Rencana Menggambar Ulang Timur Tengah: Proyek “Timur Tengah Baru”

Oleh: Mahdi Darius Nazemroaya
19 Mei 2015
(Sumber: www.globalresearch.ca)

Artikel ini pertama kali dipublikasikan oleh Global Research pada November 2006 berkenaan dengan proses destabilisasi dan fragmentasi politik yang sedang berlangsung di Irak, Suriah, dan Yaman.

“Hegemoni sama tuanya dengan umat manusia…” (Zbigniew Brzezinski, mantan Penasehat Keamanan Nasional AS)

Istilah “Timur Tengah Baru” diperkenalkan kepada dunia pada Juni 2006 di Tel Aviv oleh Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice (yang diakui oleh media Barat sebagai pencipta istilah tersebut) menggantikan istilah lama dan lebih mengesankan, “Timur Tengah Raya”.

Pergeseran peristilahan kebijakan luar negeri ini bertepatan dengan pembukaan Terminal Minyak Baku-Tbilisi-Ceyhan (BTC) di Mediterania Timur. Istilah dan konseptualisasi “Timur Tengah Baru” kemudian digembar-gemborkan oleh Menteri Luar Negeri AS dan Perdana Menteri Israel di puncak pengepungan Israel atas Lebanon yang disponsori Anglo-Amerika. Perdana Menteri Olmert dan Menteri Rice memberitahu media internasional bahwa sebuah proyek “Timur Tengah Baru” sedang diluncurkan dari Lebanon.

Pengumuman ini merupakan konfirmasi “peta jalan militer” Anglo-Amerika-Israel di Timur Tengah. Proyek ini, yang sudah dalam tahap perencanaan selama bertahun-tahun, terdiri dari penimbulan busur instabilitas, kekacauan, dan kekerasan yang membentang dari Lebanon, Palestina, dan Suriah hingga Irak, Teluk Persia, Iran, dan perbatasan Afghanistan yang digarnisun oleh NATO.

Proyek “Timur Tengah Baru” diperkenalkan secara publik oleh Washington dan Tel Aviv dengan harapan Lebanon akan menjadi titik tekanan untuk menyusun ulang seluruh Timur Tengah dan dengan begitu melepas kekuatan-kekuatan “kekacauan konstruktif”. “Kekacauan konstruktif” ini—yang membangkitkan kondisi kekerasan dan peperangan di seantero kawasan—pada gilirannya akan dimanfaatkan agar AS, Inggris, dan Israel dapat menggambar ulang peta Timur Tengah sesuai dengan keperluan dan sasaran geostrategis mereka.

Peta Timur Tengah Baru
Menteri Condoleezza Rice menyatakan dalam sebuah konferensi pers bahwa “apa yang sedang kita saksikan di sini [berkenaan dengan penghancuran Lebanon dan serangan Israel terhadap Lebanon], adalah pertumbuhan—‘nyeri kelahiran’—‘Timur Tengah Baru’ dan apapun yang kita lakukan, kita [maksudnya AS] harus yakin bahwa kita sedang melangkah menuju Timur Tengah Baru [dan] bukan mundur ke Timur Tengah lama.”[1] Menteri Rice segera dikritik atas pernyataannya, baik di Lebanon maupun di dunia internasional lantaran mengekspresikan ketidakacuhan terhadap penderitaan sebuah bangsa, yang sedang dibom membabi buta oleh Angkatan Udara Israel.

