Sumber Daya Alam Arktik Memicu Persaingan

Oleh: Elisabeth Rosenthal
18 September 2012
(Sumber: www.nytimes.com)

NUUK, Greenland – Seiring mencairnya es Arktik dengan kecepatan yang memecahkan rekor, adidaya-adidaya dunia semakin berebut pengaruh politik dan kedudukan ekonomi di pos-pos terdepan macam yang satu ini, yang dulunya dianggap tanah kosong tandus.

Yang dipertaruhkan adalah limpahan persediaan minyak, gas, dan barang tambang Arktik yang, berkat perubahan iklim, dapat diakses bersamaan dengan jalan pintas pengapalan kutub yang semakin bisa dilayari. Tahun ini, China menjadi pemain lebih agresif di ladang dingin ini, kata para pakar, membuat gelisah adidaya-adidaya Barat.

Sementara AS, Rusia, dan beberapa negara Uni Eropa memiliki teritori di Arktik, China tidak punya sama sekali, dan alhasil, mengerahkan kekayaan dan pengaruh diplomatik untuk mengamankan pijakan di kawasan.

“Arktik naik pesat dalam agenda kebijakan luar negeri China selama dua tahun belakangan,” kata Linda Jakobson, direktur program Asia Timur di Lowy Institute for International Policy di Sydney, Australia. Jadi, ungkapnya, China sedang menyelidiki “bagaimana mereka dapat dilibatkan”.

Agustus lalu, China mengirim kapal pertamanya menyeberangi Arktik menuju Eropa dan melakukan lobi hebat untuk memperoleh status pemantau di Dewan Arktik, lembaga internasional longgar berisikan delapan negara Arktik yang mengembangkan kebijakan untuk kawasan ini. China berargumen bahwa ia adalah negara Arktik dekat dan menyebut Arktik sebagai “kekayaan warisan semua manusia”, dalam kata-kata Administrasi Kelautan Negara China.

Untuk mempromosikan tawaran dan memperbaiki hubungan dengan negara-negara Arktik, para menteri China mengunjungi Denmark, Swedia, dan Islandia musim panas ini, menyodorkan kesepakatan dagang menguntungkan. Diplomat tingkat tinggi juga telah mengunjungi Greenland, di mana perusahaan-perusahaan China berinvestasi di indutsri pertambangan yang sedang berkembang, membawa proposal untuk mengimpor pekerja konstruksi China.

Negara-negara barat terutama resah dengan tawaran China kepada pulau miskin dan berpenduduk jarang ini, sebuah negara pemerintahan sendiri di dalam Kerajaan Denmark, sebab penyusutan tudung esnya telah menyingkap endapan mineral yang diidam-idamkan, termasuk logam rare earth yang krusial untuk teknologi baru seperti ponsel dan sistem pemandu militer. Wakil presiden Uni Eropa, Antonio Tajani, bergegas ke ibukota Greenland sini bulan Juni lalu, menawarkan ratusan juta bantuan pengembangan sebagai ganti jaminan bahwa Greenland takkan memberi China akses eksklusif terhadap logam rare earth-nya, menyebut perjalanan ini sebagai “diplomasi mineral mentah”.

Greenland dekat dengan Amerika Utara, dan rumah bagi pangkalan Angkatan Udara AS paling utara di Thule. Dalam sebuah konferensi bulan lalu, Thomas R. Nides, deputi menteri luar negeri untuk urusan manajemen dan sumber daya alam, menyebut Arktik sedang menjadi “batas baru dalam kebijakan luar negeri kita”.

Dalam 18 bulan terakhir, Menteri Luar Negeri Hillary Rodham Clinton dan Presiden Lee Myung-bak dari Korea Selatan melakukan beberapa kunjungan pertama ke sini, dan perdana menteri Greenland, Kuupik Kleist, disambut oleh Presiden José Manuel Barroso dari Komisi Eropa di Brussels.

