Khomeini adalah Agen Inggris

(Sumber: www.discoveringislam.org)

Khomeini Agen Inggris
Dengan memperhatikan wajahnya tanpa janggut, Anda akan lihat bahwa dia memang bertampang Inggris.

Latar Belakang Khomeini dan Ayah Inggrisnya
Dengan berubahnya situasi, para reformis Iran kini membidik jantung revolusi dan mendesak penyelidikan raibnya Imam (Ayatullah) Musa Sadr, sekitar 25 tahun silam, pada saat kunjungan ke Libya. Pemimpin Syiah Lebanon kelahiran Iran, Imam Mussa Sadr, ditakzimkan dan dihormati di atas semua tokoh lain di dunia Syiah. Beliau menolak mengakui Khomeini sebagai Ayatullah. Dengan pengaruh yang dinikmatinya, Imam Musa Sadr menjadi rintangan besar bagi rencana politik Khomeini dan pihak-pihak yang mendukung penggulingan Shah dan butuh sosok lalim macam Khomeini untuk menjadi alat mereka.

Menghilangnya Imam (Ayatullah) Musa Sadr secara misterius di Libya—jasadnya tak pernah ditemukan—membuka jalan bagi Khomeini untuk menginvasi Iran. Ini menggambarkan aksi orang asing seperti Khomeini yang mengambil alih sebuah negara yang bukan tempat kelahirannya, dan tidak pula dia mempunyai darah Persia dari garis ayah ataupun ibu.

Sementara seorang Iran taat di California memuji Khomeini sebagai tokoh besar, serupa dengan Hitler, orang-orang Persia lain yang kurang ramah menyamakannya dengan penyerbu semacam Genghis Khan si momok Mongol.

Batu pijakan dan pendiri Revolusi Islam Iran adalah Ayatullah Khomeini dan struktur yang didirikannya. Namun, ada bukti mendesak bahwa Khomeini bukan orang Iran dan tak punya hak untuk memberlakukan kebijakannya atas bangsa Iran. Pengangkatannya menjadi ayatullah tidak lebih dari kemanfaatan politik penyelamat muka untuk mencegahnya digantung atas tuduhan pengkhianatan pada 1964. Di tahun 1979 dilakukan upaya besar untuk memberantas setiap riwayat asal-usul non-Iran Khomeini dan pangkal penggunaan gelar Ayatullah-nya.

Salah satu tindakan pertama Khomeini, beberapa jam setelah kembali ke Iran usai Shah pergi, adalah mengeksekusi dua tokoh terkemuka yang menjadi bukti hidup asal-usulnya dan juga status palsu Ayatullah-nya. Salah seorang dari mereka adalah Jend. Hassan Pakravan, Kepala SAVAK, dinas intelijen dan keamanan nasional Kerajaan Iran.

Selanjutnya dia segera berusaha membunuh Ayatullah Shariatmadari yang amat dihormati, yang, bersama Ayatullah Golpayegani, memberikan gelar palsu kepada Khomeini pada 1964. Mereka sepakat mengizinkan Khomeini, yang waktu itu menanti ajal dengan tuduhan pengkhianatan, dijuluki Ayatullah guna menyelamatkan nyawanya: mengeksekusi seorang Ayatullah adalah terlarang. Ini berlangsung pada 1964 atas desakan Dubes Inggris untuk Iran dan Jend. Pakravan, ketika alasan hukum penyelamat muka harus dicari untuk mencegah Khomeini digantung. Waktu itu Pakravan berjuang keras menghindarkan eksekusi Khomeini.

Kemudian, saat upaya pembunuhan terhadap dirinya gagal pada 1979, Shariatmadari, yang jauh lebih tinggi dalam hirarki keagamaan dibanding Khomeini, dilarang berkomunikasi dengan orang lain dan ditempatkan dalam tahanan rumah, tanpa hak berkhotbah atau menerima tamu selain segelintir kerabat dekat, yang pernyataan anti-Khomeini-nya dapat dengan mudah dituduh bias.

Segolongan kecil berdebat bahwa ibunya Khomeini adalah orang India Kashmir, tapi tak banyak orang Iran ataupun India yang tahu asal-usul ayahnya atau nama aslinya. Mendiang Senator Iran Moussavi, yang mewakili Provinsi Khuzestan di Selatan Iran, di era monarki, kenal baik ayah dan keempat putera Khomenei, mengurusi keperluan mereka, menggunakan pengaruhnya untuk memperoleh kartu identitas Iran mereka yang berisi tanggal dan tempat kelahiran fiktif demi menghindari tugas militer. Sen. Moussavi mati karena pertolongan ini, atas perintah pribadi Khomeini sekembalinya dari Prancis pasca kudeta 1979.