Peta Jalan Militer Anglo-Amerika di Timur Tengah dan Asia Tengah
Pidato Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice perihal “Timur Tengah Baru” telah menyediakan pentas. Serangan Israel terhadap Lebanon—yang sepenuhnya disokong oleh Washington dan London—semakin menyingkap dan mengesahkan eksistensi sasaran geostrategis AS, Inggris, dan Israel. Menurut Profesor Mark Levine, “para globalisator neoliberal, kaum neokonservatif, dan ujung-ujungnya pemerintahan Bush akan memahami penghancuran kreatif sebagai cara mendeskripsikan proses pembentukan tatanan dunia baru mereka”, dan bahwa “penghancuran kreatif [di] AS adalah, dalam kata-kata filsuf neokonservatif dan penasehat Bush, Michael Ledeen, ‘kekuatan revolusi mempesona’ untuk (…) penghancuran kreatif…”[2]

Irak yang diduduki Anglo-Amerika, khususnya Kurdistan Irak, rupanya menjadi arena persiapan untuk balkanisasi (pembagi-bagian) dan finlandisasi (pasifikasi) Timur Tengah. Kerangka legislasi, di bawah Parlemen Irak dan dengan nama federalisasi Irak, untuk penyekat-nyekatan Irak ke dalam tiga bagian sudah dihembus-hembuskan. (Lihat peta di bawah)

Lebih jauh, peta jalan militer Anglo-Amerika rupanya berusaha masuk ke Asia Tengah lewat Timur Tengah. Timur Tengah, Afghanistan, dan Pakistan menjadi batu loncatan untuk memperluas pengaruh AS ke bekas Uni Soviet dan republik-republik eks Soviet di Asia Tengah. Timur Tengah, sampai taraf tertentu, merupakan lantai selatan Asia Tengah. Asia Tengah, pada gilirannya, juga diistilahkan sebagai “Lantai Selatan Rusia” atau “Luar Dekat” Rusia.

Banyak cendekiawan, perencana militer, ahli strategi, penasehat keamanan, ekonom, dan politisi Rusia dan Asia Tengah menganggap Asia Tengah (“Lantai Selatan Rusia”) sebagai “bagian paling lunak” dan rawan dari Federasi Rusia.[3]

Perlu dicatat, dalam bukunya, The Grand Chessboard: American Primacy and Its Geo-strategic Imperatives, Zbigniew Brzezinski (mantan Penasehat Keamanan Nasional AS) menyinggung Timur Tengah modern sebagai tuas pengendali sebuah area yang dijulukinya Balkan Eurasia. Balkan Eurasia terdiri dari Kaukasus (Georgia, Republik Azerbaijan, dan Armenia) dan Asia Tengah (Kazakhstan, Uzbekistan, Kirgistan, Tajikistan, Turkmenistan, Afghanistan, dan Tajikistan) dan sebagian Iran dan Turki. Iran dan Turki membentuk lantai paling utara di Timur Tengah (tidak termasuk Kaukasus [4]) yang meminggir ke Eropa dan bekas Uni Soviet.

Peta “Timur Tengah Baru” Sebuah peta yang relatif tak dikenal, berisi Timur Tengah, Afghanistan-nya NATO, dan Pakistan telah beredar di kalangan ahli strategi, pemerintah, NATO, pembuat kebijakan, dan militer sejak pertengahan 2006. Itu dibiarkan mengemuka ke publik, mungkin sebagai upaya membangun konsensus dan perlahan-lahan mempersiapkan masyarakat umum akan kemungkinan perubahan, yang barangkali mencelakakan, di Timur Tengah. Itu adalah peta Timur Tengah yang digambar ulang dan disusun ulang, diperkenalkan sebagai “Timur Tengah Baru”.

Catatan: peta ini disusun oleh Letnan-Kolonel Ralph Peters. Dipublikasikan dalam Armed Forces Journal Juni 2006. Peters adalah purnawirawan kolonel US National War Academy. (Hak cipta peta Letnan-Kolonel Ralph Peters 2006)
Catatan: peta ini disusun oleh Letnan-Kolonel Ralph Peters. Dipublikasikan dalam Armed Forces Journal Juni 2006. Peters adalah purnawirawan kolonel US National War Academy. (Hak cipta peta Letnan-Kolonel Ralph Peters 2006)

Walaupun tidak resmi mencerminkan doktrin Pentagon, peta ini telah dipakai dalam program pelatihan di Defense College NATO untuk para perwira militer senior. Peta ini, juga peta-peta lain yang serupa, barangkali sudah dipakai di National War Academy dan lingkaran perencana militer.

