Menabur Benih Kehancuran

Oleh: Stephen Lendman
(Sumber: Nexus Magazine, Februari-Maret 2008, hal. 11-16 & Nexus Magazine, April-Mei 2008, hal. 21-26, 79)

Resensi buku Seeds of Destruction: The Hidden Agenda of Genetic Manipulation karangan F. William Engdahl

F. William (bill) Engdahl adalah peneliti, ekonom, dan analis terkemuka mengenai New World Order yang telah menulis isu-isu energi, politik, dan ekonomi selama lebih dari 30 tahun. Dia juga sering menjadi pembicara di konferensi-konferensi internasional dan merupakan research associate terkenal di Centre for Research on Globalization, di mana dia menjadi kontributor tetap. Dia adalah pengarang A Century of War: Anglo-American Oil Politics and the New World Order (Pluto Press, 2004) dan Seeds of Destruction: The Hidden Agenda of Genetic Manipulation (Global Research, 2007; lihat www.globalresearch.ca/books/SoD.html), subjek artikel resensi ini. Dia bisa dihubungi lewat surel di info@engdahl.oilgeopolitics.net.

BAGIAN I

Dengan pendanaan dari keluarga Rockefeller, Revolusi Hijau meletakkan dasar untuk Revolusi Gen, memperkenankan segelintir raksasa agribisnis Anglo-Amerika untuk meraih kendali pasokan pangan dunia.

Pangan Rekayasa Genetik: Eksperimen Terhadap Masyarakat
Pada 2003, Seeds of Deception karya Jeffrey Smith diterbitkan. Buku itu membeberkan bahaya makanan rekayasa genetik (GE/genetically engineered) atau modifikasi genetik (GM/genetically modified) yang belum diuji dan belum diregulasi, yang dimakan oleh sebagian besar orang AS setiap hari tanpa mengetahui potensi resiko kesehatannya. Upaya untuk memberitahu publik diberangus, dan sains terpercaya dikubur.

Renungkan apa yang menimpa pakar lektin dan modifikasi genetik tanaman yang berbasis di Inggris, Arpád Pusztai. Dia dijelek-jelekkan dan dipecat dari jabatan peneliti di Rowett Research Institute Skotlandia lantaran mempublikasikan data yang tak ramah terhadap industri, yang ditugaskan padanya, mengenai keamanan pangan GM. Studinya di Rowett Research merupakan studi independen pertama tentang pangan GM. Dia melaksanakannya, percaya pada janji mereka, tapi kemudian gusar dengan penemuannya sendiri. Temuannya mencengangkan dan memiliki implikasi terhadap manusia yang mengkonsumsi makanan GE atau GM.

Pusztai menemukan bahwa tikus-tikus yang diberi makan kentang GM mempunyai hati, jantung, biji kemaluan, dan otak yang lebih kecil, serta sistem kekebalan yang rusak; mereka menampakkan perubahan struktural pada sel darah putih, menjadikan mereka lebih rawan terhadap infeksi dan penyakit dibanding tikus-tikus lain yang diberi makan kentang non-GM. Ada yang lebih buruk. Terjadi kerusakan timus dan limpa, dan pembesaran jaringan tisu, termasuk pankreas dan usus. Terdapat kasus berhentinya pertumbuhan hati serta berkembangbiaknya sel-sel perut dan usus secara signifikan yang boleh jadi merupakan pertanda resiko kanker lebih tinggi di masa mendatang. Yang juga menggelisahkan adalah, ini semua terjadi setelah 10 hari ujicoba, dan perubahan ini bertahan setelah 110 hari—setara dengan 10 tahun di dunia manusia.

Pangan GM hari ini memenuhi menu makanan kita, terutama di AS. 80% lebih dari semua pangan olahan yang dijual di supermarket mengandung bahan GM. Pangan GM lainnya mencakup padi-padian seperti beras, jagung, gandum; polong-polongan seperti kacang kedelai (dan jajaran produk kedelai); minyak nabati; minuman ringan; bumbu selada; sayur-sayuran dan buah-buahan; produk susu termasuk telur; daging dan produk hewan lainnya; dan bahkan [susu] formula bayi. Juga ada banyak bahan tersembunyi dalam pangan olahan (misalnya saus tomat, es krim, dan selai kacang tanah). Semuanya tak diungkap kepada konsumen karena pelabelan demikian dilarang—padahal semakin banyak kita memakannya, semakin besar potensi ancaman terhadap kesehatan kita.

Hari ini kita semua menjadi tikus lab dalam eksperimen manusia secara masal, tak terkendali, dan tak diregulasi, yang hasilnya belum diketahui. Resikonya terlalu banyak, dan akan perlu bertahun-tahun untuk menemukannya. Sekali benih GM diperkenalkan ke suatu bidang, keadaan tak dapat dikembalikan sampai kapanpun.

Namun, terlepas dari adanya resiko besar ini, Washington dan semakin banyak pemerintahan di seluruh dunia, di wilayah Inggris, Eropa, Asia, Amerika Latin, dan Afrika, kini memperbolehkan produk-produk ini ditanam di tanah mereka atau diimpor. Produk-produk ini diproduksi dan dijual kepada konsumen karena para raksasa agribisnis seperti Monsanto, DuPont, Dow AgriSciences, dan Cargill punya pengaruh besar untuk menuntutnya dan ada mitra kuat yang mendukung mereka—pemerintah AS dan lembaga-lembaganya, termasuk Departemen Pertanian dan Luar Negeri, Food and Drug Adminstration (FDA), Environmental Protection Agency (EPA), dan bahkan institusi pertahanan. Aturan paten TRIPS (trade-related aspects of intellectual property rights) WTO juga membeking mereka, serta putusan-putusan WTO yang ramah terhadap industri seperti pada 7 Februari 2006.

WTO menyokong tentangan AS terhadap kebijakan regulasi Eropa atas organisme modifikasi genetik (GMO/genetically modified organism) di tengah menguatnya sentimen konsumen terhadap makanan dan bahan ini di benua tersebut. GMO juga melanggar Biosafety Protocol yang semestinya membolehkan negara-negara mengatur produk-produk ini demi kepentingan masyarakat—tapi nyatanya tidak, karena aturan perdagangan WTO menyabotasenya.

Meski demikian, aktivisme anti-GMO terus bertahan, konsumen masih punya suara, dan ada ratusan zona bebas GMO di seluruh dunia, termasuk di AS. Semua ini, dan lainnya, diperlukan untuk menghadapi raksasa-raksasa agribisnis yang segala kemauannya selalu dituruti.

Washington Meluncurkan Revolusi Gen
Engdahl menjelaskan bahwa sains “modifikasi biologis dan genetik pada tanaman dan makhluk hidup lain” pertama kali keluar dari lab-lab riset AS di tahun 1970-an. Pemerintahan Reagan bertekad menjadikan Amerika dominan di bidang yang baru muncul ini, dan terutama industri agribisnis biotek. Perusahaan-perusahaan di awal 1980-an berlomba mengembangkan tanaman dan ternak GMO, dan obat-obatan binatang berbasis GMO. Washington mempermudah mereka dengan iklim yang ramah terhadap bisnis dan tanpa regulasi, yang terus berlangsung di bawah rezim Republik maupun Demokrat.

Yang memimpin upaya pengembangan GMO adalah sebuah perusahaan “beriwayat panjang dalam penggelapan, penutupan fakta, penyuapan”, penipuan, dan peremehan kepentingan masyarakat: Monsanto. Produk pertamanya adalah sakarin, yang di kemudian hari terbukti karsinogenik. Lalu mereka terjun ke bahan kimia, plastik, dan menjadi terkenal dengan Agent Orange yang dipakai untuk menggundulkan hutan-hutan Vietnam di tahun 1960-an dan 1970-an dan memapar ratusan ribu warga sipil dan tentara dengan dioksin mematikan, salah satu senyawa paling beracun di antara semua yang dikenal.

Bersama yang lainnya di industri ini, Monsanto dituduh sebagai pencemar tak tahu malu. Ia punya riwayat membuang sebagian zat paling mematikan ke dalam air dan tanah secara diam-diam dan lolos dari tanggungjawab. Namun, hari ini di websitenya, perusahaan tersebut tak mempedulikan riwayatnya dan menyebut dirinya “perusahaan pertanian [yang menerapkan] inovasi dan teknologi untuk membantu petani di seluruh dunia agar sukses, menghasilkan pangan yang lebih sehat, pakan binatang yang lebih baik, dan serat yang lebih banyak, seraya mengurangi dampak pertanian terhadap lingkungan kita”. Engdahl membuktikan sebaliknya dalam riset cermat.

Terlepas dari masa lalunya yang buruk, Monsanto dan raksasa GMO lain diberi kebebasan tanpa regulasi pada 1980-an dan terutama setelah George H.W. Bush menjadi presiden pada 1989. Pemerintahannya membuka “kotak Pandora” agar tak ada “regulasi tak berguna yang dapat menghambat mereka”. Sesudah itu, “tak ada satupun pengesahan undang-undang regulasi baru yang mengatur produk biotek atau GMO [padahal terdapat] resiko tak dikenal dan potensi bahaya kesehatan”.

Di pasar yang tak terkekang sama sekali, rubah-rubah kini menjaga kandang ayam karena sistemnya dibuat swaregulasi. Perintah eksekutif Bush senior menjaminnya, memutus bahwa tanaman dan pangan GMO “pada substansinya setara” dengan tanaman dan pangan biasa dari varietas yang sama seperti jagung, gandum, atau beras. Ini membuktikan prinsip “kesetaraan substansial” sebagai “pentolan revolusi GMO”. Dulunya omong-kosong sains semu, tapi kini menjadi undang-undang. Dan Engdahl menyamakannya dengan “strain Andromeda” yang berpotensi menimbulkan bencana secara biologis—tapi bukan lagi sains fiksi.

Monsanto memilih susu sebagai produk GMO pertamanya, merekayasanya secara genetik dengan rBGH (recombinant bovine growth hormone) dan memasarkannya dengan nama dagang Posilac. Pada 1993, FDA era Clinton menyatakannya aman dan menyetujui penjualannya padahal belum ada petunjuk pemakaian konsumen. Sekarang sudah dijual di setiap negara bagian AS dan digembar-gemborkan sebagai cara agar sapi-sapi dapat memproduksi susu 30% lebih banyak. Namun masalah segera muncul. Para petani melaporkan ternak mereka mati dua tahun lebih cepat daripada biasa, timbulnya penyakit serius, dan beberapa binatang tak dapat berjalan. Masalah lain meliputi mastitis (radang ambing) serta anak sapi yang terlahir cacat.

Informasi diberangus dan susu rBGH tak diberi label, jadi mustahil konsumen bisa tahu. Mereka juga tak diberitahu bahwa hormon ini menyebabkan leukemia dan tumor pada tikus, dan bahwa komite European Commission menyimpulkan manusia yang meminum susu rBGH beresiko terkena kanker payudara dan prostat. Alhasil Uni Eropa melarang produk tersebut, tapi AS tidak. Terlepas dari adanya isu keamanan, FDA tidak bertindak dan justru membolehkan susu berbahaya dijual secara diam-diam. Ini baru permulaan.

Manipulasi Data
Engdahl meninjau skandal Pusztai, korban yang berjatuhan sementara dia sehat wal afiat, dan pemulihan nama baik yang akhirnya dia peroleh. Pusztai sudah keluar dari pekerjaan ketika, pada tahun 1999, Royal Society Inggris berumur 300 tahun menyerangnya, menyebut risetnya “bercacat dalam banyak aspek perencanaan, pelaksanaan, dan analisa, sehingga tak bisa ditarik kesimpulan darinya”. Pada kenyataannya kritik ini tak berdasar, dan serangan dilakukan karena bom Pusztai mengancam menggelincirkan industri GMO Inggris, dan AS, yang sangat menguntungkan.