Kepala SAVAK, Jend. Pakravan, orang yang menyelamatkan nyawa Khomeini pada 1964, dibawa di malam yang sama ke atas atap rumahnya dan ditembak mati lantaran menyusun arsip latar belakang lengkap mengenai Khomeini. Arsip latar belakang milik SAVAK tersebut masih eksis, karena seorang pejabat senior SAVAK, yang membelot dan bergabung dengan SAVAMA (padanan SAVAK yang didirikan sang ulama), mengambilnya. Orang ini dikabarkan menjadi kepala SAVAMA di AS untuk beberapa waktu, dan sumber-sumber mengindikasikan dia menyimpan arsip itu untuk keadaan terdesak.

Kenapa Khomeini kembali ke Iran dengan kerangka berpikir haus darah seperti itu? Sudah jelas, yaitu untuk membalas dendam sesuai yang dijanjikannya. Sebelum kembali ke Iran pada 1979, Khomeini secara terbuka menyatakan akan membunuh orang Iran sebanyak mungkin. Dia menganggap setiap orang di Iran bersalah atas nasib puteranya yang tewas dalam kecelakaan mobil, tapi menurutnya dibunuh oleh otoritas Iran.

Tak mampu menyediakan latar belakang Khomeini dari pihak ayah, dibuatlah cerita untuk mempertalikan darah ayahnya dengan darah ibu India Kashmir dan memperkenalkan ayah kelahiran India (juga dari Kashmir) tapi berdarah Iran. Padahal, tak pernah ada sosok demikian. Tapi seseorang dengan karakteristik serupa dan menyesatkan tentu saja ada, yang dapat memberi nilai kepercayaan pada fiksi ayah India ini.

Ayah asli Khomeini, William Richard Williamson, lahir di Bristol, Inggris, pada 1872 dari orangtua dan silsilah Inggris. Rincian ini berdasarkan bukti langsung dari mantan pegawai Iran di Anglo-Iranian Oil Company (kelak dikenal sebagai British Petroleum atau BP), yang bekerja dan bertemu dengan para pemain kunci hikayat ini. Fakta ini ditopang oleh tak adanya sangkalan pada 1979 dari Kol. Archie Chisholm, opsir politik BP dan mantan editor di The Financial Times, ketika diwawancarai mengenai masalah ini di rumahnya di County Cork, Irlandia, oleh sebuah suratkabar Inggris.

Chisholm yang waktu itu berumur 78 tahun menyatakan: “Saya kenal Haji [demikian Williamson kemudian dikenal] dengan baik; dia bekerja untuk saya. Tentu saja dia menjadi orang pribumi, tapi apakah dia ayah Khomeini, saya tak bisa pastikan.” Bukankah penyangkalan seketika dan mengejek adalah respon alami, jika tak ada nilai kebenaran pada garis Inggris ayahnya? Dari seseorang yang kenal Haji [dan fakta-faktanya] dengan baik?

Chisholm jelas ingin menghindari pernyataan yang mengarah pada kontroversi politik atau kemungkinan pembalasan pribadi di tahun Khomeini mengambil alih Iran. Sebagai mantan opsir politik berpengalaman, dia juga tak mau menyeret Inggris ke dalam konflik Timur Tengah yang baru. Tapi dia tak siap memberikan kebohongan seketika sebagai pengganti komentarnya.

Bagaimana semua itu terjadi:

Bocah Bristol yang tampan, pendek gemuk, dan berambut gelap, Richard Williamson minggat ke laut di usia 13 sebagai anak kabin di atas sebuah kapal yang bertolak menuju Australia. Namun, dia turun dari kapal sebelum sampai di sana. Tak banyak yang diketahui tentangnya sampai dia muncul pada umur 20 di Aden di ujung Selatan Jazirah Arab, Yaman Selatan, di mana dia bergabung dengan angkatan kepolisian setempat.

