Apakah Proyek Israel Raya Sudah Selesai?

Oleh: Dr. Fayez Rasheed
Kamis 1 Mei 2014
(Sumber: www.middleeastmonitor.com)

Apakah Israel sudah selesai dengan proyek besarnya atau belum? Pertanyaan ini disambut secara beragam oleh berbagai kelompok. Ada sebagian yang percaya proyek ini sudah dikubur selama-lamanya. Ada juga yang percaya niat Israel menjalankan proyek besarnya tak lebih dari sekadar mimpi yang terkubur dalam imajinasi Zionis, khususnya sayap kanan ekstrim yang fasis sampai ke akar-akarnya.

Dr. Fayez Rasheed
Dr. Fayez Rasheed

Kita mempertanyakan ini sekali lagi, setelah sembilan bulan negosiasi mengantarkan kita pada perhentian dan setelah perjanjian rekonsiliasi ditandatangani di Gaza. Mari bayangkan sesaat jika kelompok-kelompok fasis sayap kanan di Israel meraih kendali pemerintahan (dan pada akhirnya mereka tidak jauh lebih buruk daripada pemerintahan Netanyahu), mungkinkah kelompok-kelompok ini tidak bekerja ke arah pelaksanaan proyek besar Israel?

Mayoritas pemerintahan koalisi Israel masih menganggap Tepi Barat sebagai Yudea dan Samaria. Lebih jauh, dalam laporan statistik yang dipublikasikan oleh Haaretz tahun lalu, 65% dari penduduk Israel diperkirakan akan berafiliasi dengan kelompok-kelompok fasis sayap kanan pada tahun 2025. Jadi, mereka yang berkesimpulan Israel akan mengubur proyek besarnya telah mendapat informasi yang salah.

Penting untuk dicatat bahwa walau Israel sudah berupaya menegakkan negara berbatasan pasti selama hampir tujuh dekade, mereka masih harus membuat perbatasan resmi dan, sampai sekarang, mereka menolak menetapkannya. Selama bertahun-tahun setelah didirikan, Israel mempromosikan slogan berikut, tertulis di dinding Knesset yang menghadap DPR AS: “Perbatasan Israel membentang dari Nil hingga Eufrat.”

Dalam bukunya, A Place Under the Sun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menulis bahwa hak Yahudi atas sebuah negara membentang keluar tanah historis Palestina, yang dia sebut Israel. Netanyahu menekankan keyakinannya bahwa Israel raya mencakup banyak negara Arab dan berkata, “Yordania, contohnya, adalah bagian dari tanah-tanah Israel raya.”

Dengan demikian, fakta bahwa Israel masih harus menetapkan perbatasannya membuktikan visi ekspansionis masih hidup dalam pikiran banyak orang Israel.

Meski benar banyak orang Palestina dan Arab percaya bahwa Israel telah melepas mimpi mendirikan negara raya, realita mengindikasikan mayoritas proposal Israel di masa belakangan diarahkan pada pendirian hegemoni ekonomi dan politik Israel atas Timur Tengah secara keseluruhan. Hegemoni tipe ini akan sulit dicapai sekarang karena banyak faktor. Tapi, bukan berarti Israel takkan kembali ke ambisi ini di masa mendatang saat melewati periode berbeda dan lebih optimistis daripada sekarang.

Untuk merefleksikan sifat sejati visi ekspansionis Israel, barangkali ada gunanya mempertunjukkan keyakinan seorang pemimpin militer Israel ketika ditanya di mana awal dan ujung perbatasan Israel, dia menjawab, “Perbatasan Israel berujung di manapun terjangkau oleh tank dan langkah prajurit kami.”

Lebih jauh, sasaran Israel bisa diringkas dari lagu kebangsaannya, yang masih berbunyi: “Tepi Barat ini adalah milik kita dan begitu pula [tepi] yang lain (merujuk pada Tepi Timur di Yordania).”

Israel menolak menetapkan perbatasannya sebagaimana menolak menyepakati konstitusi resmi yang mensyaratkan definisi jelas di mana awal dan ujung perbatasan negara. Malah, Knesset memperundangkan seperangkat “Undang-undang Dasar” untuk dipatuhi rakyat, dan yang lebih penting, ketiadaan konstitusi konkret memungkinkan Israel memperpanjang dan menangguhkan respon terhadap permintaan Mahmoud Abbas untuk menetapkan dan menyepakati perbatasan negara Palestina.

