Harapan Palsu Rusia

Oleh: Paul Craig Roberts
25 September 2015
(Sumber: www.foreignpolicyjournal.com)

Satu-satunya cara agar Rusia dapat diterima oleh Barat adalah dengan menerima status pengikut.

Vladimir Putin
Presiden Rusia Vladimir Putin (MARIAJONER/Wikimedia Commons)

Rusia begitu mati-matian ingin menjadi bagian dari Barat yang bereputasi buruk dan sedang runtuh, sampai-sampai mereka tidak berpegang pada realita.

Terlepas dari bertumpuk pelajaran pahit, Rusia tidak bisa membuang asa untuk diterima di Barat. Satu-satunya cara agar Rusia dapat diterima oleh Barat adalah dengan menerima status pengikut.

Rusia salah kalkulasi bahwa diplomasi dapat memecahkan krisis yang Washington ciptakan di Ukraina dan menaruh harapannya pada Perjanjian Minsk, yang tak mendapat dukungan Barat sama sekali, tidak di Kiev, tidak pula di Washington, London, dan NATO.

Rusia bisa mengakhiri krisis Ukraina cukup dengan menerima permintaan bekas teritori Rusia untuk bergabung kembali dengan Rusia. Sekali republik-republik pecahan menjadi bagian Rusia lagi, krisis selesai. Ukraina takkan menyerang Rusia.

Rusia tidak mengakhiri krisis, karena mereka pikir itu akan provokatif dan mengecewakan Eropa. Sebetulnya, itulah yang perlu Rusia lakukan—mengecewakan Eropa. Rusia perlu membuat Eropa sadar bahwa menjadi alat Washington melawan Rusia adalah beresiko dan berongkos besar bagi Eropa.

Rusia malah melindungi Eropa dari ongkos yang Washington bebankan atas Eropa dan membebankan sedikit ongkos atas Eropa lantaran bertindak melawan Rusia demi kepentingan Washington. Rusia masih memasok energi kepada musuh-musuhnya, yang angkatan udaranya melakukan penerbangan provokatif sepanjang perbatasan Rusia, untuk menerbangkan pesawat-pesawat perang mereka.

Ini kegagalan diplomasi, bukan kesuksesan. Diplomasi tak mungkin berhasil bila salah satu pihak mempercayai diplomasi sedangkan pihak lain mempercayai kekuatan.

Rusia perlu mengerti bahwa diplomasi tak bisa berjalan dengan Washington dan para pengikut NATO-nya yang tidak mempercayai diplomasi, tapi justru mengandalkan kekuatan. Rusia perlu mengerti bahwa ketika Washington menyatakan Rusia adalah negara tidak sah yang “tidak bertindak sesuai norma internasional”, maksud Washington adalah Rusia tidak menuruti perintah Washington. “Norma internasional” yang dimaksud Washington adalah kemauan Washington. Negara-negara yang tidak memenuhi kemauan Washington sama dengan tidak bertindak sesuai “norma internasional”.

Washington dan hanya Washington yang menentukan “norma internasional”. Amerika adalah negara “eksepsional dan harus ada”. Tak ada negara lain yang memiliki kedudukan ini.

Negara berkebijakan luar negeri independen merupakan ancaman bagi Washington. Doktrin Wolfowitz yang neokonservatif memperjelas hal ini. Doktrin Wolfowitz, landasan kebijakan luar negeri dan militer AS, menetapkan negara manapun yang punya cukup kekuatan untuk mengekang tindakan sepihak Washington sebagai sebuah ancaman. Doktrin Wolfowitz menyatakan dengan gamblang bahwa negara manapun yang punya cukup kekuatan untuk menghalangi maksud Washington di dunia ini adalah ancaman dan bahwa “sasaran pertama kita adalah mencegah kemunculan kembali” negara semacam itu.

Rusia, China, dan Iran berada dalam bidikan Washington. Traktat dan “kerjasama” tidak berarti apa-apa. Kerjasama justru membuat incaran-incaran Washington kehilangan fokus dan lupa bahwa mereka adalah incaran. Menteri luar negeri Rusia, Lavrov, rupanya percaya bahwa kini dengan gagalnya kebijakan perang Washington dan hancurnya Timur Tengah, Washington dan Rusia dapat bekerjasama membendung jihadis ISIS di Irak dan Suriah. Itu angan-angan.