Paras eloknya segera membuat Sultan Fazl bin Ali, penguasa Lahej, membujuknya keluar dari kepolisian untuk tinggal bersamanya. Di kemudian hari Richard meninggalkannya untuk tinggal bersama Syeikh lain, Yousef Ibrahim, kerabat keluarga Al-Sabah, yang memerintah Kuwait hari ini.

Ada beberapa poin yang mesti diingat tentang Teluk Persia dan Jazirah Arab di masa itu. Negara-negara regional seperti Lebanon, Irak, Yordania, Suriah, Arab Saudi, dan sebagainya tidak eksis sebagai entitas berdaulat dan diciptakan sekitar 70 tahun lalu oleh pemerintah Inggris dan Prancis saat membagi-bagi area tersebut. Iran, atau Persia, segera dikendalikan oleh bangsa Cossack Rusia di Utara dan Tentara Inggris di Selatan, walaupun secara teknis tetap monarki independen di bawah dinasti Qajar yang sebagian besar tak hadir di tempatnya.

Kehadiran militer Inggris di Iran berada di bawah LetKol Sykes (kemudian menjadi Sir Percy Sykes), berpangkalan di Shiraz, tapi secara politik dikendalikan oleh Sir Arnold Wilson di Khorramshahr (waktu itu disebut Mohammareh) dengan bantuan dari E. Elkington di Masjid Sulaiman dan Dr. Young yang bermarkas di Ahwaz. Ketiganya merupakan kota di Provinsi Khuzestan, yang kelak diwakili oleh Senator Moussavi. Kol. T.E. Lawrence, yang meraih popularitas sebagai Lawrence dari Arabia, beroperasi dari Basra di Mesopotamia (Irak) dan Khorramshahr selama periode yang sama.

Ladang-ladang minyak, jauh di luar kemampuan teknologi suku-suku Arab (atau Persia) untuk dikembangkan atau dihargai sebagai komoditas bernilai, ditemukan dan dieksploitasi oleh Inggris, termasuk lewat Anglo-Iranian Oil Company, yang dibentuk untuk menyedot minyak dari Provinsi Khuzestan di Selatan Iran.

Kuwait di sisi lain Teluk Persia belum berupa negara waktu itu. Sebagai pemain utama dalam industri minyak Timur Tengah, Inggris harus mengerahkan pengaruh dan kendali lewat personil politik dan minyaknya. Haji Abdullah Williamson menjadi salah satu dari mereka pada 1924 ketika dia bergabung dengan British Petroleum sebagai opsir politik. Dia pensiun dengan nama yang sama pada 1937, di usia 65. Sebelumnya, di Kuwait modern, Richard Williamson cepat-cepat berpindah agama ke Islam dan mengadopsi nama pertamanya, Abdullah. Nama keluarga belum lazim dan anak dari anak atau anak dari pekerja atau tukang masih umum dipakai untuk mengidentifikasi orang. Selama 14 tahun dia hidup di antara suku-suku Badui di Jazirah Arab dan pada 1895 dan 1898 dia pergi berhaji ke Mekkah, mengenakan gelar Haji dan memakai nama pelindung pertamanya, Fazl, menambahkan Zobeiri sebagai pembeda. Demikianlah William Richard Williamson jadi dikenal sebagai Haji Abdullah Fazl Zobeiri.

Selama dinasnya di British Petroleum di Teluk Persia, Haji Abdullah memanfaatkan liburannya di Kashmir India untuk beristirahat dari hawa panas Teluk dan pada saat itulah dia menikah sekurangnya tujuh kali dengan perempuan Arab dan India, masing-masing dalam upacara pernikahan Islam. Dia mendapat 13, tujuh di antaranya adalah lelaki dan sisanya perempuan. Kebanyakan dari mereka meninggal di masa kecil. Darmawisata berulangkali ke Kashmir, isteri-isteri Indianya, dan pemakaian nama Abdullah Fazl Zobeiri barangkali melahirkan kesalahpahaman tentang ayah India Kashmir di atas.

Sebagai Muslim fanatik dan saleh, sebuah karakter yang dia terapkan pada anak-anaknya, wajar saja sikap keagamaan keras dan penamaan Arab ini tak disangka sebagai kombinasi untuk sosok orang asing, apalagi orang Inggris. Dia mendesak empat puteranya yang masih hidup untuk ikut sekolah agama di Najaf (Irak) di bawah pengawasan para Ayatullah Yazdi (artinya kota Yazd) dan Shirazi (kota Shiraz). Dua di antara mereka, Hindizadeh (artinya kelahiran India) dan Passandideh (artinya menyenangkan atau direstui) belajar dengan baik dan akhirnya menjadi ayatullah dengan sendirinya.

