Ilusi Aliansi Rusia-Iran

Oleh: Marwan Kabalan
9 Juli 2015
(Sumber: www.gulfnews.com)

Moskow akan selalu ingat bahwa dirinya dicampakkan oleh para sekutu di Teheran terkait negosiasi rahasia dengan AS.

Salah satu konsekuensi utama perjanjian mendatang antara kekuatan P5+1 (AS, Inggris, Prancis, China, Rusia plus Jerman) dan Iran terkait program nuklir diharapkan terwujud dalam bentuk peningkatan kerjasama militer antara Rusia dan Iran. Bahkan, pentas sudah disiapkan untuk pengiriman lanjutan senjata Rusia ke Iran. Moskow sedang menantikan penandatanganan perjanjian final atas program nuklir Teheran dan pencabutan sanksi PBB untuk mendorong perjanjian militer dan keamanan penting dengan Teheran.

Dalam kunjungan langka ke Iran oleh menteri pertahanan Rusia awal tahun ini, Moskow dan Teheran menandatangani nota kesepahaman (MoU) yang mencakup banyak isu militer dan keamanan. Itu meliputi pelatihan militer dan latihan gabungan; kerjasama keamanan regional dan global; dan memerangi apa yang disebut “terorisme, ekstrimisme, dan kecenderungan separatis”. MoU tersebut juga mengisyaratkan persetujuan Moskow untuk memasok Teheran dengan bateri misil S-300 yang sebelumnya ditahan-tahan, jet tempur MiG-29 dan Sukhoi-24 yang telah di-upgrade, dan penyediaan Sukhoi-30 yang lebih canggih. Para analis dan pengulas pro-Iran menyebut perjanjian ini sebagai “aliansi strategis” antara Teheran dan Moskow. Media Rusia lebih berhati-hati dan membahas “kepentingan bersama” yang mengikat Iran dengan Rusia.

Mengingat perjanjian program nuklir Iran nanti, kedua negara tampaknya punya kepentingan sungguh-sungguh dalam mengembangkan jalinan militer mereka. Iran berupaya memodernisasi mesin militer usangnya setelah pencabutan sanksi PBB yang ditunggu-tunggu, sedangkan Rusia tidak kalah semangat untuk menjual senjata demi mata uang keras menyusul jatuhnya harga minyak dan sanksi barat terkait Ukraina. Tapi menyebut penandatanganan perjanjian itu sebagai pergeseran strategis dalam hubungan kedua negara mungkin sedikit prematur, mengingat hubungan Rusia-Iran sudah lama dirundung saling curiga dan ketidakpercayaan.

Mencari Ganti Rugi
Selama berdekade-dekade, Rusia berhasil memanfaatkan Iran sebagai alat tawar-menawar dalam hubungan kompleks mereka dengan Barat. Rusia bahkan memihak kekuatan-kekuatan barat dalam semua resolusi Dewan Keamanan PBB berkaitan dengan program nuklir Teheran, meliputi Resolusi 1737 (2006), 1747 (2007), 1803 (2008), dan 1929 (2010). Hubungan Iran-Rusia bahkan menjadi asam dalam sejumlah kesempatan. Pada 2010, misalnya, Moskow menolak merealisasikan penjualan sistem pertahanan misil S-300, padahal Iran sudah membayar $800 juta (Dh 2,93 miliar), sehingga Iran mengambil jalan mengadu ke Pengadilan Arbitrase Internasional di Paris untuk mengusahakan ganti rugi. Iran meminta ganti rugi $4 miliar dari Rusia. Moskow juga sudah lama menolak memperbaiki kapal-kapal seram usang milik Iran, yang akan meningkatkan kemampuan manuver operasional di Teluk Persia dan Samudera India.

Selain itu, cara Rusia menyeret kakinya ke atas konstruksi fasilitas nuklir Bushehr milik Iran menjadi sisi lain sejarah panjang ketidakpuasan. Belakangan ini tidak terlalu sulit untuk mencium kurangnya kepercayaan di antara sebagian besar elit politik Iran terhadap niat sejati Rusia menyusul penyetujuan Resolusi 2216 DK PBB menyangkut Yaman. April lalu, Rusia menolak menggunakan veto untuk menghadang resolusi tersebut, yang dipandang sebagai kemenangan gemilang negara-negara Arab di Teluk Persia. Resolusi ini mendukung legitimasi presiden sementara Yaman, Abd Rabbo Mansour Hadi, menjatuhkan sanksi ekonomi pada para pemimpin Al Houthi (sekutu Iran), dan mendesak semua negara anggota untuk mengambil semua langkah yang diperlukan untuk mencegah “pasukan langsung atau tak langsung, penjualan atau pengiriman” senjata kepada Al Houthi. Resolusi ini bahkan menjadi kemunduran besar bagi Iran dan sekutunya di Yaman dan ini takkan terjadi seandainya Rusia tidak abstain di DK PBB.

Adapun Rusia, ia punya perasaan was-wasnya sendiri perihal kebijakan Iran. Kurangnya kepercayaan terhadap niat nuklir Iran diperjelas dalam Konferensi Non-Proliferasi tahun lalu yang diselenggarakan oleh Moskow, di mana Rusia mengadopsi posisi barat terhadap program nuklir Iran. Tersebar pula keyakinan di kalangan pejabat Rusia bahwa Teheran takkan segan mengkhianati mereka begitu hubungannya dengan AS membaik. Rusia akan selalu ingat bahwa dirinya dicampakkan oleh para sekutu Irannya terkait negosiasi rahasia dengan AS, dimediasi dan diselenggarakan oleh Oman pada 2013. Melapangkan jalan untuk Perjanjian Sementara Jenewa perihal program nuklir Iran, perundingan-perundingan ini menjadi bagian dari kecenderungan ke arah negosiasi bilateral antara Teheran dan Washington di luar kerangka perundingan P5+1, sebuah proses yang membuat Rusia selalu gerah. Rusia juga harus cemas dengan ambisi Iran untuk menjadi pemasok utama energi Eropa, sadar betul bahwa pasokan energi merupakan pendorong utama Barat untuk mencapai penyelesaian isu nuklir Iran. Semua alasan ini dan banyak lainnya akan menjadi rintangan utama menuju aliansi total Rusia-Iran.


Dr. Marwan Kabalan adalah akademisi dan penulis Suriah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s