Mengapa Rusia Mengebom Suriah?

Oleh: Eric Ruder
5 Oktober 2015
(Sumber: www.socialistworker.org)

Intervensi Rusia dalam perang sipil Suriah menandai dimulainya bab baru yang tak mengenakkan dalam konflik yang telah merenggut ratusan ribu nyawa dan memencarkan lebih dari 10 juta orang di dalam dan di luar perbatasan Suriah.

Presiden Vladimir Putin mendandani masuknya Rusia ke dalam konflik sebagai “mirip dengan koalisi anti-Hitler” yang mencakup AS dan negara-negara Barat lain, melawan pasukan Islamic State in Iraq and Syria (ISIS) yang menguasai Suriah timur.

Namun, serangan udara pertama Rusia pada 30 September tidak mengincar ISIS, tapi malah kelompok-kelompok pemberontak—sebagian didukung oleh AS sampai taraf berbeda-beda—yang sedang berperang di dua front: melawan rezim diktator Suriah Bashar al-Assad di satu sisi, dan melawan ISIS di sisi lain. Laporan warga sipil yang tewas akibat bom Rusia bermunculan sejak saat itu.

Serangan udara awal ini bukan hanya menyingkap maksud sejati Putin—menyokong rezim Assad, sekutu signifikan Rusia yang terakhir di kawasan tersebut—tapi juga menggambarkan potensi konfrontasi bertambah-tambah antara AS dan Rusia, meski ada upaya “de-konfliksi” oleh kedua adidaya bersenjata nuklir ini.

Adapun pemerintah AS, mereka terang-terangan menentang rezim Assad—bukan gara-gara penindasan dan kekerasannya terhadap pemberontakan rakyat, tapi terutama karena persekutuannya dengan Israel, musuh Washington lainnya—sambil tidak pernah memberikan tingkat dukungan kepada pemberontak anti-Assad yang memungkinkan mereka menandingi kekuatan militer Suriah.

Masuknya pasukan militer Rusia di pihak rezim telah membuat pemerintah AS mencari-cari respon balasan—sementara korban manusia di Suriah terus bertambah.

*****

Kemunculan kembali konfrontasi rival-rival imperial, Rusia dan AS, kini harus ditempatkan di puncak banyak lapisan permusuhan yang mengoyak-ngoyak Suriah.

Konflik berakar dari sebuah pemberontakan rakyat terhadap Assad yang mengambil inspirasi dari revolusi di Tunisia dan Mesir, dan perjuangan-perjuangan lain yang menjadi bagian dari Musim Semi Arab 2011.

Tak seperti para diktator lain yang terpinggirkan, Assad mampu menyerang balik, membantai pengunjuk rasa damai, memaksakan militerisasi konflik, dan menganggap seluruh perlawanan digerakkan oleh AS, Israel, dan/atau kelompok-kelompok pemberontak Sunni yang bertekad menghancurkan Syiah dan minoritas agama lain. Untuk membantu mendiskreditkan oposisi, Assad dengan sinisnya membebaskan ekstrimis Sunni dari penjara, bertaruh bahwa para pejuang ini akan mengincar kekuatan-kekuatan demokratis yang sama yang sedang dihadapinya, sekaligus menjadi musuh sempurna untuk ditunjuk-tunjuk sambil menggalang dukungan.

Konflik di Suriah adalah perang tiga arah antara pemerintahan Assad, pasukan pemberontak dari beragam latar belakang, dan ISIS. Serta termasuk Kurdi Suriah yang memerangi ISIS dan Turki di perbatasan utara Suriah, plus benturan proksi antara berbagai pemberontak bersenjata dan kelompok jihad yang dibeking oleh AS, Iran, Turki, Arab Saudi, dan negara-negara Teluk lain.

Kini, dengan serangan udara Rusia sebagai pelindung, pasukan Iran akan bergabung dengan pejuang Hizbullah Lebanon di sisi pasukan pemerintah Assad dalam perang memanas demi meraih kembali kendali pemerintah pusat.

Pertempuran telah merenggut sekitar 250.000 orang Suriah—dan membuat setengah populasi Suriah yang berjumlah 22 juta menjadi pengungsi. Sekitar 7 juta orang berpindah tempat di dalam negeri, dan sekitar 4 juta orang meninggalkan negara, berakhir di Lebanon, Yordania, Irak, Turki, dan—dalam jumlah lebih kecil, tapi konsekuensi politiknya jauh lebih tinggi—Eropa.

Sejak pemberontakan Suriah dimulai pada 2011, para pejabat AS menyatakan secara terbuka bahwa penyelesaian politik harus memggeser Assad dari kekuasaan. Tapi AS dan Israel giat mempertahankan keutuhan perlengkapan negara Suriah. Alasannya sederhana: dari sudut pandang imperialisme Barat, semua alternatif pengganti Assad jauh lebih buruk.

