Kuba Ikut Campur di Suriah Untuk Membantu Rusia

Oleh: James Bloodworth
16 Oktober 2015
(Sumber: www.thedailybeast.com)

Laporan-laporan yang menyebut pasukan Kuba sedang bertempur di Suriah sejalan dengan sejarah panjang Castro bersaudara yang bekerjasama erat dengan pelindung mereka di Moskow.

Fidel Castro

Bukan kali pertama pasukan Kuba melakukan pekerjaan kotor Rusia, kali ini di Suriah. Hari Rabu lalu dikabarkan pejabat AS telah mengkonfirmasi kepada Fox News bahwa satuan-satuan paramiliter dan Pasukan Khusus Kuba berada di medan Suriah. Dilaporkan diangkut ke kawasan tersebut dengan pesawat Rusia, orang-orang Kuba itu dirumorkan sebagai pakar dalam mengoperasikan tank-tank Rusia.

Bagi Presiden Obama, yang telah mempertaruhkan warisannya pada pendekatan dengan musuh-musuh Amerika, masuknya Kuba ke dalam perang sipil Suriah yang berdarah-darah merupakan sesuatu yang lebih memalukan. Rusia, Iran, dan Kuba—tiga rezim yang berusaha Obama rangkul—kini tengah membantu menopang rezim Bashar al-Assad, penguasa rezim keempat yang juga dirayu di awal masa kepresidenannya, namun gagal. Obama telah mengulurkan tangan dalam gestur itikad baik kepada musuh-musuh Amerika, tapi mereka justru menjulurkan lidah dan menirukan bunyi kentut di depan wajahnya—sambil berdiri di atas tumpukan mayat rakyat Suriah.

Tapi bagi para pengamat Kuba kawakan, masuknya Angkatan Bersenjata Revolusi Kuba ke dalam perang sipil Suriah merupakan kejutan tapi tidak terlalu menggoncang. Kejutan karena dua dekade lalu Kuba terpaksa mengekang petualangan militernya akibat ekonomi yang memburuk (militer Kuba dikurangi sebanyak 80% sejak 1991).

Sebagian besar berkat keterlibatan pasukan Kuba dalam pertempuran melawan rezim Apartheid Afrika Selatan di Angola pada 70-an dan 80-an (belum lagi “misi” medis belakangan ini ke wilayah-wilayah dunia yang terkena bencana), Kuba meraih sedikit reputasi internasionalisme. Pada satu titik, kehadiran Kuba di Angola mencapai 55.000 prajurit, mengakibatkan kekalahan pada pihak pasukan Afrika Selatan yang membantu mempercepat berakhirnya apartheid. “Kekalahan krusial pasukan apartheid agresif [oleh militer Kuba] di Angola menghancurkan mitos ketakterkalahan penindas kulit putih,” kata Mandela kepada pemimpin Kuba dalam kunjungan ke Havana pada 1991.

Selama tahun-tahun terakhir, Angola meminjamkan penumbra romantis kepada rezim Castro yang berbunyi bahwa, dengan segala kekurangannya, revolusi Kuba tetap saja progresif (tonton film Comandante karya si jenaka Oliver Stone untuk menangkap maksud saya).

Tapi selagi setiap orang mengenang kepahlawanan Kuba di Angola, segelintir mengenang teror Kuba di Ethiopia.

Sebagian dari kita yang cukup tua mungkin masih ingat konser Live Aid yang diselenggarakan oleh Bob Geldof pada 1985, untuk mengumpulkan uang demi membantu meringankan kelaparan terburuk Ethiopia di abad ini. 400.000 orang meninggal dalam kelaparan 1984/1985, dan sementara banyak orang mengenang gambar-gambar televisi yang menyesakkan berisi anak-anak kecil dibintiki lalat dengan tulang rusuk menonjol dan perut gembung, sedikit sekali yang tahu bahwa tragedi tersebut sebagian besar akibat kebijakan yang ditempuh oleh diktator Komunis yang memerintah Ethiopia waktu itu—rezim yang disokong Kuba dan Uni Soviet.

