Eugenik

American Bioethics Advisory Commission
1999
(Sumber: www.all.org)

Pendahuluan
Manifestasi utama eugenik adalah rasisme dan aborsi; eugenik merupakan dasar bagi “rasisme sains” dan meletakkan fondasi untuk melegalkan aborsi. Ia adalah tenaga pendorong di balik eutanasia, fertilisasi in vitro, dan penelitian embrio dan janin. Ia adalah tenaga pendorong dalam kebijakan populasi global, yang menjadi elemen kunci kebijakan luar negeri Amerika. Ia adalah tenaga pendorong gerakan-gerakan lingkungan, kebijakan kesejahteraan, reformasi kesejahteraan, dan pelayanan kesehatan. Ia dijumpai dalam antropologi, sosiologi, psikologi—semua ilmu sosial. Ia tercermin dalam banyak literatur Amerika, khususnya fiksi sains. Maka ia patut dipelajari.

Definisi
Eugenik adalah studi metode perbaikan ras manusia dengan mengendalikan reproduksi. Istilah ini diciptakan pada 1883 oleh Francis Galton, sepupu Charles Darwin. Galton percaya evolusi wajar ras manusia digagalkan oleh uluran dermawan terhadap kaum miskin: amal salah jalan telah mendorong “manusia tak layak” melahirkan lebih banyak anak. Ini merusak mekanisme seleksi alam. Karenanya, ras manusia perlu semacam seleksi buatan, yang dia sebut “eugenik”, dari bahasa Yunani untuk good birth (kelahiran baik). Galton ingin eugenik berkembang dari sains menjadi kebijakan dan akhirnya menjadi agama.[1]

Studi
Galton mendefinisikan eugenik sebagai “ilmu perbaikan plasma nutfah ras manusia melalui pembiakan yang lebih baik”. Dia juga mengatakan: “Eugenik adalah studi lembaga-lembaga di bawah pengawasan sosial yang dapat memperbaiki atau merusak kualitas ras generasi mendatang, secara fisik ataupun mental.” Definisi ini dipakai selama bertahun-tahun di sampul Eugenics Review, jurnal yang diterbitkan oleh Eugenics Education Society (kemudian menjadi Eugenics Society)

Program
American Journal of Eugenics [2] pada 1906 menyebut eugenik sebagai “sains”, tapi juga mencatat bahwa Century Dictionary mendefinisikannya sebagai “doktrin Perkembangan, atau Evolusi, khususnya pada ras manusia, melalui perbaikan kondisi relasi antar jenis kelamin.”

Pada 1970, I.I. Gottesman, direktur American Eugencis Society, mendefinisikannya secara aktif: “Esensi evolusi adalah seleksi alam; esensi eugenik adalah pergantian seleksi ‘alam’ dengan seleksi buatan, disengaja, atau direncanakan dengan harapan mempercepat evolusi karakteristik “yang diinginkan” dan penyingkiran karakteristik yang tak diinginkan.”

Agama
Isyarat Galton bahwa eugenik mesti berfungsi sebagai agama digaungkan oleh George Bernard Shaw, Bertrand Russel, dan lain-lain.[3] Penegasan sifat keagamaan eugenik datang dari Julian Huxley, Direktur Jenderal pertama UNESCO dan anggota Eugenics Society: “Kita harus menghadapi fakta bahwa sekarang, di tahun ini, mayoritas manusia berada di bawah standar; mereka kurang makan, atau sakit, berjuang tanpa henti demi eksis; mereka terpenjara dalam kebodohan atau takhayul. Kita harus pastikan, kehidupan bukan lagi neraka bertaburkan peluang yang tak disadari. Dengan demikian, tugas tertinggi dan tersakral manusia adalah pemanfaatan semestinya atas sumber daya manusia yang belum digunakan.”

“Saya sendiri terdorong untuk memakai bahasa agama,” sambung Huxley, “sebab faktanya semua ini menghasilkan sesuatu yang bersifat agama. Orang boleh menyebutnya Humanisme Evolusi. Istilah ‘agama’ kerap bermakna terbatas sebagai keimanan pada tuhan. Tapi saya tidak menggunakannya dalam pengertian ini…saya memakainya dalam pengertian lebih luas, untuk menandakan relasi menyeluruh antara manusia dan nasibnya, dan yang melibatkan perasaan terdalamnya, termasuk kesadarannya akan apa yang sakral. Dalam pengertian luas ini, menurut saya humanisme evolusi mampu menjadi benih agama baru, tidak harus menggantikan agama-agama yang ada tapi melengkapinya.”[4]

Population Council, salah satu organisasi eugenik baru yang muncul usai Perang Dingin II, tak lagi menyebut eugenik sebagai agama, tapi meluncurkan “studi-studi menyangkut dimensi sosial, etika, dan moral” dari studi populasi, mengakui bahwa ini melibatkan urusan yang bersifat kultural, moral, dan spiritual.”[5] Bidang baru bioetika merupakan respon terhadap isu-isu yang ditimbulkan eugenik.[6] Bioetika didasarkan pada etika situasi, yang sebagian besar dikembangkan oleh Joseph Fletcher, anggota American Eugenics Society. Pada 1973, Daniel Callahan, pembelot Katholik kenamaan dan anggota American Eugenics Society, menjabarkan bidang baru ini dalam edisi pertama Hastings Center Studies.[7]

Sejarah Eugenik
Pada 1788, seorang pendeta dan ekonom Inggris bernama Thomas Robert Malthus menerbitkan Essay on the Principle of Population. Ide sentral bukunya adalah bahwa populasi meningkat secara eksponensial dan pada akhirnya akan melebihi pasokan makanan. Jika para orangtua tidak membatasi ukuran keluarga mereka, maka perang atau kelaparan akan memusnahkan kelebihan tersebut. Ide ini mampu bertahan, walaupun beberapa prediksi Malthus keliru. Malthus berargumen, kepulauan Inggris tak sanggup menopang populasi 20 juta, tapi 150 tahun kemudian populasinya lebih tiga kali lipat dari batas atas yang ditetapkan Malthus.

