Korespondensi dan Kolusi antara New York Times dan CIA

Oleh: Glenn Greenwald
Rabu, 29 Agustus 2012
(Sumber: www.guardian.co.uk)

Korespondensi email antara Mark Mazzetti dan CIA menyingkap degradasi jurnalisme yang sudah kehilangan urgensi untuk menjadi pengawas kekuasaan.

Juru bicara CIA, Marie Harf, menyuruh jurnalis bidang keamanan nasional di New York Times, Mark Mazzetti, agar ‘terus beri saya info’ tentang kolom Maureen Dowd mendatang. (Foto: @marieharf, via Twitter)
Juru bicara CIA, Marie Harf, menyuruh jurnalis bidang keamanan nasional di New York Times, Mark Mazzetti, agar ‘terus beri saya info’ tentang kolom Maureen Dowd mendatang. (Foto: @marieharf, via Twitter)

Selasa lalu, kelompok transparansi sayap kanan, Judicial Watch, melansir setumpuk dokumen baru yang menunjukkan betapa bernafsunya pemerintahan Obama menyekop informasi kepada para pembuat film Hollywood menyangkut penyergapan Bin Laden. Pejabat-pejabat Obama berbuat demikian untuk memungkinkan diproduksinya film berisi pembunuhan “heroik” itu, yang menguntungkan secara politik menjelang pemilu, sekalipun para pengacara pemerintah bersikeras kepada pengadilan federal dan kantor-kantor media bahwa pengungkapan [dokumen] tidak diperbolehkan sebab penyergapan tersebut bersifat rahasia.

Berkat pengungkapan dokumen sebelumnya yang diperoleh Judicial Watch di bawah UU Kebebasan Informasi, ini menjadi berita basi. Itulah yang dilakukan pemerintahan Obama secara kronis: memanipulasi wewenang kerahasiaan untuk mencegah pertanggungjawaban di kantor pengadilan, sembari membocorkan program yang sama sesukanya demi memuliakan sang presiden.

Tapi yang menjadi berita dalam pengungkapan ini adalah rilisan baru korespondensi email antara Mark Mazzetti, jurnalis New York Times bidang keamanan nasional dan intelijen, dan juru bicara CIA Marie Harf. CIA jelas sudah dengar bahwa Maureen Dowd berencana menulis kolom tentang peran CIA dalam memasok informasi penyergapan Bin Laden kepada para pembuat film dalam rangka menaikkan peluang Obama untuk terpilih kembali, dan rupanya khawatir kolom Dowd akan menurunkannya. 5 Agustus 2011 (malam Jumat), Harf menulis email kepada Mazzetti dengan subjek: “Ada kabar??”, jelas mengindikasikan bahwa dia dan Mazzetti sudah membahas kolom Dowd yang akan terbit, dan dia menanti kabar terbaru dari sang jurnalis NYT.

Hanya dua menit setelah juru bicara CIA mengirim ini, Mazzetti menanggapi. Dia berjanji “akan memeriksa versinya sebelum dimuat”, dan meyakinkannya bahwa tak ada yang perlu dicemaskan:

“Firasatku mengatakan, ada penyebutan singkat di dasar kolom mengenai seremoni CIA, tapi [penulis naskah Mark] Boal itu juga punya akses tingkat tinggi di Pentagon.”

Harf lalu membalas dengan instruksi ini kepada Mazzetta: “terus beri saya info”, seraya menambahkan “sangat mengapresiasinya”.

mazzetti

Beberapa waktu kemudian, Mazzetti meneruskan draf kolom Dowd yang belum diterbitkan kepada si juru bicara CIA (diterbitkan keesokan malamnya secara online oleh Times, dan dua hari kemudian dlaam bentuk cetak). Di bagian atas email, Mazzetti menulis: “ini bukan dari saya…tolong hapus setelah membacanya.” Dia lalu menyatakan dengan bangga bahwa keyakinannya terbukti benar:

“Lihat, kan, tak ada yang perlu dicemaskan.”

mazzetti2

Korespondensi ini luar biasa menyingkap: peran standar yang dimainkan oleh para jurnalis besar dan korupsi yang merembesinya. Di sini kita temukan seorang jurnalis New York Times yang meliput CIA ternyata berkolusi dengan juru bicaranya untuk mengantisipasi efek pemberitaan suratkabarnya sendiri (“tak ada yang perlu dicemaskan”). Selain itu, permintaan seorang jurnalis New York Times—yang berpura-pura tekun menuntut transparansi lembaga-lembaga pemerintah—kepada juru bicara CIA agar merahasiakan tindakannya dan menghapus bukti kolusi ini sangatlah simbolis.