Adapun Pusztai, setelah lima tahun, beberapa serangan jantung, dan karir yang dirusak, akhirnya tahu apa yang terjadi menyusul pengumuman temuannya. Monsanto adalah pelakunya. Perusahaan ini mengeluh kepada presiden AS Bill Clinton, yang kemudian memperingatkan perdana menteri Inggris Tony Blair. Temuan Pusztai harus dibatalkan dan dia harus didiskreditkan atas penemuannya. Meski demikian dia mampu membalas dengan bantuan jurnal ilmiah Inggris yang sangat dihormati, The Lancet. Di tengah ancaman Royal Society terhadap Pusztai, editor tetap mempublikasikan artikelnya. Tapi ada harganya. Setelah publikasi, Royal Society dan industri biotek menyerang The Lancet lantaran tindakannya. Ini perbuatan yang lebih tak tahu malu.

Sebagai catatan, Pusztai kini memberi kuliah ke seluruh dunia mengenai riset GMO-nya dan menjadi konsultan untuk kelompok-kelompok rintisan yang meneliti efek makanan ini terhadap kesehatan. Selain dia dan isterinya, rekan penulisnya, Profesor Stanley Ewen, juga menderita. Dia kehilangan posisi di Universitas Aberdeen, dan Engdahl mencatat bahwa praktek pemberangusan fakta yang tak dikehendaki dan penghukuman whistleblower merupakan kaidah lumrah, bukan pengecualian. Tuntutan industri sangat kuat, terutama bila berpengaruh pada kenyataan mendasar.

Pemerintahan Blair beranjak lebih jauh lagi. Mereka menugaskan firma swasta Grainseed untuk melakukan studi tiga tahun guna membuktikan keamanan pangan GMO. Suratkabar Observer di London kemudian memperoleh dokumen Kementerian Pertanian Inggris yang menunjukkan bahwa tes-tes itu direkayasa dan menghasilkan “suatu sains yang aneh”. Sekurangnya satu peneliti Grainseed memanipulasi data untuk “memastikan benih dalam percobaan tampak berkinerja lebih baik daripada aslinya”.

Meski demikian, Kementerian merekomendasikan agar sebuah varietas jagung GMO disertifikasi, dan pemerintahan Blair menerbitkan kode etik baru di mana “siapapun pegawai lembaga riset berbiaya negara yang lancang mengungkapkan temuan tentang tanaman GMO akan menghadapi pemecatan, digugat lantaran melanggar kontrak, atau menghadapi putusan sela pengadilan”. Dengan kata lain, tindakan whistleblowing kini ilegal, sekalipun taruhannya adalah kesehatan masyarakat. Tak ada yang boleh merintangi nafsu agribisnis.

Rencana Rockefeller untuk Agribisnis
Di era Perang Dingin, pangan menjadi senjata strategis dengan menyamar sebagai “Pangan untuk Perdamaian”. Ini adalah kedok bagi kepentingan agrikultur AS untuk merekayasa transformasi pertanian keluarga ke dalam agribisnis global, dengan pangan sebagai alat, dan menyingkirkan petani-petani kecil agar tanah mereka dapat dipakai secara efektif. Penguasaan pertanian dunia adalah “salah satu pilar sentral kebijakan Washington pasca perang, di samping [pengendalian] pasar-pasar minyak dunia dan penjualan alat pertahanan dunia non-komunis”. Peristiwa menentukan di tahun 1973 adalah krisis pangan dunia.

Kekurangan bahan pokok padi-padian, serta goncangan minyak pertama dari dua goncangan di tahun 1970-an, telah memajukan “peralihan kebijakan Washington yang baru dan signfikan”. Harga minyak dan padi-padian naik tiga sampai empat kali lipat sekaligus ketika AS menjadi produsen surplus pangan terbesar dunia yang memiliki kekuasaan atas harga dan pasokan. Itu waktu yang ideal untuk aliansi baru antara perusahan-perusahaan penjual padi-padian yang bermarkas di AS dan pemerintah. Itu “meletakkan dasar untuk revolusi gen kemudian”.

Coba catat apa yang Engdahl sebut “perampokan kereta masif”, di mana Henry Kissinger adalah penjahatnya. Dia putuskan kebijakan pertanian AS “terlalu penting untuk dibiarkan di tangan Departemen Pertanian”, jadi dia mengambil sendiri kendalinya. Para pembaca pasti tahu masa depan seperti apa yang ada dalam benak Kissinger saat dia berkata di tahun 1970: “Kendalikan minyak, maka kau mengendalikan bangsa-bangsa; kendalikan pangan, maka kau mengendalikan orang-orang”. Dunia butuh padi-padian, Amerika punya pasokan terbesar, dan skemanya adalah memanfaatkan kekuatan ini untuk “mengubah pasar pangan dan perdagangan pangan dunia secara radikal”. Pemenang besarnya adalah para pedagang padi-padian seperti Cargill, Archer Daniels Midland (ADM), dan Continental Grain; mereka dibantu oleh “diplomasi pangan baru [untuk menciptakan] pasar pertanian global untuk pertama kalinya” yang dijalankan Kissinger. Pangan akan “mengganjar teman dan menghukum musuh”, dan ikatan antara Washington dan bisnis merupakan jantung strategi ini.

Pasar pangan global direorganisasi, kepentingan korporat diutamakan, keuntungan politik dieksploitasi, dan kerangka kerja diletakkan untuk “revolusi gen” 1990-an. Kepentingan Rockefeller, termasuk Rockefeller Foundation, adalah memainkan peran menentukan sementara peristiwa-peristiwa berkembang selama dua dekade berikutnya. Reorganisasi ini dimulai di bawah Presiden Richard Nixon sebagai landasan kebijakan pertaniannya; perdagangan bebas menjadi mantera, pedagang padi-padian korporat menjadi pihak yang diuntungkan, dan pertanian keluarga harus hancur agar raksasa agribisnis dapat mengambilalih. Pembangkrutan pertanian keluarga merupakan rencana untuk meniadakan “kelebihan sumberdaya manusia”. Engdahl menyebutnya “bentuk imperialisme pangan berselubung tipis” sebagai bagian dari skema agar AS menjadi “lumbung dunia”. Pertanian keluarga menjadi “pertanian pabrik” dan agrikultur menjadi “agribisnis”, didominasi oleh segelintir raksasa korporat yang mempunyai ikatan asusila dengan Washington.

Devaluasi dolar juga bagian dari skema di bawah New Economic Plan (NEP) Nixon, yang mencakup penutupan jendela emas pada 1971 untuk membuat mata uang mengambang bebas. Negara-negara berkembang juga dibidik agar mereka melupakan [niat] menjadi negara swasembada padi-padian dan daging sapi, bergantung pada Amerika dalam komoditas penting, dan malah berkonsentrasi pada buah-buahan kecil, gula, dan sayuran untuk ekspor. Devisa yang diperoleh kemudian dapat membeli impor dari AS dan membayar pinjaman IMF dan Bank Dunia yang menciptakan siklus perbudakan utang tanpa ujung. General Agreement on Tariffs and Trade (GATT) juga dipakai, begitupun WTO dengan aturan-aturan yang ditulis oleh korporasi agar sesuai dengan kepentingan dasar mereka.

Pengurangan Populasi Secara Drastis
Di tengah kekeringan global dan keruntuhan pasar saham, pertimbangkan memo rahasia Kissinger pada April 1974. National Security Study Memorandum 200 (NSSM 200) dibentuk oleh kepentingan Rockefeller dan dimaksudkan mengadopsi “rencana aksi populasi dunia” untuk pengendalian populasi global secara drastis, dengan kata lain pengurangan. AS memimpin upaya ini, menjadikan pengendalian kelahiran di negara-negara berkembang sebagai prasyarat untuk mendapat bantuan AS. Engdahl meringkasnya dalam ucapan blak-blakan: “Jika ras-ras inferior ini menghalangi kita untuk mengamankan bahan mentah murah dan berlimpah, maka kita harus temukan cara menyingkirkan mereka”. Nazi juga bertarget besar dan mengusahakan pengendalian [populasi]. Penyisihan populasi atau “eugenik” adalah bagian dari skema mereka untuk mengincar ras-ras “inferior” demi melestarikan ras-ras “superior”.

Skema Kissinger berupa “metode kontrasepsi sederhana melalui riset biomedis” hampir terdengar seperti slogan lama DuPont, “Alat lebih baik untuk hidup lebih baik dengan ilmu kimia”. Di kemudian hari DuPont membuang frase “dengan ilmu kimia” karena semakin banyak bukti yang menunjukkan efek-efek beracun bahan kimia, dan perusahaan berubah di tahun 1999, mulai memakai slogan baru, “Mukjizat Sains”, dalam iklannya.

NSSM 200 terikat pada agenda agribisnis yang berawal dengan “Revolusi Hijau” 1950-an dan 1960-an untuk mengendalikan produksi pangan di negara-negara Amerika Latin, Asia, dan Afrika yang diincar. Rencana Kissinger mempunyai dua sasaran: mengamankan pasar baru padi-padian AS dan mengendalikan populasi, di mana terpilih 13 negara “tak beruntung”, termasuk India, Brazil, Nigeria, Meksiko, dan Indonesia. Mengeksploitasi sumberdaya mereka tergantung pada pelaksanaan pengurangan populasi secara drastis guna menurunkan permintaan dalam negeri.

Skema yang kurang ajar dan murni Kissinger. Skema yang merekomendasikan pengendalian populasi dan langkah lainnya untuk menjamin sasaran strategis AS. Kissinger ingin jumlah penduduk dunia dikurangi sebanyak 500 juta sebelum tahun 2000 dan mendukung penggandaan tingkat kematian tahunan 10 juta menjadi 20 juta. Engdahl menyebutnya “genosida”, berdasarkan definisi ketat statuta Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide PBB 1948 yang mendefinisikan kejahatan ini secara hukum. Kissinger bersalah menurut [statuta] ini karena ingin menahan bantuan pangan untuk “orang-orang yang tak mampu atau tak mau mengendalikan pertumbuhan populasi mereka”—dengan kata lain, jika mereka tak mau melakukannya, kami akan melakukannya untuk mereka. Strategi ini mencakup pengendalian kesuburan, disebut “keluarga berencana”, yang disangkutpautkan dengan ketersediaan sumberdaya kunci. Para anggota keluarga Rockefeller menyokong rencana ini; Kissinger adalah “tangan sewaan” mereka dan dia diberi ganjaran pantas atas usahanya, contohnya dilindungi dari penuntutan padahal dia dicari sebagai penjahat perang dan dapat ditangkap di luar negeri.

Di samping kejahatannya yang sudah dikenal, perhatikan pula perbuatan Kissinger terhadap kaum perempuan miskin Brazil melalui kebijakan pemandulan masal di bawah NSSM 200. Setelah 14 tahun program tersebut, Kementerian Kesehatan Brazil menemukan laporan menggemparkan: diperkirakan 44% dari semua wanita Brazil berusia antara 14 s/d 55 mandul permanen. Organisasi seperti International Planned Parenthood Federation dan Family Health International ikut terlibat, dan USAID memimpin program ini. USAID punya riwayat panjang dan menggelisahkan dalam menyokong imperialisme AS, tapi mereka mengklaim dalam websitenya bahwa mereka mengulurkan “bantuan kepada orang-orang di luar negeri yang berjuang untuk mendapatkan hidup lebih baik, pulih dari bencana, atau berusaha tinggal di negara bebas dan demokratis.”