Charles Darwin, ahli biologi, sangat terkesan oleh ide-ide Malthus, dan teori Malthus tertanam dalam teori evolusi dan seleksi alam Darwin (The Origin of Species, 1859, dan The Descent of Man, 1871). Tapi setelah Darwin meminjam ide-ide dari ilmu ekonomi dan menyisipkannya ke dalam biologi, sepupunya membalik proses tersebut dan menemukan ide-ide dalam biologi yang dapat diterapkan pada manusia. Ini merupakan salah satu trik pertama yang dipelajari pesulap amatir, seperti “menemukan” koin di telinga anak kecil. Yang mengagumkan dari pertunjukan Galton, sudah begitu banyak orang terkelabui untuk waktu lama.

Sekurangnya satu rekan sezaman mengerti apa yang Galton perbuat. Friedrich Engels, kolaborator Karl Marx, memandang rendah penyisipan ide-ide ekonomi Malthus ke dalam biologi yang kemudian diambil kembali sebagai kitab suci: “Seluruh ajaran perjuangan eksistensi Darwinis adalah pemindahan doktrin Hobbes bellum omnium contra omnes (perang antar segalanya) dan doktrin kompetisi borjuis beserta teori populasi Malthus dari masyarakat ke alam. Ketika trik pesulap ini diperagakan…teori-teori yang sama dipindahkan balik dari alam organik ke dalam sejarah dan kini diklaim bahwa validitasnya sebagai undang-undang abadi masyarakat manusia sudah terbukti. Sifat kekanak-kanakan cara kerja ini begitu gamblang, jadi tak usah disinggung lagi.”[8]

Ketika muncul, eugenik dianut oleh tokoh-tokoh konservatif dan dicela oleh Engels. Patut dicatat, seiring waktu ideologi arogansi ini ternyata menarik bagi kaum kanan (Galton), kemudian kaum kiri (para Sosialis Inggris), lalu kaum kanan (para Sosialis Nasional Jerman), lalu kaum kiri (para aktivis lingkungan dan gerakan aborsi Amerika), lalu kaum kanan (lihat perdebatan Bell Curve).

Hasil penelitian Galton masih dipakai hari ini. Dia menggunakan metode-metode statistik, termasuk “bell curve” yang kini terkenal, untuk mendeskripsikan distribusi kecerdasan di suatu populasi. Dia menemukan berbagai metode untuk mengukur kecerdasan, dan menyimpulkan bahwa bangsa Eropa lebih pintar daripada bangsa Afrika secara rata-rata. Dan dia mengusulkan studi sistematis terhadap orang kembar untuk membedakan efek keturunan dan efek lingkungan.

Penelitian Galton diteruskan, terutama di Universitas London, di mana dia dianuegrahi Chair of Eugenics. Menurut cendekiawan eugenik, J. Philippe Rushton, penelitian Galton diteruskan utamanya oleh Karl Pearson dan Charles Spearman, lalu oleh Cyril Burt, dan di masa kita oleh Raymond Cattell, Hans Eysenck, dan Arthur Jensen.[9] Penelitian para akademisi ini secara eksplisit dibangun di atas teori-teori Galton, tapi ideologi eugenik menyebar keluar lingkaran inti penganut sejati ini.

Perkumpulan Eugenik
Pada 1904, Galton dianugerahi jabatan research chair di bidang eugenik di University College, Universitas London. Di Jerman, pada 1905, Dr. Alfred Ploetz dan Dr. Ernst Rüdin mendirikan Gesellschaft für Rassenhygiene, atau Society of Race-Hygiene. Pada 1907, di Inggris, Eugenic Education Society (kemudian Eugenics Society) didirikan. Pada 1910, Eugenics Record Office (ERO) didirikan di Amerika Serikat. ERO memiliki penekanan berbeda dari Birth Control League, yang mengusahakan “lebih sedikit anak untuk kelas-kelas pekerja”; ERO merasa “perbaikan ekonomi mesti diupayakan dengan membiakkan manusia-manusia yang lebih baik, bukan yang lebih sedikit.”[10]

First Internation Eugenics Congress diselenggarakan di Univeritas London pada 1912. Wakil-wakil berdatangan dari sejumlah negara, dan kongres ini menunjukkan semakin kuatnya gerakan tersebut, terutama di Inggris, Jerman, dan AS.

Pada Oktober 1916, Margaret Sanger membuka klinik pengendalian kelahiran pertama di AS. Beberapa bulan kemudian, dia mendirikan Birth Control Review. Dia dan para pekerjanya menggabungkan American Birth Control League pada 1922. (Organisasi ini diganti namanya menjadi Birth Control Federation of America pada 1939, dan pada 1942 berganti nama menjadi Planned Parenthood Federation of America.[11]) Dia menulis: “Dengan demikian pengendalian kelahiran menjadi celah bagi pendidik Eugenik…ketimpangan antara tingkat kelahiran ‘manusia tak layak’ dan ‘manusia layak’ saat ini diakui sebagai ancaman terbesar bagi peradaban… Masalah paling urgen hari ini adalah bagaimana membatasi dan menyiutkan kesuburan berlebih orang-orang yang cacat secara mental dan fisik.”[12]

Pada 1922, American Eugenics Society didirikan. Pendirinya meliputi Madison Grant, Henry H. Laughlin, Irving Fisher, Henry Fairfield Osborn, dan Henry Crampton. Grant merupakan penulis The Passing of the Great Race (1916), dan menulis kata pengantar untuk The Rising Tide of Color Against White World Supremacy. Laughlin adalah pemimpin Eugenics Record Office dari 1910 sampai 1921. Dia kemudian menjadi presiden Pioneer Fund, organisasi supremasi kulit putih yang masih beroperasi hari ini. Fisher, yang mengajar ilmu ekonomi dan ekonomi politik di Universitas Yale selama 40 tahun, menyatakan tujuan perkumpulan ini adalah untuk “membendung arus degenerasi ras yang terancam” dan untuk melindungi Amerika Serikat dari “imigrasi membabi buta, penjahat bejat, dan bunuh diri ras.”[13]

Henry Fairfield Osborn adalah presiden American Museum of Natural History dari 1908 sampai 1933. Dia menulis tentang evolusi dalam From the Greeks to Darwin. Pada 1923, dalam sebuah debat nasional mengenai pembatasan imigrasi, dengan semangatnya Osborn mengemukakan hasil pengujian kecerdasan yang dilaksanakan oleh Tentara: “Saya percaya tes-tes tersebut sepadan dengan ongkos perang [Perang Dunia I], bahkan dengan nyawa manusia, jika itu membantu menunjukkan kepada bangsa kita akan kurangnya kecerdasan di negeri ini, dan derajat kecerdasan berbagai ras yang datang kepada kita, sehingga tak ada yang akan bilang itu hasil prasangka belaka. Kita sudah tahu pasti bahwa negro tidak seperti kita.”[14]

Daftar organisasi di atas belum lengkap. Intinya, eugenik di paruh pertama abad 20 bukanlah praktek akademis. Para ahli eugenik berorganisasi, khususnya di Jerman, Inggris, dan AS, untuk mengimplementasikan kebijakan yang konsisten dengan teori mereka.