Pada 2012, Rusia dikabarkan menawarkan negosiasi penggeseran Assad dari kekuasaan. Tapi karena rezimnya nampak hampir runtuh, AS dan adidaya Barat lain mengabaikan tawaran itu, dan menghabiskan waktu dengan mempromosikan kekuatan-kekuatan politik dan militer yang mereka pikir akan menghasilkan rezim pasca Assad yang stabil.

Tapi Assad berhasil bertahan, dengan cara penindasan dan kekerasan total: bom barel dan taktik bumi hangus lain yang memporakporandakan seluruh lingkungan dan kawasan, sebagai peringatan kepada pihak lain bahwa perlawanan akan dibalas dengan tangan besi.

Sementara itu, ISIS—produk perang sipil barbar di Irak, sebagian besar dihasut oleh AS untuk berkuasa sebagai tuan penjajah—memperoleh benteng perlindungan di timur Suriah. Jutaan Sunni Irak yang teraniaya lari dari sana. Didirikan dari sisa-sisa al-Qaeda di Irak, ISIS merekrut pejuang, mendapat pengalaman tempur, dan merebut persenjataan dan uang yang cukup untuk menjadi pasukan hebat.

Hari ini, Assad mungkin masih berkuasa, tapi rezimnya hanya mengendalikan 25% teritori Suriah, di petak sepanjang pertiga wilayah barat berpenduduk padat—sementara ISIS, berbasis di timur, mengendalikan hampir setengahnya.

Serangan udara AS terhadap ISIS ataupun dukungan AS kepada pejuang Kurdi dan lainnya tidak mengubah keseimbangan kekuatan. Komponen lain strategi Washington—program $500 juta untuk melatih kekuatan bertempur 5.000 pejuang melawan ISIS—gagal lebih spektakuler lagi. Bulan lalu, dalam kesaksian di depan Senate Armed Services Committee, Jend. Lloyd Austin, komandan US Central Command, mengakui program tersebut sejauh ini hanya menghasilkan “empat atau lima” pejuang.

Jika $600 juta tambahan yang diminta Pentagon untuk terus mendanai program pelatihan mendapat hasil yang sama, berarti AS telah mengadakan 11 orang laskar dengan biaya $1,1 miliar.

*****

Masuklah Putin dengan retorika membahana tentang memimpin koalisi menghadapi ISIS—tentu saja diseusikan untuk meraih dukungan dalam negeri demi menegaskan kembali pengaruh imperial Rusia.

Langkah Putin menimbulkan banyak kegemasan di Washington. Faksi “elang” yang menentukan kebijakan luar negeri mendesak Obama bereaksi keras terhadap “campur tangan” Putin di Suriah—seolah AS sendiri punya hak mutlak untuk menentukan negara mana saja yang boleh beroperasi di sana.

Perdebatan juga mulai mengemuka di media: apakah Rusia beraksi karena kuat, lemah, atau putus asa. Jawabannya barangkali semuanya.

Sampai taraf tertentu, tangan Putin dipaksa oleh kesepakatan nuklir teranyar antara AS dan Iran, yang menarik Iran kembali ke arah hubungan normal dengan adidaya lain—dan karenanya keluar dari lingkaran Rusia. Bagi Rusia, ini semakin mengangkat nilai strategis rezim Assad.

Tapi jika cita-cita Putin yang paling ambisius, yakni memulihkan kekaisaran Rusia, tidak dapat dijangkau, maka intervensi di Suriah telah menghadiahi Rusia sebuah tempat di meja-meja diskusi tentang akhir permainan di Suriah kelak.

Dan apapun kelemahan yang Putin hadapi, cengkeraman AS di Timur Tengah telah diuji berat—secara militer maupun politik—sejak invasi dan pendudukannya atas Irak pada 2003 yang menjadi petaka.

Perang itu menggulingkan Saddam Hussein dan mengawali rezim boneka AS, tapi berakhir dengan penarikan pasukan tempur pada 2011 yang memalukan dan penguatan Iran sebagai kekuatan dominan di kawasan. Al-Qaeda, yang tidak eksis di Irak sebelum invasi AS, tumbuh subur di tengah perlawanan terhadap pendudukan, dan muncul kembali dari perang sipil sektarian yang disulut oleh AS dalam bentuk ISIS.

Dan dengan itu semua, kedudukan AS sebagai kekuatan imperial dominan di kawasan tersebut, berkuasa lewat kombinasi kekuatan ekonomi dan militernya, digabung dengan jaringan rezim sekutu, telah rusak parah.

