Putin Memanggil Washington

Oleh: Paul Craig Roberts
2 Oktober 2015
(Sumber: www.foreignpolicyjournal.com)

Apakah Putin baru meluncurkan revolusi yang akan merobohkan ketundukan dunia pada Washington?

Presiden Barack Obama berbicara di telepon di Kantor Oval dengan Presiden Rusia Vladimir Putin perihal situasi di Ukraina, 1 Maret 2014. (Pete Souza/Gedung Putih)
Presiden Barack Obama berbicara di telepon di Kantor Oval dengan Presiden Rusia Vladimir Putin perihal situasi di Ukraina, 1 Maret 2014. (Pete Souza/Gedung Putih)

“Kami tak bisa lagi menolerir keadaan dunia.”
(Presiden Rusia Vladimir Putin)

Pada 28 September 2015, dunia menyaksikan perbedaan antara Rusia dan Washington. Pendekatan Putin berlandaskan fakta; pendekatan Obama adalah bualan dan dusta, dan Obama sedang kehabisan dusta.

Dengan mengatakan yang sebenarnya di zaman kebohongan universal, Putin berkomitmen pada tindakan revolusioner. Menyinggung pembantaian, kehancuran, dan kekacauan yang ditimbulkan Washington di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Ukraina, serta pelepasan pasukan jihadis ekstrim, Putin bertanya kepada Washington: “Kau sadar apa yang sudah kau perbuat?”

Pertanyaan Putin mengingatkan saya pada pertanyaan Joseph Welch kepada Senator Joseph McCarthy sang pemburu penyihir: “Apa kau tak punya rasa kesusilaan?” Pertanyaan Welch disebut-sebut sebagai penyebab merosotnya karir McCarthy.

Barangkali pertanyaan Putin akan memiliki dampak sama dan mengakhiri kekuasaan “Eksepsionalisme Amerika”.

Jika demikian, berarti Putin telah meluncurkan revolusi yang akan merobohkan ketundukan dunia pada Washington.

Putin menekankan legalitas intervensi Rusia di Suriah, berdasarkan permintaan pemerintah Suriah. Dia membandingkan penghormatan Rusia terhadap hukum internasional dengan intervensi Washington dan Prancis di Suriah, dua pemerintahan yang melanggar kedaulatan Suriah dengan aksi militer ilegal dan tak diminta.

Dunia melihat bahwa Washington dan para pengikutnyalah yang “melanggar norma internasional” dan bukan Rusia.

Sikap sok suci dan merasa benar sendiri, yang di baliknya tersembunyi tindakan sepihak Washington, terungkap kepada semua orang.

Washington mengandalkan gudang senjata kebohongan. Alat disinformasi media terlalu seksi. Persis sebagaimana reporter TV BBC mengumumkan keruntuhan prematur Gedung 7 World Trade Center padahal bangunannya masih jelas berdiri di latar belakang, dinas kebohongan Washington mengumumkan korban-korban sipil pertama serangan udara Rusia “bahkan sebelum pesawat kami mengudara”, sorot Presiden Putin dalam komentarnya tentang perang disinformasi Washington.

Sebagai konsekuensi ketundukan mereka pada Washington, negara-negara Eropa boneka sedang dibanjiri pengungsi dari perang-perang Washington yang dimungkinkan oleh Eropa tanpa pertimbangan. Seiring ongkos menjadi pengikut Washington disadari oleh Eropa, kedudukan partai-partai politik Eropa akan terpengaruh. Partai-partai baru dan koalisi berkuasa kemungkinan besar akan mengikuti jalur lebih independen dalam rangka melindungi diri dari ongkos kekeliruan besar yang disebabkan oleh arogansi dan keangkuhan Washington.

Bubarnya Kekaisaran sudah di ambang mata.


Dr. Paul Craig Roberts kuliah di empat universitas terbaik, belajar di bawah bimbingan dua pemenang Hadiah Nobel ekonomi, mengarang 20 artikel peer-review di jurnal-jurnal pengetahuan, dan menerbitkan empat buku peer-review pers akademi, meliputi Universitas Harvard dan Oxford, dan tujuh buku komersial. Buku teranyarnya, The Failure of Laissez Faire Capitalism and Economic Dissolution Of The West tersedia dalam bahasa Jerman, Inggris, China, dan nantinya Korea dan Ceko.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s