Yang lebih menggelisahkan lagi adalah, diperkirakan 90% wanita Brazil keturunan Afrika dimandulkan di negara tersebut, di mana populasi kulit hitamnya berada di urutan kedua setelah Nigeria. Tokoh-tokoh berpengaruh membekingi skema ini, tapi yang paling berpengaruh adalah keluarga Rockefeller, di mana John D. III paling berkuasa dalam kebijakan populasi. Pada 1969, Nixon menunjuknya sebagai kepala Commission on Population Growth and the American Future. Pekerjaan awal komisi ini meletakkan dasar untuk [program] NSSM 200 Kissinger dan kebijakan pemusnahan melalui muslihat.

Persaudaraan Maut
Jauh sebelum Kissinger (dan asistennya, Brent Scowcroft) menjadikan pengurangan populasi sebagai kebijakan luar negeri AS yang resmi, keluarga Rockefeller bereksperimen terhadap manusia. JD III memimpin upaya ini. Pada 1950-an, sementara Nelson mengeksploitasi buruh murah Puerto Riko di New York dan [negara] pulau tersebut, JD III sedang melaksanakan eksperimen pemandulan masal pada kaum perempuan Puerto Riko. Menjelang pertengahan 1960-an, Departemen Kesehatan Masyarakat Puerto Riko memperkirakan jumlah korban: sepertiga atau lebih wanita hamil miskin, yang tak menaruh curiga, telah dimandulkan secara permanen.

JD III mengungkapkan pandangannya dalam pidato di Food and Agriculture Organization (FAO) PBB tahun 1961: “Menurut saya, pertumbuhan populasi [dan pengurangannya] berada di urutan kedua setelah pengendalian senjata atom sebagai masalah terpenting di zaman ini.” Tentu saja maksudnya adalah pengurangan bagian-bagian tak diinginkan di dalam populasi guna melestarikan sumberdaya berharga bagi orang-orang istimewa. Dia juga terpengaruh oleh para ahli eugenik, teoris ras, dan penganut Malthusian di Rockefeller Foundation yang merasa punya hak untuk memutuskan siapa yang hidup atau mati.

Sosok-sosok berpengaruh serta keluarga-keluarga bisnis terkemuka di AS berada di balik upaya ini. Demikian pula tokoh-tokoh di Inggris kala itu, seperti Winston Churchill dan John Maynard Keynes. Alan Gregg, kepala Medical Division di Rockefeller Foundation selama 34 tahun, berkata bahwa “orang-orang menjadi polusi, jadi singkirkan polusi dengan menyingkirkan orang-orang [yang tak diinginkan].” Dia menyamakan perkampungan kumuh di kota dengan tumor kanker dan menyebutnya “merusak kesopanan dan keindahan”. Lebih baik menghilangkannya dan bersihkan pemandangan.

Ini adalah kebijakan Rockefeller Foundation, ini adalah “kunci untuk memahami [upaya-upayanya di kemudian hari] dalam revolusi bioteknologi dan genetika tanaman”. Misi yayasan tersebut sejak lahirnya adalah “[menyisihkan] kawanan, atau [mengurangi] populasi ‘biakan inferior’ secara sistematis”. Persoalan bagi para penggila supremasi ini adalah, terlalu banyak unsur rendahan sama dengan masalah karena mereka menuntut lebih dari apa yang ditetapkan orang-orang istimewa ini. Solusi: singkirkan mereka, gunakan apapun, mulai dari pengendalian kelahiran dan pemandulan sampai pelaparan dan perang pemusnahan.

JD III sejalan dengan pemikiran ini. Dia diasuh dengan sains semu Malthusian dan memeluk dogma tersebut. Pada 1931 dia bergabung dengan yayasan keluarga, di mana dia dipengaruhi oleh pakar eugenik seperti Raymond Fosdick dan Frederick Osborn, keduanya anggota pendiri American Eugenics Society. Pada 1952 dia memakai dananya sendiri untuk mendirikan Population Council yang bermarkas di New York, di mana dia terang-terangan mempromosikan studi rasis mengenai bahaya kelebihan populasi. Selama 25 tahun berikutnya dewan ini membelanjakan US$ 173 juta untuk pengurangan populasi global dan menjadi organisasi paling berpengaruh di dunia yang mempromosikan ide-ide supremasis ini. Namun mereka menghindari istilah “eugenik” karena bersangkut-paut dengan Nazi, dan malah memakai istilah seperti “pengendalian kelahiran”, “keluarga berencana”, dan “pilihan bebas”; semuanya sama saja.

Sebelum Perang Dunia II, rekan Rockefeller dan anggota dewan yayasan, Frederick Osborn, antusias mendukung eksperimen eugenik Nazi yang mengakibatkan pemusnahan masal yang kelak dijelek-jelekkan. Waktu itu, dia percaya eugenik merupakan “eksperimen terpenting yang pernah dicoba”, dan kemudian dia menulis sebuah buku, “The Future of Human Heredity (1968), dengan kata “eugenik” pada subjudulnya. Dia menyatakan, kaum wanita dapat diyakinkan agar mengurangi kelahiran mereka secara sukarela, dan dia mulai mengganti istilah “genetik” dengan “eugenik” yang kini tak didukung.

Semasa Perang Dingin, penyisihan populasi mendapatkan pendukung dari kalangan korporat Amerika. Mereka membekingi inisiatif pengurangan populasi swasta seperti International Planned Parenthood Federation (IPPF)-nya Margaret Sanger. Media besar juga menyebarkan gagasan bahwa “kelebihan populasi di negara-negara berkembang mengakibatkan kelaparan dan kemiskinan [yang pada gilirannya menjadi] ladang pembiakan subur” untuk komunisme internasional. Agribisnis Amerika kemudian terlibat melalui kebjiakan pengendalian pangan global. Pangan adalah kekuasaan. Tatkala digunakan untuk menyisihkan populasi, ini menjadi senjata pemusnah masal.

Pertimbangkan laporan FAO yang menyebutkan kenaikan tajam harga pangan serta kekurangan parah [bahan pangan] dan peringatan bahwa kondisi ini sangat ekstrim, tak pernah terjadi dalam sejarah, dan mengancam miliaran manusia jatuh ke dalam kelaparan. Harga-harga naik 40% pada 2007, setelah 9% pada 2006, yang memaksa negara-negara berkembang membayar 25% lebih untuk pangan impor dan tak cukup mampu menjangkaunya.

FAO mengutip berbagai penjelasan untuk masalah ini, berupa kenaikan permintaan, kenaikan biaya bahan bakar dan transportasi, spekulasi komoditas, penggunaan jagung untuk memproduksi etanol (menyedot sepertiga hasil panen, melebihi jatah untuk makanan), dan cuaca ekstrim, seraya mengabaikan implikasi di atas: kekuasaan agribisnis untuk memanipulasi pasokan demi laba lebih besar dan “menyisihkan kawanan” di negara-negara Dunia Ketiga yang diincar. Bangsa-bangsa tersebut miskin, dan FAO mencatat 20 di Afrika, 9 di Asia, 6 di Amerika Latin, dan 2 di Eropa Timur, yang total merepresentasikan 850 juta orang terancam punah yang kini menderita kelaparan kronis dan kemiskinan terkait. Mereka bergantung pada impor, dan menu makanan mereka sangat mengandalkan jenis-jenis hasil bumi yang dikendalikan agribisnis—gandum, jagung, beras, dan kacang kedelai. Jika harga-harga sekarang tetap tinggi dan kekurangan [pangan] terus berlangsung, jutaan orang akan mati—mungkin dengan sengaja.

Muslihat “Pangan untuk Perdamaian”
Para elit Amerika di akhir 1930-an mulai merencanakan abad Amerika di dunia pasca perang—sebuah Pax Americana (“Perdamaian Amerika”) untuk menggantikan Kerajaan Inggris yang luntur. Kelompok Council on Foreign Relations War and Peace Studies yang bermarkas di New York memimpin upaya ini, didanai oleh uang Rockefeller Foundation. Seperti kata Engdahl, mereka mendapat balas jasa “ribuan kali lipat” di kemudian hari. Tapi pertama-tama Amerika harus meraih dominasi dunia secara militer dan ekonomi.

Penguasa bisnis AS memimpikan “Area Agung” yang mencakup sebagian besar dunia di luar blok komunis. Untuk mengeksploitasinya, mereka menyembunyikan rencana imperial di balik “pakaian liberal dan kebajikan” dengan mendefinisikan diri mereka sebagai “pendukung tulus kemerdekaan bangsa-bangsa jajahan dan musuh imperialisme”. Mereka juga “memperjuangkan perdamaian dunia melalui kendali multinasional”. Kedengarannya tidak asing?

Seperti hari ini, itu cuma muslihat untuk tujuan asli mereka yang dikejar di bawah bendera PBB, kerangka baru Bretton Woods, IMF, Bank Dunia, dan GATT. Mereka didirikan untuk satu maksud: mengintegrasikan dunia berkembang ke Bumi Utara yang didominasi AS sehingga kekayaannya dapat dipindahtangankan ke kepentingan-kepentingan bisnis berpengaruh, kebanyakan di AS. Keluarga Rockefeller memimpin upaya ini, keempat bersaudara terlibat, Nelson dan David adalah penggerak utamanya.

Sementara JD III merencanakan skema depopulasi dan kemurnian ras, Nelson bekerja “di sisi lain pagar…sebagai pebisnis internasional yang berpandangan ke depan” di tahun 1950-an dan 1960-an. Mengajarkan efisiensi dan produksi di negara-negara incaran, sesungguhnya dia berkomplot membuka pasar dunia untuk impor padi-padian AS yang tak terbatas. Ini menjadi “Revolusi Hijau”. Nelson berkonsentrasi pada Amerika Latin. Semasa Perang Dunia II, dia mengkoordinasi operasi intelijen dan rahasia di sana, dan upaya tersebut meletakkan dasar untuk kepentingan keluarga pasca perang. Mereka terjalin dengan militer kawasan karena orang-orang kuat dan bersahabat adalah tipe pemimpin yang disukai untuk menjamin iklim bisnis yang menyenangkan.

Sejak 1930-an Nelson Rockefeller mempunyai kepentingan signifikan di Amerika Latin, khususnya di bidang minyak dan perbankan. Pada awal 1940-an, dia mencari kesempatan baru, dan bersama saudaranya, Laurance, dia membeli banyak tanah pertanian murah berkualitas tinggi sehingga keluarga ini dapat masuk ke agrikultur—tapi itu bukan untuk pertanian keluarga: Rockefeller menginginkan monopoli global, dan skema mereka adalah menggarap agrikultur sebagaimana kepala keluarganya menggarap minyak, selain menggunakan teknologi pangan dan pertanian sebagai senjata Perang Dingin.

Menjelang 1954, Agriculutural Trade Development and Asistance Act 1954, dikenal sebagai PL 480 atau “Pangan untuk Perdamaian”, menetapkan surplus pangan sebagai alat kebijakan luar negeri AS. Nelson memanfaatkan pengaruh besarnya di Departemen Luar Negeri karena setiap menteri departemen pasca perang, dari 1952 s/d 1979, memiliki pertalian dengan keluarga ini lewat yayasannya: yakni John Foster Dulles, Dean Rusk, Henry Kissinger, dan Cyrus Vance. Orang-orang ini mendukung pandangan Rockefeller soal bisnis privat dan tahu bahwa keluarga ini memandang pertanian seperti minyak—komoditas yang “diperdagangkan, dikendalikan, dan dibuat langka atau berlimpah” untuk memenuhi sasaran kebijakan luar negeri berupa pengendalian perdagangannya oleh korporasi dominan.