Peta “Timur Tengah Baru ini” tampaknya didasarkan pada beberapa peta lain, termasuk peta lama perbatasan potensial di Timur Tengah yang bermula dari era Presiden AS Woodrow Wilson dan Perang Dunia I. Peta ini dipamerkan dan disajikan sebagai gagasan purnawirawan Letnan-Kolonel (Angkatan Darat AS) Ralph Peters, yang percaya bahwa rancang ulang perbatasan dalam peta tersebut akan menyelesaikan permasalahan Timur Tengah kontemporer secara fundamental.

Peta “Timur Tengah Baru” merupakan unsur kunci dalam buku karya purn. LetKol Peters, Never Quit the Fight, yang dirilis ke publik pada 10 Juli 2006. Peta Timur Tengah yang digambar ulang ini juga dipublikasikan dengan judul Blood Borders: How a better Middle East would look dalam Armed Forces Journal milik militer AS disertai ulasan dari Ralph Peters.[5]

Perlu dicatat, LetKol Peters terakhir kali ditugaskan di Office of the Deputy Chief of Staff for Intelligence, Departemen Pertahanan AS, dan termasuk salah seorang penulis terdepan Pentagon dengan banyak esai mengenai strategi di berbagai jurnal militer dan untuk kebijakan luar negeri AS.

Ditulis bahwa “empat buku terdahulu Ralph Peters berkenaan dengan strategi telah sangat berpengaruh di dalam pemerintahan dan kalangan militer”, tapi kita wajar untuk bertanya apakah faktanya justru sebaliknya. Mungkinkah LetKol Peters sedang mengungkap dan mengemukakan apa yang sudah diantisipasi Washington DC dan para perencana strateginya untuk Timur Tengah?

Konsep gambar ulang Timur Tengah disajikan sebagai pengaturan “humaniter” dan “patut” yang akan menguntungkan masyarakat Timur Tengah dan kawasan sekelilingnya. Menurut tulisan Ralph Peter:

Perbatasan internasional tidak pernah adil sepenuhnya. Tapi derajat ketidakadilan yang dikenakan atas mereka yang dihimpit atau dipisahkan oleh batas-batas mengakibatkan selisih besar—seringkali selisih antara kebebasan dan penindasan, toleransi dan kekejaman, aturan hukum dan terorisme, atau bahkan damai dan perang.

Perbatasan paling sewenang-wenang dan menyimpang di dunia ini adalah di Afrika dan Timur Tengah. Dibuat oleh bangsa Eropa yang berkepentingan pribadi (yang cukup bermasalah dengan penetapan batas-batas mereka sendiri), perbatasan Afrika terus menimbulkan jutaan kematian penduduk lokal. Tapi perbatasan tak adil di Timur Tengah—meminjam kalimat Churchill—menghasilkan lebih banyak masalah daripada yang bisa dihabiskan secara lokal.

Sementara Timur Tengah punya banyak masalah selain perbatasannya yang lumpuh—mulai dari stagnasi budaya akibat ketidaksetaraan keji hingga ekstrimisme keagamaan yang mematikan—tabu terbesar dalam usaha memahami kegagalan komprehensif kawasan tersebut bukanlah Islam, tapi batas-batas internasional jelek namun keramat yang dipuja oleh para diplomat kita sendiri.

Tentu saja, penyesuaian perbatasan, sekasar apapun, tak mampu membuat setiap minoritas di Timur Tengah merasa gembira. Dalam beberapa contoh, kelompok-kelompok etnis dan keagamaan hidup bercampur baur dan saling menikah. Di tempat lain, reuni berbasis darah dan keyakinan tidak sesukses yang diharapkan para penganjurnya saat ini. Perbatasan yang diproyeksikan dalam peta pelengkap artikel ini menebus ketidakadilan yang diderita oleh kelompok-kelompok populasi “tertipu” yang paling signifikan, seperti Kurdi, Baluch, dan Muslim Syiah Arab, tapi tetap gagal menerangkan Kristen Timur Tengah, Bahais, Ismailis, Naqshabandiyah, dan banyak minoritas lain yang lebih sedikit jumlahnya. Dan ada satu ketidakadilan perih yang tak pernah bisa ditebus dengan imbalan teritori: genosida yang dilakukan terhadap bangsa Armenia oleh Kekaisaran Utsmani yang sekarat.