Rusia dan Washington tak bisa bekerjasama di Suriah dan Irak, karena kedua pemerintahan punya konflik tujuan. Rusia ingin perdamaian, penghormatan terhadap hukum internasional, dan pembendungan unsur-unsur jihadis radikal. Washington ingin perang, tanpa batasan hukum, dan mendanai unsur jihadis radikal demi instabilitas Timur Tengah dan pelengseran Assad di Suriah. Sekalipun Washington menginginkan tujuan yang sama dengan Rusia, bagi Washington bekerjasama dengan Rusia akan meruntuhkan gambaran Rusia sebagai ancaman dan musuh.

Rusia, China, dan Iran adalah tiga negara yang dapat membatasi tindakan sepihak Washington. Konsekuensinya, ketiga negara terancam mengalami serangan nuklir penangkalan. Jika negara-negara ini begitu naif sampai percaya dapat bekerjasama dengan Washington hari ini, mengingat gagalnya kebijakan pemaksaan dan kekerasan di Timur Tengah selama 14 tahun, dengan menyelamatkan Washington dari rawa buatannya sendiri yang melahirkan Islamic State, berarti mereka terpedaya untuk menjadi sasaran empuk serangan nuklir penangkalan.

Washington menciptakan Islamic State. Washington memanfaatkan para jihadis ini untuk menggulingkan Khadafi di Libya dan kemudian Assad di Suriah. Kaum neokonservatif Amerika, yang kesemuanya bersekutu dengan Zionis Israel, tidak menginginkan adanya negara kompak di Timur Tengah yang mampu menghalangi “Israel Raya dari Nil hingga Eufrat”.

Jihadis ISIS sudah belajar bahwa kebijakan Washington berupa pembunuhan dan pengusiran jutaan Muslim di tujuh negara menghasilkan konstituen anti-Barat yang mendukung mereka di antara orang-orang Timur Tengah dan mulai bertindak lepas dari pencipta mereka.

Konsekuensinya adalah kekacauan semakin besar di Timur Tengah dan hilangnya kendali Washington.

Alih-alih meninggalkan Washington supaya menderita di tangan ulahnya sendiri, Rusia dan Iran—dua negara paling dibenci dan dijelekkan di Barat—bergegas menyelamatkan Washington dari kebodohannya di Timur Tengah. Ini merupakan kegagalan pemikiran strategis Rusia dan Iran. Negara-negara yang tak mampu berpikir strategis takkan bertahan hidup.

Orang-orang Iran perlu mengerti bahwa traktat mereka dengan Washington tidak berarti apa-apa. Washington tak pernah menghormati traktat. Tanya saja suku Indian Great Plains atau Presiden Soviet terakhir, Gorbachev.

Jika pemerintah Rusia mengira Washington bersungguh-sungguh, berarti mereka tidak menyadari kondisi sekarang.

Iran dipimpin dengan baik, dan Vladimir Putin menyelamatkan Rusia dari kendali AS dan Israel, tapi kedua pemerintahan terus bertindak seolah-olah mereka sedang meminum obat yang membuat mereka berpikir Washington bisa menjadi mitra.

Angan-angan ini membahayakan, bukan hanya bagi Rusia dan Iran, tapi juga bagi dunia.

Jika Rusia dan Iran menurunkan kewaspadaan, mereka akan dinuklir, begitu pula China.

Washington berpihak pada satu hal saja: Hegemoni Dunia.

Coba tanya kaum Neokonservatif atau baca dokumen mereka.

Neokonservatif mengendalikan Washington. Orang lain tak punya suara dalam pemerintahan.

Bagi neokonservatif, Armageddon adalah resiko yang dapat ditolerir untuk menggapai sasaran Hegemoni Amerika di Dunia.

Hanya Rusia dan China yang bisa menyelamatkan dunia dari Armageddon, tapi apa mereka terlalu terpedaya dan memuja Barat untuk menyelamatkan Planet Bumi?


Paul Craig Roberts kuliah di empat universitas terbaik, belajar di bawah bimbingan dua pemenang Hadiah Nobel ekonomi, mengarang 20 artikel peer-review di jurnal-jurnal pengetahuan, dan menerbitkan empat buku peer-review pers akademi, meliputi Universitas Harvard dan Oxford, dan tujuh buku komersial. Buku teranyarnya, The Failure of Laissez Faire Capitalism and Economic Dissolution Of The West tersedia dalam bahasa Jerman, Inggris, China, dan nantinya Korea dan Ceko.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s