Keluarga ini masuk ke agrikultur pada 1947 ketika Nelson mendirikan International Basic Economy Corporation (IBEC). Melalui organisasi tersebut dia memperkenalkan “agribisnis skala masal di negara-negara di mana dolar AS mendapat pengaruh besar pada 1950-an dan 1960-an”. Nelson kemudian bersekutu dengan raksasa pedagang padi-padian di Brazil, Cargill, di mana mereka mulai mengembangkan varietas benih jagung hibrida diiringi rencana besar. Mereka hendak menjadikan negara tersebut “produsen palawija terbesar ketiga di dunia setelah AS dan China”. Ini adalah bagian dari “Revolusi Hijau” Rockefeller yang, menjelang tahun 1950-an, “dengan cepat menjadi strategi ekonomi AS di samping perangkat keras minyak dan militer”.

Amerika Latin adalah permulaan revolusi produksi pangan dengan tujuan besar: mengendalikan “kebutuhan pokok mayoritas populasi dunia”. Bersama agribisnis pada 1990-an, ini merupakan “pasangan sempurna untuk pengenalan…palawija rekayasa genetik atau tanaman GMO”. Perkawinan ini menyamar sebagai “efisiensi pasar bebas, modernisasi, dan memberi makan kepada dunia yang kurang gizi”. Padahal tidak demikian. Ini menyembunyikan “kudeta paling berani yang pernah diusahakan atas nasib seluruh bangsa”.

Agribisnis Mendunia
“Revolusi Hijau berawal di Meksiko dan menyebar ke seantero Amerika Latin pada 1950-an dan 1960-an.” Lalu diperkenalkan di Asia, khususnya India. Pada saat itulah Amerika mengklaim tujuan mereka adalah menolong dunia melalui efisiensi pasar bebas. Ini adalah satu jalan, dari mereka kepada kita, agar para investor korporat dapat meraih laba. Ini memberi pasar baru kepada raksasa kimia dan pedagang padi-padian AS untuk produk mereka. Agribisnis mendunia, dan kepentingan Rockefeller ada di barisan depan yang membantu terwujudnya globalisasi industri.

Nelson bekerja dengan saudaranya, JD III, yang pada 1953 mendirikan Agricultural Develpoment Council-nya sendiri. Mereka memiliki sasaran yang sama: “kartelisasi agrikultur dan pasokan pangan dunia di bawah hegemoni korporat mereka”. Pada intinya, ini bertujuan memperkenalkan teknik-teknik pertanian modern guna meningkatkan hasil panen di bawah klaim palsu: mengurangi kelaparan. Bujukan yang sama dipakai kemudian untuk mempromosikan “revolusi gen”, disokong oleh kepentingan Rockefeller dan para raksasa agribisnis yang itu-itu juga.

Pada 1960-an, Presiden Lyndon Johnson juga menggunakan pangan sebagai senjata. Dia ingin negara-negara penerima menyetujui pemberian, dan prasyarat Rockefeller berupa pengendalian populasi dan pembukaan pasar bagi industri AS merupakan bagian dari kesepakatan. Ini juga melibatkan pelatihan konsep-konsep produksi mutakhir kepada ilmuwan pertanian dan pertanahan di dunia berkembang agar bisa mereka terapkan di dalam negeri. Ini “membangun jaringan yang kelak terbukti krusial” bagi strategi Rockefeller untuk “menyebarluaskan penggunaan palawija rekayasa genetik ke seluruh dunia”, dibantu oleh pendanaan USAID dan kelicikan CIA.

Taktik “Revolusi Hijau” sungguh menyakitkan dan memakan korban di pihak petani kecil, merusak mata pencaharian mereka, dan memaksa mereka masuk perkampungan kumuh. Orang-orang ini, mati-matian bertahan hidup dan mau berbuat apa saja untuk itu, adalah tenaga kerja murah yang dapat dieksploitasi.

“Revolusi” ini juga membahayakan tanah. Praktek-praktek monokultur menggantikan keanekaragaman, merusak kesuburan tanah, dan seiring waktu menurunkan hasil panen. Penggunaan pestisida kimiawi yang tidak pandang bulu pada akhirnya dapat menimbulkan masalah kesehatan serius. Engdahl mengutip seorang analis yang menyebut “Revolusi Hijau” sebagai “revolusi kimiawi” yang tak terjangkau oleh negara-negara berkembang. Revolusi ini mengawali proses perbudakan utang dari pinjaman IMF, Bank Dunia, dan bank-bank swasta. Para pemilik tanah besar mampu menjangkaunya, sedangkan petani kecil tidak, dan alhasil seringkali bangkrut. Tentu saja itulah ide pokoknya.

“Revolusi Hijau” didasarkan pada “perkembangbiakan benih-benih hibrida baru di pasar berkembang”—benih-benih yang secara karakteristik tak memiliki kapasitas reproduksi. Penurunan hasil panen berarti para petani harus membeli benih setiap tahun dari produsen multinasional besar yang mengendalikan jalur benih induk mereka di dalam negeri. Segelintir perusahaan raksasa memegang paten atasnya dan memakainya untuk meletakkan dasar bagi revolusi GMO di kemudian hari. Skema mereka segera menjadi nyata: palawija tradisional harus mengalah pada varietas berimbal tinggi (HYV/high-yield variety) berupa gandum, jagung, dan beras hibrida, dengan input kimiawi besar.

Awalnya, laju pertumbuhan sangat mengesankan, tapi itu tidak berlangsung lama. Di negara-negara seperti India, output pertanian melambat dan turun. Mereka adalah pihak yang kalah sehingga para raksasa agribisnis dapat mengeksploitasi pasar-pasar baru nan besar untuk bahan kimiawi, permesinan, dan produk lain. Itulah permulaan “agribisnis”, dan bergandengan tangan dengan strategi “Revolusi Hijau” yang kelak menganut perubahan genetik tanaman.
Dua profesor Harvard Business School terlibat sejak awal: John Davis dan Ray Goldberg. Mereka bersekutu dengan ekonom Rusia Wassily Leontief, mendapat pendanaan dari yayasan Rockefeller dan Ford dan memprakarasai revolusi empat dekade untuk mendominasi industri pangan. Ini berlandaskan “integrasi vertikal”, yang dinyatakan tidak sah oleh Kongres setelah para konglomerat dan perserikatan raksasa semacam Standard Oil memanfaatkannya untuk memonopoli seluruh sektor industri vital dan melumatkan kompetisi.

Integrasi vertikal ini dihidupkan di bawah Presiden Jimmy Carter, anggota pendiri Trilateral Commission, dan disamarkan sebagai “deregulasi” untuk “membongkar undang-undang kesehatan, keamanan pangan, dan perlindungan konsumen yang telah dikonstruksi secara cermat selama berdekade-dekade”. Undang-undang ini kini tunduk di bawah gelombang baru integrasi vertikal yang ramah terhadap industri. Sebuah kampanye propaganda mengklaim bahwa pemerintahlah sumber masalahnya, bahwa pemerintah terlalu mencampuri hidup kita dan harus diputar balik demi “kebebasan” pribadi yang lebih luas.

Sejak awal 1970-an, produsen agribisnis mengendalikan pasokan pangan AS tapi mereka segera mendunia secara besar-besaran. Sasaran: menghasilkan “laba menggemparkan” dengan “merestrukturisasi cara orang Amerika menanam makanan untuk dirinya sendiri dan dunia”. Ronald Reagan meneruskan kebijakan Carter dan membiarkan empat atau lima pemain monopoli teratas mengendalikannya. Akibatnya terjadi “konsentrasi dan transformasi agrikultur Amerika”, di mana para petani keluarga mandiri terusir dari tanah mereka karena penjualan paksa dan kebangkrutan sehingga raksasa agribisnis yang “lebih efisien” dapat masuk dengan “pertanian pabrik”. Produsen-produsen kecil sisanya menjadi layaknya budak, sebagai “petani kontrak”. Pemandangan Amerika berubah, rakyat diinjak-injak demi laba.

Engdahl menjelaskan proses bertahap “merger dan konsolidasi besar-besaran…produksi pangan Amerika…ke dalam konsentrasi korporat raksasa global” yang nama-namanya populer: Cargill, Archer Daniels Midland, Smithfield Foods, dan ConAgra. Mereka terus membesar, begitu pula norma mereka, dengan imbal-balik ekuitas tahunan naik dari 13% di tahun 1993 menjadi 23% di tahun 1999.

Ratusan ribu petani kecil kalah; jumlah mereka turun sebanyak 300.000 dari 1979 s/d 1998. Petani babi lebih parah lagi, turun dari 600.000 jadi 157.000 di periode yang sama, sampai-sampai 3% produsen mengendalikan 50% pasar. Biaya sosialnya menggemparkan (sampai sekarang), lantaran “seluruh masyarakat pedesaan kolaps dan kota-kota pedesaan menjadi kota mati”. Perhatikan konsekuensinya. Menjelang 2004:

  • Empat besar perusahaan pengemas daging menguasai 84% penyembelihan lembu jantan dan sapi muda: Tyson, Cargill, Swift, dan National Beef Packing
  • Empat raksasa menguasai 64% produksi babi: Smithfield Foods, Tyson, Swift, dan Hormel Foods
  • Tiga perusahaan menguasai 71% pelumatan kacang kedelai
  • Tiga raksasa menguasai 63% penggilingan tepung
  • Lima perusahaan menguasai 90% perdagangan padi-padian global
  • Empat perusahaan lain menguasai 89% pasar sereal sarapan—Kellogg, General Mills, Kraft Foods, dan Quaker Oats
  • Cargill, setelah mendapatkan Continental Grain di tahun 1998, menguasai 40% kapasitas elevator padi-padian nasional
  • Empat raksasa agrikimia/benih menguasai lebih dari 75% penjualan benih palawija dan 60%-nya adalah kacang kedelai, dan memiliki pangsa terbesar di pasar agrikultur kimiawi: Monsanto, Novartis, Dow Chemical, dan DuPont
  • Enam perusahaan menguasai tiga perempat pasar pestisida global
  • Monsanto dan DuPont menguasai 60% pasar palawija dan benih kacang kedelai AS—kesemuanya adalah benih GMO yang sudah dipatenkan

Sebagai tambahan:

  • Sepuluh peritel pangan besar menguasai $649 miliar penjualan global pada 2002, dan tiga puluh peritel pangan teratas menyusun sepertiga penjualan bahan pangan global.

BAGIAN II

Revolusi Gen, dipacu oleh segelintir perusahaan bioteknologi transnasional dan dibantu oleh pendanaan Rockefeller, telah menghasilkan sebuah dunia di mana memberi makan orang kelaparan sama dengan tindakan genosida.

Menggabungkan Raksasa Farmasi dengan Raksasa Pangan
Di permulaan abad baru, pertanian keluarga dihancurkan oleh kekuatan terintegrasi vertikal milik korporasi agribisnis yang melampaui dominasi gemilang mereka di tahun 1920-an. Ini sekarang menjadi industri paling menguntungkan kedua secara nasional setelah farmasi, dengan penjualan tahunan dalam negeri melebihi US$400 miliar. Sasaran berikutnya adalah menggabungkan Raksasa Farmasi dengan Raksasa Pangan. National Defense University-nya Pentagon mencatat dalam sebuah makalah terbitan 2003: “Agribisnis [kini] bagi Amerika Serikat seperti minyak bagi Timur Tengah”. Itu sekarang dianggap sebagai “senjata strategis di gudang senjata adidaya tunggal dunia”, tapi dengan mengorbankan konsumen di mana-mana.