Tapi, dengan semua ketidakadilan yang tidak disinggung oleh pembayangan ulang perbatasan ini, tanpa revisi perbatasan yang besar, kita takkan pernah menyaksikan Timur Tengah yang damai.

Bahkan mereka yang jijik dengan topik mengubah perbatasan akan terbantu untuk terlibat dalam upaya menyusun amandemen perbatasan nasional yang lebih adil, jika masih cacat, antara Bosforus dan Indus. Mengingat kenegarawanan internasional belum menjadi alat efektif—selain perang—untuk menyesuaikan ulang perbatasan cacat, upaya mental untuk mencerna perbatasan “organik” Timur Tengah membantu kita memahami tingkat kesulitan yang sedang dan akan terus kita hadapi. Kita sedang berurusan dengan kecacatan kolosal buatan manusia yang takkan berhenti membangkitkan kebencian dan kekerasan sebelum diperbaiki.[6]

(Penebalan ditambahkan)

“Nyeri yang Diperlukan”
Selain percaya terdapat “stagnasi budaya” di Timur Tengah, perlu dicatat pula bahwa Ralph Peters mengakui dalil-dalilnya bersifat “kasar”, tapi dia bersikeras itu adalah nyeri yang diperlukan untuk masyarakat Timur Tengah. Nyeri dan derita yang diperlukan ini herannya serupa dengan keyakinan Menteri Luar Negeri AS Condoleezza Rice bahwa kehancuran Lebanon oleh militer Israel adalah nyeri yang diperlukan atau “nyeri kelahiran” dalam rangka menciptakan “Timur Tengah Baru” yang diimpikan Washington, London, dan Tel Aviv.

Tambahan lagi, layak dicatat bahwa tema Genosida Armenia sedang dipolitisir dan dirangsang di Eropa untuk mengganggu Turki.[7]

Pencermatan, pembongkaran, dan perakitan ulang negara-negara bangsa di Timur Tengah telah dikemas sebagai solusi permusuhan di Timur Tengah, padahal ini menyesatkan, semu, dan dibuat-buat. Para penganjur “Timur Tengah Baru” dan gambar ulang perbatasan di kawasan tersebut mengelak untuk melukiskan akar masalah dan konflik di Timur Tengah kontemporer. Media tidak mengakui fakta bahwa hampir semua konflik besar yang merundung Timur Tengah adalah dampak agenda Anglo-Amerika-Israel yang bertumpang-tindih.

Banyak permasalahan yang merusak Timur Tengah kontemporer adalah buah dari memburuknya ketegangan regional yang sudah ada lebih dulu. Keterbagian sekte, ketegangan etnis, dan kekerasan dalam negeri dieksplotasi secara tradisional oleh AS dan Inggris di berbagai wilayah dunia termasuk Afrika, Amerika Latin, Balkan, dan Timur Tengah. Irak hanya satu dari banyak contoh strategi “belah dan taklukkan” ala Anglo-Amerika. Contoh-contoh lain adalah Rwanda, Yugoslavia, Kaukasus, dan Afghanistan.

Di antara permasalahan Timur Tengah kontemporer adalah tiadanya demokrasi sejati yang sengaja dihalangi oleh kebijakan luar negeri AS dan Inggris. “Demokrasi” gaya Barat hanya menjadi persyaratan bagi negara-negara Timur Tengah yang tidak memenuhi tuntutan politik Washington. Tanpa kecuali, itu merupakan dalih konfrontasi. Arab Saudi, Mesir, dan Yordania adalah contoh negara tidak demokratis yang tak punya masalah dengan AS karena mereka sejajar dalam orbit atau bidang Anglo-Amerika.

