Nanoteknologi – Ancaman Baru Terhadap Makanan

Oleh: Georgia Miller dan Scott Kinnear
(Sumber: Nexus Magazine, Desember 2008-Januari 2009, hal. 37-40)

Ratusan makanan di rak-rak supermarket kini mungkin mengandung bahan-bahan nanoteknologi yang belum teruji dan tak berlabel, tapi konsumen tak ada yang tahu.

Serangan baru terhadap pertanian holistik
Melanjutkan rekayasa genetika, nanoteknologi melambangkan upaya canggih teranyar untuk menginfiltrasi pasokan makanan kita. Para ilmuwan senior sudah memperingatkan bahwa nanoteknologi—manipulasi materi pada skala atom dan molekul—mendatangkan resiko serius baru terhadap kesehatan manusia dan lingkungan. Tapi di tengah tiadanya perdebatan publik atau lalainya regulator, makanan tak berlabel yang diproduksi dengan nanoteknologi mulai bermunculan di rak-rak supermarket.

Di seluruh dunia terdapat peningkatan perhatian terhadap makanan, kesehatan, dan lingkungan kita. Kita ingin tahu di mana, bagaimana, kenapa dan oleh siapa produk-produk dibuat, seberapa jauh mereka berpindah tempat, dan seberapa lama mereka disimpan. Gerakan pangan organik dan lokal muncul sebagai respon intuitif dan praktis terhadap meningkatnya pemakaian bahan kimiawi dalam produksi makanan, serta terhadap semakin jauhnya pertanian industri dari sistem pertanian holistik. Masyarakat sudah memilih untuk mengkonsumsi makanan organik karena peduli dengan kesehatan keluarga dan lingkungan. Pertanian organik juga memungkinkan orang-orang untuk mendukung pertanian terpadu ramah lingkungan dan teknologi yang tepat ketimbang pertanian pabrik yang padat bahan kimiawi.

Dukungan terhadap pangan organik juga tumbuh sebagai respon langsung terhadap usaha para raksasa bioteknologi untuk merekayasa genetik palawija kita. Petani dan pembeli pangan di seluruh dunia pernah, dan masih, dibuat berang oleh pengenalan palawija hasil rekayasa genetik. Bagi banyak orang, kesimpulannya jelas: sementara perusahaan-perusahaan bioteknologi mendapat untung dari masuknya pangan rekayasa genetik ke dalam rantai makanan, di lain pihak para konsumen, petani, dan lingkungan menanggung semua resikonya.

Nah, nanoteknologi mendatangkan gelombang serangan baru terhadap makanan kita. Nanoteknologi merupakan antitesis pertanian organik yang diproses secara atomik dengan teknologi tinggi, sedangkan pertanian organik menghargai khasiat alami pangan utuh segar yang tidak diproses, serta menyehatkan. Teknologi ini selanjutnya mentransformasi pertanian menjadi perpanjangan lini produksi pabrik canggih yang terotomatisasi, menggunakan produk-produk berpaten yang akan memusatkan kontrol korporat. Ia juga mendatangkan resiko serius baru bagi kesehatan manusia dan lingkungan.

Apa itu nanoteknologi dan kenapa berbeda?
Nanoteknologi adalah teknologi baru nan hebat untuk membongkar dan merekonstruksi alam pada level atom dan molekul. Nanoteknologi mewujudkan impian para ilmuwan untuk membuat ulang dunia dari atom, melakukan manipulasi di level atom untuk mentransformasi dan mengkonstruksi banyak material baru, perangkat, organisme hidup, dan sistem teknologi.
Nanoteknologi dan nanosains melibatkan studi fenomena, material, dan manipulasi struktur, perangkat, dan sistem yang eksis pada nanoskala, yakni kurang dari 100 nanometer (nm) dalam hal ukuran. Sebagai gambaran, helai DNA memiliki lebar 2,5 nm, molekul protein 5 nm, sel darah merah 7.000 nm, dan rambut manusia 80.000 nm.