Penelitian para ahli eugenik mencakup rasisme dan supremasi kulit putih, promosi pengendalian kelahiran di kalangan “disgenik”, pembatasan imigrasi, sterilisasi penyandang cacat, promosi eutanasia, dan mencari cara untuk meningkatkan jumlah individu berpembawaan baik secara genetik.

Pegangan Hitler
Program kunci para ahli eugenik adalah membersihkan ras manusia dengan mensterilisasi “manusia tak layak”. Menjelang 1931, undang-undang sterilisasi telah diperundangkan di 27 negara bagian AS, dan menjelang 1935, undang-undang sterilisasi telah diperundangkan di Norwegia, Swedia, Denmark, Swiss, dan Jerman.[15] Tapi efisiensi ahli eugenik Jerman menimbulkan masalah.

Ide-ide Galton sudah dipelajari di Jerman oleh Friedrich Nietzsche pada abad 19. Di awal abad 20, Ploetz dan Rüdin meletakkan fondasi program eugenik efektif di Jerman. Pada 1922, dua orang—satu pengacara dan satu psikiater, Karl Binding J.D. dan Alfred Hoche M.D.—bekerjasama menulis buku pendek berjudul Die Freigabe der Vernichtung lebensunwerten Lebens (Permission to Destroy Life Devoid of Value/Izin untuk Memusnahkan Nyawa Tak Bernilai). Buku ini memberi semangat kepada para dokter Austria yang sedang mulai mempraktekkan eutanasia secara ilegal. Satu dekade kemudian, Adolf Hitler, yang telah menguraikan ide eugeniknya sendiri dalam Mein Kampf, naik ke tampuk kekuasaan.

Tekad Hitler untuk menegakkan “ras unggul”-nya dianut oleh para ahli eugenik Jerman [16], dan ahli-ahli eugenik di tempat lain tidak mengkritik Jerman. Di AS, Birth Control Review memuji keefektifan orang Jerman, dan mempublikasikan artikel-artikel karangan Rüdin dan lain-lain.[17]

Hari ini, di AS ada banyak kesimpangsiuran soal pandangan Hitler terhadap aborsi. Kelompok pro-janin mencela habis-habisan para pendukung aborsi lantaran meniru Hitler, yang melegalkan aborsi. Sedangkan pendukung aborsi mencela habis-habisan kelompok pro-janin lantaran meniru Hitler, yang melarang aborsi. Sebetulnya kedua pihak setengah benar. Hitler adalah seorang penganut eugenik, dan untuk alasan eugenik dia melarang aborsi bayi-bayi Arya, tapi mendorong aborsi Slavia dan Yahudi—juga untuk alasan eugenik.

Setelah membunuh jutaan orang, termasuk sepertiga Yahudi di dunia, dia kalah perang. Nama partai politiknya tetap menjadi salah satu kata paling tak sopan dalam bahasanya, dan ide-ide yang terkait dengannya dikutuk secara universal. Jadi ide membangun ras unggul menjadi amat tidak populer. Akan tetapi, gerakan eugenik tidak mati.

Eugenik Usai Perang Dunia II
Kebanyakan orang belum pernah mendengar tentang eugenik, dan sebagian besar yang sudah mendengarnya mengira ini turut mati bersama Hitler. Segelintir orang mengetahui bahwa eugenik masih hidup setelah Perang Dunia II. Banyak dari mereka percaya sisa-sisanya diperbarui. Nyatanya, gerakan eugenik terus berkembang pesat, tanpa pembaruan:
• Perkembangan dan promosi pengendalian kelahiran merupakan kesuksesan besar eugenik.
• Penemuan “ledakan populasi” dan histeria pengendaliannya merupakan kesuksesan besar eugenik.
• Bidang genetika tumbuh lebih cepat daripada lalat buah di tahun 1950-an, dan walaupun pengetahuan yang terkumpul sangat berharga, bidang tersebut didominasi oleh ahli eugenik, yang mungkin memanfaatkan pengetahuannya untuk tujuan eugenik.
• UNESCO, didirikan pada 1948, dipimpin oleh Julian Huxley, seorang penganut eugenik teguh yang memanfaatkan panggung globalnya dengan sangat efektif.
• Sistem kesejahteraan di Inggris Raya sebagian besar didasarkan pada penelitian Richard Titmuss, John Maynard Keynes, dan William Henry Beveridge, para anggota Eugenics Society.

Sejarawan yang terlalu percaya pada ahli eugenik akan meluputkan banyak hal. Daniel Kevles, misalnya, menjadikan gerakan eugenik pasca perang terdengar seperti sekelompok akademisi berdebu. Padahal salah satu kegiatan mereka di Inggris Raya yang berawal tahun 1960-an adalah menjalankan urusan aborsi yang sedang tumbuh. Dimulai pada 1960-an, beberapa anggota Eugenics Society mendirikan dan mengendalikan hampir seluruh industri aborsi swasta. Terserah Anda menganggap aborsi sebagai pembunuhan anak kecil atau perwujudan kebebasan dasar, kegiatan berdarah dan mengharukan ini bukanlah kerjaan akademisi berdebu: setidaknya sebagian ahli eugenik adalah aktivis.

Pengaruh ahli eugenik terhadap aborsi di Amerika barangkali dapat dipahami dengan membandingkan kasus Roe vs Wade dan buku karangan Profesor Glanville Williams, The Sanctity of Life and the Criminal Law. Buku ini dikutip dalam putusan aborsi tahun 1973 tersebut, tapi pengutipannya sendiri tidak mengungkap pengaruh sepenuhnya. Ide sentral dalam kasus Roe vs Wade adalah kebalighan/kedewasaan, dan bagian ini sebetulnya dijiplak dari Williams. Justice Blackmun menjiplak seluruh argumennya dari Williams, mencakup sejarah aborsi, kebiasaan purba, pengaruh Kristen, hukum adat, ajaran Augustine dan Aquinas, hukum kanun, dan undang-undang Inggris. Williams merupakan anggota Eugenics Society.[18] Kasus Roe vs Wade didasarkan pada eugenik.