Hubungan antara New York Times dan pemerintah AS, seperti biasa, tak pernah bermusuhan. Malah, email-email ini mirip interaksi antara perwakilan humas dan kliennya yang berencana mengantisipasi potensi krisis.

Yang lebih menakjubkan lagi, reaksi editor pelaksana (managing editor) suratkabar bersangkutan, Dean Baquet, terhadap penyingkapan ini, sebagaimana dilaporkan oleh Dylan Byers dari Politico:

“Editor Pelaksana New York Times, Dean Baquet, memanggil POLITICO untuk menjelaskan situasi, tapi tidak banyak memberi kejelasan, mengaku tidak bisa masuk terlalu rinci ke dalam isu ini sebab merupakan persoalan intelijen.

“’Saya tahu situasinya, dan andai kau tahu kejadiannya, itu cuma ribut-ribut hal sepele,’ kata Baquet. ‘Saya tidak bisa terlalu rinci. Tapi saya yakin setelah bicara pada Mark, ini cuma hal sepele.’

“’Semua tidak seperti kelihatannya,’ sambungnya. ‘Saya sudah bicara dengan Mark, saya tahu situasi ini, dan berdasarkan apa yang saya tahu, ini bukan apa-apa.’”

Ada banyak yang mesti dicatat dari kutipan di atas.

Pertama, betapapun sudah mencoba, saya tak mampu mengelak bahwa pernyataan Baquet ini—“semua tidak seperti kelihatannya”—merupakan salah satu ucapan paling tak karuan. Ini tipe jargon korporat buta huruf, tanpa makna, yang muntah dari mulut para eksekutif kikuk yang sedang membela orang tak layak dibela. Saya sudah membaca kalimat tersebut lusinan kali dalam 24 jam terakhir, dan setiap kali itu pula saya merasa semakin geli.

Kedua, perhatikan bagaimana New York Times meniru CIA bahkan dalam cara bicara karyawan suratkabar: Baquet “tidak banyak memberi kejelasan, mengaku tak bisa masuk terlalu rinci ke dalam isu ini sebab merupakan persoalan intelijen”. Apa maksudnya menyebut kolusi Mazzetti dengan CIA sebagai “persoalan intelijen” sampai-sampai mencegah editor pelaksana NYT untuk menjelaskan kejadian ini?

Inilah tingkah refleks CIA: bersikukuh bahwa, bahkan menyangkut tuduhan keterlibatan mereka dalam perbuatan serius, Anda (dan bahkan pengadilan) tak boleh tahu apa yang dilakukan dinas tersebut sebab itu “persoalan intelijen”. Nah, di sini kita temukan editor pelaksana Newspaper of Record membawakan frase penggemar kerahasiaan yang itu-itu juga, kata demi kata—seakan New York Times adalah sejenis dinas intelijen yang pekerjaan internalnya harus disembunyikan demi keselamatan kita—semua dalam rangka menghindari penyingkapan publik soal keterlibatannya dalam suatu perbuatan. Kita sering menangkap ini: tokoh-tokoh media terlalu akrab dengan pejabat pemerintah yang mereka liput sampai-sampai mereka mulai mengadopsi bahasanya, bukan cuma cara berpikirnya.

Ketiga, perhatikan bagaimana Baquet dengan bangga menggembar-gemborkan fakta bahwa dirinya tahu fakta-fakta yang tidak dan takkan Anda ketahui:

“Saya tahu situasinya, dan andai kau tahu kejadiannya, itu cuma ribut-ribut hal sepele.”

Bukankah fungsi suratkabar adalah memberitahu kita “kejadiannya”, bukan malah membual tahu situasi sedangkan kita tidak?

Klaim Baquet bahwa “ini cuma ribut-ribut hal sepele” rupanya tidak sejalan dengan beberapa orang di New York Times, yang tidak memberi apresiasi ketika reporter bidang keamanan nasional mereka diam-diam memberi salinan praterbit kolomnya kepada juru bicara CIA. Tak lama setelah Baquet mengeluarkan pembelaannya terhadap perilaku Mazzetti, seorang juru bicara suratkabar bukan hanya memberikan detil-detil yang tak mau Baquet ungkapkan, tapi juga memperjelas bahwa tingkah Mazzetti tidak pantas:

“Agustus silam, Maureen Dowd meminta Mark Mazzetti membantu mengecek fakta untuk kolomnya. Dalam perkembangannya, dia mengirim seluruh kolom kepada juru bicara CIA sesaat sebelum deadline. Dia melakukan ini tanpa sepengetahuan Nn. Dowd. Ini tindakan keliru, tidak sesuai dengan standar New York Times.”