Apalagi, AS sengaja merintangi atau memindahkan gerakan-gerakan demokrasi tulen di Timur Tengah dari Iran pada 1953 (di mana kudeta yang disponsori AS/Inggris dilancarkan terhadap pemerintahan demokratis Perdana Menteri Mossadegh) ke Arab Saudi, Mesir, Turki, negara-negara Syeikh Arab, dan Yordania di mana aliansi Anglo-Amerika mendukung kendali militer, penguasa absolut, dan diktator dalam berbagai wujud. Contoh teranyar adalah Palestina.

Protes Turki di Military College NATO di Roma
Peta “Timur Tengah Baru” milik Letnan-Kolonel Ralph Peters telah menimbulkan reaksi kemarahan di Turki. Menurut rilis pers Turki 15 September 2006, peta “Timur Tengah Baru” tersebut dipamerkan di Military College NATO di Roma, Italia. Juga dikabarkan bahwa para perwira Turki langsung murka dengan penyajian negara Turki yang terbagi-bagi dan terpotong-potong.[8] Peta ini mendapat semacam restu dari US National War Academy sebelum diungkap di depan para perwira NATO di Roma.

Kepala Staf Turki, Jenderal Buyukanit, menghubungi Pimpinan Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Peter Pace, dan memprotes acara dan pamer peta gambar ulang Timur Tengah, Afghanistan, dan Pakistan tersebut.[9] Selanjutnya Pentagon berbuat di luar kebiasaan dengan meyakinkan Turki bahwa peta itu tidak mencerminkan kebijakan dan maksud resmi AS di kawasan, tapi jelas ini bertentangan dengan perbuatan Anglo-Amerika di Timur Tengah dan Afghanistan yang digarnisun NATO.

Adakah Kaitan antara “Balkan Eurasia”-nya Zbigniew Brzezinski dan Proyek “Timur Tengah Baru”? Berikut adalah petikan dan kutipan penting dari buku karangan mantan Penasehat Keamanan Nasional AS Zbigniew Brzezinski, The Grand Chessboard: American Primacy and Its Geo-strategic Imperatives. Brzezinski juga menyatakan bahwa Turki maupun Iran, dua negara “Balkan Eurasia” yang paling berpengaruh, yang terletak di lantai selatannya, “berpotensi rawan konflik etnis dalam negeri [balkanisasi]”, dan bahwa, “jika salah satu atau dua-duanya tidak stabil, masalah-masalah internal kawasan akan jadi tak terkendali”.[10]

Tampaknya Irak yang terbagi-bagi dan terbalkanisasi akan menjadi alat terbaik untuk mencapai ini. Mencerna apa yang kita tahu dari pengakuan Gedung Putih sendiri, ada keyakinan bahwa “penghancuran kreatif dan kekacauan” di Timur Tengah merupakan aset menguntungkan dalam membentuk ulang Timur Tengah, menghasilkan “Timur Tengah Baru”, dan memajukan peta jalan Anglo-Amerika di Timur Tengah dan Asia Tengah:

Di Eropa, istilah “Balkan” membangkitkan citra konflik etnis dan rivalitas regional yang sengit. Eurasia juga punya “Balkan”-nya sendiri, tapi Balkan Eurasia jauh lebih besar, lebih padat penduduk, bahkan lebih heterogen secara agama dan etnis. Mereka terletak di bujur geografis besar yang membatasi zona pusat instabilitas global (…), yang mencakup bagian-bagian Eropa tenggara, Asia Tengah, dan wilayah-wilayah Asia Selatan [Pakistan, Kashmir, India Barat], area Teluk Persia, dan Timur Tengah.

