Perang di Iraq menandai era baru dalam perpolitikan Amerika. Tak pernah sebelumnya salah satu dari dua partai politik penting Amerika menyerang presiden berkuasa dan panglima tertinggi dengan kegarangan yang ditampakkan oleh para pemimpin Partai Demokrat hari ini. Tak pernah sebelumnya negeri ini begitu terpecah di tahap-tahap awal perang di tanah asing.

Sokongan dwipartai di masa perang telah menjadi tanda kebijakan luar negeri Amerika sejak Perang Dunia II. Partai Republik memperagakannya ketika Presiden Clinton berperang di Bosnia dan Kosovo—perang dilakukan tanpa otorisasi kongres atau persetujuan PBB, tapi didukung para pemimpin Republik. Sokongan dwipartai seperti itu absen dalam perang Amerika di Iraq. Ini dirusak oleh pemimpin Demokrat yang berkomitmen pada sasaran yang lebih radikal.

Pergeseran Demokrat ke politik kiri bukanlah barang baru. Para aktivis “progresif” telah menjalankan infiltrasi luas ke dalam lembaga-lembaga politik dan budaya Amerika selama 40 tahun. Kini efeknya dapat dilihat dari ketidakmampuan pemimpin-pemimpin politik Amerika untuk membentuk front bersatu terhadap ancaman militer gamblang dari luar negeri.

Buku ini mengupas kekuatan radikal yang sedang meruntuhkan persatuan Amerika, mengidentifikasi pemimpin-pemimpin radikal dan menjelaskan strategi mereka. Para aktivis ini terorganisir dalam dua gerakan nyata, satu mengerahkan tekanan dari bawah, satu lagi mengerahkan tekanan dari atas. Dalam sebuah risalat tahun 1957, teoritikus Partai Komunis Ceko, Jan Kozák, menjelaskan bagaimana sejumlah kecil kaum komunis berhasil memperoleh kekuasaan di Cekoslovakia lewat manuver parlemen. Triknya adalah mengerahkan tekanan untuk perubahan radikal dari dua arah sekaligus—dari tingkat pemerintahan di atas dan dari provokator di jalanan. Kozák menyebut taktik ini “tekanan dari atas dan bawah”.

Satu cara untuk mengerahkan “tekanan dari bawah”, jelas Kozák, adalah memenuhi jalan-jalan dengan perusuh, pemogok, dan pemrotes, hingga menciptakan ilusi tersebarnya tuntutan perubahan dari akar rumput. Kaum radikal dalam pemerintahan kemudian akan mengerahkan “tekanan dari atas”, membuat undang-undang baru dengan dalih menenangkan pemrotes di jalanan—padahal para pemrotes itu (atau sekurangnya pemimpin mereka) bagian dari plot. Mayoritas masyarakat tak tahu apa yang sedang terjadi. Terperas dari “atas” dan “bawah”, kebanyakan akan tenggelam ke dalam apati dan keputusasaan, merasa kalah jumlah dengan kaum radikal—padahal tidak. Dengan begitu minoritas radikal mampu memaksakan kehendaknya pada mayoritas moderat, bahkan di bawah sistem parlementer demokratis.

Di Amerika masa kini, tekanan dari “bawah”—menyelundupnya kaum radikal tingkat jalanan ke dalam proses politik—sudah sangat mengubah Partai Demokrat. Ini menjadi jelas sejak kampanye McGovern tahun 1972. Pada tahun-tahun belakangan semakin nyata bahwa tekanan serupa “dari atas” sedang menjepit dari arah berlawanan. Gerakan dari “atas” ini diujungtombaki oleh kekuatan-kekuatan di tingkat kekuasaan politik dan keuangan tertinggi, di dalam dan di luar partai. Revolusi dari atas melibatkan tokoh-tokoh kunci dari Gedung Putih era Clinton, termasuk Hillary Rodham Clinton dan pelayannya, Harold Ickes, serta kepala staf Gedung Putih Clinton, John Podesta.

Namun, “Lenin” di belakang revolusi ini adalah seseorang di luar proses politik sama sekali. Penyihir keuangan dan manipulator politik, George Soros merupakan arsitek “Partai Bayangan” yang beroperasi mirip jaringan perusahaan holding yang mengkoordinir cabang-cabang berlainan dari gerakan ini, baik di dalam maupun di luar Partai Demokrat, dan menggiring mereka kepada tujuan mengamankan kekuasaan negara. Sekali tercapai, kekuasaan tersebut akan dipakai melancarkan transformasi global—ekonomi, sosial, dan politik—sebuah reinkarnasi impian radikal lama pasca Tembok Berlin.

