Mengapa Rusia Membekingi Assad?

28 September 2015
(Sumber: www.socialistworker.org)

Dukungan Vladimir Putin untuk diktator Suriah Bashar al-Assad bukan cuma untuk menyangga satu-satunya sekutu sisa Rusia di Timur Tengah, jelas sebuah artikel yang aslinya dipublikasikan di situs Rusia anti-imperialis, OpenLeft.ru, dan dipasang dalam terjemahan bahasa Inggris oleh Nick Evans di situs sosialisme revoluisoner abad 21.

Orang-orang dari kota Kafranbel Suriah memprotes terorisme diktator Assad sementara AS tersangkut kepalanya dalam pasir (Kafranbel Artists)
Orang-orang dari kota Kafranbel Suriah memprotes terorisme diktator Assad sementara AS tersangkut kepalanya dalam pasir (Kafranbel Artists)

Sederet bukti (juga di sini) mengindikasikan Rusia sedang menggerakkan bantuan militer untuk rezim Suriah Bashar al-Assad hingga keterlibatan langsung pasukan Rusia dalam konflik Suriah. Kenapa sekarang, dan ada apa di balik ini?

Secara pribadi, jalinan militer, politik, dan ekonomi antara Rusia dan rezim Suriah, tidak cukup untuk menjelaskan dukungan bandel Federasi Rusia terhadap Assad. Dukungan ini sudah menjadi sumber konflik serius dengan Barat bahkan sebelum peristiwa di Ukraina. Tentu saja, rezim Assad kini satu-satunya sekutu andal Rusia di kawasan itu, dan kekalahannya akan membuat Rusia tak bisa terus memainkan peran penting di Timur Tengah.

Diduga, faktor lain adalah kendali Suriah atas transit minyak Irak dan Arab Saudi—yang amat penting bagi Rusia sebagai pengekspor minyak terbesar dunia. Pada gilirannya, hasrat untuk merebut kendali ini memainkan peran utama dalam mendefinisikan sikap anti-Assad yang diperagakan Turki, Israel, dan monarki-monarki Teluk Persia. Namun, yang mencolok, Arab Saudi mendapat penolakan tegas ketika secara terbuka menyarankan kepada Rusia awal tahun ini agar memutus dukungan untuk Assad sebagai ganti penurunan tempo produksi minyaknya—yang bisa saja waktu itu mengerem kejatuhan harga minyak global.

Kekhawatiran terhadap naiknya Islamisme radikal di kawasan tersebut, dan di Kaukasus Utara, bukanlah penjelasan memadai. Banyak analis memandang dukungan Rusia kepada rezim Suriah memiliki signifikansi jauh di luar konflik Suriah itu sendiri: dengan menentang upaya pelengseran Assad, Kremlin sedang menentang kemungkinan “pergantian rezim” yang disetujui lembaga-lembaga internasional, karena menganggap target “pergantian rezim” berikutnya boleh jadi Rusia sendiri.

Sikap pemerintah Rusia terhadap Suriah, yang berbeda jauh dari sikap pemerintahan Barat, terkadang membawa manfaat bagi reputasinya di luar negeri—seperti ketika kolom karangan Putin dipublikasikan di New York Times, mengemukakan dalih menentang intervensi militer di Suriah dan mengkritik gagasan eksepsionalisme Amerika. Namun, secara keseluruhan, Rusia lebih bersifat defensif.

*****

Sementara itu, situasi di Timur Tengah berubah, dan naiknya Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) memungkinkan hal-hal yang sebelumnya terasa mustahil, seperti normalisasi hubungan AS dengan Iran secara parsial. Sehingga rezim Assad juga agak diterima oleh AS. Dalam konteks ini, Putin rupanya telah memutuskan untuk ofensif—barangkali bukan dalam pengertian mengirim pasukan ke Suriah, tapi sekurang-kurangnya berunding di belakang dengan Washington, menggunakan pangkalan udara baru Rusia di kota pelabuhan Latakia (Suriah) sebagai dalih.

Menurut Bloomberg, taktik baru ini mungkin akan membuahkan hasil—setidaknya sebagian pihak yang bekerja di Gedung Putih percaya prioritas utama adalah memperlebar aliansi melawan ISIS. Mereka menerima penggerakan bantuan Rusia untuk Assad sebagai fakta dan bahkan siap bekerjasama dengan Rusia dalam kampanye udara melawan ISIS. Dilihat dari permukaan, persis inilah yang diharapkan Putin dan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov.

Secara keseluruhan, jalan taktik Rusia bisa dipandang sebagai kelanjutan perjuangannya demi “dunia multikutub yang lebih adil”, di mana hubungan internaisonal tidak diatur oleh prinsip-prinsip normatif liberalisme dan HAM, tapi melalui pengakuan kepentingan secara timbal-balik dan kerjasama dalam persoalan konkret. Berdasarkan syarat-syarat inilah, melalui koalisi pragmatis di Suriah, Rusia berupaya mengintegrasikan kembali dirinya ke dalam tatanan dunia, sekaligus mengubah aturan main.

Jadi dampak nyata kebijakan luar negeri Rusia, terlepas dari kritik Rusia terus-menerus terhadap “kemunafikan intervensi kemanusiaan”, tidak lebih baik dari intervensi kemanusiaan itu sendiri. Korban-korban rezim Suriah jauh lebih besar daripada korban ISIS. Dukungan terhadap Assad merupakan dukungan terhadap seorang diktator yang telah mengubah aparat militer negaranya menjadi mesin efektif untuk memusnahkan rakyatnya sendiri. Seberapa banyak pun Lavrov dan Dimitry Peskov (Menteri Penerangan) membuat kritik agresif-pasif terhadap “kemunafikan Barat”, sekurangnya Rusia sama-sama bertanggungjawab dengan negara-negara Barat atas apa yang terjadi di Suriah.

Dan penolakan demonstratif Kremlin untuk ambil bagian dalam penyelesaian krisis pengungsi sunguh-sungguh munafik. Dengan mengisyaratkan agar negara-negara UE mengurus dampak krisis yang turut Rusia ciptakan di Suriah, Rusia merasa menjadi pihak yang “tertawa terakhir”. Drama ratusan ribu orang kehilangan rumah disajikan dalam pengumuman Peskov sebagai pelajaran elegan, ditempatkan di bawah kebijakan luar negeri Kremlin terhadap “mitra-mitra barat”-nya.


Diterjemahkan dari bahasa Rusia oleh Nick Evans dan pertama kali dipublikasikan dalam bahasa Inggris di situs rs21.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s