“Kami diperlakukan begitu berbeda dibanding beberapa tahun silam,” ujar Jens B. Frederiksen, wakil perdana menteri Greenland, di kantor sederhananya di sini. “Kami sadar, itu karena sekarang kami punya sesuatu untuk ditawarkan, bukan karena mereka mendadak mendapati Inuit bangsa yang menyenangkan.”

Aktivitas China di Arktik sampai taraf tertentu mencerminkan aktivitas negara-negara non-Arktik lain, seiring menghangatnya kawasan.

Uni Eropa, Jepang, dan Korea Selatan juga telah mengajukan diri dalam tiga tahun terakhir untuk memperoleh status pemantau permanen di Dewan Arktik, yang akan memungkinkan mereka menghadirkan perspektif masing-masing, tapi bukan memberikan suara.

Lembaga yang dulu sama ini, yang sebelumnya fokus pada isu-isu seperti pengawasan populasi binatang Arktik, kini punya tugas lebih substantif, seperti menetapkan bea pelabuhan di masa mendatang dan merundingkan perjanjian soal remediasi tumpahan minyak. “Kami telah berubah dari sebuah forum menjadi lembaga pembuat keputusan,” kata Gustaf Lind, dubes Arktik dari Swedia dan ketua dewan Arktik saat ini.

Tapi China memandang pengikutsertaan dirinya “sangat mendesak sehingga tidak boleh dihalangi dari keputusan-keputusan menyangkut barang tambang dan pengapalan,” kata Dr. Jakobson, yang juga peneliti Arktik di Stockholm International Peace Research Institute. Ekonomi China amat bergantung pada ekspor, dan rute kutub menghemat waktu, jarak, dan uang ke dan dari tempat lain di Asia dan Eropa, dibanding melintasi Terusan Suez.

Sejauh ini terdapat eksploitasi kecil-kecilan atas sumber daya alam Arktik. Greenland hanya punya satu tambang aktif, meski lebih dari 100 situs baru sedang dipetakan. Di sini, selain di Alaska, Kanada, dan Norwegia, perusahaan-perusahaan minyak dan gas masih menjelajahi, walaupun para ahli menaksir lebih dari 20% cadangan minyak dan gas dunia berada di Arktik. Cuaca yang lebih hangat telah memperpanjang musim kerja sebanyak satu bulan di banyak lokasi, semakin mempermudah akses.

Pada satu titik di musim panas ini, 97% permukaan lapisan es raksasa di Greenland sedang mencair. Dengan tingkat kecepatan seperti sekarang, perairan Arktik boleh jadi bebas es di musim panas penghujung dekade ini, kata para ilmuwan.

“Kondisi berlangsung jauh lebih cepat daripada yang diprediksi model ilmiah,” kata Dr. Morten Rasch, yang mengelola program Greenland Ecosystem Monitoring di Aarhus University, Denmark.

Kepemilikan Arktik diatur oleh Konvensi Hukum Laut PBB, yang memberikan zona ekonomi eksklusif hingga 200 mil laut dari daratan kepada negara-negara Arktik, dan sampai ke sumber daya bawah laut yang lebih jauh selama berada di landas benua. Samudera Arktik utara jauh bukan milik negara manapun, dan kondisi di sana sangat berat. Di tempat di mana perbatasan pasti tak pernah diperhatikan, tawar-menawar perbatasan sudah mulai berlangsung di antara negara-negara utama—antara Kanada dan Denmark, AS dan Kanada, contohnya.

AS terhambat dalam perebutan saat ini lantaran Senat menolak meratifikasi Konvensi Hukum Laut, sekalipun pemerintahan Bush dan Obama sudah sangat mendukung. Berarti secara formal AS belum bisa mengawasi perbatasan bawah airnya. “Kita tertinggal,” kata Deputi Menteri Nides.

Tapi para pakar menyebut sengketa perbatasan kemungkinan besar diselesaikan dengan cepat lewat negosiasi, jadi setiap pihak bisa meneruskan urusan mencari uang. “Sedikit sekali ruang untuk perlombaan merebut teritori, sebab sebagian besar sumber daya berada di area yang sudah dibagi-bagi,” kata Kristofer Bergh, peneliti di Stockholm Institute.