Anak ketiga, pemuda menyusahkan, gagal memberi kesan dan pergi ke kota suci Iran, Qom, di mana dia belajar di bawah Ayatullah Boroujerdi. Ketika nama keluarga menjadi persyaratan berdasarkan undang-undang di bawah Yang Mulia Reza Shah, sang pemuda memilih kota kediamannya, Khomein, sebagai penanda dan mengenakan nama Khomeini (artinya “dari kota Khomein”).

Anak keempat benci teologi dan pergi menyeberangi Teluk Persia menuju Kuwait dan membuka dua stasiun bahan bakar (bensin) menggunakan nama keluarga dari pihak ayah, Haji Ali Williamson, meski tidak jelas apa dia pernah naik Haji. Ini otomatis mempertalikan Khomeini dengan Haji Williamson melalui saudaranya. Kalau tidak, kenapa saudaranya Rouhallah Khomeinis mau memakai nama keluarga Williamson? Kepala keluarga anak-anak ini, Haji Abdullah Fazl Zobeiri (alias Haji Abdullah Williamson di BP), diusir dari Iran oleh Reza Shah bersama tiga opsir politik Inggris lainnya gara-gara aktivitas anti-Iran dan bergabung dengan puteranya di Kuwait. Di sini dia mengemban tugas Distribusi Minyak untuk Anglo-Iranian Oil Company.

Berbekal kontak-kontak lamanya di dunia Arab dan keislamannya, dia memaksakan kesepakatan 50/50 antara kepentingan minyak AS di Kuwait dan Anglo-Iranian Oil Company serta pada 1932 mengejar hak eksplorasi eksklusif untuk British Petroleum di Abu Dhabi.

Karena dia tak punya pendidikan formal, British Petroleum terpaksa mengutus Archie H.T. Chisholm (baca di atas), seorang eksekutif senior, untuk menandatangani kontrak Abu Dhabi dan dengan pengaruh politik Haji Abdullah mereka mengatasi persaingan dari Mayor Frank Holmes, Syeikh Hussein, dan Mohammad Yateen untuk mendapatkan kontrak ekslusif. Chisholm, sebagaimana diakuinya, kenal ayah Khomeini dengan baik.

Kembali ke Iran tahun 1960, Khomeini melihat peluang untuk membalaskan pengusiran ayahnya dari Iran dan memberlakukan filsafat fundamentalis Islamnya atas Iran yang sedang bergulat dengan masalah anggaran, sebagian besar akibat penguasaan minyaknya oleh perusahaan minyak asing, yang memutuskan, bukan Iran sendiri, berapa banyak minyak negara tersebut boleh diproduksi dan berapa harga penjualannya.

Dengan latar belakangnya sendiri dan latar belakang teologis keluarga, Khomeini mulai menggerakkan pemberontakan anti-monarki melalui masjid-masjid, yang pada 1964 mengakibatkan pemberlakuan undang-undang darurat perang dan akhirnya penangkapannya dan penghukuman mati dengan digantung. Dan konsekuensinya dia diberi gelar penyelamat muka, Ayatullah, yang belum diperolehnya.

Setelah secara resmi diasingkan ke Turki, Khomeini akhirnya bermukim di Irak di mana dia menulis beberapa disertasi filsafat dan perilaku sosial yang begitu ganjil menurut standar keagamaan sehingga risalat-risalatnya disoroti dan dimusnahkan oleh Pemerintah Iran saat dia mengambil alih pada 1979. Yang paling menimbulkan kecaman adalah versi bahasa Arab, dan kemudian tampil versi-versi lebih bersih sebagai terjemahan suntingan dalam bahasa Farsi.

Beberapa ahli bahasa, yang mempelajari pidato publiknya di tahun 1979 dan 1980, menyimpulkan kosakata Farsi-nya kurang dari 200 kata. Jadi, dia bukan cuma tak berdarah Persia, tapi bahkan tak berbahasa Persia. Dengan jumlah warga Iran yang meninggal hingga ratusan ribu (jika bukan lebih dari satu juta, dengan memasukkan perang Iran-Irak selama 8 tahun) akibat ulahnya dan para penggantinya dalam 25 tahun terakhir, orang Anglo-India ini mungkin tidak punya rasa cinta atau kasihan untuk rakyat Iran.

