Langkah Militer di Balik Ambisi Minyak Putin di Arktik

Oleh: James Henderson
14 Agustus 2015
(Sumber: www.theconversation.com)

Teritori perawan. Mentari terbit di atas medan tempur sumber daya alam Arktik. (NOAA Photo Library, CC BY)
Teritori perawan. Mentari terbit di atas medan tempur sumber daya alam Arktik. (NOAA Photo Library, CC BY)

United States Geological Survey memperkirakan kawasan Arktik mengandung sekitar 130 miliar barel zat cair dan 47 triliun meter kubik gas, setara dengan 22% sumber daya hidrokarbon dunia yang belum ditemukan. Makanya tak heran semua negara yang pesisirnya melingkari kawasan tersebut, AS, Kanada, Greenland, Norwegia, dan Rusia melemparkan klaim atas teritori di luar perbatasan masing-masing, yang membentang 200 mil laut dari garis pantai mereka.

Rusia adalah yang paling aktif. Presiden Vladimir Putin baru-baru ini menuntut agar Rusia diberi teritori 1,2 kilometer persegi tambahan berdasarkan klaim bersejarahnya bahwa Bubungan Lomonosov, yang meliputi sebagian besar kawasan tersebut, terhubung dengan daratan utama Rusia dan karenanya menjadi bagian dari teritorinya.

Klaim awal dibuat pada 2001, dan diulang ketika kapal selam Rusia menancapkan bendera negaranya di Kutub Utara pada 2007, tapi baru tiga tahun terakhir Rusia menjadi sangat aktif di kawasan itu, fokus pada eksplorasi minyak lepas pantai dan pengembangan pabrik LNG baru untuk ekspor gas. Namun, sasaran tertingginya adalah mendirikan basis kekuatan baru di Utara serta meraih kedudukan teratas dalam perlombaan mencari sumber daya.

Dampak Sanksi
Lisensi hidrokarbon di kawasan lepas pantai Arktik telah disediakan untuk BUMN Rusia, Gazprom dan Rosneft. Rosneft sudah menjadi pemimpin upaya Rusia dalam mengeksploitasi hamparan luas di sana, tapi kurangnya pengalaman dalam pengembangan lepas pantai membuatnya harus mengandalkan bantuan perusahaan asing, membentuk usaha patungan dengan ExxonMobil dari AS, Statoil dari Norwegia, dan kelompok ENI dari Italia untuk mengekplorasi lisensi di Barents dan Laut Kara Selatan.

Patungan Exxon sukses, membuat penemuan awal pada September 2014 yang boleh jadi mengandung tujuh hingga sembilan miliar barel minyak. Namun, sanksi yang dijatuhkan pada Rusia oleh AS dan UE sebagai reaksi terhadap krisis Ukraina mengisyaratkan aktivitas tersebut kini dihentikan, yang sangat mengesalkan Kremlin.

Jatuhnya harga minyak selama 12 bulan terakhir mungkin berefek serupa, karena nilai ekonomi ladang-ladang minyak dan gas di lingkungan keras dan mahal di utara Lingkaran Arktik sangat meragukan. Bahkan dengan harga $100 per barel, banyak pengulas mempertanyakan kebijakan mengejar proyek yang memakan berpuluh-puluh miliar dolar, serta membawa resiko lingkungan signifikan kalau-kalau terjadi tumpahan minyak atau kecelakaan.

Grafik Harga Minyak Mentah (macrotrends.net)
Grafik Harga Minyak Mentah (macrotrends.net)

Bahkan beberapa perusahaan semisal Total telah memutuskan untuk meninggalkan semua aktivitas di Arktik karena alasan ini, dan banyak perusahaan lain kini memandang kesempatan yang ditawarkan minyak shale di AS dan ladang-ladang lepas pantai konvensional sebagai sesuatu yang lebih disukai karena pengawasan ongkos adalah vital bagi keberlangsungan hidup [perusahaan].