Atribut nanopartikel tidak diatur oleh hukum fisika partikel besar tapi oleh mekanika quantum. Karenanya atribut fisikal dan kimiawi nanopartikel—contohnya warna, daya larut, kekuatan, kereaktifan dan toksisitas kimiawi—cukup berbeda dari atribut partikel besar pada zat yang sama.

Modifikasi atribut nanopartikel telah menciptakan kemungkinan untuk banyak produk dan penerapan baru yang menguntungkan. Nanopartikel yang direkayasa dipakai dalam ribuan produk yang sudah tersedia di rak-rak supermarket, termasuk tabir surya transparan, kosmetik yang mendifraksikan cahaya, pelembab dengan daya resap diperkuat, kain anti-noda dan anti-bau, lapisan anti-kotor, cat tahan lama dan pernis furnitur, dan bahkan beberapa produk pangan.

APEC (Asia-Pacific Economic Cooperation) Center for Technology Foresight memprediksi nanoteknologi akan merevolusi semua aspek ekonomi dan masyarakat kita, dengan kehebohan sosial besar-besaran.

Bagaimana nanoteknologi akan digunakan untuk produksi dan pemrosesan pangan?
Para analis dan pendukung industri memprediksi nanoteknologi akan dipakai untuk mentransformasi makanan dari level atom ke atas.

“Berkat nanoteknologi, makanan di masa mendatang akan dirancang dengan membentuk molekul dan atom. Makanan akan dibungkus dalam kemasan pengaman ‘pintar’ yang dapat mendeteksi cacat produksi atau pencemar berbahaya. Produk-produk mendatang akan meningkatkan dan menyesuaikan warna, rasa, atau kandungan gizi untuk mengakomodasi selera atau kebutuhan kesehatan setiap konsumen. Dan dalam pertanian, nanoteknologi menjanjikan pengurangan pestisida, memperbaiki pemeliharaan tanaman dan hewan, dan menciptakan produk nano-bioindustri baru”—demikian bunyi laporan The Project on Emerging Nanotechnologies 2006 perihal penggunaan nanoteknologi di bidang makanan dan pertanian (tersedia di www.nanotechproject.org).

Industri pangan dan pertanian telah berinvestasi miliaran dolar untuk riset nanoteknologi; entah berapa jumlah produk makanan nanoteknologi tak berlabel yang sudah beredar di pasaran. Tiadanya kewajiban pelabelan produk di manapun di dunia, mustahil rasanya memastikan berapa banyak produk makanan komersial yang kini mengandung bahan nano.
Helmut Kaiser Consultancy Group, analis pro-nanoteknologi, menyatakan ada lebih dari 300 produk pangan nano yang kini tersedia di pasar seluruh dunia (lihat www.hkc22.com). Mereka memperkirakan pasar pangan nano global bernilai US$ 5,3 miliar pada 2005 dan akan naik ke US20,4 miliar pada 2010. Mereka memprediksi nanoteknologi akan dipakai oleh 40% industri makanan pada 2015.

Ada empat bidang fokus penting untuk riset makanan nanoteknologi:

  • Nanomodifikasi bibit dan pupuk/pestisida;
  • “Fortifikasi” dan modifikasi pangan;
  • Makanan “pintar” interaktif;
  • Kemasan “pintar” dan pelacakan makanan.

Nanomodifikasi bibit dan pupuk/pestisida
Para pendukung mengatakan bahwa nanoteknologi akan dipakai untuk semakin mengotomasi unit agribisnis modern. Semua input pertanian—benih, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja—akan semakin dimodifikasi secara teknologi. Nanoteknologi akan membawa rekayasa genetik pertanian ke level bawah berikutnya: rekayasa atom.

Rekayasa atom memungkinkan penyusunan ulang DNA benih dalam rangka memperoleh atribut tanaman yang berbeda, mencakup warna, musim tumbuh, hasil panen, dll. Pupuk dan pestisida rekayasa atom yang sangat manjur akan digunakan untuk memelihara pertumbuhan tanaman. Nanosensor akan memonitor pertumbuhan tanaman, tingkat pH, keberadaan bahan gizi, uap lembab, hama atau penyakit dari jauh, menurunkan kebutuhan akan pemasukan data oleh tenaga kerja di ladang.

