China dan Rivalitas Utara

Oleh: Didi Kirsten Tatlow
5 Oktober 2012
(Sumber: blogs.nytimes.com)

Kapal Pemecah Es Xuelong-
Kapal pemecah es Xuelong, atau Naga Salju, masuk dok di Shanghai pekan lalu setelah ekspedisi Arktik selama 85 hari.

Mengapa China butuh sampai 500 personil di kedutaannya di Reykjavik, ibukota Islandia, negara berpenduduk 320.000 orang?

Angka tersebut jauh melampaui keberadaan diplomatik lain di negara Islandia, menurut Damien Degeorges, pakar Greenland yang berbicara Kamis pagi di sebuah acara di London yang diselenggarakan oleh Europan Council on Foreign Relations. (Untuk memperoleh siniar/podcast perbincangannya, silakan berkunjung ke sini dan klik “China’s interest in Greenland and Iceland”.)

“Kedutaan terbesar Eropa di Reykjavik adalah kedutaan Prancis, dengan anggota kurang dari 20 orang. Kedutaan AS, saya dengar, terdiri dari sekitar 70 orang,” kata Tn. Degeorges, peneliti Universitas Greenland yang bermarkas di Brussels dan penulis studi berjudul “Peran Greenland di Arktik”.

“Yang ini, menurut para diplomat China, mungkin mampu menampung maksimum, sangat maksimum, 500 orang,” kata Tn. Degeorges, tampil untuk memperlihatkan foto bangunan kedutaan China kepada hadirin.

Lalu Tn. Degeorges menjawab pertanyaannya tentang kebutuhan—atau keinginan—China akan kedutaan sebesar itu di Reykjavik: “Itu memberi Anda perspektif jangka panjang yang dapat Anda perkirakan di Islandia.”

Betul.

Tampaknya belakangan ini setiap pihak sedang berebut ruang di Arktik yang sedang mencair, sebagaimana diberitakan oleh kolega saya Elisabeth Rosenthal baru-baru ini. Termasuk China, yang tak punya teritori Arktik.

Tapi seiring tudung es Arktik mencair, tersingkaplah kekayaannya—terutama barang tambang, termasuk rare earth yang vital, serta air, minyak, dan gas. Greenland berpotensi menyimpan 10% cadangan air segar dunia, kata Tn. Degeorges.

Pulau terbesar di dunia, dengan populasi hanya 57.000 orang, Greenland sedang menjadi pusat perhatian besar bagi banyak negara.

AS sudah lama memiliki pangkalan militer di Thule, 1.200 kilometer, atau 750 mil, di utara Lingkar Arktik. Rusia adalah kaliber berat Arktik, mengoperasikan satu-satunya armada pemecah es bertenaga nuklir di dunia.

Tapi teritori pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark tersebut barangkali sedang bergerak ke arah independensi politik, menyisakan gambaran yang membangkitkan rasa penasaran, di mana sebuah kawasan terbelakang mendadak menjadi fokus rivalitas berkekuatan besar, seperti Asia Tengah ketika Rusia, China, dan Inggris Raya bertarung di sana selama abad 19 dan awal abad 20. Sebagaimana kata Tn. Degeorges dalam perbincangan: Greenland adalah “tempat pertemuan baru adidaya-adidaya global”.

Perkenalkan Naga Salju, kapal pemecah es non-nuklir terbesar di dunia milik China.

Pada Juli, kapal tersebut memulai penjelajahan Arktik kelima dan perjalanan riset dari pelabuhan Qingdao di timur China, berlayar lurus menembus Arktik menuju Islandia—pengalaman pertama untuk China. Itu juga pertama kalinya kapal China dalam penjelajahan Arktik singgah di pelabuhan Islandia, di mana mereka mengizinkan penduduk setempat untuk naik dan melihat-lihat. Rute kapal bisa dilihat pada peta bagus di sini di Portal Arktik, dan juga di sini, di situs resmi ekspedisi bersangkutan.

Naga Salju, yang nama China-nya adalah Xuelong, kembali ke China pekan lalu, masuk dok di Shanghai, di mana Polar Research Institute China bermarkas.

China sedang melobi mati-matian untuk memperoleh status pemantau permanen di Dewan Arktik, lembaga internasional longgar beranggotakan delapan negara Arktik yang mengembangkan kebijakan untuk kawasan tersebut; termasuk Rusia, AS, dan Kanada.

China mengaku sebagai “negara dekat Arktik” dan bahwa Arktik adalah “kekayaan warisan semua manusia”, dalam kata-kata Administrasi Kelautan Negara China, demikian menurut laporan kolega saya Elisabeth.

“Aktivitas China di Arktik sampai taraf tertentu mencerminkan aktivitas negara-negara non-Arktik lain,” tulis Elisabeth. “Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga telah mengajukan diri dalam tiga tahun terakhir untuk memperoleh status pemantau permanen di Dewan Arktik, yang akan memungkinkan mereka menghadirkan perspektif masing-masing, tapi bukan memberikan suara.”

Dan untuk mereka yang mempertanyakan justifikasi geografis kepentingan China di Arktik, pertimbangkan ini: dalam teritori China (dan juga India, tentu saja) terdapat wilayah yang dikenal sebagai Kutub Ketiga—Himalaya.

Menyebutnya “konsep baru”, kata Tn. Degeorges, gagasan Kutub Ketiga memberikan “lebih banyak legitimasi terkait kawasan kutub” kepada negara-negara Asia macam China dan India.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s