Dalam pesawat Iran Air yang memulangkan Khomeini dari Prancis ke Teheran di awal 1979, sementara kamera-kamera mulai merekam, seorang jurnalis bertanya: “Apa yang Anda rasakan dalam kepulangan ke Iran ini?” Dia menjawab: “Tak ada!” Pertanyaan diulang, dan lagi-lagi dia menjawab: “Tak ada!”

Ringkasan Latar Belakang Khomeini

  1. Pada 1964, Ayatullah Shariatmadari dan Ayatullah Golpayegani memberikan gelar Ayatullah kepada Khomeini. Dikabarkan, mereka berbuat ini untuk menyelamatkan nyawa Khomeini, lantaran dia menghadapi tuduhan pengkhianatan terhadap Shah. Dan dikabarkan, dubes Inggris-lah yang mendesak agar Khomeini diselamatkan.
  2. Shariatmadari lebih tinggi dalam hirarki keagamaan dibanding Khomeini. Pada 1979, setelah mengambil alih Iran, Khomeini menempatkan Shariatmadari dalam tahanan rumah.
  3. Dikabarkan, Khomeini bukan orang Iran. Dia “tidak lahir (di Iran) dan tidak pula berdarah Persia, dari garis ayah ataupun ibu”. Ibunya Khomeini adalah orang India Kashmir. Dikabarkan, dikarang cerita bahwa Khomeini mempunyai ayah India Kashmir yang berleluhur Iran. Senator Iran Moussavi tahu ayah asli Khomeini. Dikabarkan, Khomeini menyuruh Moussavi dibunuh.
  4. Dikabarkan, ayah asli Khomeini adalah William Richard Williamson, lahir di Bristol, Inggris, pada 1872 dari orangtua dan silsilah Inggris. Saksi atas hal ini adalah mentan pegawai Iran di Anglo-Iranian Oil Company (kelak menjadi BP), yang mengenal keluarga Khomeini. Pada 1979, ketika Kol. Archie Chisholm, opsir politik dan mantan editor di The Financial Times, ditanya soal ini, dia tidak mengkonfirmasi dan tidak pula menyangkalnya. Biografi William Richard Williamson ditulis di awal 1950-an oleh Stanton Hope, jurnalis dan penulis Inggris yang pernah menemui Williamson di rumahnya dekat Basra di akhir 1940-an. Buku itu berjudul Arabian Adventurer: The Story of Haji Williamson.
  5. Dikabarkan, Richard Williamson, di usia 20, bekerja di Yaman Selatan di kepolisian setempat. “Paras eloknya segera membuat Sultan Fazl bin Ali, penguasa Lahej, membujuknya keluar dari kepolisian untuk tinggal bersamanya. Di kemudian hari Richard meninggalkannya untuk tinggal bersama Syeikh lain, Yousef Ibrahim, kerabat keluarga Al-Sabah, yang memerintah Kuwait hari ini.”
  6. Di Iran pada masa itu, Inggris sedang mengeksploitasi ladang-ladang minyak. Williamson, yang telah menjadi Muslim, bergabung dengan British Petroleum sebagai opsir politik. Dia menyebut dirinya Haji Abdullah Fazl Zobeiri.
  7. Williamson berlibut di Kahsmir dan menikah sekurangnya tujuh kali dengan perempuan-perempuan Arab dan India. Putera-puteranya ikut sekolah agama. Dikabarkan, salah seorang puteranya pergi ke kota suci Iran, Qom, dan mengambil nama Khomeini.
  8. Di awal 1960-an, Khomeini mulai menyusun plot terhadap Shah. Pada 1964, Khomeini dijatuhi hukuman mati. Dengan menjadi Ayatullah, nyawanya terselamatkan.
  9. Dikabarkan, pada 1979, Khomeini diterbangkan dari Prancis ke Iran dengan bantuan Dinas Intelijen Inggris, MI6. Dia mengambil alih Iran. Pada 1979, Imam (Ayatullah) Mussa Sadr raib pada saat kunjungan ke Libya. Imam Mussa Sadr adalah pemimpin Syiah Lebanon kelahiran Iran dan beliau “ditakzimkan dan dihormati di atas semua tokoh lain di dunia Syiah”.