Serobotan teranyar Putin demi kekuasaan dan pengaruh di Suriah semakin mengungkap selipnya kekuasaan AS. Sebagaimana kata kolumnis konservatif New York Times, Ross Douthat, ketika meringkas beberapa pencapaian Putin:

Aneksasinya atas Crimea, contohnya, membebani Moskow dengan segala jenis permasalahan jangka pendek dan jangka panjang. Tapi itu menjadi preseden penuh arti menyangkut batas-batas kekuatan Amerika dan Barat, sejenis contoh tandingan Perang Teluk pertama, dengan membuktikan bahwa perbatasan yang diakui [resmi] masih dapat digambar ulang dengan kekuatan militer. Demikian pula, intrik Suriahnya belum memulihkan kendali rezim Assad atas negara malang itu. Tapi mereka sudah membantu membuktikan bahwa slogan Amerika, “Assad harus enyah”, hanyalah bualan kosong, dan bahwa sebuah rezim dapat menyeberangi garis merah Washington dan tetap hidup.

*****

Intervensi Rusia di Suriah juga memberi pelajaran dalam batas-batas analogi sejarah—rincinya, konflik Perang Dingin antara AS dan bekas USSR yang disentuh segala macam pengulas politik untuk mamahami tragedi Suriah.

Economist, contohnya, menginginkan kampanye militer Amerika yang lebih kuat dan lebih berotot, mulai dari Suriah hingga Afghanistan. “Sekalipun ini sedikit lebih dari teater politik, Rusia sedang membuat langkah terbesarnya di Timur Tengah, yang sampai sekarang merupakan wilayah kekuasaan Amerika, sejak Uni Soviet diusir pada 1970-an,” majalah tersebut berargumen.

Sementara itu, jurnalis Independent dan pakar Timur Tengah, Patrick Cockburn, merayakan kembalinya Rusia ke pentas akbar diplomasi:

Perang Dingin AS-Soviet, dan persaingan global yang mengiringinya, telah menguntungkan sebagian besar dunia. Kedua adidaya berusaha mendukung sekutu mereka dan mencegah berkembangnya kevakuman politik yang mungkin dimanfaatkan oleh lawannya. Krisis tidak memburuk seperti hari ini, Rusia dan Amerika bisa membaca bahaya jika itu lepas kendali dan menimbulkan krisis internasional.

Kenyataannya, perselisihan adidaya di masa lalu mengancam dunia dengan pembinasaan nuklir, dan “persaingan global yang mengiringi” ancaman ini jauh dari kata positif bagi negara-negara di mana itu dilangsungkan. Tapi dengan mengesampingkan hal itu pun, rasa rindu terhadap perulangannya hanya didasarkan pada harapan palsu untuk kembali ke masa lalu, seraya mengabaikan korban yang diakibatkan oleh eskalasi konflik di masa kini, sebagaimana diuraikan penulis dan aktivis Marxis, Gilbert Achcar.

Yang lebih membingungkan daripada nostalgia Cockburn akan Perang Dingin adalah angan para pendukung rezim Assad dan pelindung barunya di Moskow. Brian Becker dari Partai Sosialisme dan Pembebasan dan kelompok kedoknya, ANSWER, hanya menggaungkan retorika Putin dalam pernyataan terakhirnya:

Kekuatan utama yang mencegah Suriah dikeroyok ISIS dan al-Qaeda adalah Syrian Arab Army, tentara nasional negara tersebut… Kini militer Rusia sudah langsung memasuki pertempuran di pihak tentara nasional Suriah… Intervensi Rusia diminta secara formal oleh pemerintah berdaulat Suriah yang dipimpin Bashar al-Assad dan dengan demikian menuruti hukum internasional.

Dalam rangka mengkhayalkan intervensi Rusia sebagai tantangan terhadap kekaisaran AS atas nama pahlawan “anti-imperialis” Assad, Becker harus mengabaikan barbarisme diktator Suriah, yang bertanggungjawab atas mayoritas raturan ribu kematian dalam perang sipil tersebut—dan sejarah jelek Rusia sebagai pelopor neoliberalisme yang melayani oligarki Rusia dan [sebagai] kekuatan imperial itu sendiri, dengan riwayat ganas di Chechnya sebagai buktinya, di antara konlik-konflik lain.

Slogan lama “Tidak Washington, Tidak Pula Moskow” menjadi relevan. Sebagaimana ditulis tokoh revolusiner Suriah, Joseph Daher:

Boleh jadi ada pertentangan antara…berbagai aktor regional, tapi pada akhirnya, AS ingin mempertahankan status quo imperialis di Timur Tengah, mempertahankan kepentingannya di kawasan ini. Itu sebabnya kita mesti menentang semua kekuatan imperialis (AS, Rusia, dan lain-lain) dan sub-imperialis (Arab Saudi, Iran, Qatar, dan Turki) karena mereka semua menentang kepentingan kelas-kelas rakyat, dan kita tidak mesti memilih salah satunya hanya karena dianggap kurang jahat.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s