Pendek kata, buku ini mendokumentasikan bagaimana, lewat serangkaian manuver politik, hukum, dan keuangan yang luar biasa, jaringan aktivis radikal dan miliuner meraih kendali de facto atas alat kampanye Partai Demokrat—termasuk “perang udara” di media dan perang darat pendulangan suara, dan dengan demikian kendali atas masa depan elektoralnya. Partai dalam partai ini (juga di luar partai) tak punya nama resmi, tapi, tanpa paham lingkupnya secara utuh, sebagian jurnalis dan komentator menjulukinya Partai Bayangan, istilah yang kami adopsi dalam penulisan buku ini.

Partai Bayangan merupakan jaringan organisasi swasta yang menjalankan pengaruh kuat dan tersembunyi atas Partai Demokrat, dan perpolitikan Amerika secara umum. Ia bukan partai politik, ia bekerja di luar sistem elektoral normal, dan mengejar sasaran-sasaran yang tidak diungkap secara terbuka.

Partai Bayangan tidak dapat berfungsi sebagai partai politik biasa. Itu akan perlu permohonan jujur dan terbuka kepada para pemilih, dan ia tak mungkin melakukan ini, sebab visi radikalnya akan melukai sebagian besar warga Amerika. Jika rakyat Amerika paham niat organisator Partai Bayangan ini, mereka akan bereaksi dan menolak tawarannya. Untuk alasan ini, jaringan Partai Bayangan harus beroperasi secara senyap. Ia harus (dan sudah) menggunakan cara-cara rahasia, penuh tipuan, dan ekstrakonstitusional demi menggapai tujuannya. Ia harus menginfiltrasi birokrasi pemerintahan, pejabat publik yang korup, dan memanipulasi pers. Dan ia harus menyembunyikan jati dirinya.

Partai Bayangan tidak membatasi aktivitasnya pada Partai Demokrat saja. Itu akan kurang efektif. Sejumlah tokoh Republik, di antaranya Senator John McCain, telah saling bertukar dukungan politik dengan Partai Bayangan. Tapi Partai Demokrat—karena sudah menjadi partai Kaum Kiri—menjadi fokus kegiatan Partai Bayangan dan instrumen pilihannya. Partai Bayangan belum mencapai sasarannya, yakni kekuasaan federal, tapi sejak pemilu 2004, ia sudah meraih taraf kendali atas Komite Nasional Demokrat dan Partai Demokrat secara umum, yang hampir sempurna.

Selama putaran pemilu 2004, Partai Bayangan—dikepalai oleh sekelompok miliuner kiri—mampu menyumbang lebih dari $300 juta untuk dana perjuangan Demokrat, dan, lewat kampanye media independennya, membentuk pesan Demokrat secara efektif. Terlepas dari kekalahan mereka dalam perhitungan suara, para pemimpin Partai Bayangan dimabukkan oleh pencapaian ini. 9 Desember 2004, Eli Parsier, yang mengepalai kelompok Partai Bayangan, MoveOn PAC, berbangga kepada para anggotanya, “Sekarang, ini partai kita. Kita membelinya, kita memilikinya.”

Siapa yang dimaksud dengan “kita”? Apa kepentingan khusus yang dia wakili? Siapa yang “membeli” Partai Demokrat pada 2004, dan akan mereka gunakan untuk apa? Halaman-halaman berikut menyediakan jawabannya. Buku ini menyingkap jaringan radikal yang kini menyetir Partai Demokrat dan membentuk kebijakannya. Buku ini menceritakan sejarah jaringan tersebut dan mendeskripsikan para pemain, taktik, dan sasarannya. Sasaran-sasaran ini terungkap dari permusuhan fundamental terhadap lembaga-lembaga Amerika— bahkan terhadap ide kedaulatan Amerika sebagai sebuah bangsa.