Agribisnis sedang menggelinding, pemerintah AS mendukungnya dengan subsidi tahunan puluhan miliar dolar. RUU Pertanian 1996 menangguhkan wewenang Menteri Pertanian AS untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan, selanjutnya memungkinkan produksi tak terbatas. Raksasa-raksasa penghasil pangan memanfaatkan kesempatan sebaik-baiknya untuk mengendalikan kekuatan pasar. Mereka melindas para petani keluarga dengan memproduksi berlebihan dan memaksa harga turun. Mereka juga menekan nilai tanah seiring gagalnya operator kecil, sehingga menciptakan peluang untuk akuisisi tanah dengan murah demi konsentrasi dan dominasi lebih besar.

Selanjutnya muncullah pengintegrasian Revolusi Gen ke dalam agribisnis, dari sudut pandang Ray Goldberg (Harvard). Seluruh sektor baru akan dibentuk dari rekayasa genetik, termasuk obat-obatan rekayasa/modifikasi genetik dari tanaman GE/GM dalam “sistem agriceutical” baru. Goldberg memprediksi “revolusi genetik [melalui] konvergensi bisnis pangan, kesehatan, pengobatan, serat, dan energi” di pasar tanpa regulasi sama sekali. Belum termasuk ancaman mimpi buruk konsumen yang disembunyikan.

Pangan adalah Pengaruh
Pendanaan Rockefeller Foundation merupakan katalisator Revolusi Gen di tahun 1985, dengan tujuan besarnya: untuk mempelajari apakah tanaman GM layak secara komersial, dan, jika ya, untuk menyebarkan mereka ke setiap tempat. Ini “eugenik baru,” kata Engdahl, dan puncak riset terdahulu sejak 1930-an. Ini juga didasarkan pada ide bahwa masalah-masalah manusia dapat “dipecahkan dengan manipulasi genetik dan kimiawi…sebagai sarana pengendalian sosial dan rekayasa sosial”. Para ilmuwan yayasan mencari cara untuk melakukan ini dengan menurunkan kompleksitas hidup ke “model sederhana, deterministik, dan prediktif” di bawah skema jahat mereka—memetakan struktur gen untuk “meralat masalah sosial dan moral termasuk kejahatan, kemiskinan, kelaparan, dan instabilitas politik”. Dengan perkembangan teknik-teknik rekayasa genetik esensial di tahun 1973, mereka mendapat jalan.

Ini berlandaskan apa yang disebut recombinant DNA (rDNA), bekerja dengan memasukkan DNA asing secara genetik ke dalam tanaman dan hewan untuk menciptakan organisme modifikasi genetik (GMO/genetically modified organism), tapi bukannya tanpa resiko. Biolog kepala di London Institute of Science in Society, Dr. Mae-Wan Ho, menjelaskan adanya bahaya karena proses tersebut tidak presisi. “Tidak bisa dikendalikan dan tidak bisa diandalkan, dan akhirnya merusak dan mengaduk genom inang, dengan konsekuensi yang tak bisa diprediksi sama sekali” hingga mungkin melepas “Strain Andromeda” mematikan yang tak bisa ditarik kembali. Namun demikian riset jalan terus, di tengah kedustaan bahwa resikonya kecil dan janji masa depan [cerah]. Yang penting adalah potensi laba besar dan raihan geopolitik—jadi mari bersukaria dan jangan hiraukan akibatnya.

Salah satu proyek adalah memetakan genom beras. Meluncurkan upaya 17 tahun untuk menyebar beras GMO ke seluruh dunia, dengan uang Rockefeller Foundation di belakangnya. Menghabiskan jutaan dolar untuk mendanai 46 lab sains di seluruh dunia. Juga membiayai pelatihan ratusan mahasiswa sarjana dan mengembangkan “persaudaraan elit” para peneliti ilmiah top di institut-institut riset yang dibeking Rockefeller Foundation. Ini adalah skema jahat bertujuan besar: mengendalikan makanan pokok untuk 2,6 miliar orang dan, dalam prosesnya, menghancurkan keanekaragaman hayati 140.000 varietas maju yang tahan kemarau dan hama dan mampu tumbuh di segala iklim.

Asia menjadi sasaran utama, dan Engdahl menjelaskan kisah seram International Rice Research Institute (IRRI), bermarkas di Filipina, yang didanai Rockefeller Foundation. Mereka memiliki bank gen dengan “setiap varietas beras penting” yang terdiri atas seperlima dari semua varietas. Dengan ilegal IRRI mengizinkan para raksasa agribisnis memakai benih-benih tersebut untuk modifikasi genetik, eksklusif, berpaten, sehingga mereka dapat memperkenalkannya di pasaran dan mendominasi dengan mensyaratkan petani untuk dilisensi dan dipaksa membayar biaya royalti tahunan.

Menjelang tahun 2000, dikembangkanlah “Beras Emas” yang diperkaya beta karoten (vitamin A). Ini dipasarkan dengan klaim bohong bahwa satu mangkok harian dapat mencegah kebutaan dan penyakit-penyakit kurang vitamin A lainnya. Itu penipuan, karena ada produk-produk lain yang menjadi sumber lebih baik untuk bahan gizi ini, dan untuk mendapatkannya secara cukup kita harus mengkonsumsi sembilan kilogram (sekitar 20 pon) beras per hari, yang mana mustahil.

Meski demikian, para pendukung Revolusi Gen sudah siap untuk langkah berikutnya, “konsolidasi kendali global atas pasokan pangan umat manusia”, dengan alat baru untuk melaksanakannya: World Trade Organization. Raksasa-raksasa korporat menulis aturannya untuk mengutamakan diri mereka sendiri di atas negara-negara berkembang di luar kalangan mereka.

Melepas Benih GMO: Dimulainya Revolusi Produksi Pangan Dunia
Menjelang akhir 1980-an, jaringan global ahli-ahli biologi molekuler yang terlatih dalam rekayasa genetik siap untuk memulai “Revolusi Hijau Kedua”. Argentina adalah laboratorium ujicoba pertamanya, negara “kelinci percobaan” pertama dalam eksperimen nekat dengan pangan baru yang tak teruji dan berpotensi membahayakan.

Argentina merupakan sasaran empuk ketika Carlos Menem menjadi Presiden pada Juli 1989. Dia adalah impian kaum korporat, subjek Konsensus Washington yang sukarela, bahkan mengizinkan teman-teman David Rockefeller dari New York dan Washington untuk menyusun program ekonominya berdasarkan dogma Mazhab Chicago: privatisasi, deregulasi, pembukaan pasar lokal bagi impor, pemangkasan layanan sosial yang memang sudah dikurangi.

Menjelang 1991, Argentina sudah menjadi “laboratorium rahasia untuk eksperimen pengembangan palawija rekayasa genetik”. Praktisnya, pertanian negeri tersebut telah diserahkan kepada Monsanto, Dow, DuPont, dan raksasa GMO lain agar dieksploitasi demi keuntungan. Keadaan takkan seperti dulu lagi. Pada pertengahan 1990-an, Menem “merevolusi agrikultur produktif tradisional Argentina” ke agrikultur berbasis monokultur untuk ekspor global.

Dari 1996 sampai 2004, penanaman palawija GMO global meluas jadi 167 juta akre, naik 40 kali lipat, memanfaatkan 25% dari total tanah cocok tanam di seluruh dunia. Herannya, 2/3-nya (106 juta akre, atau 43 juta hektar) ada di AS. Menjelang 2004, Argentina berada di tempat kedua dengan 34 juta akre (14 juta hektar), sementara produksi di Brazil, China, Kanada, Afrika Selatan, India, Filipina, Kolombia, Honduras, Spanyol, dan Eropa Timur (Polandia, Rumania, dan Bulgaria) berkembang. Revolusi bergulir, tampaknya kini tak dapat dihentikan.

Pada 1995, Monsanto memperkenalkan kacang kedelai Roundup Ready (RR) berbakteri khusus yang disisipkan melalui senjata gen, yang memungkinkan tanaman bertahan terhadap semprotan herbisida glifosat, Roundup. Dengan demikian kacang kedelai GMO dilindungi dari produk yang dipakai di Kolombia untuk membasmi narkoba tapi pada saat yang sama membahayakan palawija legal dan manusia. Setelah kacang kedelai RR Monsanto diberi lisensi oleh FDA pada 1996, di Argentina “sistem agrikultur nasional berbasis pertanian keluarga yang dulunya produktif diubah menjadi sistem negara neofeodal yang didominasi segelintir pemilik kaya dan berpengaruh yang mengeksploitasinya demi keuntungan”. Menem jalan terus. Dalam kurang dari satu dekade, dia mengizinkan keanekaragaman palawija, jagung, dan ternak negaranya digantikan dengan monokultur yang dikendalikan korporat. Itu penjualan ala Faust (menjual diri, prinsip, atau kehormatan demi uang dan keuntungan lainnya—penj), dan membantu harga saham Monsanto menyentuh angka tertinggi sepanjang sejarah di akhir 2007.

Keanekaragaman dan rotasi palawija telah melestarikan kualitas tanah negara tersebut selama berdekade-dekade, tapi ini berubah setelah monokultur kacang kedelai masuk, beserta ketergantungannya pada pupuk kimiawi. Palawija tradisional Argentina lenyap, ternak dipaksa masuk feedlot yang berjejalan sebagaimana di Amerika Serikat. Engdahl mengutip seorang pakar agro-ekologi kenamaan yang memprediksi praktek ini akan merusak tanah dalam waktu 50 tahun jika terus berlanjut. Tak ada indikasi akan berhenti.

Krisis ekonomi Argentina di akhir 1990-an sampai awal 2000-an mengakibatkan tersedianya tanah tambahan dalam jumlah banyak, dan para petani bangkrut harus menyerahkan kepemilikan mereka demi beberapa sen dolar. Korporat predator dan pemilik tanah pertanian besar mengambil kesempatan penuh. Dengan mekanisasi monokultur kacang kedelai GMO, usaha-usaha peternakan susu dikurangi sebanyak setengahnya dan “ratusan ribu pekerja [dipaksa] pergi dari tanahnya” dan jatuh ke dalam kemiskinan.

Monsanto melenggang dan memakai berbagai skema eksploitatif. Pada 1999, perusahaan ini meminta izin kepada Menem untuk mengumpulkan “royalti diperpanjang”, padahal undang-undang Argentina melarang praktek tersebut. Penyelundupan kacang kedelai Roundup Ready ke Brazil, Paraguay, Bolivia, dan Uruguay juga berlangsung diam-diam.

Monsanto kemudian menekan pemerintah Argentina agar mengakui “biaya lisensi teknologi”-nya. Technology Compensation Fund didirikan dan dikelola oleh Kementerian Pertanian. Memaksa para petani untuk membayar biaya hampir satu persen atas penjualan kacang kedelai GMO; Monsanto dan pemasok benih GMO lain meraup uang tersebut.

Menjelang 2004, hampir separuh ladang palawija negara dipakai untuk produksi kacang kedelai GM dan lebih dari 90%-nya hanya untuk merek Roundup Ready saja. Engdahl mengungkapkan begini: “Argentina telah menjadi laboratorium eksperimen tak terkendali terbesar di dunia untuk GMO”. Rakyatnya telah menjadi tikus lab tanpa sadar.