Bahkan di Jerman, gerakan eugenik tidak mati. Contoh paling vulgar atas kebangkitannya pasca Hitler adalah pemulihan nama baik Profesor Dr. Otmar Freiherr von Verschuer. Pada 1935, von Verschuer menyebut dirinya “bertanggungjawab memastikan supaya pengurusan gen dan ras, yang dipimpin Jerman di seluruh dunia, memiliki landasan yang kuat untuk bertahan terhadap serangan dari luar.” Pada 1937, dia menjadi Direktur Third Reich Institute for Heredity, Biology and Racial Purity. Von Verschuer adalah pembimbing Josef Mengeles sebelum holocaust Nazi, dan menjadi kolaboratornya pada masa holocaust.[19]

Eksperimen seram Mengele di Auschwitz telah menyandingkan namanya di samping Hitler dan Eichmann. Tapi beberapa tahun setelah perang, von Verschuer mendirikan Institute of Human Genetics di Münster, di mana dia mendidik generasi lain sampai kematiannya pada 1969. Dia belum berpaling dari ide lamanya: dia adalah anggota luar negeri American Eugenics Society.

Mustahil pemulihan nama baik pembimbing dan kolaborator Mengele hanyalah kekeliruan tak sengaja, dengan alasan tidak tahu pandangannya. Para ahli eugenik di Amerika tahu betul siapa itu von Verschuer. Beberapa cerita tentangnya dimuat di Inggris dalam Eugenical News pada 1930-an. Cerita pertama, sekaligus resensi bukunya, Erbpathologie, menyebutkan: “Kultur ras, pemilihan argumen pendukung sterilisasi atau nasehat pernikahan [yakni penyuluhan genetik] adalah mustahil tanpa kolaborasi sungguh-sungguh dari seluruh profesi medis. Dalam buku ini pengarangnya menguraikan dengan jelas kewajiban dokter kepada bangsa. Kata ‘bangsa’ bukan lagi berarti sejumlah warga yang hidup dalam perbatasan tertentu, melainkan entitas biologis. Sudut pandang ini juga mengubah kewajiban dokter… Dr. Von Verschuer berhasil menjembatani jurang pemisah antara praktek medis dan riset teoritis ilmiah.”[20]

Satu artikel lain mengenai von Verschuer dimuat dalam Eugenical News edisi Mei/Juni 1936, yang secara rinci menyebutkan bahwa von Verschuer berniat menggunakan studi orang kembar untuk menguji ide rasis (horor Mengele di Auschwitz adalah studi orang kembar), dan terdapat artikel lanjutan pada Oktober 1937.

Kripto-eugenik
Pada 1968, Eugenics Review memuat artikel yang meringkas beberapa kegiatan Eugenics Society. Artikel itu mengutip proposal yang dibuat di akhir 1950-an oleh Dr. Carlos Paton Blacker, yang pernah menjadi pegawai di Eugenics Society sejak 1931 (sebagai Sekretaris lalu menjadi Sekretaris Jenderal, lalu Direktur, lalu Chairman):

“Perkumpulan ini mesti mengejar tujuan eugenik dengan cara yang kurang nyata, yaitu melalui kebijakan kripto-eugenik, yang terbukti berhasil di Eugenics Society AS.”[21]

Pada 1960, proposal Blacker diadopsi oleh Eugenics Society. Resolusi yang diterima menyatakan (sebagian):
“Kegiatan Perkumpulan dalam kripto-eugenik mesti ditempuh dengan habis-habisan, dan secara khusus Perkumpulan mesti meningkatkan dukungan moneternya terhadap FPA [Family Planning Association, cabang Planned Parenthood di Inggris] dan IPPF [International Planned Parenthood Federation] dan mesti menjalin kontak dengan Society for Study of Human Biology, yang sudah memiliki keanggotaan kuat dan aktif, untuk mencaritahu apakah ada rencana proyek-proyek relevan yang bisa dibantu oleh Eugenics Society.”[22]

Planned Parenthood tumbuh dari gerakan eugenik. Pada waktu resolusi ini diadopsi oleh Eugenics Society, Blacker menjabat Administrative Chairman di IPPF. Ketika didirikan pada 1952, IPPF bertempat di kantor Eugenics Society.

Tokoh dominan dalam gerakan eugenik di AS, yang dianggap sebagai teladan kripto-eugenik oleh Inggris, adalah Mayor Jenderal Frederick Osborn, maestro propagandis. Pada 1956, dia menyatakan masyarakat “takkan menerima ide bahwa mereka, secara umum, adalah kelas dua. Kita harus mengandalkan pendorong lain.” Dia menyebut pendorong lain itu sebagai “sistem seleksi sukarela tanpa sadar”. Cara membujuk masyarakat supaya melaksanakan seleksi sukarela tanpa sadar ini adalah dengan menyinggung ide anak-anak yang “diinginkan”. Osborn berucap, “Mari dudukkan proposal kita pada keinginan untuk melahirkan anak dalam keluarga-keluarga di mana mereka akan mendapat kasih-sayang dan perawatan penuh tanggungjawab.” Dengan cara ini, gerakan eugenik “akhirnya akan bergerak menuju sasaran tinggi yang Galton tetapkan.”[23]

Osborn mengemukakan masalah pencitraan secara terang-terangan: “Cita-cita eugenik kemungkinan besar akan dicapai dengan nama selain eugenik.”[24] Dia menunjuk penyuluhan eugenik sebagai contoh utama: “Klinik-klinik keturunan merupakan proposal eugenik pertama yang diadopsi dalam bentuk praktis dan diterima oleh masyarakat… Istilah eugenik tidak dikaitkan dengannya.”[25]

Osborn sering disebut sebagai pembaharu gerakan eugenik pasca Perang Dunia II, dan pembersih rasismenya. Namun, selama masa “pembaharuan” ini, dia adalah Presiden Pioneer Fund, memegang jabatan tersebut secara sembunyi-sembunyi dari 1947 sampai 1956. Pioneer Fund merupakan organisasi supremasi kulit putih yang terkenal. Sudah jelas, seorang rasis tersembunyi tak mungkin membersihkan rasisme; dia akan membersihkan rasisme terbuka, menyisakan kebijakan yang mungkin disebut “kripto-rasisme” oleh para kritikus.