Ini bukan buku tentang mengalahkan Demokrat dalam pemungutan suara. Sistem dwipartai adalah vital bagi demokrasi kita. Justru karena kami merasa sistem ini terancam oleh subversi salah satu komponennya, maka kami menulis buku ini. Isu-isu yang hendak kami angkat lebih penting daripada identifikasi partai dan kontes pemilu. Setiap orang Amerika yang berkepentingan dengan sehatnya sistem dwipartai punya alasan untuk mencemaskan Partai Bayangan. Pendukung Demokrat biasa yang tercabut hak suaranya akibat perampasan alat partai mereka, paling punya alasan untuk cemas. Sebagian besar kekuatan jaringan ini terletak pada ketidaktahuan masyarakat akan eksistensi dan tujuannya, kemampuannya untuk menyembunyikan radikalisme di balik bahasa moderat, dan segudang kelompok kedok yang senantiasa berubah-ubah di bidang masing-masing, sebagai tabir disinformasi dan propaganda humas yang diterapkan Partai Bayangan.

Organisator radikal Saul Alinsky, mentor awal Senator Hillary Clinton dan banyak mata-mata Partai Bayangan, telah mengidentifikasi jalur menuju kekuasaan dalam perpolitikan Amerika untuk murid-muridnya. Alinsky meninjau, kaum radikal dapat mencapai perubahan revolusioner tanpa dukungan mayoritas jika mereka memahami dan memanfaatkan aturan main. Inilah subjek buku karangannya, Rules for Radicals. Syarat merebut kekuasaan adalah adanya segelintir aktivis disiplin yang mendorong agenda mereka, dan rakyat jelata yang kurang tahu tujuan mereka. Dalam kondisi ini, minoritas radikal dapat memaksakan kehendaknya terhadap demokrasi agung seperti Amerika Serikat.

Teori Alinsky teruji semasa Perang Vietnam. Seperti prediksinya, segolongan kecil aktivis radikal berhasil memaksakan kehendaknya terhadap Amerika, tanpa kemenangan di kotak suara. Rakyat Amerika mendukung perang di Vietnam sampai akhirnya yang pahit. Tapi, setelah kekacauan terorganisir di dalam negeri selama bertahun-tahun, para pemimpin Amerika semakin letih dengan perpecahan internal dan menyerah pada mental defeatism. Amerika membiarkan Kaum Kiri menang, bukan karena Amerika mendukung agenda Kiri, tapi karena Kaum Kiri punya strategi dan tekad untuk berhasil, sementara musuh mereka tak punya pemahaman atau kemauan untuk menghadang.

Amerika tidak bersatu selama era Perang Vietnam, dan musuh Komunis kita di Hanoi sadar akan fakta ini. Semakin keras kita berperang, semakin nyaring protes dari oposisi dalam negeri Amerika. Semboyan kaum radikal bukanlah “Mendukung Kemenangan Komunis di Vietnam”, yang akan ditolak mentah-mentah oleh rakyat Amerika. Semboyan kaum radikal adalah “Pulangkan Tentara Sekarang Juga”. Semboyan ini tidak memproklamirkan keinginan kaum radikal agar Komunis menang perang—tapi menciptakan ilusi bahwa gerakan anti-perang peduli pada pasukan Amerika, padahal tidak sama sekali. Aktivis “anti-perang” semisal pemuda John Kerry menyebut tentara Amerika “penjahat perang”, bahkan sambil meremehkan dan mempermisikan kejahatan perang musuh.

Semboyan kaum radikal “Pulangkan Tentara Sekarang Juga” memanfaatkan ketakutan dan keinginan para orangtua Amerika akan perdamaian dan kepulangan putera-putera mereka. Ini memecah-belah di dalam negeri dan memperlemah tekad nasional. Pada akhirnya ini memaksa penarikan Amerika—dan kemenangan bagi Komunis di Kamboja dan Vietnam. Konsekuensinya parah—hampir tiga juta warga Kamboja dan Vietnam dibantai oleh Komunis ketika mereka naik berkuasa. Tapi mereka tidak berkuasa dengan sendirinya. Dalam setiap pertempuran militer dengan pasukan Amerika, Komunis menderita kekalahan. Kemenangan mereka hanya dimungkinkan oleh menangnya kaum radikal Amerika.

Buku ini menguraikan kekuatan yang bekerja di balik permukaan peristiwa-peristiwa politik, yang kembali berupaya menjadikan Amerika sebagai utopia radikal. Kekuatan tersebut didorong oleh keyakinan bahwa “hegemoni” Amerika (demikian mereka menyebutnya) membahayakan dan tujuan Amerika bersifat menindas. Atas nama globalisme, mereka mengingkari kemerdekaan, karakter, dan budaya Amerika. Mereka adalah partai—Partai Bayangan—yang subversif terhadap ide Amerika sendiri. Unduh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s