Balkan Eurasia membentuk inti dalam bujur besar (…), mereka berbeda dari zona luar secara signifikan: mereka vakum kekuatan. Walaupun kebanyakan negara-negara yang terletak di Teluk Persia dan Timur Tengah juga tak stabil, kekuatan Amerika menjadi penengah utama kawasan tersebut [maksudnya Timur Tengah]. Dengan demikian kawasan tak stabil di zona luar adalah area hegemoni kekuatan tunggal dan diperlunak oleh hegemoni ini. Sebaliknya, Balkan Eurasia betul-betul mengingatkan kita pada Balkan di Eropa tenggara yang lebih tua dan familiar: entitas-entitas politiknya bukan cuma tak stabil, mereka juga menggoda dan mengundang campur tangan para tetangga yang lebih kuat, yang masing-masing bertekad menentang dominasi kawasan oleh satu sama lain. Ini merupakan kombinasi familiar antara kekosongan kekuatan dan pengisapan kekuatan yang menjustifikasi penjulukan “Balkan Eurasia”.

Balkan tradisional melambangkan hadiah geopolitik potensial dalam perebutan supremasi Eropa. Balkan Eurasia, mengangkang di atas jaringan transportasi yang sedang tumbuh untuk menghubungkan ujung barat Eurasia yang kaya dan giat dengan ujung timurnya, juga sangat signifikan secara geopolitik. Lebih jauh, mereka sangat penting dari sudut pandang keamanan dan ambisi historis bagi sekurangnya tiga tetangga terdekat dan lebih berpengaruh, yakni, Rusia, Turki, dan Iran, sementara China juga mengisyaratkan peningkatan kepentingan politik di kawasan. Tapi Balkan Eurasia jauh lebih penting sebagai hadiah ekonomi potensial: konsentrasi masif gas alam dan cadangan minyak terdapat di situ, selain barang-barang tambang penting, termasuk minyak.

Konsumsi energi dunia pasti meningkat pesat dalam dua atau tiga dekade ke depan. Perkiraan Departemen Energi AS meramalkan bahwa permintaan dunia akan naik lebih dari 50% antara 1993 s/d 2015, dengan peningkatan konsumsi paling signifikan terjadi di Timur Jauh. Momentum perkembangan ekonomi Asia sedang membangkitkan tekanan masif untuk eksplorasi dan eksploitasi sumber-sumber energi baru, dan kawasan Asia Tengah dan basin Laut Kaspia diketahui mengandung cadangan gas alam dan minyak yang mengerdilkan cadangan Kuwait, Teluk Meksiko, atau Laut Utara.

Akses ke sumber daya tersebut dan pembagian potensi kekayaannya melambangkan sasaran-sasaran yang menggerakkan ambisi negara, mendorong minat korporat, menyulut ulang klaim sejarah, membangkitkan lagi aspirasi imperial, dan membakar rivalitas internasional. Situasi ini jadi semakin rawan oleh fakta bahwa kawasan tersebut bukan cuma vakum kekuatan tapi juga tak stabil secara internal.

(…)

Balkan Eurasia mencakup sembilan negara yang sedikit-banyak pas dengan deskripsi di awal, beserta dua negara lain sebagai kandidat potensial. Kesembilan itu adalah Kazakstan [ejaan alternatif dan resmi dari Kazakhstan], Kirgistan, Tajikistan, Uzbekistan, Turkmenistan, Azerbaijan, Armenia, dan Georgia—semuanya dulu bagian dari mendiang Uni Soviet—serta Afghanistan.

Tambahan potensial adalah Turki dan Iran, yang dua-duanya jauh lebih layak secara politik dan ekonomi, dua-duanya kontestan aktif dalam berebut pengaruh regional di Balkan Eurasia, dan dua-duanya pemain geostrategis signifikan di kawasan. Pada saat yang sama, dua-duanya berpotensi rawan konflik etnis di dalam negeri. Jika salah satu atau dua-duanya tidak stabil, masalah-masalah internal kawasan akan jadi tak terkendali, sementara usaha-usaha untuk mengekang dominasi Rusia bisa menjadi sia-sia.[11]

(Penebalan ditambahkan

Menggambar Ulang Timur Tengah
Timur Tengah, dalam beberapa hal, mirip secara mencolok dengan Balkan dan Eropa Tengah-Timur selama tahun-tahun menjelang Perang Dunia I. Segera sesudah Perang Dunia I, perbatasan Balkan dan Eropa Tengah-Timur digambar ulang. Kawasan ini mengalami periode pergolakan, kekerasan, dan konflik, sebelum dan setelah Perang Dunia I, yang merupakan dampak langsung dari berbagai kepentingan ekonomi dan campur tangan asing.