Organisasi terkait, The Action Group on Erosion, Technology and Concentration (ETC), memperingatkan dalam laporan rintisannya “Down on the Farm” (tersedia di www.etcgroup.org) bahwa di masa depan yang dibentuk oleh nanoteknologi, “pertanian akan menjadi biopabrik bercakupan luas yang dapat memonitor dan mengelola dari sebuah laptop, dan makanan akan dibuat dari zat-zat sintetis (designer substance) yang mengantarkan bahan gizi secara efisien ke tubuh.”

“Fortifikasi” dan modifikasi pangan
Perusahaan-perusahaan nanoteknologi sedang bekerja untuk memfortifikasi makanan olahan dengan gizi bercangkang nano, tampilan dan rasanya ditingkatkan oleh warna-warna pengembangan nano, kandungan lemak dan gulanya dibuang atau dilumpuhkan lewat modifikasi nano, dan “rasa mulut”-nya disempurnakan.

“Fortifikasi” pangan akan dilakukan demi meningkatkan tuntutan gizi terhadap makanan olahan tertentu; contoh, penyertaan nanokapsul yang “bermanfaat secara medis” akan segera memungkinkan kue keripik cokelat atau keripik pedas dipasarkan sebagai pembantu kesehatan atau pembersih nadi. Nanoteknologi juga akan memungkinkan modifikasi makanan sampah (junk food) semacam es krim dan cokelat untuk mengurangi jumlah lemak dan gula yang diserap tubuh. Ini bisa terwujud dengan mengganti lemak dan gula dengan zat-zat lain, atau dengan memanfaatkan nanopartikel guna mencegah tubuh mencerna atau menyerap komponen-komponen makanan ini. Dengan begini, nanoindustri dapat memasarkan makanan sampah yang difortifikasi dengan vitamin dan serat, dan diganjal lemak dan gulanya, sebagai pembantu kesehatan dan penurun berat badan.

Makanan “pintar” interaktif
Perusahaan-perusahaan seperti Kraft dan Nestlé tengah merancang makanan “pintar” yang akan berinteraksi dengan konsumen untuk “mempersonalisasi” makanan, mengubah warna, rasa, atau bahan gizi berdasarkan permintaan. Kraft sedang mengembangkan minuman tawar jernih yang mengandung ratusan rasa dalam nanokapsul laten. Oven mikrowave rumah-tangga dapat digunakan untuk memicu pelepasan warna, rasa, konsentrasi dan tekstur pilihan individu.

Makanan “pintar” juga bisa mengindera bilamana seseorang alergi terhadap bahan makanan, kemudian memblokir bahan pengganggu tersebut. Sebagai gantinya, kemasan “pintar” dapat melepas setakar gizi tambahan kepada orang-orang yang diidentifikasinya sedang menjalani diet khusus; contoh, molekul kalsium kepada penderita osteoporosis.

Kemasan “pintar” dan pelacakan makanan
Nanoteknologi akan secara dramatis memperpanjang umur simpan makanan. Mars Inc. sudah memegang paten atas pembungkus nano tak terlihat dan dapat dimakan, yang akan menyelubungi makanan, mencegah pertukaran gas dan uap lembab.

Kemasan “pintar”, memuat nanosensor dan pengaktif antimikroba, akan mampu mendeteksi cacat produksi makanan dan melepas antimikroba nano guna memperpanjang umur simpan makanan, memungkinkan supermarket untuk menyimpan makanan dalam masa lebih lama sebelum dijual.

Nanosensor, ditanam ke dalam poduk makanan sebagai chip kecil yang tak terlihat oleh mata manusia, juga akan bertindak sebagai barkode elektronik. Ia akan memancarkan sinyal yang menjadikan makanan, termasuk makanan segar, dapat dilacak dari ladang ke pabrik ke supermarket dan seterusnya.

Apa keprihatinan utama terhadap nanoteknologi di bidang makanan dan pertanian?
Keprihatinan utama terhadap penggunaan nanoteknologi dalam pertanian dan produksi pangan berkaitan dengan otomasi dan alienasi produksi pangan, resiko toksisitas serius yang baru terhadap manusia dan lingkungan, dan hilangnya privasii karena pemantauan nano melacak setiap langkah dalam rantai makanan. Kelalaian pemerintah untuk mengajukan undang-undang yang melindungi masyarakat dan lingkungan dari resiko nanoteknologi merupakan keprihatinan paling serius.