Meski demikian, negara-negara Arktik dan NATO sedang membangun kemampuan militer di kawasan ini, sebagai langkah pencegahan. Ini membuat China tak punya banyak pilihan selain mengumpulkan pengaruh lewat strategi yang telah bekerja dengan baik di Afrika dan Amerika Latin: berinvestasi dan bergabung dengan perusahaan setempat dan membiayai pekerjaan bagus untuk memperoleh itikad bagus. Para ilmuwannya telah menjadi pilar penelitian multinasional di Arktik, dan kapal pemecah es mereka dipakai dalam ekspedisi gabungan.

Dan perusahaan-perusahaan China, sebagian punya ikatan dengan pemerintah, sedang berinvestasi besar-besaran di seantero Arktik. Di Kanada, firma-firma China punya kepentingan di dua perusahaan minyak yang bisa memberi mereka akses ke pengeboran Arktik. Dalam kunjungan bulan Juni ke Islandia, Perdana Menteri Wen Jiabao menandatangani sejumlah perjanjian ekonomi, meliputi bidang-bidang seperti energi panas bumi dan perdagangan bebas.

Di Greenland, perusahaan-perusahaan besar China mendanai pengembangan tambang yang sedang dikembangkan di sekitar penemuan permata atau barang tambang oleh perusahaan-perusahaan kecil pencari bijih, ujar Soren Meisling, kepala gugus China di firma hukum Bech Bruun, Kopenhagen, yang mewakili banyak urusan hukum mereka. Sebuah tambang bijih besi raksasa yang sedang dikembangkan dekat Nuuk, contohnya, dimiliki oleh perusahaan Inggris tapi didanai sebagian oleh produsen baja China.

Perusahaan-perusahaan tambang China terbukti mahir dalam bekerja di tempat-tempat menantang dan bahkan telah mengajukan pembangunan landasan terbang untuk jet-jet jumbo di atas es di utara jauh Greenland guna menerbangkan barang tambang sampai esnya cukup mencair untuk pengapalan.

“Sudah ada nuansa persaingan di Arktik, dan mereka pikir bisa mendapat kedudukan pertama,” kata Jingjing Su, pengacara di kantor praktek Bech Bruun di China.

Upaya-upaya ini memiliki beking politik yang gamblang. Menteri perindustrian dan sumber daya mineral Greenland dijamu oleh Wakil Perdana Menteri Li Keqiang di China bulan November lalu. Beberapa bulan kemudian, menteri pertanahan dan sumber daya China, Xu Shaoshi, bepergian ke Greenland untuk menandatangani perjanjian kerjasama.
Analis barat khawatir China akan memaksimalkan kekayaannya, terutama di beberapa pelosok kurang uang seperti Greenland dan Islandia.

Tapi pejabat China mengekspresikan motif mereka dengan bahasa yang lebih murah hati. “Kegiatan China adalah untuk tujuan penyelidikan lingkungan rutin dan investasi dan tak ada kaitannya dengan penjarahan sumber daya alam dan pengawasan strategis,” tulis kantor berita Xinhua tahun ini.

Michael Byers, profesor politik dan hukum di Universitas British Columbia, menyatakan kecil kemungkinannya China akan melampaui hak mereka di kawasan yang dihuni anggota-anggota NATO. “Terlepas dari kekhawatiran saya terhadap kebijakan luar negeri China di wilayah-wilayah lain di dunia, mereka bersikap bertanggungjawab di Arktik,” katanya. “Mereka hanya ingin menghasilkan uang.”

Februari nanti, Dewan Arktik dijadwalkan memilih negara-negara yang akan diberi status pemantau permanen, yang mensyaratkan suara bulat. Meski Islandia, Denmark, dan Swedia kini terang-terangan mendukung ajuan China, Departemen Luar Negeri AS, saat dikontak untuk dimintai komentar, menolak mengatakan bagaimana AS akan memberikan suara.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s