Pada 1960, seorang anggota Eugenics Society, Reginald Ruggles Gates, mendirikan majalah berkala baru guna memajukan ide-ide rasis. Dewan Penasehat jurnal baru tersebut, Mankind Quarterly, meliputi von Verschuer dan satu anggota keluarga Darwin, Charles Galton Darwin. Ide yang dimajukan dalam jurnal ini adalah keyakinan bahwa antropologi, jika dipahami jujur, menunjukkan umat manusia terbagi ke dalam empat spesies. Edisi pertama menyatakan desegregasi terjadi lantaran “para antropolog Amerika bertanggungjawab memperkenalkan paham kesetaraan ke dalam antropologi, mengabaikan perbedaan keturunan di antara ras-ras,…sampai masyarakat awam perlahan-lahan tersesatkan. Kesetaraan kesempatan, yang didukung oleh setiap orang, digantikan dengan doktrin kesetaraan genetik dan sosial, padahal ini berbeda sekali.”[26]

Bergeser ke Genetika
Sebelum perang, American Eugenics Society menyusun tujuan risetnya, termasuk banyak penyelidikan dalam sosiologi, psikologi, antropologi, dan biologi. Tapi mereka memberi perhatian khusus pada dua bidang penting baru: studi populasi dan genetika.[27]

Setelah perang, riset genetika dipimpin oleh salah seorang ahli eugenik Jerman di samping von Verschuer yang melanjutkan penelitiannya: Dr. Franz J. Kallmann. Dia “dikaitkan dengan Dr. Ernst Rüdin, menyelidiki psikiatri genetik.”[28] Dia setengah Yahudi, jadi dia diusir dari Jerman oleh Hitler pada 1936. Meski begitu, dia memberi kesaksian meringankan untuk von Verschuer setelah perang. Kallmann mengajar psikiatri di Columbia, dan pada 1948 dia mendirikan American Society of Human Genetics (ASHG). Dia menjadi anggota American Eugencis Society. ASHG mengembangkan ratusan tes pra-melahirkan tapi tidak mencari obat, walaupun setiap tes digembar-gemborkan sebagai petunjuk potensial untuk mendapatkan obat.[29]

Selama tahun-tahun berikutnya, sekurangnya 124 orang menjadi anggota ASHG-nya Kallman dan American Eugenics Society. Berlimpahnya bukti komitmen ASHG pada eugenik semakin mengkhawatirkan bila Anda menyimak bahwa para anggota perkumpulan ini mempromosikan, mengembangkan dan kini memimpin Human Genome Project senilai satu miliar dolar.

Eugenik negatif, atau pengakhiran produksi berlebih “manusia tak layak”, jelas sedang dijalankan dengan penyebaran kontrasepsi, sterilisasi, dan aborsi. Tapi eugenik positif, atau peningkatan produksi “manusia layak”, dapat dimajukan lewat inseminasi buatan, fertilisasi in vitro, dan rekayasa genetik. Human Genome Project sudah pasti membantu skema eugenik positif.

Bidang Baru Kedua: Pengendalian Populasi
Usai Perang Dunia II, gerakan eugenik menemukan (atau mengarang) “ledakan populasi”, dan membangkitkan histeria global tentangnya. Sejak 1952, komponen utama gerakan eugenik adalah gerakan pengendalian populasi. Ledakan populasi memungkinkan gerakan eugenik meneruskan pekerjaannya—lebih banyak anak dari orangtua layak, semakin sedikit anak dari orangtua tak layak—dengan orang-orang yang sama, melakukan hal-hal yang sama, tapi atas dasar pemikiran publik yang baru.

Transformasi dari eugenik terbuka ke perencanaan populasi dideskripsikan dengan baik oleh Germaine Greer: “Kini terasa aneh jika orang-orang yang menonjol dalam gerakan eugenik beralih begitu saja ke urusan populasi di level tertinggi, tapi jika kita renungkan bahwa para penggajinya—Ford, Mellon, Du Pont, Standard Oil, Rockefeller, dan Shell—masih sama, kita hanya berharap agar orang-orang seperti Kongsley Davis, Frank. Notestein, C.C. Little, E.A. Ross, Osborn bersaudara (Frederick dan Fairfield), Philip M. Hauser, Alan Guttmacher, dan Sheldon Segal diberi penghargaan atas pengabdian di masa lalu.”[30] Dengan kata lain, gerakan pengendalian populasi memiliki sumber uang yang sama, pemimpin yang sama, kegiatan yang sama—dengan dalih baru.

Salah satu organisasi yang mempromosikan eugenik dengan judul populasi adalah The Population Council. Didirikan pada 1952 oleh John D. Rockefeller III, dan menghabiskan $173,621,654 dalam 25 tahun pertamanya.[31] Bukan anggaran yang sedikit untuk salah satu organisasi dalam gerakan kematian! Jelas, orang-orang yang menganggap gerakan eugenik telah mati di bawah reruntuhan Berlin pada dasarnya tidak paham kripto-eugenik, genetika, atau pengendalian populasi.

Jangkauan gerakan pengendalian populasi sulit untuk dibayangkan, dan lebih sulit untuk dibesar-besarkan. Contoh, selama 25 tahun terakhir, terdapat lebih dari 1,5 miliar bedah aborsi secara global; angka ini tak terbayangkan. United Nations Population Fund mensponsori tiga pertemuan yang menyatukan para kepala negara dari hampir seluruh dunia untuk mengembangkan strategi populasi global, di Bukarest pada 1974, Mexico City pada 1984, dan Kairo pada 1994. Masalah global ini telah menjadi alasan tiga pertemuan yang tak bisa ditandingi pertemuan lain. Bank Dunia, US Agency for International Development, dan lembaga-lembaga pemerintah dari hampir semua negara industri menyumbang miliaran dolar untuk kampanye mengurangi pertambahan penduduk.