Rusia mengangkut 17.000 pasukan Kuba ke Ethiopia selama 14 tahun kekuasaan Dergue—rezim diktator yang memerintah Ethiopia. Selama 1977-1978 diperkirakan lebih dari 300.000 rakyat Ethiopia binasa sebagai akibat dari Teror Merah yang dilepas pemerintahan Komunis. Semasa teror, Save the Children Fund dari Swedia melaporkan eksekusi 1.000 anak kecil—anak-anak yang dilabeli secara tak masuk akal sebagai “agen penghubung kelompok-kelompok kontra revolusi”.

Sebagaimana perang Stalin terhadap para kulak (kaum petani makmur—penj) di tahun 30-an, pemerintahan Marxist Ethiopia memulai spekulasi utopianya di pedesaan, memaksa 12 juta s/d 15 juta rakyat Ethiopia ke dalam pertanian kolektif. Menurut Alexander De Waal, salah seorang pakar terkemuka dalam urusan Tanduk Afrika, “lebih dari separuh kematian ini [400.000] bisa dikaitkan dengan pelanggaran HAM yang menyebabkan kelaparan menimpa lebih awal, memukul lebih keras, dan meluas lebih jauh.” Militer Ethiopia, diperkuat pasukan Kuba, mencegah distribusi makanan ke wilayah-wilayah yang penduduknya digosipkan bersimpati pada kelompok-kelompok oposisi.

Menuruti Rusia, aliansi Kuba dengan nasionalisme Afrika meluas hingga mendukung rezim berdarah Nguema Macias di Guinea Khatulistiwa dan Idi Amin di Uganda. Kuba juga memberi lindungan politik pada invasi Soviet atas Afghanistan—sebuah posisi yang aneh untuk anggota kelompok negara-negara non-blok, sampai Anda mempertimbangkan bahwa Uni Soviet mungkin akan membatasi bantuan masifnya ke Kuba jika saja negara pulau tersebut melangkah keluar garis.

Pasti terdapat daya tarik-menarik tulen di antara banyak rezim diktator dunia berlandaskan kebencian bersama terhadap negara-negara demokrasi liberal. Segera mencium arah angin yang berhembus di Teheran, mantan Presiden Kuba Fidel Castro menjadi salah satu kepala negara pertama yang mengakui Republik Islam Iran pada 1979, menyampaikan kepada Pemimpin Tertinggi kala itu, Ayatullah Khomeini, bahwa tak ada “kontradiksi antara revolusi dan agama” (padahal dia telah mengasingkan para pemeluk agama di kamp-kamp kerja paksa). Demikian halnya, hubungan ramah juga sudah lama terjalin antara Kuba dan Suriah, di mana Kuba pernah ikut campur secara militer di masa lalu. Dari 1973 sampai 1975, brigade tank Kuba ditempatkan menghadap Dataran Tinggi Golan setelah kemenangan Israel dalam Perang Yom Kippur. Pada 1985, Presiden Suriah kala itu, Hafez al-Assad, menulis kepada Fidel Castro yang isinya menghormati persahabatan di antara kedua negara sebagai sesuatu yang bermanfaat “bagi masing-masing rakyat dalam perjuangan bersama melawan imperialisme dunia dan sekutu-sekutunya”.

Tapi terakhir, masuknya Kuba ke dalam konflik Suriah mesti dipandang sebagai pembayaran iuran baru kepada penyokongnya di Kremlin. Sementara hubungan Obama-Castro memenuhi tajuk-tajuk utama beberapa bulan terakhir, tawaran pemimpin Rusia Vladimir Putin kepada Kuba hampir tidak diperhatikan. Tahun lalu Putin menghapus utang besar Kuba kepada Rusia senilai $32 miliar—sebuah potongan 90% dari nilai utang awal. Putin juga berikrar akan membantu proyek-proyek eksplorasi minyak di lepas pantai utara Kuba dan membuka kembali markas mata-mata Perang Dingin Rusia di Lourdes, selatan Havana.

Putin dikabarkan marah terhadap AS atas apa yang disebutnya campur tangan AS di “halaman belakang” negaranya di Ukraina. Jadi kedermawanan Putin kepada Kuba adalah upaya untuk melawan balik dengan mengusik AS 90 mil dari pantai Florida. Tapi antusiasme baru Rusia terhadap Kuba memiliki efek samping menggembirakan: persis seperti di masa lalu, pemimpin Rusia bisa meminta murid Kuba-nya untuk mengotori tangannya sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s