampaikan pendapat Anda kepada tetangga tentang apa yang sebetulnya terjadi pada 9/11, atau di Iraq, atau di New Orleans, yang bertentangan dengan laporan berita TV lokal? Perhatikan ketegangan di raut orang-orang yang mempertimbangkan perkara ini. Kesusahan, disusul elakan, dan seretan kaki. Kebanyakan orang sudah tahu, tapi takut mengatakannya.

Selamat datang di jurang persepsi penjaga gerbang, yang lebih dikenal sebagai mindlock. Seiring pikiran kita dibekukan oleh ambivalensi dan ketakutan, tak ada yang sanggup menjawab pertanyaan kenapa kita memilih percaya kebohongan, padahal kebenaran persis di depan kita.

Di satu sisi, dunia berjalan di atas kebohongan komersial yang disampaikan pada kita setiap hari. Tapi di waktu yang sama, kita juga berpikir—setelah awalnya mendadak merendahkan suara kita dan melirik kanan-kiri untuk memastikan tak ada orang yang mendengar—bahwa sebetulnya kita tidak percaya dengan kebenaran cerita-cerita pemerintah dan orang-orang TV.

Dalam kebisuan dikotomi inilah mengendap ketakutan yang dirasakan setiap orang. Mustahil merasakan keduanya tapi tetap waras, sementara kondisi politik dunia mencerminkan kebingungan ini.

Inilah jurang antara retorika dan substansi. Dijalankan oleh para penjaga gerbang. Penjaga gerbang adalah mereka yang memproses informasi tapi menahan sebagian detil krusial. Demi mengejar keuntungan pribadi, kita semua merupakan penjaga gerbang, dalam beberapa hal.

Belakangan, penjaga gerbang menjadi kata yang dipilih untuk menunjuk patriot-patriot seperti Amy Goodman dan Noam Chomsky, serta situs-situs lancung seperti Truthout, rense.com, dan 911truth, yang berpura-pura mengejar kebenaran, padahal akhirnya menjadi jalan buntu tanpa hasil apapun dari istilah yang ditanamkan tersebut selain membongkar fantasi-fantasi dan daftar panjang rincian remeh yang mengalihkan perhatian masyarakat.

Kunci solusi atas banyak masalah dunia—yakni kendali Yahudi atas pasokan uang dan media—sengaja dihindari oleh para penjaga gerbang ini. Mereka menekan kebebasan berbicara menjadi autisme dengan menciptakan undang-undang yang tak masuk akal kecuali bagi mereka yang berusaha membatasi dan mengendalikan pikiran semua orang. Dan kita khawatir masuk kuburan lebih awal, dipercepat oleh racun yang menguntungkan banyak predator.

Penjagaan gerbang merupakan perilaku intrinsik manusia. Jika Anda tak mencintai seseorang, atau tidak menghormatinya, maka dia acapkali menjadi musuh, atau mangsa, terutama dalam pengertian finansial. Dia pasti bertindak demi kepentingannya sendiri, bukan? Jadi informasi yang disajikan oleh siapapun menjadi alat untuk keuntungan pribadi. Dan secara umum, manusia belum pernah menjaga perdamaian, bukan? Eksploitasi adalah sumber kehidupan manusia.

Masalahnya…sebagai orang Amerika kita tumbuh besar dengan derajat kesopanan tertentu, proses yang dipercayai oleh sebagian besar kita. Baru setelah melewati usia 30, kita mulai sadar bahwa lapisan halus masyarakat beradab yang dulu—sampai sekarang—ditampilkan pada kita ini tak lain adalah seperti itu.

Secara umum butuh perspektif dari seluruh dunia untuk mempersepsikan secara mendalam perilaku AS seiring perjalanan waktu. Kebanyakan orang Amerika tak punya petunjuk tentang keabsahan frase “kita adalah sebagaimana orang lain memandang kita”.

Faktanya, saudaraku, seluruh dunia memandang orang Amerika sebagai pembunuh tak berperasaan, tak karuan gara-gara narkoba, keranjingan seks. Tapi media Amerika melukiskan Koboy Bush dan anjing gilanya, para penyabotase yang dididik Israel, sebagai pahlawan yang layak dimuliakan dan dipuji. Itulah kekuatan media Yahudi. Penampakan sekilas jurang penjaga gerbang.