Kemungkinan mencapai penyelesaian yang adil dengan Palestina tidak ada dalam agenda Israel. Pemimpin koalisi berkuasa di Knesset dan anggota terkemuka Partai Likud, Yariv Levin, mulai menekan parlemen agar menciptakan lobi baru untuk “Tanah Israel”. Sasaran utama lobi ini adalah mendeklarasikan “kedaulatan historis” atas seluruh Palestina dalam sejarah yaitu tanah yang membentang dari Sungai Jordan hingga Laut Mediterania. Pembentukan lobi ini berlangsung di tengah upaya kuat untuk memperkenalkan legislasi baru yang akan mencegah pemerintah Israel mencapai penyelesaian dengan Palestina.

Memangnya siapa pemimpin koalisi ini sampai mau membentuk lobi demikian tanpa berkonsultasi dengan orang-orang macam Lieberman dan Netanyahu padahal mereka anggota koalisi? Berarti pernyataan terakhir Netanyahu yang mengungkapkan niat untuk mempromosikan upaya damai dengan Palestina tidak lebih dari usaha memperpanjang pencarian solusi konflik. Tentu saja ada kemungkinan undang-undang dasar baru itu akan diimplementasikan untuk mengikat semua pemerintahan Israel di masa mendatang agar tidak mencapai penyelesaian [dengan Palestina], yang juga berarti kita mungkin akan segera menyaksikan pendahuluan peluncuran Israel Raya dan bahwa gambar wilayah “Tanah Israel” bukan hanya membentang dari seluruh Palestina dalam sejarah tapi juga teritori lain.

Menurut lobi ini, Yordania merupakan tempat sempurna untuk orang Palestina mendirikan negara Palestina. Bahkan, gagasan ini sudah diusulkan para pemimpin Israel berkali-kali karena itu akan membuat undang-undang yang saya sebutkan di atas menjadi permanen dan mengikat.

Mimpi negara Yahudi, sebagaimana diwujudkan oleh gambar Israel Raya, membentang dari Nil hingga Eufrat. Saat ini Israel tidak memiliki kekuatan demografis (dalam hal populasi) untuk mengendalikan semua area ini, dan karakter arena politik internasional mutakhir tidak memungkinkannya menggapai visi ekspansionis, atau bahkan memindahkan warga Palestina di Israel dari teritori tahun 1948. Andai ini memungkinkan, Israel pasti sudah melakukannya sejak lama.

Selain itu, koordinasi Israel dengan AS berupaya mendirikan hegemoni politik dan ekonomi Israel di kawasan, menjadikan Israel komponen kunci Timur Tengah. Makanya, keliru jika banyak orang Palestina dan Arab beranggapan Israel sudah mengubur mimpinya mendirikan Israel Raya. Mimpi mendirikan negara Yahudi dari Nil di Mesir hingga Eufrat di Irak sudah merata di kalangan bangsa Yahudi sejak Konferensi Zionis Pertama di Basel, Swiss tahun 1897, di mana Theodore Herzl berjanji kepada umat Yahudi bahwa mereka akan memiliki negara sendiri dalam waktu 50 tahun. Janjinya hanya tertunda satu tahun.

Israel telah menyatakan tidak, dan takkan, menerima pendirian solusi dua negara dan juga menolak memperkenankan pendirian negara Palestina berdaulat penuh di tanah Palestina manapun. Israel tidak berencana memberikan otonomi kepada Palestina atas isu-isu menyangkut kehidupan, populasi, penyeberangan laut dan darat, dan tidak pula berencana menghentikan perluasan pemukiman karena mereka memandangnya sebagai “hak untuk membangun di tanah sendiri”. Jika Anda betul-betul mempertimbangkan apa artinya ini, Anda akan lihat itu sangat masuk akal mengingat Tembok Pemisah hampir memastikan kemustahilan pendirian negara Palestina yang layak.

Sebagai tambahan, Israel sudah bulat dan kukuh dalam keputusannya untuk mendirikan negara eksklusif Yahudi untuk umat Yahudi. Ini juga menyingkirkan kemungkinan mendirikan negara demokratis sekuler, negara bangsa, atau bahkan negara untuk semua warga.

Rakyat Palestina dan Arab secara umum harus belajar lebih banyak tentang sifat rencana musuh Zionisnya, yakni mereka harus betul-betul memahami impian Zionis, visi ekspansionis, dan variabel mutakhir yang mempengaruhi jalanan Israel. Mereka harus paham, mereka tidak boleh hanya fokus pada variabel yang eksis di dalam masyarakat Israel, karena tak ada masyarakat Israel homogen.

Adapun AS, mereka tak pernah dan takkan mau menjadi penengah atau perantara jujur bila menyangkut konflik Arab-Israel. Mereka akan terus mempromosikan kepentingan dan proposal Israel yang berdasarkan egalitarianisme politik Israel.

Memperhatikan semua ini, mungkinkah Israel punya kemauan ke arah perdamaian?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s