Putin Berani, Obama Gentar

3 Oktober 2015
(Sumber: www.economist.com)

Menurut Vladimir Putin, Rusia telah menjadi pemimpin perang global baru terhadap terorisme. Sebaliknya, Barack Obama tampak semakin letih hari demi hari oleh perang di dunia Muslim yang telah dijalani Amerika selama lebih dari satu dekade. Pada 30 September, jet-jet Rusia mulai beraksi mendukung pasukan Bashar al-Assad yang terkepung. Mereka mendirikan jaringan berbagi informasi intelijen dengan Irak dan Iran. Gereja Ortodoks Rusia menyebut-nyebut perang suci. Klaim Tn. Putin bahwa mereka sedang memerangi Islamic State (IS) diragukan. Hari pertama Rusia melakukan pengeboman membuktikan bahwa mereka justru menyerang pemberontak Sunni lain, termasuk sebagian kelompok yang didukung Amerika. Meskipun ini sedikit lebih dari teater politik, Rusia sedang mengambil langkah terbesarnya di Timur Tengah, yang sampai sekarang merupakan wilayah kekuasaan Amerika, sejak Uni Soviet diusir pada 1970-an.

Sementara itu, di Afghanistan, kampanye Amerika melawan Taliban mendapat pukulan. Pada 28 September, pemberontak Taliban merebut kota utara Kunduz—ibukota provinsi pertama yang jatuh ke tangan mereka sejak diturunkan dari kekuasaan pada 2001. Pasukan Afghan merebut lagi titik pusat tersebut tiga hari kemudian. Tapi meski mereka menegakkan penguasaan penuh, serangan itu tetap sebuah penghinaan.

Kunduz dan pengeboman Rusia merupakan gejala fenomena yang sama: kevakuman yang diakibatkan oleh upaya Barack Obama untuk mundur dari perang di dunia Muslim. Presiden Amerika berkata kepada Majelis Umum PBB pekan ini bahwa negaranya telah belajar bahwa mereka “tak bisa sendirian memberlakukan stabilitas di tanah asing”; negara-negara lain, termasuk Iran dan Rusia, mesti membantu di Suriah. Tn. Obama tidak sepenuhnya salah. Tapi dalilinya menyembunyikan banyak bahaya: Amerika angkat tangan; kekuatan-kekuatan regional, yang mencium kelepasan Amerika, akan terhisap ke dalam perkelahian bebas; dan intervensi Rusia akan membuat perang berdarah semakin berdarah lagi. Kecuali kalau Tn. Obama mengubah arah, nantikan saja lebih banyak kematian, pengungsi, dan ekstrimisme.

Setelah melihat kekacauan yang dibuat George W. Bush dengan “perang melawan teror”-nya, khususnya di Irak, wajar saja Tn. Obama merasa letih. Intervensi Amerika memang bisa memperburuk situasi, di mana para pemimpin menjijikkan digantikan oleh kekacauan dan perang tiada akhir melemahkan kekuatan dan kedudukan Amerika. Tapi ketidakhadiran Amerika membuat keadaan lebih suram lagi. Biar bagaimanapun, pada suatu titik, ekstrimisme akan memburuk dan memaksa adidaya ini turut campur.

Begitulah kisah di Timur Tengah. Di Irak, Tn. Obama menarik pasukan pada 2011. Dia Suriah dia tidak bertindak untuk menghentikan Assad dari pembantaian besar-besaran, bahkan setelah Assad memakai gas racun. Tapi ketika jihadis IS muncul dari kekacauan ini, mendeklarasikan kekhalifahan di petak-petak Irak dan Suriah, dan mulai memenggali para tawanan Barat, Tn. Obama merasa berkewajiban masuk lagi—secara tak menentu. Di Afghanistan, Tn. Obama membuat kekeliruan yang sama yakni menarik pasukan secara prematur. Sementara operasi tempur NATO turun menjadi misi “melatih, menasehati, dan memberi asistensi”, Tn. Obama berjanji pasukan terakhir Amerika akan meninggalkan Afghanistan di akhir 2016. Tanggal tersebut tidak ada sangkut-pautnya dengan kondisi di Afghanistan tapi banyak pertaliannya dengan waktu perginya Tn. Obama dari Gedung Putih.

Apa yang bisa Tn. Obama lakukan? Di Afghanistan, alih-alih menarik sisa 9.800 pasukan Amerika, seharusnya dia menambah mereka dan menegaskan bahwa dia tak menetapkan tanggal penarikan mereka. Aturan keterlibatan harus diperluas agar pasukan NATO bisa membeking pasukan Afghanistan. Pesawat serang mesti mendukung mereka sesuai kebutuhan, bukan cuma dalam kondisi genting. Dia perlu berembuk di Kabul, di mana pemerintahan “bersatu” yang dibentuk tahun lalu antara Presiden Ashraf Ghani dan rivalnya, Abdullah Abdullah, sudah cukup lumpuh untuk tak punya menteri pertahanan. Ini adalah “perang bagus”-nya Tn. Obama: dia beresiko kalah.

Di Suriah, kegentaran Obama membuat opsi-opsinya semakin sulit dan beresiko. Tn. Putin tanpa tahu malu sedang membela seorang tiran dan memperdalam perpecahan Sunni-Syiah di kawasan. Amerika harus memegang pandangan bahwa Tn. Assad tidak boleh tetap berkuasa, dan menetapkan visi akan apa yang terjadi setelahnya. Amerika harus berbuat lebih untuk melindungi penduduk yang sebagian besar Sunni: menciptakan tempat singgah terlindungi; memberlakukan zona larangan terbang untuk menghentikan bom barel Tn. Assad; dan mempromosikan kekuatan Sunni moderat. Ini mungkin berarti menantang jet-jet Rusia.

Sebagai seorang judoka, Tn. Putin tahu seni mengeksploitasi kelemahan lawan: saat Amerika melangkah mundur, dia mendesak maju. Tapi menjadi oportunis tidak memberinya kemampuan untuk memperbaiki Suriah. Dan semakin dia mencoba menyelamatkan Assad, semakin banyak kerusakan yang akan ditimbulkannya di Suriah dan kawasan—dan semakin besar resiko momen kegagahannya berganti menjadi kepongahan. Mengingat kekuatan Amerika yang tahan lama, ada banyak yang masih bisa diperbuat negara ini untuk membendung tersebarnya kekacauan—jika Tn. Obama punya sedikit selera Tn. Putin untuk menantang.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s