Mengapa Shah Iran Digulingkan Oleh CIA dan MI6?
Media arus utama ingin kita percaya bahwa Shah ditumbangkan oleh kekuatan rakyat dan bahwa CIA dan MI6 terkaget-kaget. Namun, ada bukti bahwa CIA dan MI6 menggulingkan Shah lantaran dia sudah terlalu nasionalis, seperti Presiden Mesir Jamal Abdul Naser, dan tidak mengikuti instruksi menyangkut minyak atau bahkan opium.

CIA tak mau demokrat sayap kiri mengambil alih Iran dari Shah karena akan sulit dikendalikan. Jadi, dikabarkan, CIA memperkenankan para Ayatullah mengambil alih.

Radio Free Iran mengklaim bahwa semasa di Qom, Ayatullah Khomeini menerima “gaji bulanan dari Inggris, dan terus menjalin kontak dengan para majikannya, Inggris”.

Pada 19 Januari 1980, International HeraldTribune memberitakan bahwa Shah pernah berkata, dua tahun sebelum dirinya digulingkan, dia mendengar dari dua sumber berbeda yang mempunyai koneksi dengan perusahaan-perusahaan minyak bahwa rezim di Iran akan berganti.

“Kami percaya ada rencana untuk memastikan tak banyak minyak yang ditawarkan ke pasar dunia dalam rangka menjatuhkan harga (minyak). Satu negara harus dikorbankan… Rupanya negara yang terpilih untuk menurunkan produksi minyak adalah negara saya,” ungkap Shah.

Menurut Guardian: “Shah – Perusahaan-perusahaan Minyak Membantu Melengserkannya”.
Kebijakan nasionalis Shah membuatnya semakin populer di Iran dan menjadikan negaranya lebih independen dan berpengaruh. Ini membuat CIA dan MI6 cemas.

  1. Shah membeli tanah dari kelas atas dan, beserta tanah milik kerajaan, menjualnya kembali dengan murah kepada para petani penyewa. Lebih dari satu setengah juta rakyat menjadi pemilik tanah, sehingga mengakhiri sistem feodal lama.
  2. Shah memberikan hak pilih kepada kaum wanita. Dia mengakhiri penggunaan kerudung.
  3. Dia mengembangkan rencana untuk program PLTN senilai $90 miliar.
  4. Shah menandatangani perjanjian minyak dengan ENI, perusahaan minyak Italia.
  5. Dia mulai menutup industri opium yang terbentuk selama masa pengaruh Inggris.

Mantan perwira intelijen, Dr. John Coleman, menganggap opium adalah faktor utama dalam penggulingan Shah (Conspirators’ Hierarchy: The Story of the Committee of 300).

Dr. Coleman terkadang digambarkan sebagai teoris konspirasi. Coleman percaya pemerintah AS menggulingkan Shah Iran. Dia menulis:

Mengapa Shah ditumbangkan…?

Singkatnya, gara-gara NARKOBA. Shah mengawasi dan praktisnya mengakhiri perdagangan opium menguntungkan yang dijalankan dari luar Iran oleh Inggris. Pada waktu Shah mengambil alih kekuasaan di Iran, sudah ada satu juta pecandu opium/heroin.

Inggris tak bisa menolerir hal ini, jadi mereka mengirim AS untuk melakukan pekerjaan kotor mereka mengingat “hubungan istimewa” di antara kedua negara.

Saat Khomeini merebut Kedubes AS di Teheran, perdagangan senjata oleh AS, yang telah dimulai sejak era Shah, tidak dihentikan…

Setelah tahun 1984, sikap liberal Khomeini terhadap opium meningkatkan jumlah pecandu menjadi 2 juta, menurut statistik PBB dan WHO.

Presiden Carter maupun penggantinya, Ronald Reagan, dengan rela dan sadar atas apa yang dipertaruhkan, terus memasok senjata ke Iran meski para sandera Amerika merana dalam kurungan…

Perdagangan senjata dengan Iran disahkan dalam pertemuan antara Cyrus Vance… dan Dr. Hashemi, yang membuat Angkatan Udara AS segera mengangkut senjata ke Iran, bahkan dilaksanakan di puncak krisis penyanderaan. Senjata-senjata itu berasal dari persediaan Angkatan Darat AS di Jerman dan sebagian diterbangkan langsung dari AS dengan perhentian di Azores untuk mengisi bahan bakar.

Inilah kisah nyata Khomeini yang disembunyikan dari seluruh dunia oleh rezim Iran.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s