Pada 2005, pemerintah Brazil melunak dan melegalkan benih GMO untuk pertama kalinya. Jelang 2006, AS, Argentina, dan Brazil menyumbang lebih dari 81% produksi kacang kedelai GM dunia. Ini “menjamin bahwa hampir setiap hewan di dunia yang diberi pakan kacang kedelai [berarti] memakan kacang kedelai rekayasa genetik”. Juga artinya setiap orang yang memakan hewan-hewan ini melakukan hal yang sama tanpa sadar.

Argentina telah merasakan dampak yang berpotensi menyebar. Monokultur kacang kedelainya sangat mempengaruhi daerah pedesaan, dan berbidang-bidang tanah hutan hancur. Petani tradisional yang akrab dengan penanaman kacang kedelai terancam serius oleh penyemprotan Roundup dari udara. Palawija mereka rusak, karena untuk inilah herbisida direkayasa: membunuh semua tanaman yang tak memiliki resistensi modifikasi genetik. Mereka melaporkan bahwa ayam-ayam mati dan kuda-kuda terluka akibat semprotan udara. Manusia ikut terkena imbasnya, dan menunjukkan gejala-gejala berat berupa mual, diare, dan muntah, serta jejas kulit. Laporan lain menyebutkan dampak lebih jauh: hewan-hewan terlahir dengan cacat organ parah, pisang cacat, kentang manis cacat, dan ikan-ikan mati bergelimpangan di danau. Selain itu, para keluarga di pedesaan mengaku anak-anak mereka mendapat “ruam aneh pada tubuh” akibat semprotan udara.

Adapun janji hasil panen tinggi dari kedelai GM, temuan justru menunjukkan panen berkurang 5-15 persen dibandingkan dengan hasil kacang kedelai tradisional, plus adanya “rumput liar ganas baru” yang pemusnahannya butuh herbisida tiga kali lipat. Pada saat para petani mengetahui ini, semua sudah terlambat.

Engdahl meringkas kemalangan petani: “Sulit membayangkan skema perbudakan manusia yang lebih sempurna [dari ini].” Bahkan lebih parah. Argentina adalah uji kasus pertama “dalam rencana global yang penyusunannya memakan waktu berdekade-dekade dan lingkupnya menggemparkan sekaligus menakutkan”.

Irak Mendapat Benih Demokrasi Amerika
Demokrasi untuk Irak berarti menghapus “tempat lahir peradaban” dan diganti dengan kapitalisme pasar bebas tanpa kekang. Pada 2003, Irak ditaklukkan demi minyaknya, juga untuk menjadikan negeri tersebut surga perdagangan bebas raksasa. Skema yang jahat, rinci, dan jelek: perang kilat “kejutkan dan takutkan”, operasi psikologis terperinci, senjata ketakutan, pendudukan represif, penahanan dan penyiksaan masal, dan penyusunan ulang negara dengan cara tercepat dan terluas dalam sejarah. Itu berlangsung dalam hitungan minggu. Irak tak lagi eksis, negeri tersebut menjadi tanah kosong, bangsanya hancur, dan batu tulis kosong dibuat untuk penjarahan korporat tak terkendali pada skala yang nyaris sulit dibayangkan.

Bagian dari skemanya adalah: raksasa agribisnis GMO mendapat kendali leluasa atas sektor ekonomi yang satu ini, untuk mentransformasi sistem produksi pangan Irak ke dalam model benih dan tanaman GMO. Ini diamanatkan di bawah beberapa perintah dari 100 “UU Bremer” yang diimplementasikan dengan cepat”, tapi warga Irak tidak ikut bersuara di dalamnya karena negara itu kini diperintah dari Washington dan kantor cabangnya di Zona Hijau berbenteng kokoh di kedutaan terbesar AS di dunia.

UU Bremer memberlakukan “terapi kejut” gaya Mazhab Chicago yang semakin keras, yang menghancurkan negara-negara di seluruh dunia sejak diperkenalkan pada 1973 di Chile di bawah Pinochet. Rumusnya familiar: pemecatan masal ratusan ribu pegawai negara; impor tanpa restriksi, tanpa tarif, tanpa bea, tanpa inspeksi, tanpa pajak; deregulasi; penjualan obral dan rencana privatisasi terbesar sejak runtuhnya Uni Soviet. Pajak korporat diturunkan dari 40% ke 15% flat. Investor luar negeri dapat menguasai 100% aset Irak selain minyak; mereka juga dapat merepatriasi semua laba mereka tanpa dikenai pajak dan tak berkewajiban menginvestasikan kembali di negara tersebut. Lebih jauh, mereka diberi kontrak produksi minyak selama 40 tahun. Satu-satunya undang-undang era Saddam yang tersisa adalah UU yang membatasi serikat dagang dan tawar-menawar kolektif. Perusahaan transnasional asing, utamanya dari AS, menyambar dan melahap segalanya. Orang-orang Irak tak mampu bersaing, dan hukum pendudukan memastikannya.

Coba simak Perintah Bremer No. 81 tanggal 26 April 2004 yang membahas paten dan masa berlakunya. Bunyinya: “Petani dilarang menggunakan ulang benih-benih varietas terproteksi atau varietas apapun”. Ini memberikan hak mutlak kepada pemegang paten varietas tanaman atas para petani yang memakai benih mereka selama 20 tahun. Benih-benih ini direkayasa secara genetik dan dimiliki oleh perusahaan transnasional. Petani Irak penggunanya harus menandatangani perjanjian yang menetapkan mereka harus membayar “biaya teknologi” serta biaya lisensi tahunan. Pemakaian benih yang “serupa” dengan varietas terproteksi dan berpaten dapat mengakibatkan denda berat dan pemenjaraan. “Plant Variety Protection” (PVP) adalah inti perintah ini—dan benih GMO mendapat proteksi untuk menggantikan 10.000 tahun pengembangan varietas tanaman.

Lembah subur Irak di antara sungai Tigris dan Eufrat sangat ideal untuk penanaman palawija. Sejak 8.000 SM, petani sudah memanfaatkannya untuk mengembangkan “benih kaya dari hampir setiap varietas gandum yang dipakai dunia hari ini”. Varietas-varietas ini sekarang sudah dihapus lewat skema modernisasi dan industralisasi GMO agar agribisnis dapat menginjakkan kaki di kawasan tersebut dan memasok pasar dunia.

Sementara rakyat Irak menderita kelaparan, para raksasa GMO menjalankan pertanian negara untuk ekspor. Petani Irak kini menjadi budak agribisnis dan dipaksa menanam produk-produk yang asing bagi menu pribumi seperti gandum untuk produksi pasta. UU Bremer mengamanatkan ini dan tak dapat diganggu gugat menurut konstitusi Pasal 26 yang disusun AS. Pasal ini menyatakan pemerintah Irak tak berwenang mengubah undang-undang yang dibuat oleh pendudukan asing. Untuk lebih pastinya, simpatisan AS ada di setiap kementerian, serta orang-orang paling dipercaya di kementerian penting.

Engdahl meringkas kerusakan terhadap agrikultur ini: “Tranformasi paksa produksi pangan Irak ke dalam palawija GMO berpaten merupakan salah satu contoh paling gamblang [bagaimana] Monsanto dan raksasa GMO lain memaksakan palawija ini kepada penduduk dunia yang tak mau atau tak tahu.” Mereka sedang membanjiri planet ini dengannya, satu persatu negara, dan sia-sia saja berusaha membalik kerusakan yang ditimbulkannya.

Menanam “Taman Kesenangan Duniawi”
Pada 1 Januari 1995, WTO secara resmi didirikan, dengan wewenang menegakkan hukum karangan korporatnya atas negara-negara anggota. Agribisnis AS sudah dominan, tapi kini punya badan baru, bukan melalui pemilihan, melampaui batas negara, untuk memajukan agenda pribadinya pada skala global. WTO adalah “polisi” perdagangan bebas global dan “alat pelantak untuk agribisnis tahunan dunia senilai satu triliun dolar” demi para raksasanya. Aturannya ditulis dengan taring demi “wewenang menghukum” untuk memungut penalti keuangan dan lainnya dari para pelanggar aturan. Di bawah aturannya, agrikultur menjadi prioritas karena perusahaan-perusahaan Amerika dominan. Cargill menulis aturan yang Engdahl sebut “Rencana Cargill”. Isinya:

  • Melarang semua program pertanian dan tunjangan/subsidi harga pemerintah di seluruh dunia (tapi berkedip dan mengangguk pada subsidi masif AS)
  • Melarang negara-negara memberlakukan kendali impor untuk mempertahankan produksi pertanian mereka
  • Melarang kendali ekspor pertanian, bahkan di masa kelaparan, agar Cargill dapat mendominasi perdagangan padi-padian ekspor dunia
  • Melarang negara-negara membatasi perdagangan melalui undang-undang keamanan pangan yang disebut “rintangan perdagangan”; tuntutan ini juga membuka pasar dunia bagi impor pangan GMO tanpa batas, tanpa harus membuktikan keamanannya.

Lobi International Food & Agricultural Trade Policy Council (IPC) bekerjasama dengan Cargill dan agribisnis AS untuk memajukan agenda ini. Negara-negara Kelompok Empat (Quad) memimpin: AS, Kanada, Jepang, dan Uni Eropa (UE). Bertemu sembunyi-sembunyi, mereka menetapkan kebijakan pertanian untuk 134 anggota WTO yang disusun oleh raksasa-raksasa agribisnis AS, meliputi Cargill, Monsanto, ADM, dan DuPont, bersama raksasa dari UE yakni Nestlé dan Unilever. Kebijakan mereka dirancang untuk menghapus hukum dan usaha perlindungan nasional demi kepentingan pasar bebas tak terbatas yang menguntungkan negara-negara Bumi Utara.

Melalui paten, raksasa GMO mengendalikan benih padi-padian pokok, dan mereka butuh pengaruh WTO untuk memaksakannya pada dunia yang skeptis. Ini dilakukan lewat Agreement on Agriculture (AoA) WTO, bersama dengan Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property Rights (TRIPS). Sebelum kedatangan agribisnis, produksi dan pasar pangan bersifat lokal. Sekarang sudah berubah. Raksasa korporat memegang kendali dan mampu menetapkan harga dengan memanipulasi pasokan. Aturan AoA dibentuk untuk membantu. Juga untuk menjalankan prioritas tertinggi agribisnis: “pasar global yang bebas dan terintegrasi untuk produk-produknya”. Termasuk produk GMO yang menurut pemerintahan Bush senior “pada substansinya setara” dengan benih dan palawija biasa dan tak perlu regulasi pemerintah. Ketentuan ini tertuang dalam aturan WTO di bawah Sanitary and Phytosanitary (SPS) Agreement. Isinya menyatakan bahwa undang-undang nasional yang melarang produk GMO adalah “praktek perdagangan tak adil”, meskipun itu membahayakan kesehatan manusia.

Aturan WTO lainnya, di bawah Agreement on Technical Barriers to Trade, melarang pelabelan GMO. Alhasil, konsumen tidak tahu apa yang mereka makan dan tak dapat menghindari makanan berpotensi membahayakan ini. Biosafety Protocol tahun 1996 disusun untuk mengatasi masalah ini, dan semestinya cocok untuk tujuan tersebut. Akan tetapi, tuntutan negara berkembang “disergap oleh lobi pemerintah dan agribisnis yang kuat terorganisir”. Mereka menyabotase perundingan dan bersikeras undang-undang keamanan hayati (biosafety measure) harus berada di bawah aturan perdagangan WTO yang mementingkan negara-negara maju. Akibatnya, perundingan gagal, urusan keamanan diabaikan, dan jalan penyebaran benih GMO ke seluruh dunia dilapangkan.