Mungkin “tidak sesuai dengan standar New York Times” ketika salah satu jurnalisnya diam-diam mengirim salinan praterbit kepada CIA lalu meminta agar dinas tersebut menghapus semua rekaman perbuatannya. Kita harap begitu. Tapi sayangnya itu sesuai dengan perilaku suratkabar bersangkutan secara umum, ketika menyangkut pemberitaan pejabat publik. Mengabdi sebagai anjing buaian yang patuh dan kurir pesan untuk kekuatan politik, bukannya menjadi pengawas sengit terhadap kekuasaan, adalah hal wajar.

Contoh paling gamblang adalah keterlibatan suratkabar tersebut dalam menyebarkan kedustaan yang menyulut perang untuk menjustifikasi serangan terhadap Iraq—meski, dalam contoh ini, mereka tidak sendirian. Bulan lalu terungkap bahwa NYT rutin memberi kekuatan veto kepada petugas kampanye Obama terkait dengan kutipan petugas-petugas yang boleh dipublikasikan oleh suratkabar tersebut—praktek yang dilarang oleh kantor-kantor media lain (tapi tidak dengan NYT) baik sebelum penyingkapan di atas maupun sesudahnya.

Yang lebih buruk, suratkabar ini sering menyembunyikan informasi publik yang vital atas arahan pemerintah, seperti ketika mereka mengetahui program penyadapan ilegal di masa George Bush pada pertengahan 2004 tapi mereka sembunyikan selama lebih dari setahun atas arahan Gedung Putih, sampai Bush terpilih kembali dengan aman; seperti ketika mereka menuruti instruksi pemerintah untuk menyembunyikan hubungan kerja CIA dengan Raymond Davis, yang ditangkap di Pakistan, meskipun Presiden Obama mendeskripsikannya sebagai “diplomat kami di Pakistan” dan meskipun NYT memberitakan pernyataan presiden ini tanpa memperhatikan ketidakbenarannya; dan seperti ketika mereka menyingkap banyak rilis WikiLeaks, yang akibatnya, sebagaimana dibanggakan oleh mantan editor eksekutif Bill Keller, mereka mendapat arahan dari pemerintah tentang mana yang boleh dipublikasikan dan mana yang tidak.

Belum lagi praktek kronis NYT berupa membolehkan pejabat pemerintah bersembunyi di balik anonimitas dalam rangka menebar propaganda pemerintah—atau bahkan memfitnah para jurnalis sebagai simpatisan al-Qaeda lantaran mengkritik tindakan pemerintah—padahal pemberian anonimitas seperti itu melanggar kebijakannya sendiri yang diumumkan secara terbuka.

Kesamaan dari semua perilaku NYT ini jelas sekali: ini menunjukkan tingkat kolaborasinya dengan dan pengabdiannya kepada kepentingan faksi-faksi paling berpengaruh di negara tersebut, alih-alih bertindak sebagai pengawas mereka. Ketika berbicara pada juru bicara CIA, Mazzetti seakan sedang mengobrol dengan kolega dekat yang bekerjasama dalam suatu proyek gabungan.

Memang demikian kenyataannya.

Seseorang bisa, jika mau, menjustifikasi secara sinis kerjasama Mazzetti dengan CIA sebagai cara lazim jurnalis untuk menjilat sumber [info] mereka. Kesampingkan fakta bahwa juru bicara CIA yang bekerjasama dengan Mazzetti nyaris bukan pembocor berharga di dalam isi perut dinas tersebut, tapi secara teori dia tentu musuh tertinggi jurnalis sejati: pekerjaannya adalah membentuk persepsi masyarakat seuntung mungkin bagi CIA, sekalipun mengorbankan kebenaran.