Judith Miller dari New York Times seorang diri menyeret AS ke dalam perang beracun di Iraq dengan artikel-artikel bersumber gadungan dalam lentera jurnalisme Amerika ini. Usaha Yahudi.

William Randolph Hearst masyhur mengatakan, “Kau sediakan gambar, aku sediakan perang.” Ayahnya untung besar dalam perebutan ladang emas California, dan selalu berkonsultasi dengan Yahudi sebelum mengambil langkah bisnis.

Kebencian terhadap Muslim yang digembar-gemborkan oleh Yahudi, yang diekspresikan lewat ribuan pembawa berita TV ke dalam benak rakyat, membuat sebagian besar kita percaya bahwa teroris Muslim menubrukkan pesawat ke Menara Kembar. Lima tahun kemudian, tak ada secarik bukti pun atas hal ini, kecuali yang dikarang-karang oleh Pentagon di bawah kendali Yahudi.

Jadi, di mana tadi Anda bilang mendapat informasi?

TV dan suratkabar? Baru sekarang, lima tahun kemudian, Los Angeles Times memuat artikel reguler tentang “kemungkinan” 9/11 adalah tipuan?

Penempatan alat deflektif. Penyelenggaraan talkshow Palestina gadungan. Orang-orang Yahudi yang berlagak mengkritik Israel. Dan gerakan skeptik 9/11 yang ditentang keras, dicemarkan, dan dikoyak oleh konlfik internal terukur. Tentu, New York Times bisa menulis, dengan merendah, tentang para profesor teoris konspirasi di sebuah konferensi yang diatur untuk tidak menyinggung isu riil.

Lapisan ganda ambiguitas penjaga gerbang.

Jadi Anda mencari perlindungan, semacam kewarasan, di Internet? Lantas bagaimana Anda menentukan siapa yang riil dan siapa yang tidak? Jawabnya: seringkali Anda tidak mampu.

Tapi Anda tahu orang-orang di TV itu palsu. Dengarkan saja bagaimana mereka tak pernah mengkritik Israel. Padahal prajurit Israel menembak kepala anak-anak Palestina untuk iseng. Padahal tentara Amerika kita sedang dirusak oleh amunisi beracun yang diberikan para pemimpin mereka sendiri. Boleh saya meminta “Amin! Itu pengkhianatan!”?

Tapi, suratkabar-suratkabar terus mengeluhkan keberanian Amerika. Siapa nama teroris rekaan terbaru? Siapa pahlawan-pahlawan kita yang pulang dalam peti atau sekurangnya cacat parah? Lalu apa kata para pemimpin kita tentang ini?

Mari kita tanyakan pada Madeleine Albright, seorang Yahudi diam-diam lainnya yang diduga baru “mengetahui” etnis dirinya belakangan ini. “Kami pikir itu ongkos yang pantas,” adalah perkataannya yang masyhur menyangkut kematian setengah juta anak Iraq bahkan SEBELUM invasi terhadap Iraq terjadi.

Dan dalam suratkabar mana Anda membacanya? Mungkin satu dua suratkabar, tapi Anda yakin tak pernah mendengarnya di TV. Sekalipun Anda mendengar, toh Anda tak mendengarkannya.

Anda tak mau perasaan Anda terdengar oleh siapa? Hukuman apa yang akan kita terima jika pikiran terdalam kita sampai ke kuping yang salah?

Sebetulnya tinjauan jujur seperti apa yang boleh kita sampaikan mengenai perilaku Amerika, dan tidak menjadikan kita dipenjara? Sebetulnya apa yang boleh kita pikirkan?

Seperti kata Donn deGrande Pre suatu kali, musuh berada jauh di dalam gerbang kita.

Barangkali, baru setelah kita melihat secara akurat ke dalam diri kita, kita akan mampu menyadari apa yang telah dilakukan terhadap dunia atas nama kita, kemudian menggantung kepala kita dalam kehinaan.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi:
http://www.questionsquestions.net/gatekeepers.html
http://www.leftgatekeepers.com/index.htm

John Kaminski adalah penulis yang tinggal di Gulf Coast, Florida, terpaksa mengamati cuaca selama musim topan, dan menulis esai yang tampil di situs-situs berani tertentu. Ikhtisarnya tentang 9/11, The Day America Died, dan koleksi esai barunya, Recipe for Extinction, keduanya tersedia di http://www.johnkaminski.com/

One thought on “Sifat Disinformasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s