Di bawah aturan TRIPS WTO, semua negara anggota harus mengesahkan undang-undang kekayaan intelektual perlindungan paten yang menjadikan pengetahuan sebagai kekayaan. Ini, pada gilirannya, “membuka pintu air” di hampir semua tempat untuk perkembangbiakan benih dan pangan GMO, sekalipun melanggar undang-undang keamanan pangan nasional.

Raksasa GMO memiliki rekan berpengaruh di pemerintahan yang membekingi agenda mereka. George W. Bush salah satunya. Pada 2003, setelah invasi Irak, dia menjadikan perkembangbiakan benih GMO sebagai prioritas tertinggi. Dengan dukungan ini, perusahaan-perusahaan GMO mendorong situasi sampai ke batasnya.

Engdahl memberikan contoh lancang menyangkut perusahaan biotek asal Texas, RiceTec. Mereka berencana mematenkan beras basmati, makanan pokok di Asia selama ribuan tahun. Dengan kolusi IRRI, perusahaan tersebut mencuri benih dan mematenkannya di bawah aturan yang dikarang Rockefeller Foundation. Keputusan Mahkamah Agung AS tahun 2001 dalam kasus Ag Supply vs. Pioneer Hi-Bred memungkinkan hal ini. Keputusannya “mengabadikan prinsip pembolehan paten atas bentuk-bentuk tanaman dan bentuk kehidupan lain”. Menurut putusan ini, biakan tanaman GMO dapat dipatenkan—dan lembaga-lembaga pemerintah AS terlibat membantu raksasa agribisnis melakukannya tanpa hambatan. Alhasil, serangan gencar monokultur GMO mengancam keanekaragaman spesies tanaman di mana-mana.

Dengan beking penuh dari Washington dan WTO, perusahaan-perusahaan biotek besar sedang mematenkan setiap tanaman dalam bentuk GMO. Engdahl mengacu pada “Revolusi Gen [sebagai] kekuatan angin musim dalam pertanian dunia” menjelang awal milenium baru, di mana empat perusahaan dominan menguasai pasar GMO dan agrikimiawi terkait: Monsanto, DuPont, dan Dow AgroSciences di AS, dan Syngenta di Swiss (dibentuk dari merger divisi agrikultur Novartis dan AstraZeneca).

“Nomor satu dunia” adalah Monsanto. Perusahaan ini sudah dibahas di Bagian I, dan Engdahl mengutip chairman-nya yang menyebut sasarannya adalah fusi global “tiga industri besar di dunia—pertanian, pangan, dan kesehatan—yang kini beroperasi [secara terpisah, tapi] perubahan…akan menghasilkan integrasi ketiganya”. Itu lebih dari tujuh tahun lalu. Sekarang sedang berlangsung.

Engdahl menyinggung informasi relevan tentang industri ini yang sebelumnya tak diperhatikan: ketiga raksasa GMO AS tersebut punya pertalian panjang dan kotor dengan Pentagon, memasok bahan-bahan kimia destruktif seperti Agent Orange, napalm, dan lain-lain. Sekarang mereka ingin diamanati barang terpenting yang kita cerna—makanan dan obat—padahal bukti kuat menunjukkan bahwa varietas GMO mereka membahayakan kesehatan manusia. Riwayat perhatian mereka terhadap keamanan masyarakat sangat buruk.

Suka tidak suka, mereka sedang memajukan agenda, dan sebuah laporan Rockefeller Foundation tahun 2004 membuktikannya. Produksi palawija GM mengalami kenaikan dua digit selama sembilan tahun berturut-turut sejak 1996. Lebih dari delapan juta petani di 17 negara kini menanam palawija GM, 90%-nya berada di negara-negara berkembang. Jelas sekali, AS adalah pemimpin dunia “dengan promosi Pemerintahan yang agresif, tanpa pelabelan, dan dominasi produksi pertanian AS”. Di sini, “palawija rekayasa genetik pada hakikatnya [telah] mengambil alih rantai makanan Amerika”. Pada 2004, lebih dari 85% kacang kedelai dan 45% benih jagung adalah rekayasa genetik, dan karena pakan hewan utamanya berasal dari palawija ini, maka “seluruh produksi daging nasional [dan ekspor] mengandung pakan hewan modifikasi genetik”. Apa yang hewan makan, manusia memakannya pula.

Yang lebih buruk lagi, angin dan udara mengembangbiakkan benih GM ke ladang-ladang sebelah, termasuk ladang organik yang kini tercemar hingga taraf tertentu. Engdahl menjelaskan: “…setelah enam tahun saja, ditaksir 67% dari semua tanah pertanian AS tercemar dengan benih-benih rekayasa genetik. Keadaan tak dapat dikembalikan”; tak ada yang bisa membalik kondisi ini.

Akibatnya penanaman “organik murni” menjadi mustahil, kecuali di ladang-ladang terpencil yang tak banyak dikelilingi industri. Padahal, palawija organik lebih aman daripada palawija kimiawi dan jauh lebih baik daripada yang dimodifikasi secara genetik. Artinya, seiring Revolusi Gen mengalami kemajuan di seluruh dunia, masa depan pertanian organik terancam—sangat mengerikan bagi orang-orang yang bergantung padanya, seperti penulis ini.

Pertimbangkan juga cara para raksasa GMO meraih pangsa pasar dengan sokongan pemerintah dan WTO, dibantu oleh pemberlakuan perjanjian teknologi dan lisensi kaku atas petani yang harus membayar biaya tahunan. Perjanjian-perjanjian ini mengikat dan ditegakkan melalui Technology Use Agreements yang harus ditandatangani petani dan dengan demikian menjebak mereka ke dalam “bentuk perbudakan baru”. Setiap tahun mereka harus membeli benih baru dan dilarang memakai ulang benih dari tahun-tahun sebelumnya, sebagaimana kebiasaan sebelum pengenalan GMO. Ketidakpatuhan terhadap perjanjian dapat mengakibatkan kerugian hukum berat atau bahkan pemenjaraan dan mungkin kehilangan tanah.

Lembaga-lembaga pemerintah dan skema pemasaran cerdik membantu “Revolusi Gen” melalui “dusta dan persetan dusta” bahwa palawija GMO menghasilkan panen lebih banyak dan dapat menyelesaikan masalah kelaparan dunia. Bukti menunjukkan sebaliknya. Di samping itu, “rumput liar super” yang kebal terus-menerus berkembang seiring waktu dan hasil panen jatuh. Petani harus memakai herbisida lebih banyak, tersangkut oleh bea pengguna yang tinggi, dan akhinya kehabisan uang. Intinya: bukti pendukung “benih rekayasa genetik untuk agrikultur didasarkan pada benteng penipuan sains dan dusta korporat”. Informasi ini disembunyikan dari masyarakat, dan para petani yang tak waspada terlambat menyadari bahwa mereka sudah diperdaya.

Bukti-bukti tentang bahaya GMO semakin bertambah, dan industri gusar. Menjelang 2005, dunia sains Rusia menunjukkan bahwa GMO menimbulkan kerusakan yang bisa berawal dari dalam kandungan: lebih dari separuh keturunan tikus yang diberi makan kacang kedelai rekayasa genetik mati di tiga minggu pertama hidup mereka—enam kali angka normal.

Pengendalian Populasi: Terminator, Traitor, dan Benih Jagung Kontrasepsi
Krusial bagi strateginya, raksasa GMO butuh “teknologi baru” yang memungkinkan mereka menjual benih yang takkan bereproduksi”. Mereka mengembangkan genetic use restriction technology (GURT) yang menghasilkan benih “Terminator”. Proses ini dipatenkan dan berlaku pada benih semua spesies tanaman. Percuma menanamnya ulang: tidak akan tumbuh. Ini adalah solusi industri untuk mengendalikan produksi pangan dunia dan memastikan laba besar bagi mereka sendiri. Penemuan luar biasa! Jagung, kacang kedelai, dan benih Terminator lainnya “dimodifikasi secara genetik untuk ‘melakukan bunuh diri’ setelah satu musim panen” melalui gen penghasil racun yang ditanam di dalam.

Teknologi generasi kedua yang terkait erat, T-GURT, memproduksi benih-benih berjulukan “Traitor”. Teknologi ini mengandalkan pengendalian kesuburan dan karakteristik genetik tanaman dengan “promotor gen yang dapat dirangsang” yang disebut “sakelar gen”. Palawija GMO yang kebal hama dan penyakit hanya berfungsi dengan memakai senyawa kimia tertentu buatan perusahaan-perusahan semacam Monsanto. Para petani yang membeli benih scara ilegal takkan mendapatkan senyawa tersebut untuk “menyalakan” gen kebal. Dengan demikian teknologi Traitor menciptakan pasar terbatas baru bagi raksasa-raksasa GMO, dan benih Traitor lebih murah untuk diproduksi dibanding benih Terminator.
Kombinasi dua teknologi ini memberi kekuatan tak terbayangkan kepada raksasa agribisnis: “Untuk pertama kalinya dalam sejarah, tiga atau empat perusahaan benih swasta multinasional…dapat mendiktekan syarat kepada petani dunia untuk benih mereka.” Ini alat perang biologi yang nyaris “terlalu sempurna untuk dipercaya”, di tengah tentangan warga secara terbuka yang hendak diberangus oleh industri dan Departemen Pertanian AS (USDA).

Engdahl mengutip juru bicara USDA, Willard Phelps, dari sebuah wawancara Juni 1998, yang menyatakan bahwa lembaga tersebut ingin teknologi Terminator “dilisensikan secara luas dan disediakan secara tepat guna bagi banyak perusahaan benih”. Yang tak diungkap adalah alasannya: memperkenalkan benih-benih ini ke dunia berkembang sebagai strategi utama Rockefeller Foundation. Engdahl menyebutnya “Kuda Troya bagi para raksasa GMO Barat untuk meraih kendali atas pasokan pangan Dunia Ketiga di wilayah-wilayah berundang-undang paten lemah atau nihil”. Menyebarkan benih ini ke seluruh dunia untuk menangkap pasar dunia sudah menjadi prioritas urgen Rockefeller Foundation. USDA membeking penuh skema tersebut.

Pengaruh jenis ini (di samping aturan WTO) memang sangat besar. Ini adalah taktik yang dipakai ketika Departemen Luar Negeri dan Pertanian AS mengkoordinir bantuan kelaparan memanfaatkan surplus komoditas rekayasa genetik AS. Petani yang mendapat benih GMO tidak diberitahu apa itu: mereka menanamnya tanpa disadari untuk panen berikutnya dan terjebak. Dan perkembangbiakannnya tidak terbatas di Afrika. Sasaran industri ini adalah memperkenalkan GMO ke mana-mana, lewat pemaksaan, penyuapan, dan taktik ilegal lain, tapi terutama di negara-negara berkembang yang banyak utang. Dalam kasus Polandia, tanahnya—salah satu yang terkaya di Eropa—kini dirusak oleh pencemaran genetik.
Perhatikan bagaimana skema ini ada hubungannya dengan strategi pengendalian populasi Rockefeller Foundation. Pada 2001, skema ini terbantu ketika perusahaan biotek swasta, Epicyte, mengumumkan telah berhasil mengembangkan “palawija GMO terhebat”: benih jagung kontrasepsi. Itu disebut sebagai solusi untuk “kelebihan populasi” dunia, tapi kabar tentangnya menghilang setelah Biolex mengakuisisi perusahaan tersebut.