Gerakan pengendalian populasi tidak dikenal akan penghargaannya terhadap hak azasi manusia. Pada 1972, contohnya, esai-esai karangan anggota American Eugenics Society dimuat dalam Readings in Population. Kingsley Davis menjelaskan perlunya pengendalian genetik, dan memeriksa hambatan-hambatan, termasuk ikatan dengan cita-cita kehidupan berkeluarga. Tapi dia melihat harapan pengembangan program yang lebih efektif untuk memperbaiki ras manusia, walaupun perbaikannya akan lambat:

“Dengan kondisi ini, barangkali kita akan berkutat dengan langkah-langkah kecil satu persatu, masih jauh untuk menjadi sistem pengendalian genetik… Moralitas teknik-teknik genetika terapan tertentu—inseminasi buatan, sterilisasi selektif, transplantasi ovula, aborsi eugenik, pencatatan genetik, pengujian genetik—akan diperdebatkan sengit dari segi teologis dan Marxian yang berawal berabad-abad silam. Mungkin, dalam setengah abad lagi, ini akan menghasilkan program komprehensif.”[32]

Tapi yang dia inginkan adalah “pergantian spesies secara sengaja untuk tujuan sosiologis”, yang akan menjadi “langkah lebih menentukan daripada yang sebelumnya dilakukan oleh umat manusia…. Ketika manusia telah menaklukkan evolusi biologisnya, dia akan meletakkan dasar untuk menaklukkan semua hal lain. Pada akhirnya, alam semesta akan menjadi miliknya.”

Dalam buku yang sama, Philip M. Hauser, juga anggota American Eugenics Society, menjelaskan perbedaan antara keluarga berencana, yang mengandalkan keputusan sukarela individu atau pasangan suami-isteri, dan pengendalian populasi, yang mencakup aborsi, komitmen pertambahan penduduk nol, pemaksaan, eutanasia, dan pembatasan migrasi internasional.[33]

Mungkin contoh pengaruh gerakan eugenik yang paling jelas hari ini adalah China, dengan kebijakan satu keluarga satu anak. Kebijakan ini merupakan serangan terhadap kehidupan pra-melahirkan dan privasi kaum perempuan. Program ini diuraikan dan dipuji dalam 16 artikel di edisi luar biasa jurnal triwulanan milik IPPF, People, pada 1989, di malam pembantaian Lapangan Tiananmen.[34] Tapi kebijakan anti-janin anti-pilihan ini bukan semata-mata milik China; sebagian besar negara-negara Asia mengandung unsur paksaan dalam kebijakan populasinya.[35]

Kebijakan paksa China mendapat sambutan dan dukungan di AS, termasuk pembelaan dari para pemimpin feminis “pro-pilihan” semisal Eleanor Smeal dan Molly Yard. Ketika pemerintahan Reagan memangkas dana untuk United Nations Population Fund (dulunya UNFPA, United Nations Fund for Population Activities) lantaran dukungannya terhadap program populasi China, dua organisasi Amerika menggugat agar dana itu dipulihkan: Rockefeller’s Population Council, dan Population Institute di Washington. Sebuah survey tahun 1978 terhadap para anggota Population Association of America menemukan, 34% anggota setuju “program paksa pengendalian kelahiran mesti diprakarsai di beberapa negara secepatnya.”[36]

Faktanya, pemerintah AS bertanggungjawab atas banyak pengendalian populasi global. Pada 1976, definisi formal kepentingan keamanan nasional, NSSM 200, mendeskripsikan ancaman-ancaman utama terhadap AS. Sebagian ancaman ini nyata. Yang pertama, tentu saja Komunisme di Eropa, dan militer dibebani tanggungjawab pokok mempertahankan keamanan nasional Amerika dari ancaman ini. Di Pasifik, ancamannya adalah potensi kehilangan pangkalan; militer dibebani tanggungjawab pokok mempertahankan kepentingan nasional ini. Di Amerika Latin, ada ancaman Komunisme yang baru mulai; CIA mempunyai tanggungjawab pokok atas pertahanan kita. Di Afrika, menurut pemerintah Amerika pada 1976 dan seterusnya, ada ancaman terhadap kepentingan keamanan nasional Amerika: pertumbuhan populasi. Agency for International Development diberi tanggungjawab mempertahankan Amerika dari ancaman serius ini. NSSM 200 dirahasiakan sampai 1992. Begitu dideklasifikasi, Information Project for Africa langsung mendistribusikannya, dan kebijakan depopulasi tersembunyi yang diselipkan ke dalam program bantuan luar negeri Amerika menimbulkan kemarahan besar.[37]

Perkembangan Mutakhir
Di akhir 1994, penerbitan The Bell Curve [38] menghidupkan kembali istilah “eugenik”. Riset yang dikutip dalam buku diambil dari para anggota American Eugenics Society dan kelompok-kelompok eugenik lain. Anehnya, kebanyakan pengulasnya fokus pada satu bab dalam buku panjang tersebut, dan memperdebatkan apakah buku tersebut rasis. Buku ini menyimpulkan bahwa semua manusia tidak setara, dan bahwa Deklarasi Kemerdekaan AS disusun dengan buruk. Uraian eugenik panjang-lebar ini berada di daftar best seller selama berminggu-minggu.

Buku ini dipuji secara umum oleh kalangan konservatif (lihat The National Review, 5 Desember 1994, edisi khusus yang membahas The Bell Curve) dan diserang oleh kalangan liberal (lihat The New Republic, 31 Oktober 1994, yang mencantumkan pembelaan panjang terhadap buku ini oleh para pengarangnya dan 21 tanggapan kritis atau ofensif).

Respon Sistematis
Satu cara terbaik untuk memahami gerakan eugenik adalah membaca daftar anggota Eugenics Society dan suksesornya, Society for Study of Social Biology. Eugenik bukanlah konspirasi, melainkan gerakan dan ideologi. Tapi bagian-bagiannya kerap dipertimbangkan secara terpisah-pisah (barangkali karena kesuksesan strategi kripto-eugenik) dan membaca daftar anggota merupakan cara efisien untuk melihat gambaran utuh.

Daftar anggota American Eugenics Society, disertai catatan, dapat diperoleh dari American Life League.

Pada 1925, John Thomas Scopes dituduh mengajarkan evolusi di sebuah sekolah umum di Tennessee, melanggar hukum federal. Persidangannya menjadi konfrontasi nyata antara pandangan Fundamentalis Kitab Suci dan teori evolusi. Membentuk perdebatan dengan cara ini memungkinkan pendukung evolusi mencetak kemenangan pencitraan besar. Meski demikian, dari dulu sampai sekarang persoalannya bersifat teologis dan moral, bukan sekadar saintifik. Darwin dan kaum evolusionis dan eugenik telah menimbulkan krisis keagamaan, dan memperdebatkan eksistensi Tuhan serta makna kehidupan manusia.