Nanoteknologi pertanian didasarkan pada premis bahwa kita dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas dengan menyusun ulang atom pada benih, dengan mengembangkan masukan kimiawi yang lebih manjur, dengan menggunakan teknologi canggih untuk memantau kondisi ladang secara elektronik ketimbang manusiawi, dan dengan lebih mengotomasi input pertumbuhan tanaman.

Ada asumsi bahwa penerapan nanoteknologi pada pemrosesan makanan dapat “menyempurnakan” rasa, tekstur, tampilan, kandungan gizi, dan umur makanan dengan memanipulasinya pada level atom. Bahkan dinyatakan ini akan menghasilkan makanan yang lebih “aman”. Asumsi-asumsi ini didasarkan pada keyakinan cacat bahwa manusia dapat membuat ulang dunia dari atom—dan mendapat hasil yang lebih baik. Dianggapnya kita dapat memprediksi konsekuensi tindakan kita, padahal kita sedang berurusan dengan proses dan kekuatan yang sangat tidak bisa diprediksi, seperti mekanika quantum.

Sialnya, sejarah memberitahukan bahwa kita sama sekali tidak cakap dalam memprediksi hasil dari sistem-sistem kompleks. Lihat saja bencana-bencana akibat pengenalan pengendali hama biologis seperti katak tebu, atau penggunaan kelinci dan rubah untuk olahraga. Sejarah juga dikotori dengan contoh-contoh masalah kesehatan dan lingkungan yang berat akibat kelalaian menanggapi tanda peringatan dini tentang bahan-bahan yang mulanya dianggap “ajaib”, seperti CFC, DDT, dan asbes. Ini menjadi isyarat, kita mesti menganggap serius tanda-tanda peringatan dini terkait toksisitas nanopartikel.

Kini semakin bertambah literatur toksikologi, walau masih sedikit, yang menyatakan bahwa nanopartikel lebih reaktif, lebih aktif, dan lebih potensial daripada partikel besar untuk meracuni manusia dan lingkungan. Riset ilmiah pendahuluan sudah membuktikan bahwa banyak tipe nanopartikel yang dapat mengakibatkan naiknya stres oksidatif, sehingga membentuk radikal bebas yang menyebabkan kanker, mutasi DNA, dan bahkan kematian sel. Fulerena—nanopartikel karbon—didapati menimbulkan kerusakan otak pada ikan largemouth bass, spesies yang diakui oleh lembaga-lembaga regulasi sebagai model untuk menetapkan efek ekotoksikologis.

Dalam laporan tahun 2004, Royal Society Kerajaan Inggris mengakui resiko serius nanotoksisitas dan merekomendasikan agar “bahan-bahan berbentuk nanopartikel menjalani penaksiran keamanan penuh oleh badan penasehat ilmiah relevan sebelum diizinkan dipakai pada produk” (lihat www.nanotec.org.uk/finalreport.htm). Terlepas dari peringatan ini, belum ada undang-undang yang mengatur penggunaan bahan-bahan nano pada produk konsumen untuk memastikan itu tidak menimbulkan bahaya bagi masyarakat yang menggunakannya, pekerja yang memproduksinya, atau sistem lingkungan di mana limbah produk nano dilepas.

Penggunaan pemantauan nano pada kemasan makanan juga akan menimbulkan masalah privasi baru. Seiring meningkatnya penggunaan pelacakan nano oleh industri pangan, mereka akan mendapat kapasitas untuk melacak pergerakan makanan dari ladang ke pabrik ke supermarket dan ke piring makan Anda. Ini akan memancing isu privasi baru dan serius yang tidak siap kita hadapi.

Yang menggelisahkan, terlepas dari rilis produk pangan dan pertanian nanoteknologi ke supermarket dan lingkungan, pemerintahan di seluruh dunia belum memperkenalkan regulasi untuk mengelola resiko nanoteknologi.