Alasan di balik Perang Dunia I lebih menyeramkan daripada yang dijelaskan buku standar sekolahan, yakni pembunuhan pewaris takhta Kekaisaran Austria-Hongaria (Habsburg), Archduke Franz Ferdinand, di Sarajevo. Faktor-faktor ekonomilah motivasi sesungguhnya dalam perang besar-besaran tahun 1914.

Norman Dodd, mantan bankir Wall Street dan penyelidik Kongres AS, yang memeriksa yayasan-yayasan bebas pajak di AS, mengkonfirmasi dalam wawancara tahun 1982 bahwa individu-individu berpengaruh yang dari balik layar mengendalikan keuangan, kebijakan dan pemerintahan AS nyatanya juga merencanakan keterlibatan AS dalam sebuah perang, yang akan mengokohkan cengkeraman mereka atas kekuasaan.

Kesaksian berikut berasal dari transkrip wawancara Norman Dodd dengan G. Edward Griffin:

Sekarang kita ke tahun 1908, tahun di mana Carnegie Foundation mulai beroperasi. Dan di tahun itu, rapat pengurus, untuk pertama kalinya, mengangkat pertanyaan spesifik, yang mereka diskusikan sepanjang sisa tahun, dengan cara yang sangat terpelajar. Dan pertanyaannya adalah ini: Adakah cara yang lebih efektif selain perang, sekiranya Anda ingin mengubah kehidupan seluruh masyarakat? Dan mereka menyimpulkan, tak ada cara yang lebih efektif yang diketahui manusia untuk tujuan tersebut selain perang. Maka, pada 1909, mereka mengangkat pertanyaan kedua, dan mendiskusikannya, yaitu, bagaimana kita melibatkan AS dalam perang?

Well, saya ragu, pada waktu itu, apakah ada topik yang lebih tersingkirkan dari pemikiran banyak orang di negeri ini [Amerika Serikat] selain keterlibatannya dalam perang. Sebentar-sebentar terdapat tontonan [perang] di Balkan, tapi saya ragu sekali apa banyak orang tahu di mana Balkan berada. Dan akhirnya, mereka menjawab pertanyaan tersebut sebagai berikut: kita harus mengendalikan Departemen Luar Negeri.

Dan kemudian, itu, sangat wajar, menimbulkan pertanyaan, bagaimana kita melakukannya? Mereka menjawab dengan berkata, kita harus mengambil alih dan mengendalikan mesin diplomasi negara ini dan, akhirnya, mereka memutuskan untuk mengincar itu sebagai tujuan. Waktu berlalu, kita akhirnya dalam perang, yaitu Perang Dunia I. Pada saat itu, mereka mencatat sebuah laporan menggemparkan dalam notulen di mana mereka mengirim telegram kepada Presiden Wilson yang memperingatkannya agar perang tidak berakhir terlalu cepat. Dan akhirnya, tentu saja, perang berakhir.

Waktu itu, perhatian mereka bergeser: mencegah apa yang mereka sebut pembalikan kehidupan di AS ke masa sebelum 1914, ketika Perang Dunia I pecah.

(Penebalan ditambahkan)

Penggambaran ulang dan penyekat-nyekatan Timur Tengah mulai dari pesisir Mediterania Timur di Lebanon dan Suriah hingga Anatolia (Asia Kecil), Arabia, Teluk Persia, dan Dataran Tinggi Iran selaras dengan sasaran ekonomi, strategi, dan militer luas, yang menjadi bagian dari agenda panjang Anglo-Amerika dan Israel di kawasan.