Dari awal, rintangan terbesar gerakan eugenik adalah Gereja Katholik Roma, dan berulangkali posisi Gereja disimpangkan. Gambaran posisi Gereja dapat dijumpai dalam:

Gaudium et Spes atau The Church in the Modern World—dokumen Vatikan II yang menjelaskan kepada semua orang yang beritikad baik kenapa Gereja ingin dilibatkan dalam diskusi masalah-masalah dunia dan kenapa ia dapat berkontribusi untuk menyelesaikannya;

Humanae Vitae—surat Paus Paulus VI mengenai hidup manusia, lebih dikenal karena mengulangi pernyataan tegas Gereja bahwa kontrasepsi adalah salah dan tidak bisa dijadikan [standar] moral, tapi juga berisi peringatan tajam soal ancaman pengendalian populasi paksa;

Populorum Progressio—surat berpengaruh Paus Paulus VI mengenai pembangunan, mendesak negara-negara kaya untuk membantu negara-negara miskin dengan murah hati, dan menyebut pembangunan sebagai “nama baru perdamaian”;

Laborem Exercens—surat Paus Yohanes Paulus II mengenai pekerjaan, menyodorkan pendekatan baru terhadap kedudukan pekerjaan dalam kehidupan individu dan masyarakat;

Familiaris Consortio—surat Paus Yohanes Paulus II mengenai kehidupan keluarga, lebih dikenal atas penegasan kembali tentangan Gereja terhadap kontrasepsi, tapi juga membela hak-hak keluarga, termasuk hak bermigrasi demi mencari kehidupan ekonomi yang lebih layak; dan

Sollicitudo Rei Socialis—salah satu surat Paus Yohanes Paulus II mengenai krisis yang dihadapi dunia modern, menyatakan bahwa tolok ukur program sosial adalah manfaatnya terhadap martabat individu, dan bahwa rute menuju kebebasan dari keburukan sosial adalah bersetiakawan dengan korban keburukan tersebut.

Ilmu-ilmu sosial di zaman kita seluruhnya diilhami teori eugenik. Menyelamatkannya adalah tugas mulia, begitu pula memahami teks dan teori dasar di setiap bidang, mengidentifikasi noda eugenik dan menggantinya dengan pengabdian teguh terhadap martabat individu, termasuk kaum miskin.

CATATAN KAKI
[1] Francis Galton, “Eugenics, Its Definition, Scope and Aims,” Sociological Papers (London, 1905)

[2] Formerly Lucifer the Light Bearer

[3] Diane B. Paul, “Eugenics Anxieties, Social Realities, and Political Choices,” in Are Genes Us: The Social Consequences of the New Genetics (New Brunswick, NJ: Rutgers University Press, 1994), p. 149

[4] Julian Huxley, Evolution in Action (New York: Signet, 1957), p. 132. Huxley’s career is indispensable to understanding eugenics. His grandfather Thomas Henry Huxley was a champion of Darwin’s theories. Julian Huxley was the founder of the World Wildlife Fund, a member of the Euthanasia Society, a leader in the Abortion Law Reform Association. He served in the English Eugenics Society in various capacities over several decades, including three years as president.

[5] The Population Council: A Chronicle of the First Twenty-Five Years, 1952-1977 (New York: Population Council, 1978), pp. 16-17

[6] The word was first used to refer to questions about population and environment, in the late 1960’s. In the 1970’s, it came to refer to questions including abortion, contraception, euthanasia and artificial insemination.

[7] Daniel J. Callahan, “Bioethics as a Discipline,” Hastings Ceter Studies 1, No. 1 (1973), pp. 66-73

[8] Letter to P. L. Lavrov, 12-17 November 1875, cited by R. C. Lewontin, Steven Rose, and Leon Kamin, Not in Our Genes: Biology, Ideology and Human Nature (New York: Pantheon, 1984), p. 309

[9] J. Philippe Rushton, Race, Evolution, and Behavior (New Brunswick, NJ: Transaction, 1995), pp. 9-13

[10] Eugenical News, 1917, p. 73

[11] Robert G. Marshall and Charles A. Donovan, Blessed Are the Barren (San Francisco: Ignatius Press, 1991)

[12] Margaret Sanger, Birth Control Review, October 1921, p. 5

[13] Barry Mehler, “Sources in the Study of Eugenics,” Mendel Newsletter, Nov., 1978

[14] Stephen Jay Gould, The Mismeasure of Man (New York: W. W. Norton and Co., 1981), p. 231

[15] Frederick Osborn, “Eugenics,” Encyclopaedia Britannica (Chicago, London, et al.: 1970), Vol. 8, p. 816 ff. Osborn was an officer—treasurer, former president—of the American Eugenics Society when he wrote this article for the Encyclopaedia Britannica. It is impossible to understand the history of eugenics without grasping the extent to which the eugenicists have been able to write their own story. Osborn, for example, is frequently considered to be a key reformer in the eugenics movement, purging it of racism after World War II. But he was president of the Pioneer Fund, a secretive white supremacist organization, from 1947 to 1956.

[16] Benno Müller-Hill, Murderous Science (New York: Oxford University Press, 1988)

[17] Stefan Kuhl, The Nazi Connection, (New York and Oxford: Oxford University Press, 1994). This is an excellent study of the extent of cooperation between eugenicists inside and outside Germany.

[18] Katharine O’Keefe, “Crypto-Eugenics,” unpublished paper (available through American Life League, Stafford, VA). Williams, who taught Jurisprudence at Cambridge University, was also president of the Abortion Law Reform Association and later Vice President of the Voluntary Euthanasia Society.

[19] Benno Müller-Hill, Murderous Science (New York: Oxford University Press, 1988), pp. 18-20

[20] Eugenical News, January/February 1936, pp. 21-22

[21] Faith Schenck and A. S. Parkes, “The Activities of the Eugenics Society,” Eugenics Review, vol 60 (1968), pp. 154-155

[22] ibid.