Perjuangan demi masa depan pangan yang sehat: alternatif nanoteknologi
Akan seperti apa masa depan makanan dan teknologi kita? Kita sedang berada dalam pertempuran besar untuk memperebutkan kendali pasokan pangan kita. Kepemilikan korporat atau masyarakat, global atau lokal, kecil versus raksasa, olahan atau utuh—inilah paradigma yang harus kita pilih. Jalan kunci untuk mempromosikan pertanian sehat holistik adalah mendukungnya dengan pilihan belanja kita. Makanan organik bersertifikat menyodorkan kesehatan yang lebih baik, lingkungan yang lebih baik, dan cara untuk mendukung masa depan pangan bebas nano. Dengan ketelitian pribadi, belilah produk organik atau belilah dari perusahaan yang menyatakan tidak memakai nanoteknologi.

Ada banyak cara untuk membantu menciptakan masa depan pangan yang sehat. Belanja di pasar petani atau membeli langsung dari petani dengan vegetable box scheme (skema berlangganan sayuran). Membeli dari toko organik atau dari seksi organik di supermarket. Pertimbangkan untuk bergabung dengan kebun masyarakat atau mulai berkebun sendiri. Buatlah taman dapur organik di prasekolah atau sekolah lokal. Bacalah label produk. Libatkan diri Anda dan teruslah beri perhatian. Bicaralah dengan teman dan keluarga soal isu-isu pangan yang paling penting bagi Anda. Beritahu perusahaan-perusahaan melalui saluran keluhan 1-800 mereka bahwa Anda prihatin dengan penggunaan nanoteknologi dalam produk mereka. Sampaikan kepada anggota parlemen setempat bahwa Anda ingin produk-produk yang mengandung bahan nano diberi label agar Anda bisa memilih saat membeli.

Rasanya asyik sekali menyaksikan politik pangan diperdebatkan oleh media mainstream dan institusi riset dan pendidikan kita. Namun, meski di supermarket sudah ada produk pangan tak berlabel yang mengandung bahan nano, nanoteknologi baru mulai menarik perhatian. Tak ada regulasi untuk melindungi kesehatan masyarakat dan lingkungan, dan nyaris tak ada uang korporat atau publik yang dibelanjakan untuk meneliti konsekuensi jangka panjang dari manipulasi pangan kita pada level atom. Kemiripannya dengan pengenalan rekayasa genetik, ditambah tak adanya pengawasan regulasi, sungguh mengerikan.

Kita semua harus aktif secara politik berkenaan dengan nanoteknologi, seperti yang sudah kita lakukan terhadap rekayasa genetik. Penting sekali bagi kita untuk mengusahakan moratorium atas penggunaan nanoteknologi sampai kita mempunyai sistem regulasi untuk melindungi kesehatan manusia dan lingkungan dan sampai ada keterlibatan publik dalam pengambilan keputusan tentang pengenalan nanoteknologi. Kita juga harus pastikan pemerintah mendukung sektor organik dengan menyalurkan dolar pajak kita yang telah diperoleh susah-payah.

Bersama-sama kita mampu menciptakan masa depan pangan sehat yang memberi hasil kepada masyarakat kita, bukan kepada keuntungan korporat.

Penulis
Georgia Miller adalah koordinator Friends of the Earth Nanotechnology Project, Australia. Scott Kinnear adalah anggota dewan Biological Farmers of Australia dan pemilik Organic Wholefoods yang bermarkas di Melbourne, Australia.

Catatan Editor
Makalah ini pertama kali dipublikasikan dalam Clean Food Organic, vol. 4, Mei 2007, dan tersedia di http://nano.foe.org.au/node/198. Laporan setebal 73 halaman, Out of the Laboratory and on to our Plates: Nanotechnology in Food and Agriculture, ditulis pada Maret 2008 oleh Georgia Miller dan Dr. Rye Senjen dari Friends of the Earth Nanotechnology Project, tersedia sebagai file PDF dari laman web http://nano.foe.org.au/node/233. Untuk informasi lebih lanjut tentang nanoteknologi dan Friends of the Earth Nanotechnology Project, kunjungi website http://nano.foe.org.au/.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s