Demam Politik
Namun, tak berarti Arktik kehilangan segala daya pikatnya, terutama sebagai proyek politik dan komersil jangka panjang.

Produksi minyak Rusia dari ladang tradisional Siberia Barat terbukti sangat kokoh di lingkungan harga minyak rendah, terutama berkat manfaat devaluasi rubel, tapi kejatuhan [produksi] pada akhirnya tak terelakkan akibat jatuh tempo aset, dan lepas pantai Arktik dipandang sebagai sumber utama output baru untuk mempertahankan tingkat produksi total Rusia. Penemuan ExxonMobil bersama Rosneft dapat memproduksi 1 juta barel minyak per hari, dan luasnya lisensi Arktik milik Rusia mengisyaratkan ini dapat dilipatgandakan dengan penemuan baru—jika harga minyak cukup pulih untuk memungkinkan imbal hasil ekonomis.

Pemerintahan Rusia memainkan peran dengan menawarkan rezim pajak baru dengan syarat-syarat lebih menarik, dan juga telah membuat kecenderungan lain dengan menawarkan dukungan spesifik kepada beberapa perusahaan agar mengembangkan infrastruktur di kawasan. Satu contoh penting adalah proyek Novatek’s Yamal Liquefied Natural Gas (LNG), proyek pencairan gas di pantai utara Siberia yang direncanakan memproduksi hingga 16,5 juta ton LNG per tahun pada 2020.

Logika di balik dukungan pemerintah Rusia, baik fiskal ataupun praktis (BUMN Rusia telah membangun fasilitas pelabuhan untuk LNG Yamal dan menyediakan tanker pemecah es), tentu saja bersifat politik sekaligus komersial. Kremlin tekun mendorong pengembangan kawasan yang haus akan investasi di era pasca Soviet tapi diproyeksikan menjadi semakin vital secara geopolitik seiring cuaca hangat mulai membuka jalur-jalur laut yang sebelumnya tertutup es hampir sepanjang tahun.

Merasa demam? Putin mengenakan pakaian tebal. (REUTERS/Alexei Nikolskiy/RIA Novosti/Kremlin)
Merasa demam? Putin mengenakan pakaian tebal. (REUTERS/Alexei Nikolskiy/RIA Novosti/Kremlin)

Novatek sudah memberi contoh dengan mengangkut kondensat gas dari Rusia ke Asia via Rute Utara, dan proyek LNG Yamal-nya diharapkan mampu memasok gas ke China selama lima bulan per tahun lewat jalur laut pendek ini. Belum lagi, pembukaan kawasan oleh Rusia dapat melapangkan jalan untuk operasi komersial lain dan juga kegunaan militer, sementara pelabuhan dan infrastruktur lain yang dibangun guna mendukung industri minyak dan gas dapat dimanfaatkan untuk berbagai alternatif.

Konteks militer telah jelas dalam latihan-latihan yang dilakukan oleh AL Rusia pada Maret dan Juni tahun ini, di mana Finlandia merasa terancam oleh pembukaan kembali lapangan terbang di kawasan tersebut. Rusia berencana membentuk pasukan militer Arktik tetap pada 2018.

Mempertimbangkan hal ini, klaim Putin atas teritori tambahan di Arktik bisa dipandang dari dua arah. Hamparan tambahan dapat memberi akses lebih besar terhadap sumber daya hidrokarbon untuk BUMN Rusia, walau mungkin tidak bisa diakses secara ekonomis tergantung pada harga minyak dan kemampuan perusahaan asing untuk terlibat, mengingat sanksi atas Rusia saat ini.

Tapi argumen komersial ini mengambil tempat kedua, yang mendorong industri minyak dan gas Rusia menyediakan platform bagi negara tersebut untuk mendominasi kawasan yang kian terbuka seiring mulai mencairnya es di sana, dengan potensi konsekuensi geopolitik dan militer amat besar.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s