Keberatan yang lebih penting adalah, fakta kelaziman perilaku tertentu tidak meniadakan kekorupannya. Sesungguhnya, seperti penyimpangan pemerintah pada umumnya, mereka yang berkuasa mengandalkan kemauan warga negara untuk terlatih memandang tindakan korup sebagai sesuatu yang lazim sampai menjadi terbiasa, mati rasa, dengan kesalahannya. Sekali praktek korup dipandang lazim, maka ia berubah dalam benak masyarakat dari sesuatu yang tidak diterima menjadi sesuatu yang diterima. Bahkan, banyak orang percaya, bersikap tak acuh terhadap perilaku jahat para aktor penguasa justru menunjukkan pengalaman duniawi mereka, dengan alasan itu sudah lumrah. Sinisme ini—oh, jangan naif: ini sudah lumrah—justru inilah yang memungkinkan perilaku destruktif tadi tumbuh subur tanpa hambatan.

Memang benar email-email Mazzetti dengan CIA tidak menggoncangkan atau mengagetkan sedikitpun. Tapi itulah poinnya. Kecuali beberapa jurnalis mulia (di NYT dan tempat lain), email-email ini mencerminkan standar kerjasama skala penuh—merger virtual—antara pemerintah kita dan kantor media besar yang mengklaim bertindak sebagai “pengawas” mereka.

Mulai dari “Semua berita yang cocok untuk dicetak” sampai “tolong hapus setelah kau baca” dan tak bisa “masuk terlalu rinci karena merupakan persoalan intelijen”: itulah gap antara brand New York Times yang dipasarkan dan realitanya.

UPDATE: Editor Publik Times hari ini mengemukakan argumen mengenai masalah ini, mencatat ketidaksetujuannya terhadap perbuatan Mazzetti:

“Apapun motivasi Tn. Mazzetti, membongkar praterbitan artikel berpotensi sensitif dalam kondisi demikian jelas melanggar batas. Ini jauh melewati [standar] normal give-and-take yang mencirikan penanganan sumber [info] dan mengindikasikan tak adanya hubungan dekat antara wartawan dan orang yang ditanganinya.”

Meski Mazzetti mengungkapkan penyesalan atas perilakunya—“Itu sebuah kekeliruan. Aku tak pernah melakukannya sebelumnya, dan takkan pernah mengulanginya”—dia dan Editor Eksekutif Jill Abramson bersikukuh tak ada niat jahat, hanya berusaha membantu kolega (Dowd) dengan mengecek klaim-klaimnya. Seperti halnya Bquet, Abramson menyembunyikan fakta-fakta kunci: “Saya tak bisa memberi fakta lebih lanjut tentang kenapa kolom itu dikirim.”

Pertanyaan yang ditimbulkan oleh dalih-dalih ini sangat jelas: jika Mazzetti bertindak dengan motif tulus dan baik, mengapa dia meminta CIA menghapus email yang dikirimnya? Rupanya inikasus klasik: mengekspresikan dukacita karena ketahuan, bukan karena perbuatannya.

Dalam catatan lain, Byers dari Politico, sebagai tanggapan terhadap pertanyaan saya, memberitahu saya bahwa Baquet betul-betul mengatakan apa yang Byers beritakan—“dia tak bisa masuk terlalu rinci dalam isu ini karena merupakan persoalan intelijen”—dan bahwa kutipan persisnya adalah: ini “ada kaitan dengan info rahasia”.

One thought on “Korespondensi dan Kolusi antara New York Times dan CIA

  1. Faktanya, media bukan pengawas kekuasaan, tapi pelaku kekuasaan, pelaksana kekuasaan. Merekalah yang mengangkat tokoh dan capres, merekalah yang memilih presiden, bukan rakyat. Inilah hakikat demokrasi. Rakyat tidak memilih presiden, tapi meneruskan pilihan media. Tidak ada demokrasi yang tidak rusak. Semua rusak. Karena apa? Karena tidak jelas yang disebut maju dalam demokrasi itu apa atau bagaimana? Kalau orang-orang di dalamnya rasional, tentu mereka akan membatasi peran media. Misalnya dengan membuat aturan bahwa pemilik/pemegang saham media/siapapun orang media tidak boleh berpolitik/tidak boleh memihak golongan politik tertentu. Kalau seperti sekarang ini, bagaimana dunia akan beres. Bagaimana negara akan stabil?

    Setiap kali melihat pembawa berita, saya seperti menonton apa namanya ya, badut. Mereka punya pandangan politik apa tidak? Apa semuanya sama? Tidak berselisih pandangan, seperti itu? Ya namanya nurut sama atasan, mau gimana lagi, ya kan?

    Awas jangan melukai hati wartawan, entar kena pasal kekebalan wartawan. Ya, ngeri. Kalo wartawan udah turun tangan, semua orang habis dijelek-jelekkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s