[23] Frederick Osborn, Galton Lecture, Eugenics Review, 1956-1957, pp. 21-22

[24] Frederick Osborn, Future of Human Heredity (New York: Weybright and Talley, 1968), p. 104

[25] ibid, p. 91

[26] Mankind Quarterly, Vol. 1, No. 1

[27] Eugenics Review, October 1938, p. 195

[28] Eugenical News, 1938, p. 34

[29] Katharine O’Keefe, index to list of American Eugenics Society (available through American Life League)

[30] Germaine Greer, Sex and Destiny (New York: Harper & Row, 1984), p. 377

[31] The Population Council: A Chronicle of the First Twenty-Five Years, 1952-1977 (New York: Population Council, 1978), p. 210

[32] Kingsley Davis, “Sociological Aspects of Genetic Control” in Readings in Population, edited by William Petersen (New York: Macmillan, 1972), p. 379

[33] Philip M. Hauser, “Population Control: More Than Family Planning” in Readings in Population, edited by William Petersen (New York: Macmillan, 1972), pp. 422-423

[34] People, Vol. 16, No. 1, 1989. IPPF’s quarterly, from London, is not the same as the American magazine about celebrities.

[35] William O’Reilly, USAID’s Agenda of Fear (Gaithersburg, MD: Human Life International, 1987)

[36] PAA Affairs, Fall 1978, p. 2, quoted by John S. Aird in Slaughter of the Innocents (Washington: AEI Press, 1990), p. 8. Aird, a former research specialist on China at the U.S. Bureau of the Census, documents the coercive nature of the Chinese program.

[37] Population Control and National Security (Washington: Information Project for Africa, 1991)

[38] Richard J. Herrnstein, and Charles Murray, The Bell Curve: Intelligence and Class Structure in American Life (New York: Free Press, 1994). In an excellent review in the December 1, 1994, New York Review, Charles Lane showed the extensive influence of the Pioneer Fund and Mankind Quarterly on the book.

BIBLIOGRAFI
Sejarah Eugenik
Adams, Mark, ed., The Wellborn Science: Eugenics in Germany, France, Brazil and Russia (New York and Oxford: Oxford University Press, 1990)

Bajema, Carl L., ed., Eugenics, Then and Now (Stroudsburg, Penn-sylvania: Hutchinson & Ross, 1976)

Baker-Benfield, G. J., The Horrors of the Half-Known Life: Male Attitudes Toward Women and Sexuality in Nineteenth Century America (New York: Harper Colophon, 1976)

Bigelow, Maurice A., “Brief History of the American Eugenics Society,” Eugenic News, 31 (1946): 49-51.

Chase, Allen, The Legacy of Malthus: The Social Costs of the New Scientific Racism (New York: Alfred A. Knopf, 1977).

Degler, Carl N., In Search of Human Nature: The Decline and Revival of Darwinism in American Social Thought (New York: Oxford University Press, 1991)

Haller, Mark H., Eugenics: Hereditarian Attitudes in American Thought (New Brunswick, New Jersey: Rutgers University Press, 1963)

Kevles, Daniel J., In the Name of Eugenics: Genetics and the Uses of Human Heredity (Berkeley and Los Angeles: University of California Press, 1986)

Kuhl, Stefan, The Nazi Connection, (New York and Oxford: Oxford University Press, 1994)

Lifton, Robert, The Nazi Doctors: Medical Killing and the Psychology of Genocide (New York: Basic Books, 1986)

Ludmerer, Kenneth M., Genetics and American Society (Baltimore and London: Johns Hopkins University Press, 1972)

Mehler, Barry, “A History of the American Eugenics Society, 1921-1940,” dissertation, University of Illinois, 1988.

Pernick, Martin S., The Black Stork: Eugenics and the Death of Defective Babies in American Medicine and Motion Pictures Since 1915 (New York: Oxford University Press, 1992)

Pickens, Donald K., Eugenics and the Progressives (Nashville, Tennessee: Vanderbilt University Press, 1968)

Rosenberg, Charles E., No Other Gods: On Science and American Social Thought (Baltimore: Johns Hopkins University Press, 1976)

Shapiro, Thomas M., Population Control Politics: Women, Sterilization and Reproductive Choice (Philadelphia: Temple University Press, 1985)

Stepan, Nancy, The Idea of Race in Science: Great Britain 1800-1960 (London: Macmillan, 1982)

Stepan, Nancy, The Hour of Eugenics: Race, Gender and Nation in Latin America (Ithaca, New York: Cornell University Press, 1991)

Trombley, Stephen, The Right to Reproduce: A History of Coercive Sterilization (London: Weidenfeld & Nicolson, 1988)

Weinreich, Max, Hitler’s Professors: The Part of Scholarship in Germany’s Crimes Against the Jewish People (New York: Yiddish Scientific Institute, 1946)

Weiss, Sheila F., Race Hygiene and National Efficiency: The Eugenics of Wilhelm Schallmayer (Berkeley, Los Angeles, London: University of California Press, 1987)

Teknologi Reproduksi
Corea, G., The Mother Machine (New York: Harper & Row, 1985)

Congregation for the Doctrine of the Faith. Instruction on Respect for Human Life in Its Origins and on the Dignity of Procreation (Vatican City: 1987)

De Marco, Don, Biotechnology and the Assault on Parenthood (San Francisco: Ignatius Press, 1991)

Fletcher, Joseph, Morals and Medicine (Boston: Bacon Press, 1960)

Frank, Diana, and Vogel, Marta, The Baby Makers (New York: Carroll & Graf, 1988)

Howard, Ted, and Rifkin, Jeremy, Who Should Play God? (New York: Dell Publishing, 1987)

Lejeune, Jerome; Ramsey, Paul; and Wright, Gerard, The Question of In Vitro Fertilization (London: SPUC Educational Trust, 1984)

McLaughlin, Loretta, The Pill, John Rock, and the Church (Boston: Little, Brown & Co, 1982)

Rini, Suzanne M., Beyond Abortion: A Chronicle of Fetal Experimentation (Rockford, Illinois: TAN Books, 1988)

U.S. Congress, Office of Technology Assessment, Infertility: Medical and Social Choices (Washington: U.S. Government Printing Office, 1988)

Pengendalian Populasi
Aird, John S., Slaughter of the Innocents: Coercive Birth Control in China (Washington: AEI Press, 1990)

Greer, Germaine, Sex and Destiny (New York: Harper & Row, 1984)

Hartmann, Betsy, Reproductive Rights and Wrongs (New York: Harper & Row, 1987)

Information Project for Africa, Population Control and National Security (Washington, 1991). IPFA has four other studies that have also been used by opponents of population imperialism throughout the developing world.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s