Bagaimanapun caranya, Rockefeller Foundation hendak mengurangi populasi. Mereka juga melakukannya bersama World Health Organization (WHO) dengan diam-diam mendanai program “kesehatan reproduksi” milik WHO lewat pemakaian vaksin tetanus. Dikombinasikan dengan hormon-hormon alami hCG, ini menjadi agen aborsi yang mencegah kehamilan, tapi kaum wanita yang disuntikinya tidak diberitahu.

Tak ada yang bicara soal pandangan Pentagon terhadap pengurangan populasi sebagai bentuk canggih “’perang biologi’ untuk mengatasi kelaparan dunia”.

Geger Flu Unggas dan Ayam GMO
Pada 2005, George W. Bush mengelabui publik agar percaya bahwa epidemik flu unggas (burung) berpotensi menjadi pandemik jika tidak ditangani. Solusinya, seperti biasa, berpaling pada sektor swasta dan menghadiahi teman-temannya. Dalam hal ini, dia meminta Kongres menyediakan uang darurat satu miliar dolar milik pembayar pajak untuk sebuah obat, Tamiflu. Satu fakta kunci tidak disinggung: obat tersebut dikembangkan dan dipatenkan oleh Gilead Science—yang chairman-nya, sebelum menjadi Menteri Pertahanan AS, adalah Donald, dan masih pemegang saham utama. Kepanikan ini, ditambah pendanaan pemerintah dan kenaikan harga saham, sudah pasti memberinya kekayaan, seperti Dick Cheney yang meraup untung sebagai Wakil Presiden AS dari pertaliannya dengan Halliburton.

Engdahl bertanya: “Apakah kepanikan flu unggas merupakan hoax Pentagon berikutnya” dengan tujuan yang tak diketahui? Mengingat tindakan pemerintah yang disembunyikan di masa lalu, strain flu baru yang “diduga mematikan” “harus dihadapi dengan banyak kecurigaan”. Itu sedang dipakai untuk memajukan kepentingan agribisnis dan pabrik peternakan unggas global “sesuai model Tyson Foods yang bermarkas di Arkansas”. Pertimbangkan fakta-faktanya. Peternakan pabrik adalah ladang perkembangbiakan penyakit potensial lantaran kondisinya yang berjejalan, terlalu penuh, tapi ini tak pernah disebut sebagai ancaman. Justru, peternakan ayam kecil-kecilan milik keluarga yang tidak dikandangi disebut sebagai penjahat, terutama di Asia, padahal faktanya pemikiran tersebut sangat tidak mungkin. Peternakan kecil seperti ini adalah yang paling aman, tapi kampanye propaganda industri-pemerintah mengklaim sebaliknya.

Skemanya jelas. Lima raksasa multinasional mendominasi produksi dan pengolahan daging ayam AS: Tyson (yang terbesar), Gold Kist, Pilgrim’s Pride, ConAgra Poultry, dan Perdue Farms. Mereka memproduksi daging ayam di bawah “kondisi kesehatan dan kemanan yang buruk sekali”. Menurut GO (Government Accountability Office) AS, para pekerja di pabrik-pabrik pengolahan ini mengalami “salah satu tingkat cedera dan penyakit tertinggi dibanding industri manapun”. Mereka menyebutkan paparan terhadap “bahan kimia berbahaya, darah, zat feses, diperparah oleh buruknya ventilasi dan seringkali temperatur yang ekstrim”. Selain itu, ayam-ayam dijejalkan dengan ketat dan “dicegah berjalan atau bergerak di peternakan pabrik [agar dapat] tumbuh…jauh lebih besar [dan lebih cepat] daripada sebelumnya”. Pendorong pertumbuhan juga dipakai, yang menimbulkan masalah kesehatan.

Kini semakin banyak pakar hewan yang percaya bahwa peternakan-peternakan ini, bukan peternakan kecil-kecilan di Asia, justru menjadi sumber penyakit baru berbahaya seperti flu unggas. Informasi tersebut diberangus di media mainstream, sehingga masyarakat tertipu. Ini agar raksasa pengolahan ayam dapat mengglobalisasi produksi dunia, dibantu dengan “anugerah dari langit” berupa kepanikan flu unggas. Jika peternak-peternak ayam kecil-kecilan Asia bisa diremas, Tyson dan lainnya dapat mengakses pasar unggas Asia yang besar. Itulah sasaran mereka, dan menghapus kompetisi merupakan metode mereka—dengan bantuan dari rekan-rekan di jabatan tinggi.

Menciptakan populasi hewan GMO pertama juga manjadi bagian dari skema ini, dengan prospek mentransformasi ayam-ayam dunia ke burung-burung GMO. Engdahl berkata begini: “Jelang 2006, menunggangi kekhawatiran epidemik flu unggas di kalangan manusia, para pemain GMO atau Revolusi Gen jelas-jelas bermaksud menaklukkan sumber protein daging terpenting dunia, unggas.”

Tapi skema lain untuk mendominasi produksi pangan dunia juga terhampar di depan: “Terminator akan segera jatuh ke tangan raksasa benih GMO agribisnis terbesar dunia”.

Armagedon Genetik: Terminator dan Paten Babi
Pada 2007, Monsanto mengakuisisi Delta & Pine Land (D&PL) untuk menyelesaikan upaya ambilalih yang terhenti di tahun 1999. D&PL memegang hak paten global Terminator dan sukses memperpanjangnya dengan GURT. Kesepakatan tersebut menjadikan Monsanto “pemonopoli benih agrikultur untuk hampir semua varietas”, termasuk buah-buahan dan sayur-mayur yang diikutsertakan dalam akusisi Seminis setahun sebelumnya. Dengan masuknya perusahaan tersebut, Monsanto kini menjadi perusahaan terbesar kesatu di bidang sayur-mayur dan buah-buahan, terbesar kedua di bidang palawija agronomi, dan terbesar ketiga di bidang agrikimia. Dengan masuknya D&PL, perusahaan tersebut juga memegang kendali mutlak atas mayoritas benih tanaman agrikultur. Selain itu, ia sedang terjun ke rekayasa genetik dan pematenan hewan.

Pada 2005, Monsanto mengajukan aplikasi ke WTO untuk hak paten internasional atas rekayasa genetik alat identifikasi gen babi yang berasal dari sperma babi berpaten. Perusahaan ini juga menginginkan paten dan hak untuk mengumpulkan bea lisensi atas hewan ternak tertentu dan kawanan ternak. Jika dikabulkan, “babi manapun yang dihasilkan dengan teknik reproduksi ini akan terkena paten ini”. Beberapa teknik sedang digunakan dan dipatenkan secepat para pengacara GMO mendaftarkan aplikasi untuk mengunci kehidupan hewan sebagai kekayaan intelektual.

Perusahaan semacam Monsanto dan Cargill sudah menginvestasikan banyak uang untuk memodifikasi genetik binatang-binatang demi keuntungan. Untuk itu mereka ingin hak paten dan hak lisensi, walaupun ini melambangkan cita-cita kontroversial: mematenkan kehidupan. Akan tetapi, putusan Mahkamah Agung AS tahun 1980 dalam kasus Diamond vs. Chakrabarty memberi mereka jalan: “apapun di kolong langit yang dibuat manusia” dapat dipatenkan. Ini melapangkan jalan bagi paten fenomenal “tikus Harvard” yang direkayasa genetik untuk rentan terhadap kanker.

Engdahl menjelaskan bagaimana empat raksasa agribisnis menggunakan “kerahasiaan, sistem, dan kampanye kebohongan dan pemutarbalikkan yang didukung kuat” menuju cita-cita tertinggi Henry Kissinger: mengendalikan minyak untuk mengendalikan bangsa-bangsa, mengendalikan pangan untuk mengendalikan orang-orang. Keduanya sedang berlangsung, masyarakat tidak banyak tahu sudah seberapa jauh kemajuannya dan seberapa nekat skemanya: merekayasa genetik semua tanaman dan bentuk kehidupan, dan mengendalikan populasi dunia dengan menyisihkan bagian-bagian “tak dikehendaki”.

Penutup: Menyusun Oposisi
Putusan pengadilan WTO September 2006 mendukung AS dan melawan UE. Ini mengancam membuka kawasan agrikultur penting tersebut bagi “pengenalan paksa tanaman dan produk pangan manipulasi genetik”.

Putusan itu merekomendasikan agar WTO Dispute Settlement Body (DSB) mewajibkan UE memenuhi kewajibannya menurut WTO SPS Agreement, yang memperkenankan agribisnis mengesampingkan undang-undang dan hak negara yang melindungi kesehatan dan keamanan masyarakat. Ketidakpatuhan bisa mengakibatkan negara-negara UE dikenai denda tahunan sebesar ratusan juta dolar, jadi isu ini krusial bagi kedua pihak.

Pada waktu penulisan buku Engdahl, belum jelas apakah “nafsu GMO akan terhenti secara global”. Masih belum pasti. Tapi sejak Desember 2007, hanya sembilan produk pangan biotek yang disahkan untuk dijual di UE. Sejauh ini, kebanyakan ekspor jagung AS diblokir dan perdagangan produk-produk lain dirintangi, terlepas dari adanya lusinan aplikasi yang menanti keputusan dan nasibnya belum dipastikan.

Beberapa negara UE, meliputi Prancis, Jerman, Austria, dan Denmark, bahkan melarang sebagian produk pangan biotek yang disetujui UE, semakin memperkeruh prospek. Poling menunjukkan alasannya. Pendapat publik Eropa menentang keras pangan dan bahan GMO. Tingkat penentangan di Prancis setinggi 89%, 79% menginginkan pemerintah melarangnya.
Ini menunjukkan bahwa konsumen Eropa jauh di depan konsumen Amerika dan jauh lebih terlindungi (sejauh ini) oleh pelarangan menyeluruh dan persyaratan pelabelan untuk produk-produk yang boleh dijual. Ketentuan tersebut krusial, karena memberi kuasa kepada konsumen untuk memutuskan apakah mau memakai atau menghindari pangan ini. Jika cukup banyak orang yang berpantang, toko-toko makanan takkan menjualnya.

Engdahl menyudahi dengan nada tinggi, meninjau seberapa rentan para raksasa GMO terhadap kritik.

Memaksakan produk-produk tak teruji ke dalam tenggorokan konsumen merupakan “dasar [bagi kita] untuk mengorganisir pelarangan atau penangguhan global terhadap produk tersebut” jika kita dapat menyusun oposisi yang cukup vokal.
Sepanjang buku ini, dia menyuarakan kegundahan dengan berlembar-lembar fakta mengenai industri, produk, dan tujuannya.

Mengkonversi agrikultur dunia ke GMO, membiarkan agribisnis mengendalikannya, dan ditambah agenda jahat penyisihan populasi, sama saja dengan mengatasi kelaparan dunia lewat genosida dan membahayakan kita semua dalam prosesnya.
Sejauh ini, Washington dan industri menggelinding ke arah pengendalian minyak dan pangan. Ratusan juta orang di seluruh dunia berdiri menentang, tapi belum jelas apa itu cukup.

Buku karangan Engdahl merupakan seruan bangkit kepada setiap sahabat Bumi untuk mengerti bahwa isu segenting ini tak boleh diserahkan ke tangan-tangan raksasa bisnis tak bermoral dan rekan-rekan pendukung mereka di jabatan tinggi di manapun. Buku ini bermodalkan banyak amunisi melawan mereka. Perlu dibaca secara menyeluruh dan dimanfaatkan informasinya. Taruhannya terlalu tinggi. Kesehatan dan keamanan manusia tidak boleh dikompromikan demi keuntungan.

Tentang Penulis
Stephen Lendman tinggal di Chicago dan dapat dihubungi lewat surel di lendmanstephen@sbcglobal.net. Kunjungi blognya di sjlendman.blogspot.com.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s