Timur Tengah telah dikondisikan oleh kekuatan-kekuatan luar menjadi tong mesiu yang siap meledak dengan pemicu yang tepat, barangkali peluncuran serangan udara Anglo-Amerika dan/atau Israel terhadap Iran dan Suriah. Perang lebih luas di Timur Tengah bisa menghasilkan penggambaran ulang perbatasan yang menguntungkan secara strategis bagi kepentingan Anglo-Amerika dan Israel.

Afghanistan yang digarnisun NATO sudah berhasil dibagi-bagi, kecuali secara nama. Rasa permusuhan sudah ditanam di Levant, di mana perang sipil Palestina sedang dipupuk dan keterbelahan di Lebanon sedang dihasut. Mediterania Timur sudah berhasil dimiliterisasi oleh NATO. Suriah dan Iran terus dijelekkan oleh media Barat, dengan maksud menjustifikasi agenda militer. Pada gilirannya, media Barat setiap hari mengumpan gagasan salah dan bias bahwa penduduk Irak tak dapat hidup berdampingan dan bahwa konflik ini bukan perang pendudukan tapi “perang sipil” yang bercirikan percekcokan dalam domestik antara Syiah, Sunni, dan Kurdi.

Upaya-upaya untuk menciptakan rasa permusuhan antara berbagai kelompok etno-budaya dan agama di Timur Tengah berlangsung sistematis. Bahkan, itu menjadi bagian dari agenda intelijen terselubung yang dirancang secara cermat.

Yang lebih tak mengenakkan, banyak pemerintahan Timur Tengah, seperti Arab Saudi, sedang menolong Washington menghasut keterbelahan di antara penduduk Timur Tengah. Sasaran akhirnya adalah memperlemah gerakan perlawanan terhadap pendudukan asing melalui “strategi belah dan taklukkan” yang melayani kepentingan Anglo-Amerika dan Israel di kawasan lebih luas.


Mahdi Darius Nazemroaya berspesialisasi dalam urusan Timur Tengah dan Asia Tengah. Dia adalah research associate di Centre for Research on Globalization (CRG).

Catatan:
[1] Secretary of State Condoleezza Rice, Special Briefing on the Travel to the Middle East and Europe of Secretary Condoleezza Rice (Press Conference, U.S. State Department, Washington, D.C., July 21, 2006). http://www.state.gov/secretary/rm/2006/69331.htm

[2] Mark LeVine, “The New Creative Destruction,” Asia Times, August 22, 2006. http://www.atimes.com/atimes/Middle_East/HH22Ak01.html

[3] Andrej Kreutz, “The Geopolitics of post-Soviet Russia and the Middle East,” Arab Studies Quarterly (ASQ) (Washington, D.C.: Association of Arab-American University Graduates, January 2002). http://findarticles.com/p/articles/mi_m2501/is_1_24/ai_93458168/pg_1

[4] Kaukasus atau Kaukasia dapat dianggap sebagai bagian Timur Tengah atau kawasan terpisah

[5] Ralph Peters, “Blood borders: How a better Middle East would look,” Armed Forces Journal (AFJ), June 2006. http://www.armedforcesjournal.com/2006/06/1833899

[6] Ibid.

[7] Crispian Balmer, “French MPs back Armenia genocide bill, Turkey angry,” Reuters, October 12, 2006; James McConalogue, “French against Turks: Talking about Armenian Genocide,” The Brussels Journal, October 10, 2006. http://www.brusselsjournal.com/node/1585

[8] Suleyman Kurt, “Carved-up Map of Turkey at NATO Prompts U.S. Apology,” Zaman (Turkey), September 29, 2006. http://www.zaman.com/?bl=international&alt=&hn=36919

[9] Ibid. [10] Zbigniew Brzezinski, The Grand Chessboard: American Primacy and Its Geo-strategic Imperatives (New York City: Basic Books, 1997). [11] Ibid.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s